LĀ ILĀHA ILLA ALLĀH MUḤAMMAD RASŪL ALLĀH
لَآ إِلَٰهَ إِلَّا اللّٰهُ مُّحَمَّدٌ رَّسُولُ اللّٰهِ
Tidak ada paksaan dalam (memeluk) agama (Islam). Sungguh, telah jelas jalan yang benar dari jalan yang sesat.
Siapa yang ingkar kepada thāgūt dan beriman kepada Allah, sungguh ia telah berpegang teguh pada tali yang sangat kuat yang tidak akan putus.
Allah Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui. – [QS.2:256]
Ibnu Al-Qoyyim I berkata[a2]:
Makna thāghūt adalah apa saja yang membuat manusia melampaui batas sebagai hamba Allah, berupa sesuatu yang disembah (diibadahi), diikuti, atau pun ditaati.
Demikianlah, karena sesungguhnya Allah, Dialah Al-Ḥaqq (Tuhan yang benar), dan apa saja yang mereka seru selain Allah adalah bathil. Sesungguhnya Allah, Dialah Yang Maha Tinggi lagi Maha Besar. – [QS.31:30]
Dari Muḥammad bin Shaliḥ Al-`Utsaimin I[c2]:
Tidak cukup hanya dengan berkeyakinan bahwa Allah adalah satu-satunya yang berhak diibadahi, karena itu tidak menutup kemungkinan adanya tuhan-tuhan lain yang juga diibadahi[b3].
Tauḥid tidak terwujud kecuali dengan menafikan dan menetapkan bahwa: Tidak ada tuhan yang benar (yang berhak diibadahi) kecuali Allah B.
SERUAN WAJIB PARA RASUL
Allah telah mengutus seorang rasul kepada setiap umat[a2], dari Nūḥ hingga Muḥammad, yang memerintahkan mereka untuk beribadah kepada Allah satu-satunya, dan melarang mereka dari beribadah kepada thāghūt.
“Sesungguhnya Kami telah mewahyukan kepadamu sebagaimana Kami telah mewahyukan kepada Nūḥ dan para nabi setelahnya.” – [QS.4:163]
“Dan sungguh Kami telah mengutus pada setiap umat seorang rasul (yang menyerukan): Sembahlah Allah dan jauhilah thāghūt.” – [QS.16:36]
MAKNA LĀ ILĀHA ILLA ALLĀH
(Ingatlah) ketika Ibrāhim berkata kepada ayahnya dan kaumnya, “Sesungguhnya aku berlepas diri dari apa yang kamu sembah, – [QS.43:26]
kecuali Dia yang menciptakanku. Dan sungguh, Dia akan memberiku petunjuk.” – [QS.43:27]
Rasūlullāh C bersabda:
“Barangsiapa mengucapkan lā ilāha illa allāh dan mengingkari apa saja yang diibadahi kecuali Allah, maka ḥaram harta dan darahnya, sedangkan perhitungannya diserahkan kepada Allah.” – ḤR. Muslim 37
Dari Muḥammad bin `Abdil-Wahhāb I[a3]:
Termasuk yang paling penting untuk menjelaskan makna “lā ilāha illa allāh”.
Sebab apa yang dijadikan Nabi C sebagai penjaga darah dan harta bukan sekedar mengucapkannya dengan lisan. Tidak pula sekadar mengetahui makna dan pengucapannya. Tidak pula sekadar mengakui kebenarannya. Bahkan tidak pula sekadar hanya meminta kepada Allah saja, yang tiada sekutu bagi-Nya.
Akan tetapi, darah dan hartanya tidak menjadi ḥaram (terlindungi) sampai ia mengkufuri apa saja yang diibadahi kecuali Allah ﷻ.
Jika ia ragu atau berhenti (tidak mau mengingkarinya), maka darah dan hartanya tidak terlindungi.
Maka betapa agung dan mulianya masalah ini! Betapa jelas penjelasannya! Dan betapa kuat hujjahnya untuk membantah orang yang menentang!
فَاعۡلَمۡ أَنَّهُۥ لَآ إِلَٰهَ إِلَّا اللّٰهُ وَاسۡتَغۡفِرۡ لِذَنۢبِكَ وَلِلۡمُؤۡمِنِينَ وَالۡمُؤۡمِنَٰتِۗ وَاللّٰهُ يَعۡلَمُ مُتَقَلَّبَكُمۡ وَمَثۡوَىٰكُمۡ١٩
Ketahuilah (pahami dengan yakin) bahwa tidak ada tuhan yang benar (yang berhak diibadahi) kecuali Allah, dan mohonlah ampunan bagi dosamu dan (dosa) orang-orang mukmin laki-laki dan perempuan. Allah mengetahui tempat aktivitas dan tempat tinggal kalian. – [QS.47:19]
لَآ اِلٰهَ اِلَّا اللّٰهُ (lā ilāha illallāh) memiliki makna[a1]:
Tidak ada yang berhak diibadahi kecuali Allah satu-satunya.
اِلٰهَ ilāha dalam Bahasa Arab bermakna مَأۡلُوه ma’lūh yang berarti “yang diibadahi” atau “yang disembah”[b1]. Bentuk jamak dari اِلٰهَ ilāha adalah آلِهَة ālihah yang berarti “tuhan-tuhan” atau “sesembahan-sesembahan”[b3], sebagaimana Allah B sendiri yang menyebutnya di Surah Hūd (11) ayat 101.
“Maka tidaklah berguna sedikit pun bagi mereka tuhan-tuhan (sesembahan-sesembahan) yang mereka seru selain Allah, ketika datang siksaan dari Tuhan-mu.” – [QS.11:101]
Bagaimana bisa dikatakan lā ilāha illallāh (tidak ada tuhan selain Allah), sementara ada tuhan-tuhan yang diibadahi selain Allah?[b2]
Allah B berfirman:
“Yang demikian itu karena sesungguhnya Allah, Dialah Al-Ḥaqq (Tuhan yang benar), dan apa saja yang mereka seru selain-Nya adalah bathil, dan sesungguhnya Allah, Dialah Yang Maha Tinggi lagi Maha Besar.” – [QS.22:62]; [QS.31:30]
Allah B adalah satu-satunya Tuhan yang benar (Al-Ḥaqq). Sedangkan tuhan-tuhan selain Allah K yang diibadahi, memang disebut tuhan, tetapi mereka semua adalah tuhan-tuhan yang bathil. Mereka tidak memiliki Hak Ketuhanan sama sekali[b4][b5].
لَآ اِلٰهَ اِلَّا اللّٰهُ (lā ilāha illallāh) adalah PENAFIAN dan PENETAPAN[a1][b2]:
- لَآ اِلٰهَ lā ilāha → النَّفۡيِ an-nafyi PENAFIAN terhadap segala sesuatu yang diibadahi kecuali Allah B.
- اِلَّا اللّٰهُ illallāh → الإِثۡبَاتِ al-itsbāt PENETAPAN bahwa ibadah adalah Hak Allah B saja, tanpa sekutu bagi-Nya dalam ibadah kepada-Nya. Sebagaimana tidak ada sekutu bagi-Nya dalam kerajaan-Nya.
Penafsiran لَآ اِلٰهَ اِلَّا اللّٰهُ (lā ilāha illallāh) adalah[c1]:
Tidak ada tuhan yang benar (yang berhak diibadahi) kecuali Allah.
Kebenaran itu dari Tuhanmu. Maka, janganlah sekali-kali engkau termasuk orang-orang yang ragu. – [QS.2:147]
lā ḥaula wa lā quwwata illā billāh
Tiada daya dan tiada kekuatan kecuali dengan (pertolongan) Allah.
allāhu wa rasūluhu a`lam
Allah dan Rasul-Nya lebih mengetahui.
REFERENSI
AL-QUR’AN
JANGAN RAGU
اَلۡحَقُّ مِن رَّبِّكَ فَلَا تَكُونَنَّ مِنَ الۡمُمۡتَرِينَ١٤٧
Kebenaran itu dari Tuhanmu. Maka, janganlah sekali-kali engkau termasuk orang-orang yang ragu.
اَلۡحَقُّ مِن رَّبِّكَ فَلَا تَكُن مِّنَ الۡمُمۡتَرِينَ٦٠
Kebenaran itu dari Tuhanmu. Oleh karena itu, janganlah engkau termasuk orang-orang yang ragu.
DALIL LĀ ILĀHA ILLA ALLĀH MUḤAMMAD RASŪL ALLĀH
فَاعۡلَمۡ أَنَّهُۥ لَآ إِلَٰهَ إِلَّا اللّٰهُ وَاسۡتَغۡفِرۡ لِذَنۢبِكَ وَلِلۡمُؤۡمِنِينَ وَالۡمُؤۡمِنَٰتِۗ وَاللّٰهُ يَعۡلَمُ مُتَقَلَّبَكُمۡ وَمَثۡوَىٰكُمۡ١٩
Ketahuilah (pahami dengan yakin) bahwa tidak ada tuhan yang benar (yang berhak diibadahi) kecuali Allah, serta mohonlah ampunan atas dosamu dan (dosa) orang-orang mukmin laki-laki dan perempuan. Allah mengetahui tempat aktivitas dan tempat tinggalmu.
مُّحَمَّدٌ رَّسُولُ اللّٰهِۚ وَالَّذِينَ مَعَهُۥٓ أَشِدَّآءُ عَلَى الۡكُفَّارِ رُحَمَآءُ بَيۡنَهُمۡۖ تَرَىٰهُمۡ رُكَّعٗا سُجَّدٗا يَبۡتَغُونَ فَضۡلٗا مِّنَ اللّٰهِ وَرِضۡوَٰنٗاۖ سِيمَاهُمۡ فِي وُجُوهِهِم مِّنۡ أَثَرِ السُّجُودِۚ ذَٰلِكَ مَثَلُهُمۡ فِي التَّوۡرَىٰةِۚ وَمَثَلُهُمۡ فِي الۡإِنجِيلِ كَزَرۡعٍ أَخۡرَجَ شَطۡـَٔهُۥ فَـَٔازَرَهُۥ فَاسۡتَغۡلَظَ فَاسۡتَوَىٰ عَلَىٰ سُوقِهِۦ يُعۡجِبُ الزُّرَّاعَ لِيَغِيظَ بِهِمُ الۡكُفَّارَۗ وَعَدَ اللّٰهُ الَّذِينَ ءَامَنُواْ وَعَمِلُواْ الصَّـٰلِحَٰتِ مِنۡهُم مَّغۡفِرَةٗ وَأَجۡرًا عَظِيمَۢا٢٩
Muḥammad adalah utusan Allah, dan orang-orang yang bersamanya bersikap keras terhadap orang-orang kafir, tetapi berkasih sayang sesama mereka. Kamu melihat mereka rukuk dan sujud mencari karunia Allah dan keridhaan-Nya. Tanda-tanda mereka tampak pada wajah mereka dari bekas sujud. Itulah sifat-sifat mereka dalam Taurāt dan Injīl, seperti benih yang mengeluarkan tunasnya, kemudian tunas itu makin kuat, lalu menjadi besar dan tumbuh di atas batangnya. Tanaman itu menyenangkan hati orang yang menanamnya, karena Allah hendak menjengkelkan orang-orang kafir. Allah menjanjikan kepada orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal shalih di antara mereka ampunan dan pahala yang besar.
MAKNA LĀ ILĀHA ILLA ALLĀH
لَآ إِكۡرَاهَ فِي الدِّينِۖ قَد تَّبَيَّنَ الرُّشۡدُ مِنَ الۡغَيِّۚ فَمَن يَكۡفُرۡ بِالطَّـٰغُوتِ وَيُؤۡمِنۢ بِاللّٰهِ فَقَدِ اسۡتَمۡسَكَ بِالۡعُرۡوَةِ الۡوُثۡقَىٰ لَا انفِصَامَ لَهَاۗ وَاللّٰهُ سَمِيعٌ عَلِيمٌ٢٥٦
Tidak ada paksaan dalam (menganut) agama (Islam). Sungguh, telah jelas jalan yang benar dari jalan yang sesat. Siapa yang ingkar kepada thāgūt dan beriman kepada Allah sungguh telah berpegang teguh pada tali yang sangat kuat yang tidak akan putus. Allah Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui.
وَإِذۡ قَالَ إِبۡرَٰهِيمُ لِأَبِيهِ وَقَوۡمِهِۦٓ إِنَّنِي بَرَآءٌ مِّمَّا تَعۡبُدُونَ٢٦
(Ingatlah) ketika Ibrahim berkata kepada ayahnya dan kaumnya, “Sesungguhnya aku berlepas diri dari apa yang kamu sembah,
إِلَّا الَّذِي فَطَرَنِي فَإِنَّهُۥ سَيَهۡدِينِ٢٧
kecuali Dia yang menciptakanku. Dan sungguh, Dia akan memberiku petunjuk.”
SERUAN WAJIB PARA RASUL
۞إِنَّآ أَوۡحَيۡنَآ إِلَيۡكَ كَمَآ أَوۡحَيۡنَآ إِلَىٰ نُوحٖ وَالنَّبِيِّـۧنَ مِنۢ بَعۡدِهِۦۚ وَأَوۡحَيۡنَآ إِلَىٰٓ إِبۡرَٰهِيمَ وَإِسۡمَٰعِيلَ وَإِسۡحَٰقَ وَيَعۡقُوبَ وَالۡأَسۡبَاطِ وَعِيسَىٰ وَأَيُّوبَ وَيُونُسَ وَهَٰرُونَ وَسُلَيۡمَٰنَۚ وَءَاتَيۡنَا دَاوُۥدَ زَبُورٗا١٦٣
Sesungguhnya Kami telah mewahyukan kepadamu (Muḥammad) sebagaimana Kami telah mewahyukan kepada Nūḥ dan nabi-nabi setelahnya. Kami telah mewahyukan pula kepada Ibrāhīmm, Ismā`īl, Isḥāq, Ya`qūb dan keturunan mereka, `Isa, Ayyub, Yūnus, Hārūn, dan Sulaimān. Kami telah memberikan Zabūr kepada Dāwūd.
وَلَقَدۡ بَعَثۡنَا فِي كُلِّ أُمَّةٖ رَّسُولًا أَنِ اعۡبُدُواْ اللّٰهَ وَاجۡتَنِبُواْ الطَّـٰغُوتَۖ فَمِنۡهُم مَّنۡ هَدَى اللّٰهُ وَمِنۡهُم مَّنۡ حَقَّتۡ عَلَيۡهِ الضَّلَٰلَةُۚ فَسِيرُواْ فِي الۡأَرۡضِ فَانظُرُواْ كَيۡفَ كَانَ عَٰقِبَةُ الۡمُكَذِّبِينَ٣٦
Sungguh, Kami telah mengutus seorang rasul untuk setiap umat (untuk menyerukan), “Sembahlah Allah dan jauhilah thāgūt!” Di antara mereka ada yang diberi petunjuk oleh Allah dan ada pula yang ditetapkan dalam kesesatan. Maka, berjalanlah kamu di bumi dan perhatikanlah bagaimana kesudahan orang yang mendustakan.
ءَالِهَتُ ālihatu (tuhan-tuhan) BATHIL
وَمَا ظَلَمۡنَٰهُمۡ وَلَٰكِن ظَلَمُوٓاْ أَنفُسَهُمۡۖ فَمَآ أَغۡنَتۡ عَنۡهُمۡ ءَالِهَتُهُمُ الَّتِي يَدۡعُونَ مِن دُونِ اللّٰهِ مِن شَيۡءٖ لَّمَّا جَآءَ أَمۡرُ رَبِّكَۖ وَمَا زَادُوهُمۡ غَيۡرَ تَتۡبِيبٖ١٠١
Kami tidak menzhalimi mereka, tetapi merekalah yang menzhalimi diri sendiri. Maka, tidak bermanfaat sedikit pun bagi mereka tuhan-tuhan (sesembahan-sesembahan) yang mereka sembah selain Allah saat siksaan Tuhanmu datang. (Sesembahan) itu tak lain (justru) hanya menambah kebinasaan bagi mereka.
tuhan-tuhan BATHIL
ذَٰلِكَ بِأَنَّ اللّٰهَ هُوَ الۡحَقُّ وَأَنَّ مَا يَدۡعُونَ مِن دُونِهِۦ هُوَ الۡبَٰطِلُ وَأَنَّ اللّٰهَ هُوَ الۡعَلِيُّ الۡكَبِيرُ٦٢
Demikianlah, karena sesungguhnya Allah, Dialah Al-Ḥaqq (Tuhan yang benar), dan apa saja yang mereka seru selain Allah itulah yang bathil. Sesungguhnya Allah, Dialah Yang Maha Tinggi lagi Maha Besar.
ذَٰلِكَ بِأَنَّ اللّٰهَ هُوَ الۡحَقُّ وَأَنَّ مَا يَدۡعُونَ مِن دُونِهِ الۡبَٰطِلُ وَأَنَّ اللّٰهَ هُوَ الۡعَلِيُّ الۡكَبِيرُ٣٠
Demikianlah, karena sesungguhnya Allah, Dialah Al-Ḥaqq (Tuhan yang benar), dan apa saja yang mereka seru selain Allah adalah bathil. Sesungguhnya Allah, Dialah Yang Maha Tinggi lagi Maha Besar.
ḤADĪTS
MAKNA LĀ ILĀHA ILLA ALLĀH
حَدِيثُ طَارِقِ بۡنِ أَشۡيَمَ الۡأَشۡجَعِيِّ أَبِي مَالِكٍ
١٥٨٧٥ – حَدَّثَنَا يَزِيدُ بۡنُ هَارُونَ، قَالَ: أَخۡبَرَنَا أَبُو مَالِكٍ الۡأَشۡجَعِيُّ، عَنۡ أَبِيهِ، أَنَّهُ سَمِعَ النَّبِيَّ ﷺ وَهُوَ يَقُولُ لِقَوۡمٍ:
«مَنۡ وَحَّدَ اللّٰهَ تَعَالَىٰ، وَكَفَرَ بِمَا يُعۡبَدُ مِنۡ دُونِهِ، حَرُمَ مَالُهُ وَدَمُهُ، وَحِسَابُهُ عَلَى اللّٰهِ عَزَّ وَجَلَّ» (١)
حَدَّثَنَا بِهِ يَزِيدُ بِوَاسِطٍ وَبَغۡدَادَ، قَالَ: سَمِعَ النَّبِيَّ ﷺ.
15875 – ḥaddatsanā yazīd ibnu hārūn, qōla, akhbaronā abū mālikin al-asyja`iyyu, `an abīhi, annahu sami`a an-nabiyya C wa huwa yaqūlu liqoumin,
«man waḥḥada allāh ta`ālā, wa kafaro bimā yu`badu min dūnihi, ḥaruma māluhu wa damuhu, wa ḥisābuhu `alā allāh `azza wa jalla».
ḥaddatsanā bihī yazīdu biwāsithin wa baghdāda, qōla, sami`a an-nabiyya C.
Kitab Musnad Penduduk Makkah
Bab Ḥadīts Thariq bin Asy-yam Al-Asyja`i Ayah Abu Malik E
Ḥadīts Thāriq bin Asyam Al-Asyja`ī Abī Mālik
15875 – Telah menceritakan kepada kami Yazīd bin Hārūn, ia berkata:
Telah mengabarkan kepada kami Abū Mālik Al-Asyja`ī, dari ayahnya, bahwa ia mendengar Nabi C ketika beliau berkata kepada suatu kaum:
“Barangsiapa mentauḥidkan Allah Ta`ālā dan mengingkari apa yang disembah selain-Nya, maka ḥaram harta dan darahnya, dan perhitungannya berada pada Allah `Azza wa Jalla.”
Yazīd menyampaikan ḥadīts ini kepada kami di Wāsith dan Baghdād, ia berkata: (ayah Abū Mālik) mendengar Nabi C.
Sanadnya shaḥiḥ sesuai syarat Muslim. Abu Malik Al-Asyja`i adalah Sa`d bin Thariq bin Asyim.
١٥٨٧٨ – قَالَ: وَسَمِعۡتُهُ يَقُولُ لِلۡقَوۡمِ:
«مَنۡ وَحَّدَ اللّٰهَ، وَكَفَرَ بِمَا يُعۡبَدُ مِنۡ دُونِهِ، حَرُمَ مَالُهُ، وَدَمُهُ، وَحِسَابُهُ عَلَى اللّٰهِ عَزَّ وَجَلَّ» (١)
«man waḥḥada allāha, wa kafaro bimā yu`badu min dūnihi, ḥaruma māluhu, wa damuhu, wa ḥisābuhu `alā allāhi `azza wa jalla».
Kitab Musnad Penduduk Makkah
Bab Ḥadīts Thariq bin Asy-yam Al-Asyja`i Ayah Abu Malik E
15878 – Ia berkata: Dan aku mendengarnya berkata kepada suatu kaum:
“Barangsiapa mentauḥidkan Allah dan mengingkari apa saja yang disembah selain-Nya, maka haram harta dan darahnya, dan perhitungannya berada pada Allah `Azza wa Jalla.”
Sanadnya shaḥiḥ sesuai syarat Muslim, dan ini merupakan pengulangan dari ḥadīts no. (15875), baik sanad maupun matannya.
٢٧٢١١ – حَدَّثَنَا يَزِيدُ، قَالَ: حَدَّثَنَا أَبُو مَالِكٍ، قَالَ: حَدَّثَنِي أَبِي، أَنَّهُ سَمِعَ رَسُولَ اللّٰهِ ﷺ وَإِذَا أَتَاهُ الۡإِنۡسَانُ يَسۡأَلُهُ قَالَ: يَا نَبِيَّ اللّٰهِ، كَيۡفَ أَقُولُ حِينَ أَسۡأَلُ رَبِّي؟ قَالَ:
«قُلِ: اللّٰهُمَّ اغۡفِرۡ لِي وَارۡحَمۡنِي وَاهۡدِنِي وَارۡزُقۡنِي»،
وَقَبَضَ كَفَّهُ إِلَّا (٣) الۡإِبۡهَامَ وَقَالَ:
«هٰؤُلَاءِ يَجۡمَعۡنَ لَكَ خَيۡرَ (٤) دُنۡيَاكَ وَآخِرَتِكَ» (٥)
٢٧٢١٢ – قَالَ: وَسَمِعۡتُهُ يَقُولُ لِلۡقَوۡمِ:
«مَنۡ وَحَّدَ اللّٰهَ وَكَفَرَ بِمَا يُعۡبَدُ مِنۡ (٦) دُونِهِ حَرُمَ مَالُهُ وَدَمُهُ وَحِسَابُهُ عَلَى اللّٰهِ عَزَّ وَجَلَّ» (٧)
«quli, allōhumma ighfir lī warḥamnī wahdinī warzuqnī»,
wa qobadho kaffahu illā (٣) al-ibhāma wa qōla,
«hā’ulā’i yajma`na laka khoiro (٤) dunyāka wa ākhirotika». (٥)
27212 – qōla, wa sami`tuhu yaqūlu lil-qoumi,
«man waḥḥada allāha wa kafaro bimā yu`badu min (٦) dūnihi ḥaruma māluhu wa damuhu wa ḥisābuhu `alā allāhi `azza wa jalla». (٧)
Kitab Musnad Dari Beberapa Kabilah
Bab Ḥadīts Thariq bin Asy-yam E
27211 – Telah menceritakan kepada kami Yazīd, ia berkata: Telah menceritakan kepada kami Abū Mālik, ia berkata:
Ayahku menceritakan kepadaku bahwa ia mendengar Rasūlullāh C, apabila ada seseorang datang bertanya kepada beliau, ia berkata:
“Wahai Nabiyullāh, bagaimana aku mengucapkan doa ketika meminta kepada Rabbku?”
Beliau bersabda:
“Ucapkanlah: allāhumma ighfir lī warḥamnī wahdinī warzuqnī
(Ya Allah, ampunilah aku, raḥmatilah aku, berilah aku petunjuk, dan berilah aku rezeki).”Lalu beliau menggenggam telapak tangannya kecuali (٣) ibu jari, dan bersabda:
“Doa-doa ini menghimpunkan untukmu kebaikan (٤) duniamu dan akhiratmu.” (٥)
27212 – Ayahku berkata:
Dan aku mendengar beliau bersabda kepada suatu kaum:
“Barangsiapa mentauḥidkan Allah dan mengingkari apa yang disembah (٦) selain-Nya, maka ḥaram harta dan darahnya, dan perhitungannya berada pada Allah `Azza wa Jalla.” (٧)
Dalam ((ظ٦)): ila.
[٤]
Lafazh: khoir tidak terdapat dalam ((ظ٦)).
[٥]
Isnād-nya shaḥīḥ sesuai syarat Muslim, dan ini merupakan pengulangan dari (15877), baik sanad maupun matannya.
[٦]
Lafazh: min tidak terdapat dalam ((ظ٦)).
[٧]
Isnād-nya shaḥīḥ sesuai syarat Muslim, dan ini merupakan pengulangan dari (15875) dan (15878), baik sanad maupun matannya.
١٥٨٧٨ – قَالَ: وَسَمِعۡتُهُ يَقُولُ لِلۡقَوۡمِ:
«مَنۡ وَحَّدَ اللّٰهَ، وَكَفَرَ بِمَا يُعۡبَدُ مِنۡ دُونِهِ، حَرُمَ مَالُهُ، وَدَمُهُ، وَحِسَابُهُ عَلَى اللّٰهِ عَزَّ وَجَلَّ» (١)
«man waḥḥada allāha, wa kafaro bimā yu`badu min dūnihi, ḥaruma māluhu, wa damuhu, wa ḥisābuhu `alā allāhi `azza wa jalla».
Kitab Musnad Dari Beberapa Kabilah
Bab Ḥadīts Thariq bin Asy-yam E
15878 – Ia berkata: Dan aku mendengarnya berkata kepada suatu kaum:
“Barangsiapa mentauḥidkan Allah dan mengingkari apa saja yang disembah selain-Nya, maka ḥaram harta dan darahnya, dan perhitungannya berada pada Allah `Azza wa Jalla.”
Sanadnya shaḥiḥ. Para perawinya tsiqah, yaitu para perawi kitab Shaḥiḥ, selain Isma`il bin Muḥammad — yaitu Ibnu Jabalah Abu Ibrahim Al-Mu`aqqib — yang termasuk perawi kitab “At-Ta`jil”, dan ia tsiqah. Marwan bin Mu`awiyah adalah Al-Fazari.
Ḥadīts ini telah disebut sebelumnya pada nomor (15875).
٣٧ – (٢٣) وَحَدَّثَنَا سُوَيۡدُ بۡنُ سَعِيدٍ، وَابۡنُ أَبِي عُمَرَ قَالَا: حَدَّثَنَا مَرۡوَانُ – يَعۡنِيَانِ الۡفَزَارِيَّ –، عَنۡ أَبِي مَالِكٍ، عَنۡ أَبِيهِ قَالَ: سَمِعۡتُ رَسُولَ اللّٰهِ ﷺ يَقُولُ:
«مَنۡ قَالَ: لَا إِلٰهَ إِلَّا اللّٰهُ، وَكَفَرَ بِمَا يُعۡبَدُ مِنۡ دُونِ اللّٰهِ، حَرُمَ مَالُهُ وَدَمُهُ، وَحِسَابُهُ عَلَى اللّٰهِ».
٣٨ – (٢٣) وَحَدَّثَنَا أَبُو بَكۡرِ بۡنُ أَبِي شَيۡبَةَ، حَدَّثَنَا أَبُو خَالِدٍ الۡأَحۡمَرُ، (ح) وَحَدَّثَنِيهِ زُهَيۡرُ بۡنُ حَرۡبٍ، حَدَّثَنَا يَزِيدُ بۡنُ هَارُونَ كِلَاهُمَا، عَنۡ أَبِي مَالِكٍ، عَنۡ أَبِيهِ أَنَّهُ سَمِعَ النَّبِيَّ ﷺ يَقُولُ: «مَنۡ وَحَّدَ اللّٰهَ»، ثُمَّ ذَكَرَ بِمِثۡلِهِ.
«man qōla, lā ilāha illa allāhu, wa kafaro bimā yu`badu min dūni allāhi, ḥaruma māluhu wa damuhu, wa ḥisābuhu `alā allāh».
38 – (23) wa ḥaddatsanā abū bakri ibnu abī syaibah, ḥaddatsanā abū khōlidi al-aḥmaru, (ح) wa ḥaddatsanīhi zuhairu ibnu ḥarbin, ḥaddatsanā yazīdu ibnu hārūna kilāhumā, `an abī mālikin, `an abīhi annahu sami`a an-nabiyya C yaqūlu, «man waḥḥada allāha», tsumma dzakaro bimitslihi.
Kitab Iman
Bab Perintah Memerangi Manusia hingga Mengatakan Tidak Ada tuhan yang benar kecuali Allah, dan Muḥammad Rasulullah
37 – (23) Dan telah menceritakan kepada kami Suwaid bin Sa`īd dan Ibnu Abī `Umar, keduanya berkata: Telah menceritakan kepada kami Marwān — yaitu Al-Fazāriyy — dari Abī Mālik, dari ayahnya, ia berkata:
Aku mendengar Rasūlullāh C bersabda:
“Barangsiapa mengucapkan lā ilāha illa allāh dan mengingkari apa yang disembah selain Allah, maka ḥaram harta dan darahnya, sedangkan perhitungannya diserahkan kepada Allah.”
38 – (23) Dan telah menceritakan kepada kami Abū Bakr bin Abī Syaibah, telah menceritakan kepada kami Abū Khālid Al-Aḥmar.
(ح) Dan ḥadīts ini juga diceritakan kepadaku oleh Zuhair bin Ḥarb, telah menceritakan kepada kami Yazīd bin Hārūn. Keduanya meriwayatkan dari Abī Mālik, dari ayahnya, bahwa ia mendengar Nabi C bersabda:
“Barangsiapa mentauḥidkan Allah…”
Kemudian ia menyebutkan ḥadīts yang semisal dengannya.
«مَنۡ وَحَّدَ اللّٰهَ وَكَفَرَ بِمَا يُعۡبَدُ مِنۡ دُونِهِ، حَرُمَ مَالُهُ وَدَمُهُ، وَحِسَابُهُ عَلَى اللّٰهِ». [١٧١]
«man waḥḥada allāha wa kafaro bimā yu`badu min dūnihi, ḥaruma māluhu wa damuhu, wa ḥisābuhu `alallāh».
3815 – Telah mengabarkan kepada kami Al-Ḥasan bin Sufyān, telah menceritakan kepada kami Abū Bakr bin Abī Syaibah, telah menceritakan kepada kami Abū Khōlid Al-Aḥmar, dari Abī Mālik Al-Asyja`ī, ia berkata: Aku mendengar ayahku berkata:
Aku mendengar Rosūlullāh C bersabda:
“Barangsiapa mentauḥidkan Allah dan mengingkari apa yang disembah selain-Nya, maka ḥaram harta dan darahnya, dan perhitungannya berada pada Allah.”
`ULAMA
MUḤAMMAD BIN `ABDIL-WAHHAB I
Dalil syahadat adalah firman Allah Ta`ala:
“Allah menyatakan bahwa tidak ada ilāh kecuali Dia, demikian pula para malaikat dan orang-orang berilmu, dengan senantiasa menegakkan keadilan. Tidak ada ilāh kecuali Dia, Yang Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana.” (Ali `Imran: 18)
Maknanya adalah: tidak ada yang berhak diibadahi kecuali Allah satu-satunya.
Dan (lā ilāha) menafikan seluruh yang diibadahi selain Allah, sedangkan (illāllāh) menetapkan ibadah hanya untuk Allah satu-satunya, tidak ada sekutu bagi-Nya dalam ibadah, sebagaimana tidak ada sekutu bagi-Nya dalam kerajaan-Nya.
وَكُلُّ أُمَّةٍ بَعَثَ اللّٰهُ إِلَيۡهِمۡ رَسُولًا مِنۡ نُوحٍ إِلَىٰ مُحَمَّدٍ يَأۡمُرُهُمۡ بِعِبَادَةِ اللّٰهِ وَحۡدَهُ وَيَنۡهَاهُمۡ عَنۡ عِبَادَةِ الطَّاغُوتِ، وَالدَّلِيلُ قَوۡلُهُ تَعَالَىٰ: ﴿وَلَقَدۡ بَعَثۡنَا فِي كُلِّ أُمَّةٍ رَسُولًا أَنِ اعۡبُدُوا اللّٰهَ وَاجۡتَنِبُوا الطَّاغُوتَ﴾ [النَّحۡلِ: ٣٦]، وَافۡتَرَضَ اللّٰهُ عَلَىٰ جَمِيعِ الۡعِبَادِ الۡكُفۡرَ بِالطَّاغُوتِ وَالۡإِيمَانَ بِاللّٰهِ.
قَالَ ابۡنُ الۡقَيِّمِ رَحِمَهُ اللّٰهُ تَعَالَىٰ: مَعۡنَى الطَّاغُوتِ مَا تَجَاوَزَ بِهِ الۡعَبۡدُ حَدَّهُ مِنۡ مَعۡبُودٍ أَوۡ مَتۡبُوعٍ أَوۡ مُطَاعٍ.
wa kullu ummatin ba`atsa allāhu ilaihim rasūlan min nūḥin ilā muḥammadin ya’muruhum bi`ibādati allāhi waḥdahu wa yanhāhum `an `ibādati ath-thōghūti, wa ad-dalīlu qouluhu ta`ālā, (wa laqod ba`atsnā fī kulli ummatin rosūlan ani`budū allāha wajtanibū ath-thōghūta).
waftarodho allāhu `alā jamī`i al-`ibādi al-kufro bith-thōghūti wal-īmānu billāh.
qōla ibnu al-qoyyimi roḥimahu allāhu ta`ālā, ma`nā ath-thōghūti mā tajāwaza bihi al-`abdu ḥaddahu min ma`būdin au matbū`in au muthō`in.
Dan nabi yang pertama adalah Nūḥ D, sedangkan yang terakhir adalah Muḥammad C, dan beliau adalah penutup para nabi.
Dalil bahwa nabi pertama adalah Nūḥ ialah firman Allah Ta`ālā:
“Sesungguhnya Kami telah mewahyukan kepadamu sebagaimana Kami telah mewahyukan kepada Nūḥ dan para nabi setelahnya.” – (QS. An-Nisā’: 163)
Allah telah mengutus seorang rasul kepada setiap umat, dari Nūḥ hingga Muḥammad, yang memerintahkan mereka untuk beribadah kepada Allah satu-satunya, dan melarang mereka dari beribadah kepada thāghūt.
Dalilnya adalah firman Allah Ta`ālā:
“Dan sungguh Kami telah mengutus pada setiap umat seorang rasul (yang menyerukan): sembahlah Allah dan jauhilah thāghūt.”
(QS. An-Naḥl: 36)Dan Allah mewajibkan kepada seluruh hamba untuk kufur kepada thāghūt dan beriman kepada Allah.
Ibnu Al-Qoyyim I berkata:
“Makna thāghūt adalah apa saja yang membuat manusia melampaui batas sebagai hamba Allah, berupa sesuatu yang disembah (diibadahi), diikuti, atau pun ditaati.”
فَيَالَهَا مِنۡ مَسۡأَلَةٍ مَا أَعۡظَمَهَا وَأَجَلَّهَا! وَيَالَهُ مِنۡ بَيَانٍ مَا أَوۡضَحَهُ! وَحُجَّةٍ مَا أَقۡطَعَهَا لِلۡمُنَازِعِ!
fayālahā min mas’alatin mā a`zhomahā wa ajallahā! wa yālahu min bayānin mā audhoḥahu! wa ḥujjatin mā aqtho`ahā lil-munāzi`i!
1. Termasuk yang paling penting untuk menjelaskan makna “lā ilāha illa allāh”.
Sebab apa yang dijadikan Nabi C sebagai penjaga darah dan harta bukan sekedar mengucapkannya dengan lisan. Tidak pula sekadar mengetahui makna dan pengucapannya. Tidak pula sekadar mengakui kebenarannya. Bahkan tidak pula sekadar hanya meminta kepada Allah saja, yang tiada sekutu bagi-Nya.
Akan tetapi, darah dan hartanya tidak menjadi ḥaram (terlindungi) sampai ia mengkufuri apa saja yang diibadahi kecuali Allah.
Jika ia ragu atau berhenti (tidak mau mengingkarinya), maka darah dan hartanya tidak terlindungi.
Maka betapa agung dan mulianya masalah ini! Betapa jelas penjelasannya! Dan betapa kuat hujjahnya untuk membantah orang yang menentang!
MUḤAMMAD BIN SHALIḤ BIN MUḤAMMAD AL-`UTSAIMIN I
Perkataan beliau: “dan maknanya”, yaitu makna dari lā ilāha illāllāh adalah:
Tidak ada yang berhak diibadahi kecuali ALLAH.
Maka syahadat lā ilāha illāllāh adalah seseorang mengakui dengan lisannya dan hatinya bahwa tidak ada sesembahan yang benar selain Allah K, karena ilāh bermakna ma’lūh (yang diibadahi).
Dan التأله at-ta’alluh artinya adalah ibadah.
Kalimat lā ilāha illāllāh mengandung makna penafian dan penetapan. Penafian terkandung dalam lā ilāha, dan penetapan terkandung dalam illāllāh.
Lafazh “Allah” adalah badal (aposisi) dari khobar lā yang dihapus, dan takdirnya adalah lā ilāha ḥaqq illāllāh.
Dengan kita menetapkan khobar dengan kata ḥaqq ini, maka menjadi jelas jawaban dari permasalahan berikut:
Bagaimana bisa dikatakan lā ilāha illāllāh (tidak ada tuhan selain Allah), sementara ada tuhan-tuhan yang diibadahi selain Allah?
Dan Allah Ta`ala sendiri telah menyebut mereka sebagai آلهة (tuhan-tuhan), dan para penyembahnya juga menyebutnya tuhan.
Allah Tabaroka wa Ta`ala berfirman:
“..Tidak memberi manfaat sedikit pun tuhan-tuhan selain Allah yang mereka seru, ketika datang adzab Rabb-mu.” (Surah Hūd, ayat: 101)
Bagaimana mungkin kita menetapkan uluhiyyah bagi selain Allah K, sementara para rasul berkata kepada kaum mereka:
“Sembahlah Allah, tidak ada ilāh bagi kalian selain Dia.” (Surah Al-A`raf, ayat: 59)
Jawaban atas permasalahan ini menjadi jelas dengan menetapkan khobar dalam kalimat lā ilāha illāllāh.
Maka kita katakan: tuhan-tuhan yang diibadahi selain Allah itu memang disebut tuhan, tetapi itu semua adalah tuhan yang bathil, bukan tuhan yang benar (ḥaqq), dan tidak memiliki sedikit pun Hak Ketuhanan.
Hal ini ditunjukkan oleh firman Allah Ta`ala:
“Yang demikian itu karena Allah, Dialah Al-Ḥaqq (Tuhan yang benar), dan apa saja yang mereka seru selain Allah adalah bathil, dan sesungguhnya Allah, Dia-lah Yang Maha Tinggi lagi Maha Besar.” (Surah Al-Ḥajj, ayat: 62)
وَتَفۡسِيرُهَا الَّذِي يُوَضِّحُهَا قَوۡلُهُ تَعَالَى: {وَإِذۡ قَالَ إِبۡرَٰهِيمُ لِأَبِيهِ وَقَوۡمِهِ إِنَّنِي بَرَآءٌ مِّمَّا تَعۡبُدُونَ٢٦ إِلَّا الَّذِي فَطَرَنِي فَإِنَّهُ سَيَهۡدِينِ٢٧ وَجَعَلَهَا كَلِمَةَۢ بَاقِيَةٗ فِي عَقِبِهِ لَعَلَّهُمۡ يَرۡجِعُونَ٢٨} [الزُّخۡرُف: ٢٦-٢٨]
وَقَوۡلُهُ تَعَالَى عَن يُوسُفَ عَلَيۡهِ الصَّلَاةُ وَالسَّلَامُ: {مَا تَعۡبُدُونَ مِن دُونِهِ إِلَّآ أَسۡمَآءٌ سَمَّيۡتُمُوهَآ أَنتُمۡ وَءَابَآؤُكُم مَّآ أَنزَلَ اللّٰهُ بِهَا مِن سُلۡطَٰنٍ} [سُورَةُ يُوسُفَ، الۡآيَةُ: ٤٠]
إِذًا فَمَعۡنَى «لَا إِلٰهَ إِلَّا اللّٰهُ» لَا مَعۡبُودَ حَقٌّ إِلَّا اللّٰهُ عَزَّ وَجَلَّ، فَأَمَّا الۡمَعۡبُودَاتُ سِوَاهُ فَإِنَّ أُلُوهِيَّتَهَا الَّتِي يَزۡعُمُهَا عَابِدُوهَا لَيۡسَتۡ حَقِيقَةٗ، أَيۡ أُلُوهِيَّةٌ بَاطِلَةٌ
wa tafsīruhā alladzī yuwadhdhiḥuhā qouluhu ta`ālā: {wa idz qōla ibrōhīm li abīhi wa qoumih innani barō’un mimmā ta`budūn[26], illālladzī fathoronī fa innahu sayahdīn[27], wa ja`alahā kalimatan bāqiyatan fī `aqibih la`allahum yarji`ūn[28]} [az-zukhruf: 26-28]
wa qouluhu ta`ālā `an yūsuf `alaihi ash-sholātu wa as-salām: {mā ta`budūna min dūnihi illā asmā’un sammaitumūhā antum wa ābā’ukum mā anzalallāhu bihā min sulthōn[40]} [sūrah yūsuf, al-āyah: 40]
idzan fama`nā “lā ilāha illāllāh” lā ma`būda ḥaqq illāllāh K, fa ammā al-ma`būdātu siwāhu fa inna ulūhiyyatahā allatī yaz`umuhā `ābidūhā laisat ḥaqīqoh, ai ulūhiyyatun bāthilah
Hal itu juga ditunjukkan oleh firman Allah Ta`ala:
“Maka apakah kalian telah melihat al-lat dan al-`uzza, serta Manat yang ketiga yang paling akhir? Apakah untuk kalian anak laki-laki dan untuk-Nya anak perempuan? Itu adalah pembagian yang tidak adil. Itu tidak lain hanyalah nama-nama yang kalian dan nenek moyang kalian buat-buat. Allah tidak menurunkan suatu dalil pun tentangnya. Mereka tidak mengikuti kecuali prasangka dan apa yang diinginkan oleh hawa nafsu, padahal telah datang kepada mereka petunjuk dari Rabb mereka.” (Surah An-Najm: 19–23)
Dan penjelas yang memperjelas makna tersebut adalah firman-Nya:
“Dan (ingatlah) ketika Ibrahim berkata kepada ayahnya dan kaumnya: Sesungguhnya aku berlepas diri dari apa yang kalian sembah, kecuali (Allah) yang menciptakanku, karena sesungguhnya Dia akan memberi petunjuk kepadaku. Dan Dia menjadikannya sebagai kalimat yang kekal pada keturunannya agar mereka kembali.” (Az-Zukhruf: 26–28)
Dan firman-Nya tentang Yusuf `alaihish sholātu was-salām:
“Apa yang kalian sembah selain Dia hanyalah nama-nama yang kalian dan nenek moyang kalian buat-buat, Allah tidak menurunkan suatu dalil pun tentangnya.” (Surah Yusuf: 40)
Maka makna lā ilāha illāllāh adalah tidak ada tuhan yang benar (yang berhak diibadahi) kecuali Allah K. Adapun yang diibadahi selain Allah, maka keilahian yang diklaim oleh para penyembahnya bukanlah hakikat yang benar, melainkan keilahian yang bathil.
MEMERANGI MANUSIA HINGGA MEMPERSAKSIKAN LAA ILAAHA ILLALLAH
(حَتَّىٰ) هَلۡ هِيَ لِلتَّعۡلِيلِ بِمَعۡنَى أَنۡ أُقَاتِلَ لِيَشۡهَدُوا، أَوۡ هِيَ لِلۡغَايَةِ بِمَعۡنَى أُقَاتِلُهُمۡ إِلَىٰ أَنۡ يَشۡهَدُوا؟
وَالۡجَوَابُ: هِيَ تَحۡتَمِلُ أَنۡ تَكُونَ لِلتَّعۡلِيلِ وَلٰكِنِ الثَّانِيَ أَظۡهَرُ، يَعۡنِي أُقَاتِلُهُمۡ إِلَىٰ أَنۡ يَشۡهَدُوا،
وَ(حَتَّىٰ) تَأۡتِي لِلتَّعۡلِيلِ وَتَأۡتِي لِلۡغَايَةِ، فَقَوۡلُهُ تَعَالَى: ﴿قَالُوا لَن نَّبۡرَحَ عَلَيۡهِ عَاكِفِينَ حَتَّىٰ يَرۡجِعَ إِلَيۡنَا مُوسَىٰ﴾ [طٰهٰ: ٩١]
فَهٰذِهِ لِلۡغَايَةِ وَلَا تَصِحُّ لِلتَّعۡلِيلِ، لِأَنَّ بَقَاءَهُمۡ عَاكِفِينَ عَلَى الۡعِجۡلِ لَا يَسۡتَلۡزِمُ حُضُورَ مُوسَىٰ عَلَيۡهِ السَّلَامُ
وَقَوۡلُهُ عَزَّ وَجَلَّ عَنِ الۡمُنَافِقِينَ: ﴿لَا تُنفِقُوا عَلَىٰ مَنۡ عِندَ رَسُولِ اللّٰهِ حَتَّىٰ يَنفَضُّوا﴾ [الۡمُنَافِقُونَ: ٧]
فَحَتَّىٰ هُنَا لِلتَّعۡلِيلِ، يَعۡنِي لَا تُنفِقُوا لِأَجۡلِ أَنۡ يَنفَضُّوا عَن رَسُولِ اللّٰهِ، وَلَيۡسَ الۡمَعۡنَى لَا تُنفِقُوا حَتَّىٰ يَنفَضُّوا، فَإِذَا انۡفَضُّوا أَنفِقُوا
حَتَّىٰ يَشۡهَدُوا أَنۡ لَا إِلٰهَ إِلَّا اللّٰهُ أَيۡ حَتَّىٰ يَشۡهَدُوا بِأَلۡسِنَتِهِمۡ وَبِقُلُوبِهِمۡ، لٰكِنۡ مَنۡ شَهِدَ بِلِسَانِهِ عُصِمَ دَمُهُ وَمَالُهُ، وَقَلۡبُهُ إِلَى اللّٰهِ عَزَّ وَجَلَّ
أَنۡ لَا إِلٰهَ إِلَّا اللّٰهُ أَيۡ لَا مَعۡبُودَ حَقٌّ إِلَّا اللّٰهُ عَزَّ وَجَلَّ، فَهُوَ الَّذِي عِبَادَتُهُ حَقٌّ، وَمَا سِوَاهُ فَعِبَادَتُهُ بَاطِلَةٌ
wal-jawāb: hiya taḥtamilu an takūna li at-ta`līl walākini ats-tsānī azh-har, ya`nī uqōtiluhum ilā an yasyhadū,
wa (ḥattā) ta’tī li at-ta`līl wa ta’tī lil-ghōyah, faqouluhu ta`ālā: {qōlū lan nabroḥa `alaihi `ākifīn ḥattā yarji`a ilainā mūsā} [thōhā: 91]
fahādzihi lil-ghōyah wa lā tashiḥḥu li at-ta`līl, li’anna baqō’ahum `ākifīn `alā al-`ijl lā yastalzimu ḥudhūro mūsā `alaihi as-salām
wa qouluhu `azza wa jall `anil-munāfiqīn: {lā tunfiqū `alā man `inda rasūlillāh ḥattā yanfadhdhū} [al-munāfiqūn: 7]
fa ḥattā hunā li at-ta`līl, ya`nī lā tunfiqū li ajli an yanfadhdhū `an rosūlillāh, wa laisa al-ma`nā lā tunfiqū ḥattā yanfadhdhū, fa idzā infadhdhū anfaqū
ḥattā yasyhadū an lā ilāha illāllāh ai ḥattā yasyhadū bi alsinatihim wa bi qulūbihim, lākin man syahida bilisānihi `ushima damuhu wa māluhu, wa qolbuhu ilāllāh `azza wa jall
an lā ilāha illāllāh ai lā ma`būda ḥaqq illāllāh `azza wa jall, fahuwa alladzī `ibādatuhu ḥaqq, wa mā siwāhu fa `ibādatuhu bāthilah
ḥattā yasyhadū an lā ilāha illāllāh (hingga mereka bersaksi bahwa tidak ada tuhan yang benar kecuali Allah) — apakah kata ḥattā di sini bermakna sebab (ta`līl), yaitu aku memerangi mereka supaya mereka bersaksi, atau bermakna batas (ghōyah), yaitu aku memerangi mereka hingga mereka bersaksi?Jawabannya: bisa mengandung makna sebab (ta`līl), namun makna kedua (batas – ghōyah) lebih kuat, yaitu aku memerangi mereka hingga mereka bersaksi.
Kata ḥattā bisa datang untuk makna sebab (ta`līl) dan bisa pula untuk makna batas (ghōyah).
Contoh untuk makna batas (ghōyah) adalah firman Allah Ta`ala:
“Mereka berkata: Kami tidak akan berhenti menyembahnya hingga Musa kembali kepada kami.” (Thaha: 91)
Ini bermakna batas (ghōyah), dan tidak tepat dimaknai sebab (ta`līl), karena sikap mereka yang tetap menyembah patung anak sapi tidak menyebabkan datangnya Musa.
Sedangkan firman Allah tentang orang-orang munafik:
“Janganlah kalian memberi sedekah kepada orang-orang yang ada di sisi Rasulullah supaya mereka bubar (meninggalkan Rasulullah).” (Al-Munāfiqūn: 7)
Di sini ḥattā bermakna sebab (ta`līl), yaitu jangan memberi sedekah supaya mereka bubar dari Rasulullah, bukan berarti jangan memberi sedekah hingga mereka bubar, lalu setelah bubar baru memberi.Makna “hingga mereka bersaksi bahwa tidak ada tuhan yang benar kecuali Allah”, yaitu sampai mereka bersaksi dengan lisan dan hati mereka. Namun siapa yang bersaksi dengan lisannya, maka terjaga darah dan hartanya, sedangkan urusan hati sepenuhnya diserahkan kepada Allah K.
Makna lā ilāha illāllāh adalah tidak ada tuhan yang benar kecuali Allah. Ibadah untuk Allah adalah ibadah yang benar, selain itu bathil.”
٥ – أَنَّهُ لَابُدَّ أَنۡ يَعۡتَقِدَ الۡإِنۡسَانُ أَنۡ لَا مَعۡبُودَ حَقٌّ إِلَّا اللّٰهُ، فَلَا يَكۡفِي أَنۡ يَعۡتَقِدَ أَنَّ اللّٰهَ مَعۡبُودٌ بِحَقٍّ، لِأَنَّهُ إِذَا شَهِدَ أَنَّ اللّٰهَ تَعَالَى مَعۡبُودٌ بِحَقٍّ لَمۡ يَمۡنَعۡ أَنَّ غَيۡرَهُ يُعۡبَدُ بِحَقٍّ أَيۡضًا، فَلَا يَكُونُ التَّوۡحِيدُ إِلَّا بِنَفۡيٍ وَإِثۡبَاتٍ: لَا إِلٰهَ إِلَّا اللّٰهُ، نَفۡيُ الۡأُلُوهِيَّةِ عَمَّا سِوَى اللّٰهِ وَإِثۡبَاتُهَا لِلّٰهِ عَزَّ وَجَلَّ
5 – annahu lā budda an ya`taqida al-insān an lā ma`būda ḥaqq illāllāh, fa lā yakfī an ya`taqida annallāha ma`būdun biḥaqq, li’annahu idzā syahida annallāha ta`ālā ma`būdun biḥaqq lam yamna` an ghoirahu yu`badu biḥaqq aidhon, fa lā yakūnu at-tauḥīd illā binafyiw wa itsbāt: lā ilāha illāllāh, nafyu al-ulūhiyyah `ammā siwāllāh wa itsbātuhā lillāh K
4 – Wajibnya persaksian bahwa tidak ada tuhan yang benar kecuali Allah dengan hati dan lisan. Jika seseorang menampakkannya dengan lisannya dan kita tidak mengetahui apa yang ada di hatinya, maka kita mengambil berdasarkan zhahirnya dan menyerahkan urusan batinnya kepada Allah K. Wajib menahan diri darinya sampai tampak darinya sesuatu yang menyelisihi hal itu. Tidak boleh kita menuduhnya dan mengatakan: orang ini mengucapkannya secara dusta, atau karena takut dibunuh atau ditawan, karena kita tidak mengetahui isi hati manusia.
5 – Siapa pun wajib meyakini bahwa tidak ada tuhan yang benar kecuali Allah. Tidak cukup meyakini bahwa Allah satu-satunya Tuhan yang benar. Karena, jika ia hanya bersaksi bahwa Allah satu-satunya Tuhan yang benar, itu tidak menutup kemungkinan adanya tuhan-tuhan lain yang juga diibadahi. Maka tauḥid tidak terwujud kecuali dengan penafian dan penetapan: lā ilāha illāllāh, yaitu menafikan uluhiyyah dari selain Allah dan menetapkannya hanya untuk Allah K.




