BISMILLAH
DENGAN ASMA ALLAH
Sumber Referensi:
Kitab Tafsir Ibnu Katsir
Volume 1: 184-185
Dari Jābir bin `Abdillāh E[d1:1]:
Allāh B bersumpah dengan kemuliaan dan keagungan-Nya, bahwa nama-Nya tidaklah disebut atas sesuatu kecuali Dia pasti memberkatinya.
Rasūlullāh C bersabda[c1:1]:
Telah diturunkan kepadaku satu ayat yang tidak pernah diturunkan kepada seorang nabi pun selain Sulaimān bin Dāwud dan aku, yaitu: bismillāhir-roḥmānir-roḥīm.
`Īsā D menjawab ketika ditanyakan kepadanya apa arti bismillāh[b1:1]:
Huruf ب bā adalah bahā’ullāh (keagungan Allāh), huruf س sīn adalah sanā’uhu (kemuliaan-Nya), dan huruf م mīm adalah mamlakatuhu (kerajaan-Nya).
Allāh adalah Tuhan segala tuhan. Ar-Raḥmān adalah Yang Maha Pemurah di dunia dan akhirat, sedangkan Ar-Raḥīm adalah Yang Maha Penyayang di akhirat.
`Utsmān bin `Affān bertanya kepada Rasūlullāh C tentang bismillāhir-roḥmānir-roḥīm, maka beliau bersabda[a1:1]:
Ia adalah salah satu nama dari nama-nama Allāh. Dan antara ia dengan asma Allāhu Akbar jaraknya tiada lain hanyalah seperti jarak antara hitam dan putihnya kedua mata karena saking dekatnya.
lā ḥaula wa lā quwwata illā billāh
Tiada daya dan tiada kekuatan kecuali dengan (pertolongan) Allah.
wallāhu a`lam bish-showāb
Dan Allah lebih mengetahui mana yang benar.
REFERENSI
`ULAMA
قَالَ الاِمَامُ الۡعَالِمُ الۡحَبۡرُ الۡعَابِدُ أَبُو مُحَمَّدٍ عَبۡدُ الرَّحۡمَٰنِ بۡنُ أَبِي حَاتِمٍ I فِي تَفۡسِيرِهِ [٨٥]، حَدَّثَنَا أَبِي، حَدَّثَنَا جَعۡفَرُ بۡنُ مُسَافِرٍ، حَدَّثَنَا زَيۡدُ بۡنُ الۡمُبَارَكِ الصَّنۡعَانِيُّ، حَدَّثَنَا سَلَامُ بۡنُ وَهۡبٍ الۡجُنۡدِيُّ، حَدَّثَنَا أَبِي، عَن طَاوُسٍ، عَنِ ابۡنِ عَبَّاسٍ، أَنَّ عُثۡمَانَ بۡنَ عَفَّانَ سَأَلَ رَسُولَ اللّٰهِ صَلَّى اللّٰهُ عَلَيۡهِ وَسَلَّمَ عَنۡ بِسۡمِ اللّٰهِ الرَّحۡمَٰنِ الرَّحِيمِ؟ فَقَالَ، هُوَ اسۡمٌ مِّنۡ أَسۡمَآءِ اللّٰهِ، وَمَا بَيۡنَهُ وَبَيۡنَ اسۡمِ اللّٰهِ الۡأَكۡبَرِ إِلَّا كَمَا بَيۡنَ سَوَادِ الۡعَيۡنَيۡنِ وَبَيَاضِهِمَا مِنَ الۡقُرۡبِ
[Bab tentang Keutamaannya]
Al-Imām Al-`Ālim Al-Ḥabr Al-`Ābid Abū Muḥammad `Abdur Roḥmān bin Abī Ḥātim I berkata dalam tafsirnya [٨٥]:
“Ayahku menceritakan kepada kami, Ja`far bin Musāfir menceritakan kepada kami, Zaid bin Al-Mubārak Ash-Shon`ānī menceritakan kepada kami, Salām bin Wahb Al-Jundī menceritakan kepada kami, ayahku menceritakan kepadaku, dari Thōwūs, dari Ibnu `Abbās:
Bahwa `Utsmān bin `Affān bertanya kepada Rasūlullāh C tentang ‘bismillāhir-roḥmānir-roḥīm’.
Maka beliau bersabda: ‘Ia adalah salah satu nama dari nama-nama Allāh. Dan antara ia dengan asma Allāhu Akbar jaraknya tiada lain hanyalah seperti jarak antara hitam dan putihnya kedua mata karena saking dekatnya.’”
Hadits ini maudhū` (palsu). Hadits tersebut terdapat dalam Tafsir Ibn Abi Hatim 5 – (1/12), dan diriwayatkan oleh Al-Khatib Al-Baghdadi dalam kitab Tārīkh-nya (7/313), Al-Ḥakim An-Naisaburi dalam Al-Mustadrak (1/552), serta Al-Baihaqi dalam Syu`ab Al-Iman (2123 H) melalui jalur Zaid bin Al-Mubārak, darinya.Dan Al-`Uqaili meriwayatkannya dalam biografi Salām bin Wahb Al-Jundī, lalu berkata:
‘Tidak ada yang mengikuti riwayatnya dalam hadits ini, dan ia tidak dikenal kecuali melalui hadits tersebut.’
Dan Adz-Dzahabi berkata dalam biografi Salām bin Wahb di Mizan Al-I`tidal (2/182 no. 3358):
‘Ia datang dengan khabar munkar, bahkan dusta,’
lalu beliau membawakan hadits ini.
وَقَدۡ رَوَى الۡحَافِظُ ابۡنُ مَرۡدُوَيۡهِ مِن طَرِيقَيۡنِ [٨٦]، عَنۡ إِسۡمَاعِيلَ بۡنِ عَيَّاشٍ، عَنۡ إِسۡمَاعِيلَ بۡنِ يَحۡيَىٰ، عَنۡ مِسۡعَرٍ، عَنۡ عَطِيَّةَ، عَنۡ أَبِي سَعِيدٍ، قَالَ، قَالَ رَسُولُ اللّٰهِ ﷺ، إِنَّ عِيسَىٰ بۡنَ مَرۡيَمَ D أَسۡلَمَتۡهُ أُمُّهُ إِلَى الۡكُتَّابِ لِيُعَلِّمَهُ، فَقَالَ [١] لَهُ الۡمُعَلِّمُ، اكۡتُبۡ، فَقَالَ [٢]، مَا أَكۡتُبُ؟ قَالَ، بِاسۡمِ اللّٰهِ، قَالَ لَهُ عِيسَىٰ، [٣] وَمَا بِاسۡمُ اللّٰهِ؟ قَالَ الۡمُعَلِّمُ، مَا أَدۡرِي، قَالَ لَهُ عِيسَىٰ، الۡبَاءُ بَهَاءُ اللّٰهِ، وَالسِّينُ سَنَاؤُهُ، وَالۡمِيمُ مَمۡلَكَتُهُ [٤]، وَاللّٰهُ إِلٰهُ الۡآلِهَةِ، وَالرَّحۡمَٰنُ رَحۡمَٰنُ الدُّنۡيَا وَالۡآخِرَةِ، وَالرَّحِيمُ رَحِيمُ الۡآخِرَةِ.
وَقَدۡ رَوَاهُ ابۡنُ جَرِيرٍ مِنۡ حَدِيثِ إِبۡرَاهِيمَ بۡنِ الۡعَلَاءِ [٥] الۡمُلَقَّبِ زُبۡرِيقَ [٦]، عَنۡ إِسۡمَاعِيلَ بۡنِ عَيَّاشٍ، عَنۡ إِسۡمَاعِيلَ بۡنِ يَحۡيَىٰ، عَنِ ابۡنِ أَبِي مُلَيۡكَةَ، عَمَّنۡ حَدَّثَهُ، عَنِ ابۡنِ مَسۡعُودٍ.
وَمِسۡعَرٍ، عَنۡ عَطِيَّةَ، عَنۡ أَبِي سَعِيدٍ، [١] قَالَ، قَالَ رَسُولُ اللّٰهِ ﷺ … فَذَكَرَهُ، وَهٰذَا غَرِيبٌ جِدًّا، وَقَدۡ يَكُونُ صَحِيحًا إِلَىٰ مَن دُونَ رَسُولِ اللّٰهِ ﷺ، وَقَدۡ [٢] يَكُونُ مِنَ الۡإِسۡرَائِيلِيَّاتِ لَا مِنَ الۡمَرۡفُوعَاتِ، وَاللّٰهُ أَعۡلَمُ.
وَقَدۡ رَوَى جُوَيۡبِرٌ [٨٧] عَنِ الضَّحَّاكِ نَحۡوَهُ مِن قِبَلِهِ.
wa qod rowāhu ibnu jarīr min ḥadītsi ibrōhīm bin al-`alā’ [5] al-mulaqqob zubrīq [6], `an ismā`īl bin `ayyāsy, `an ismā`īl bin yaḥyā, `ani ibni abī mulaikah, `amman ḥaddatsahu, `ani ibni mas`ūd.
wa mis`ar, `an `athiyyah, `an abī sa`īd, [1] qōla, qōla rosūlullāh C … fa dzakarohu, wa hādzā ghorībun jiddā, wa qod yakūnu shoḥīḥan ilā man dūna rosūlillāh C, wa qod [2] yakūnu mina al-isrō’īliyyāt lā mina al-marfū`āt, wallāhu a`lam.
wa qod rowā juwaibir [٨٧] `ani adh-dhoḥḥāk naḥwahu min qibalih.
Dan demikian pula diriwayatkan oleh Abū Bakr bin Mardawaih, dari Sulaimān bin Aḥmad, dari `Ali bin Al-Mubārak, dari Zaid bin Al-Mubārak, dengan sanad tersebut.
Dan Al-Ḥāfizh Ibnu Mardawaih meriwayatkan melalui dua jalur [٨٦], dari Ismā`īl bin `Ayyāsy, dari Ismā`īl bin Yaḥyā, dari Mis`ar, dari `Athiyyah, dari Abū Sa`īd, ia berkata:
Rasūlullāh C bersabda:
“Sesungguhnya `Īsā bin Maryam D diserahkan oleh ibunya kepada tempat belajar menulis agar dia diajari.
Maka guru itu berkata kepadanya: ‘Tulislah.’
Ia berkata: ‘Apa yang harus aku tulis?’
Guru itu berkata: ‘bismillāh.’
`Īsā berkata kepadanya: ‘Apa arti bismillāh?’
Guru itu berkata: ‘Aku tidak tahu.’
`Īsā berkata: ‘Huruf ب bā adalah bahā’ullāh (keagungan Allāh), huruf س sīn adalah sanā’uhu (kemuliaan-Nya), dan huruf م mīm adalah mamlakatuhu (kerajaan-Nya). Allāh adalah Tuhan segala tuhan. Ar-Raḥmān adalah Yang Maha Pemurah di dunia dan akhirat, sedangkan Ar-Raḥīm adalah Yang Maha Penyayang di akhirat.’”
Dan Ibnu Jarīr meriwayatkannya dari hadits Ibrāhīm bin Al-`Alā’ yang dijuluki Zubrīq, dari Ismā`īl bin `Ayyāsy, dari Ismā`īl bin Yaḥyā, dari Ibnu Abī Mulaikah, dari seseorang yang menceritakan kepadanya, dari Ibnu Mas`ūd.
Dan Mis`ar, dari `Athiyyah, dari Abū Sa`īd, ia berkata: “Rasūlullāh C bersabda…” lalu menyebutkannya.
Dan ini sangat ghorib. Bisa jadi sanadnya shahih sampai kepada selain Rasūlullāh C, dan bisa jadi ia termasuk kisah Isrā’īliyyāt, bukan hadits marfū`. Dan Allāh lebih mengetahui.
Dan Juwaibir [٨٧] juga meriwayatkan dari Adh-Dhaḥḥāk yang semisal dengannya dari perkataannya sendiri.
Hadits ini maudhū` (palsu). Diriwayatkan oleh Ibn Jarir Ath-Thabari dalam tafsirnya 140 – (1/121). Lihat juga no. 145 dan 147 – (1/125, 127).Dan diriwayatkan pula oleh Ibn `Adi dalam Al-Kamil fi Dhu`afa Al-Rijal (1/303) melalui sanad yang sama seperti riwayat Ibn Jarir.
Lalu Ibn `Adi berkata:
‘Ini adalah hadits yang batil sanadnya, tidak diriwayatkan kecuali oleh Ismā`īl. Dan Ismā`īl ini meriwayatkan kebatilan-kebatilan dari para perawi tsiqah.’
Dan melalui jalur Ibn `Adi inilah Ibn Al-Jauzi meriwayatkannya dalam Al-Maudhu`at (186), lalu berkata:
‘Hadits ini palsu.’
Kemudian beliau berkata:
‘Hadits seperti ini tidak dibuat kecuali oleh seorang zindiq/mulḥid yang ingin mencemarkan Islam, atau orang bodoh yang sangat bodoh dan tidak peduli terhadap agama.’
Dan Ibn Ḥibban juga meriwayatkannya (1/126–127), lalu berkata:
Ismā`īl meriwayatkan hadits-hadits palsu dari para perawi tsiqah, dan meriwayatkan sesuatu yang tidak ada asalnya dari para perawi terpercaya. Tidak halal meriwayatkan darinya dan tidak boleh berhujjah dengannya sama sekali.
[٨٧]
Jubair: matrūk (perawi yang ditinggalkan haditsnya karena sangat lemah, sering dianggap dekat dengan tertuduh dusta).
Dan Ibnu Mardawaih meriwayatkan dari hadits Yazīd bin Abī Khālid, dari Sulaimān bin Buraidah. Dan dalam satu riwayat, dari `Abdul Karīm Abī Umayyah, dari Ibnu Buraidah, dari ayahnya:
Bahwa Rasūlullāh C bersabda:
“Telah diturunkan kepadaku satu ayat yang tidak pernah diturunkan kepada seorang nabi pun selain Sulaimān bin Dāwud dan aku, yaitu: bismillāhir-roḥmānir-roḥīm.” [88]
`Abd Al-Karim Abu Umayyah: lemah (dha`if), demikian dikatakan dalam Taqrib Al-Tahdzib.Dan diriwayatkan oleh Ibn Abi Ḥatim dalam tafsirnya (9/16306) melalui jalur `Abd Al-Karim Abu Umayyah, dari Ibn Buraidah, dari ayahnya, dengannya, secara marfu`.
Dan diriwayatkan oleh Al-Daraquthni dalam Sunan Al-Daraquthni 29 – (1/310) melalui jalur Salamah bin Shalih, dari Yazid bin Abi Khalid, dari `Abd Al-Karim Abu Umayyah, dari Ibn Buraidah semisalnya.
Dan diriwayatkan pula oleh Al-Baihaqi (10/62).
Dan Ath-Thabarani berkata:
‘Hadits ini tidak diriwayatkan dari Ibn Buraidah kecuali oleh `Abd Al-Karim, dan tidak diriwayatkan darinya kecuali oleh Yazid, dan Salamah bersendirian meriwayatkannya.’
Dan Salamah itu adalah Ibn Shalih. Adz-Dzahabi berkata:
‘Para ulama meninggalkannya.’
Dan akan datang perkataan Ibn Katsir:
‘Ini hadits gharib dan sanadnya lemah,’
ketika menafsirkan ayat 30 dari Surat An-Naml.
Dan ia meriwayatkan dengan sanadnya dari `Abdul Kabīr bin Al-Mu`āfā bin `Imrōn, dari ayahnya, dari `Umar bin Dzarr, dari `Athō’ bin Abī Robāḥ, dari Jābir bin `Abdillāh, ia berkata:
“Ketika turun ayat ‘bismillāhir-roḥmānir-roḥīm’, awan berlari ke arah timur, angin menjadi tenang, laut bergelora, binatang-binatang mendengarkan dengan telinga mereka, setan-setan dilempari dari langit, dan Allāh Ta`ālā bersumpah dengan kemuliaan dan keagungan-Nya bahwa nama-Nya tidaklah disebut atas sesuatu kecuali Dia pasti memberkatinya.” [89]
Dan As-Suyuthi menisbatkannya dalam Ad-Durr Al-Mantsur (1/26) kepada Ats-Tsa`labi dalam tafsirnya.



