TSALĀTSATUL USHŪL – MUḤAMMAD BIN `ABDUL-WAHHĀB
Sumber Referensi[a1]:
3 Prinsip Dasar dengan Dalil
Penulis : Muḥammad bin `Abdul Wahhāb bin Sulaimān At-Tamīmī An-Najdī (wafat 1206 H) Halaman : 24 dari 47 halaman Lanjutan : ○ Syarat, Rukun, dan Wajib Sholat ○ Al-Qowā`id Al-Arba` (4 Kaidah)
3 PRINSIP DASAR DENGAN DALIL
Dengan nama Allah Ar-Raḥmān Ar-Raḥīm.
Segala puji bagi Allah, Rabb semesta alam. Semoga Allah melimpahkan shalawat dan salam kepada nabi kita, Muḥammad, beserta keluarga, para sahabat beliau, dan seluruh orang yang mengikuti petunjuk beliau hingga Hari Kiamat. Amma ba`du.
Sesungguhnya perkara yang paling penting untuk diperhatikan oleh seorang Muslim, dan yang paling besar untuk dijaga, adalah segala sesuatu yang berkaitan dengan aqidah dan pokok-pokok ibadah. Sebab, keselamatan aqidah dan mengikuti tuntunan yang benar merupakan tolok ukur diterima atau tidaknya amal, serta bermanfaat bagi seorang hamba.
Allah telah memuliakan umat ini, dan menganugerahkan kepada mereka para imam petunjuk dan pelita di tengah kegelapan. Mereka menerangi jalan, menjelaskan apa yang wajib dan apa yang dilarang, apa yang membawa mudharat dan apa yang membawa manfaat, baik dalam perkara yang kecil maupun yang besar. Semoga Allah membalas mereka dengan sebaik-baik balasan atas jasa mereka kepada Islam dan kaum Muslimin.
Di antara imam-imam tersebut, bahkan termasuk yang paling agung dan paling masyhur, adalah Syaikhul Islam sekaligus teladan umat manusia, Imām Muḥammad bin `Abdil Wahhāb. Semoga Allah melimpahkan pahala dan ganjaran yang besar kepadanya serta memasukkannya ke dalam surga tanpa hisab.
-3-[a2]
Sungguh beliau, raḥimahullāh, telah bersungguh-sungguh menjelaskan kebenaran beserta dalilnya. Beliau berjihad dengan pena, lisan, dan senjatanya, hingga Allah menyelamatkan banyak umat melalui beliau dari kegelapan kekafiran dan kebodohan menuju cahaya ilmu dan iman.
Kitab yang berada di hadapan kita ini menghimpun 3 risalah karya imam tersebut, yaitu: Al-Ushūl Ats-Tsalātsah wa Adillatuhā, Syurūth Ash-Sholāh wa Wājibātuhā wa Arkānuhā, dan Al-Qowā`id Al-Arba`.
Ke-3 risalah ini termasuk karya beliau yang paling penting dan paling lengkap dalam menjelaskan pokok-pokok aqidah dan ibadah. Di dalamnya beliau menghimpun berbagai perkara yang wajib diketahui dan diamalkan oleh setiap muslim dalam urusan agamanya yang paling mendasar.
Di samping itu, beliau juga memperingatkan kaum Muslimin dari syubhat para penyeru kesyirikan yang berusaha mengaburkan pemahaman manusia dengan mengklaim bahwa syirik kepada Allah hanya terbatas pada syirik dalam rubūbiyyah. Beliau menjelaskan kekeliruan mereka dan membantah syubhat-syubhat tersebut dengan dalil dari Kitab Allah dan Sunnah RasulNya C.
Beliau menyusun risalah-risalah ini untuk para pemula, serta bersungguh-sungguh memudahkan penyampaiannya dan meringkas isinya, hingga tampil dalam bentuk yang paling baik dan memberikan manfaat yang sangat besar,
-4-[a3]
…sehingga dapat dipahami oleh pemula, sementara yang sudah berilmu pun tetap perlu mempelajarinya. Dengan demikian, manfaatnya tersebar luas dan kebaikannya melimpah, karena agungnya tema-tema yang dibahas, serta mulianya kandungan yang dimilikinya.
Kementerian Urusan Islam, Wakaf, Dakwah, dan Bimbingan, yang diwakili oleh Deputi Percetakan dan Penerbitan, memandang bahwa risalah-risalah ini memiliki manfaat yang sangat besar. Hal itu tampak dari mudahnya gaya bahasa yang digunakan, ringkas penyampaiannya, serta agung dan pentingnya pembahasan yang dikandungnya. Oleh karena itu, kementerian memandang bahwa risalah-risalah ini termasuk yang paling layak untuk diperhatikan dan disebarluaskan sebagai ajakan kepada agama Allah yang lurus dengan hikmah dan metode yang paling aman, sekaligus sebagai bentuk nasihat kepada Allah, KitabNya, RasulNya, dan kaum Muslimin.
Kami memohon kepada Allah Subḥānahu wa Ta`ālā agar memberikan taufik kepada seluruh kaum Muslimin untuk memahami agamaNya, mengamalkan KitabNya, dan Sunnah RasulNya. Sesungguhnya Dia Maha Mendengar lagi Maha Dekat. Semoga Allah melimpahkan shalawat dan salam kepada nabi kita Muḥammad, beserta keluarga dan para sahabat beliau.
Wakil Menteri Urusan Islam, Wakaf, Dakwah, dan Bimbingan Bidang Percetakan dan Penerbitan,
Dr. `Abdullāh bin Aḥmad Az-Zaid.
-5-[a4]
(Kewajiban yang Harus Dipelajari oleh Setiap Muslim)
Dengan nama Allah Yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang.
Ketahuilah, semoga Allah meraḥmatimu, setiap kita wajib mempelajari 4 perkara.
Pertama, ilmu, yaitu mengenal Allah, mengenal nabiNya, dan mengenal agama Islam berdasarkan dalil.
Kedua, mengamalkan ilmu tersebut.
Ketiga, berdakwah kepadanya.
Keempat bersabar atas gangguan dalam menjalankannya.
Dalilnya adalah firman Allah Ta`ālā:
Demi masa.
Sesungguhnya manusia benar-benar berada dalam kerugian.
Kecuali orang-orang yang beriman,
beramal shāliḥ,
saling menasihati dalam kebenaran,
dan saling menasihati dalam kesabaran.”
Imām Asy-Syāfi`ī I berkata,
“Seandainya Allah tidak menurunkan ḥujjah kepada makhlukNya selain surah ini, niscaya surah ini sudah mencukupi mereka.”
Imām Al-Bukhārī I berkata [Juz 1, hlm. 45]:
“(Bab) Ilmu sebelum ucapan dan perbuatan.”
Dalilnya adalah firman Allah Ta`ālā:
فَاعۡلَمۡ أَنَّهُۥ لَآ إِلَٰهَ إِلَّا اللّٰهُ وَاسۡتَغۡفِرۡ لِذَنۢبِكَ
Ketahuilah bahwa tidak ada tuhan (yang benar) selain Allah, dan mohonlah ampunan atas dosamu…
-6-[a5]
Maka beliau memulai dengan ilmu sebelum ucapan dan perbuatan.
(Ketahuilah) semoga Allah meraḥmatimu, bahwa wajib atas setiap muslim dan muslimah mempelajari 3 perkara ini serta mengamalkannya.
(Pertama) Allah telah menciptakan kita, memberikan rezeki kepada kita, dan tidak membiarkan kita begitu saja tanpa tujuan.
Bahkan, Dia mengutus kepada kita seorang rasul. Barang siapa menaatinya, ia akan masuk surga. Dan barang siapa mendurhakainya, ia akan masuk neraka.
Dalilnya adalah firman Allah B:
“Sesungguhnya Kami telah mengutus kepada kalian seorang rasul yang menjadi saksi atas kalian, sebagaimana Kami telah mengutus seorang rasul kepada Fir`aun.
Namun Fir`aun mendurhakai rasul itu, lalu Kami menghukumnya dengan adzab yang sangat berat.” – [QS. Al-Muzzammil 73:15-16]
(Kedua) Allah tidak meridhai adanya sesuatu pun yang dipersekutukan denganNya dalam ibadah. Baik malaikat yang didekatkan kepadaNya maupun nabi yang diutus.
Dalilnya adalah firman Allah Ta`ālā:
“Dan sesungguhnya masjid-masjid itu adalah milik Allah, maka janganlah kalian berdoa (menyembah) kepada siapa pun bersama Allah.” – [QS. Al-Jinn 72:18]
(Ketiga) Barang siapa menaati Rasul dan mentauḥidkan Allah, maka tidak boleh baginya menjadikan sebagai wali orang yang memusuhi Allah dan RasulNya, sekalipun ia adalah kerabat yang paling dekat.
Dalilnya adalah firman Allah Ta`ālā:
“Engkau tidak akan mendapati suatu kaum yang beriman kepada Allah dan Hari Akhir saling berkasih sayang dengan orang-orang yang memusuhi Allah dan RasulNya, sekalipun mereka itu adalah bapak-bapak mereka, anak-anak mereka, saudara-saudara mereka, ataupun keluarga mereka.
Mereka itulah orang-orang yang Allah tanamkan keimanan dalam hati mereka, Dia menguatkan mereka dengan ruḥ dariNya, dan memasukkan mereka ke dalam surga-surga yang mengalir di bawahnya sungai-sungai. Mereka kekal di dalamnya.
Allah ridha kepada mereka dan mereka pun ridha kepada-Nya. Mereka itulah golongan Allah. Ketahuilah, sesungguhnya golongan Allah itulah orang-orang yang beruntung.” – [QS. Al-Mujādilah 58:22]
-7-[a6]
PERINTAH DAN LARANGAN TERBESAR
(Al-Ḥanīfiyyah, Agama Nabi Ibrāhīm, adalah Beribadah kepada Allah Satu-satunya)
(Ketahuilah) semoga Allah membimbingmu untuk menaatiNya, bahwa Al-Ḥanīfiyyah, yaitu agama Nabi Ibrāhīm, adalah engkau beribadah hanya kepada Allah satu-satunya dengan memurnikan agama untukNya.
Dengan itulah Allah memerintahkan seluruh manusia, dan untuk itulah Dia menciptakan mereka, sebagaimana firmanNya:
“Dan Aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan agar mereka beribadah kepadaKu.” – [QS. Adz-Dzāriyāt 51:56]
Makna ‘beribadah kepadaKu‘ adalah: mentauḥidkanKu.
Perkara paling agung yang Allah perintahkan adalah tauḥid, yaitu mengesakan Allah dalam seluruh bentuk ibadah.
Sedangkan perkara paling besar yang Allah larang adalah syirik, yaitu beribadah atau berdoa kepada selainNya bersamaNya.
Dalilnya adalah firman Allah Ta`ālā:
“Beribadahlah kepada Allah, dan janganlah kalian mempersekutukanNya dengan apa pun.” – [QS. An-Nisā’ 4:36]
-8-[a7]
3 PRINSIP DASAR
(Jika dikatakan kepadamu): “Apakah 3 prinsip dasar yang wajib diketahui oleh setiap manusia?”
Maka katakanlah: “Yaitu seorang hamba mengenal Rabbnya, agamanya, dan nabinya, yaitu Muḥammad C.”
#1 MENGENAL TUHAN
(Jika dikatakan kepadamu): “Siapakah Rabbmu?”
Maka katakanlah: “Rabbku adalah Allah, yang telah memeliharaku dan memelihara seluruh alam dengan berbagai nikmatNya. Dialah ilahku. Tidak ada yang berhak disembah bagiku selain Dia.
Dalilnya adalah firman Allah Ta`ālā:
‘Segala puji bagi Allah, Rabb seluruh alam.’ – [QS. Al-Fātiḥah 1:2]
Segala sesuatu selain Allah adalah alam, dan aku adalah salah satu bagian dari alam tersebut.”
(Jika dikatakan kepadamu): “Dengan apa engkau mengenal Rabbmu?”
Maka katakanlah: “Aku mengenal Rabbku melalui ayat-ayatNya dan makhluk-makhluk ciptaanNya. Di antara tanda-tanda kekuasaanNya ialah malam, siang, matahari, dan bulan.
Dan di antara makhluk ciptaanNya ialah 7 langit, 7 bumi, seluruh makhluk yang ada di dalam keduanya, serta apa yang berada di antara keduanya.”
Dalilnya adalah firman Allah Ta`ālā:
“Dan di antara tanda-tanda kekuasaanNya ialah malam, siang, matahari, dan bulan.
Janganlah kalian bersujud kepada matahari dan jangan pula kepada bulan, tetapi bersujudlah kepada Allah yang telah menciptakannya, jika hanya kepadaNya kalian beribadah.” – [QS. Fusshilat 41:37]
Dan firmanNya Ta`ālā:
“Sesungguhnya Rabb kalian adalah Allah yang menciptakan langit dan bumi dalam 6 masa, kemudian Dia bersemayam di atas `Arsy.
Dia menutupkan malam kepada siang yang mengikutinya dengan cepat.
Dan Dia menciptakan matahari, bulan, dan bintang-bintang yang semuanya tunduk kepada perintahNya.
Ingatlah, segala penciptaan dan perintah adalah hakNya. Maha Suci Allah, Rabb seluruh alam.” – [QS. Al-A`rāf 7:54]
-9-[a8]
Dan Rabb adalah yang berhak disembah.
Dalilnya adalah firman Allah Ta`ālā:
“Wahai manusia! Beribadahlah kepada Rabb kalian yang telah menciptakan kalian dan orang-orang sebelum kalian agar kalian bertakwa.
Dialah yang menjadikan bumi sebagai hamparan bagi kalian, langit sebagai atap, menurunkan air dari langit, lalu dengan air itu Dia mengeluarkan berbagai buah-buahan sebagai rezeki untuk kalian.
Maka janganlah kalian menjadikan tandingan-tandingan bagi Allah, padahal kalian mengetahui.” – [QS. Al-Baqarah 2:21-22]
Ibnu Katsīr I berkata:
“Pencipta seluruh urusan tersebut adalah satu-satunya yang berhak untuk diibadahi.”
IBADAH YANG ALLAH PERINTAHKAN
(Macam-Macam Ibadah yang Allah Perintahkan)
Di antara berbagai macam ibadah yang Allah perintahkan adalah:
- Islam
- Iman
- Iḥsan
Termasuk di dalamnya ialah:
- Doa
- Khouf (Rasa Takut)
- Rojā’ (Harapan)
- Tawakkal
- Roghbah (Keinginan)
- Rohbah (Rasa Cemas)
- Khusyū` (Khusyuk)
- Khosyyah (takut yang dilandasi ilmu)
- Inābah (kembali kepada Allah)
- Isti`ānah (memohon pertolongan)
- Isti`ādzah (memohon perlindungan)
- Istighōtsah (memohon pertolongan ketika dalam kesulitan)
- Menyembelih
- Bernadzar
- dan seluruh bentuk ibadah lain yang Allah perintahkan, semuanya hanya untuk Allah
-10-[a9]
Dalilnya adalah firman Allah Ta`ālā:
“Dan sesungguhnya masjid-masjid itu adalah milik Allah, maka janganlah kalian berdoa (menyembah) kepada siapa pun bersama Allah.” – [QS. Al-Jinn 72:18]
Barang siapa memalingkan salah satu bentuk ibadah tersebut kepada selain Allah, maka ia adalah seorang musyrik lagi kafir.
Dalilnya adalah firman Allah Ta`ālā:
“Dan barang siapa berdoa kepada tuhan lain bersama Allah, padahal tidak ada bukti baginya tentang hal itu, maka sungguh perhitungannya berada di sisi Rabbnya.
Sesungguhnya orang-orang kafir itu tidak akan beruntung.” – [QS. Al-Mu’minūn 23:117]
DOA
Di dalam ḥadīts disebutkan:
“Doa adalah inti ibadah.”
Dalilnya adalah firman Allah Ta`ālā:
“Dan Rabb kalian berfirman, ‘Berdoalah kepadaKu, niscaya Aku akan mengabulkan doa kalian.
Sesungguhnya orang-orang yang menyombongkan diri dari beribadah kepadaKu akan masuk ke dalam Jahannam dalam keadaan hina.'” – [QS. Ghāfir 40:60]
KHOUF (TAKUT)
Dalil tentang rasa takut (khouf) adalah firman Allah Ta`ālā:
“Maka janganlah kalian takut kepada mereka, tetapi takutlah kepadaKu, jika kalian benar-benar orang-orang yang beriman.” – [QS. Āli `Imrān 3:175]
ROJĀ’ (HARAPAN)
Dalil tentang harapan (rojā’) adalah firman Allah Ta`ālā:
“Maka barang siapa mengharap perjumpaan dengan Rabbnya, hendaklah ia mengerjakan amal shāliḥ dan janganlah ia mempersekutukan sesuatu pun dalam beribadah kepada Rabbnya.” – [QS. Al-Kahf 18:110]
-11-[a10]
TAWAKKAL
Dalil tentang tawakkal adalah firman Allah Ta`ālā:
“Dan hanya kepada Allah hendaklah kalian bertawakkal, jika kalian benar-benar orang-orang yang beriman.” – [QS. Al-Mā’idah 5:23]
Dan firmanNya:
“Barang siapa bertawakkal kepada Allah, maka Dia akan mencukupinya.” – [QS. Ath-Thalāq 65:3]
ROGHBAH, ROHBAH, KHUSYUK
Dalil tentang roghbah (harap yang disertai keinginan), rohbah (rasa cemas), dan khusyuk adalah firman Allah Ta`ālā:
“Sesungguhnya mereka selalu bersegera dalam berbagai kebaikan, berdoa kepada Kami dengan penuh harap dan cemas, serta mereka adalah orang-orang yang khusyuk kepada Kami.” – [QS. Al-Anbiyā’ 21:90]
KHOSYYAH (TAKUT YANG DILANDASI ILMU)
Dalil tentang khosyyah adalah firman Allah Ta`ālā:
“Maka janganlah kalian takut kepada mereka, tetapi takutlah kepadaKu.” – [QS. Al-Baqarah 2:150]
INABAH (KEMBALI KEPADA ALLAH DENGAN TAAT DAN TAUBAT)
Dalil tentang inabah (kembali kepada Allah dengan taat dan taubat) adalah firman Allah Ta`ālā:
“Dan kembalilah kepada Rabb kalian serta berserah dirilah kepadaNya…” – [QS. Az-Zumar 39:54]
ISTI`ĀNAH (MEMOHON PERTOLONGAN)
Dalil tentang isti`ānah (memohon pertolongan) adalah firman Allah Ta`ālā:
“Hanya kepadaMu kami beribadah, dan hanya kepadaMu kami memohon pertolongan.” – [QS. Al-Fātiḥah 1:5]
Di dalam ḥadīts disebutkan:
“Apabila engkau memohon pertolongan, maka mohonlah pertolongan kepada Allah.”
ISTI`ĀDZAH (MEMOHON PERLINDUNGAN)
Dalil tentang isti`ādzah (memohon perlindungan) adalah firman Allah Ta`ālā:
“Katakanlah, ‘Aku berlindung kepada Rabb manusia, Raja manusia, Sembahan manusia…'” – [QS. An-Nās 114:1-3]
-12-[a11]
ISTIGHŌTSAH (MEMOHON PERTOLONGAN KETIKA DALAM KESULITAN)
Dalil tentang istighātsah (memohon pertolongan ketika dalam kesulitan) adalah firman Allah Ta`ālā:
“(Ingatlah) ketika kalian memohon pertolongan kepada Rabb kalian, lalu Dia mengabulkan permohonan kalian…” – [QS. Al-Anfāl 8:9]
MENYEMBELIH (DZABḤ)
Dalil tentang menyembelih (dzabḥ) adalah firman Allah Ta`ālā:
“Katakanlah, sesungguhnya shalatku, sembelihanku, hidupku, dan matiku hanyalah untuk Allah, Rabb seluruh alam.
Tidak ada sekutu bagiNya.
Dengan itulah aku diperintahkan, dan aku adalah orang yang pertama berserah diri.” – [QS. Al-An`ām 6:162-163]
Dan dari Sunnah:
“Allah melaknat orang yang menyembelih untuk selain Allah.”
NADZAR
Dalil tentang nadzar adalah firman Allah Ta`ālā:
“Mereka menunaikan nadzar dan mereka takut akan suatu hari yang adzabnya merata di mana-mana.” – [QS. Ad-Dahr 76:7]
-13-[a12]
#2 MENGENAL AGAMA ISLAM
[Pokok Kedua: Mengenal Agama Islam dengan Dalil-Dalilnya]
ISLAM
[Tingkatan Pertama: Islam]
Pokok yang kedua adalah mengenal agama Islam dengan dalil. Islam adalah berserah diri kepada Allah dengan mentauḥidkanNya, tunduk kepadaNya dengan ketaatan, dan berlepas diri dari kesyirikan.
Islam memiliki 3 tingkatan, yaitu:
- Islam
- Iman
- Iḥsan
Setiap tingkatan memiliki rukun-rukunnya.
Adapun rukun Islam ada 5, yaitu:
- Bersaksi bahwa tidak ada tuhan yang benar kecuali Allah, dan bahwa Muḥammad adalah utusan Allah;
- Mendirikan shalat;
- Menunaikan zakat;
- Berpuasa Ramadhan;
- Menunaikan ḥaji ke Baitullah Al-Ḥaram.
SYAHADAT
Dalil tentang syahadat adalah firman Allah Ta`ālā:
“Allah menyatakan bahwa tidak ada tuhan yang benar selain Dia. Demikian pula para malaikat dan orang-orang yang berilmu, yang menegakkan keadilan.
Tidak ada tuhan yang benar selain Dia, Yang Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana.” – [QS. Āli `Imrān 3:18]
Maknanya adalah:
Tidak ada yang berhak diibadahi kecuali Allah satu-satunya.
Ungkapan lā ilāha menafikan seluruh ilah selain Allah, sedangkan illallāh menetapkan ibadah hanya untuk Allah satu-satunya, tidak ada sekutu bagiNya dalam ibadah, sebagaimana tidak ada sekutu bagiNya dalam kerajaanNya.
Penafsiran yang menjelaskan makna tersebut adalah firman Allah Ta`ālā:
“Dan (ingatlah) ketika Ibrāhīm berkata kepada ayahnya dan kaumnya, ‘Sesungguhnya aku berlepas diri dari apa yang kalian sembah, kecuali (Allah) Yang telah menciptakanku, karena sesungguhnya Dia akan memberi petunjuk kepadaku.‘
Dan Dia menjadikan kalimat itu kekal pada keturunannya agar mereka kembali.” – [QS. Az-Zukhruf 43:26-28]
-14-[a13]
Dan firman Allah Ta`ālā:
“Katakanlah, ‘Wahai Ahli Kitab, marilah berpegang kepada suatu kalimat yang sama antara kami dan kalian, yaitu bahwa kita tidak beribadah kecuali kepada Allah, tidak mempersekutukanNya dengan sesuatu apa pun, dan tidak menjadikan sebagian kita sebagai tuhan-tuhan selain Allah.’
Jika mereka berpaling, maka katakanlah, ‘Saksikanlah bahwa kami adalah orang-orang muslim.'” – [QS. Āli `Imrān 3:64]
Dalil syahadat bahwa Muḥammad adalah utusan Allah adalah firman Allah Ta`ālā:
“Sungguh telah datang kepada kalian seorang rasul dari kalangan kalian sendiri.
Berat terasa olehnya penderitaan yang kalian alami, sangat menginginkan (keimanan dan keselamatan) bagi kalian, serta terhadap orang-orang yang beriman beliau sangat penyantun lagi penyayang.” – [QS. At-Taubah 9:128]
Makna syahadat bahwa Muḥammad adalah utusan Allah ialah:
- menaatinya dalam segala yang beliau perintahkan,
- membenarkannya dalam setiap berita yang beliau sampaikan,
- menjauhi segala yang beliau larang dan cegah,
- serta tidak beribadah kepada Allah kecuali dengan syariat yang beliau ajarkan.
SHALAT, ZAKAT
Dalil tentang shalat, zakat, dan penjelasan tauḥid adalah firman Allah Ta`ālā:
“Padahal mereka tidak diperintahkan kecuali agar beribadah kepada Allah dengan memurnikan agama untukNya, dalam keadaan ḥanif, mendirikan shalat, menunaikan zakat. Itulah agama yang lurus.” – [QS. Al-Bayyinah 98:5]
-15-[a14]
PUASA
Dalil puasa adalah firman Allah Ta`ālā:
“Wahai orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kalian berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang-orang sebelum kalian agar kalian bertakwa.” – [QS. Al-Baqarah 2:183]
ḤAJI
Dalil ḥaji adalah firman Allah Ta`ālā:
“Dan menjadi kewajiban manusia terhadap Allah untuk melaksanakan ḥaji ke Baitullah, yaitu bagi siapa yang mampu menempuh jalan ke sana.
Barang siapa kafir, maka sungguh Allah Maha Kaya, tidak memerlukan seluruh alam.” – [QS. Āli `Imrān 3:97]
IMAN
Tingkatan kedua: Iman
Tingkatan kedua adalah iman, yaitu memiliki lebih dari 70 cabang. Cabang yang paling tinggi adalah ucapan lā ilāha illallāh. Cabang yang paling rendah adalah menyingkirkan gangguan dari jalan. Dan rasa malu adalah salah satu cabang dari iman.
Rukun-rukunnya ada 6, yaitu:
- Engkau beriman kepada Allah,
- para malaikatNya,
- kitab-kitabNya,
- rasul-rasulNya,
- Hari Akhir,
- serta beriman kepada takdir, yang baik maupun yang buruk.
Dalil atas 6 rukun tersebut adalah firman Allah Ta`ālā:
“Bukanlah kebajikan itu menghadapkan wajahmu ke arah timur dan barat, tetapi kebajikan adalah orang yang beriman kepada Allah, hari akhir, para malaikat, kitab, dan para nabi.” – [QS. Al-Baqarah 2:177]
Dalil tentang takdir adalah firman Allah Ta`ālā:
“Sesungguhnya Kami menciptakan segala sesuatu menurut ukuran (takdir).” – [QS. Al-Qomar 54:49]
-16-[a15]
IḤSAN
[Tingkatan Ketiga: Iḥsan]
Tingkatan ketiga adalah iḥsan. Rukunnya hanya satu, yaitu engkau beribadah kepada Allah seakan-akan engkau melihatNya. Jika engkau tidak melihatNya, maka sesungguhnya Dia melihatmu.
Dalilnya adalah firman Allah Ta`ālā:
“Sesungguhnya Allah bersama orang-orang yang bertakwa dan orang-orang yang berbuat iḥsan.” – [QS. An-Naḥl 16:128]
Dan firmanNya:
“Dan bertawakkallah kepada Yang Maha Perkasa lagi Maha Penyayang, yang melihatmu ketika engkau berdiri, dan melihat perubahan gerakmu di antara orang-orang yang bersujud.
Sesungguhnya Dia Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui.” – [QS. Asy-Syu`arā’ 26:217-220]
Dan firmanNya:
“Dan tidaklah engkau berada dalam suatu urusan, tidak pula engkau membaca suatu ayat Al-Qur’an, dan tidak pula kalian mengerjakan suatu pekerjaan, melainkan Kami menjadi saksi atas kalian ketika kalian melakukannya.” – [QS. Yūnus 10:61]
-17-[a16]
(Dalil dari As-Sunnah) adalah ḥadīts Jibril yang masyhur, dari `Umar bin Al-Khaththāb E:
Ia berkata, “Ketika kami sedang duduk di sisi Nabi C, tiba-tiba datang kepada kami seorang laki-laki yang pakaiannya sangat putih, rambutnya sangat hitam.
Tidak tampak padanya bekas perjalanan, dan tidak seorang pun di antara kami mengenalnya.
Lalu ia duduk di hadapan Nabi C, menyandarkan kedua lututnya kepada kedua lutut beliau, meletakkan kedua telapak tangannya di atas kedua pahanya, lalu berkata:
‘Wahai Muḥammad, kabarkan kepadaku tentang Islam.’
Beliau menjawab:
‘Islam adalah engkau bersaksi bahwa tidak ada yang berhak diibadahi kecuali Allah, dan bahwa Muḥammad C adalah Rasul Allah; engkau menegakkan shalat, menunaikan zakat, berpuasa Ramadhan, dan berḥaji ke Baitullah apabila mampu menempuh perjalanan ke sana.’
Ia berkata, ‘Engkau benar.’
Kami pun heran, ia bertanya tetapi membenarkan jawabannya.
Lalu ia berkata, ‘Kabarkan kepadaku tentang īmān.’
Beliau menjawab:
‘Engkau beriman kepada Allah, para malaikatNya, kitab-kitabNya, rasul-rasulNya, Hari Akhir, dan beriman kepada takdir, baik maupun buruknya.’
Ia berkata, ‘Kabarkan kepadaku tentang iḥsān.’
Beliau menjawab:
‘Engkau beribadah kepada Allah seakan-akan engkau melihatNya. Jika engkau tidak melihatNya, maka sesungguhnya Dia melihatmu.’
Ia berkata, ‘Kabarkan kepadaku tentang Hari Kiamat.’
Beliau menjawab:
‘Orang yang ditanya tidak lebih mengetahui daripada orang yang bertanya.’
-18-[a17]
Ia (Jibril) berkata, ‘Beritahukan kepadaku tentang tanda-tanda Kiamat.’
Beliau menjawab, ‘Yaitu apabila seorang budak perempuan melahirkan tuannya, dan engkau melihat orang-orang yang bertelanjang kaki, berpakaian seadanya, miskin, para penggembala kambing, saling berlomba meninggikan bangunan.’
(`Umar) berkata, ‘Kemudian ia pergi. Kami pun menunggu beberapa lama. Lalu beliau bersabda, ‘Wahai `Umar, tahukah kalian siapa orang yang bertanya itu?”
Kami menjawab, ‘ALLAH dan RasulNya lebih mengetahui.’
Beliau bersabda, ‘Dia adalah Jibril. Ia datang kepada kalian untuk mengajarkan urusan agama kalian.'”
-19-[a18]
#3 MENGENAL NABI MUḤAMMAD ﷺ
[Pokok Ketiga: Mengenal Nabi kalian, Muḥammad C]
Pokok ketiga adalah mengenal nabi kalian, Muḥammad C.
Beliau adalah Muḥammad bin `Abdillāh bin `Abdil-Muththalib bin Hāsyim.
Hāsyim berasal dari Quraisy, Quraisy berasal dari bangsa Arab, dan bangsa Arab merupakan keturunan Ismā`īl bin Ibrāhīm Al-Khalīl.
Semoga shalawat dan salam yang paling utama tercurah kepada beliau dan kepada nabi kita C.
Usia beliau 63 tahun. 40 tahun sebelum diangkat menjadi nabi, dan 23 tahun sebagai nabi sekaligus rasul.
Beliau diangkat menjadi nabi dengan turunnya Surah Iqra’, dan diutus sebagai rasul dengan turunnya Surah Al-Muddatstsir.
Negeri beliau adalah Makkah.
ALLAH mengutus beliau untuk memperingatkan manusia dari kesyirikan dan mengajak kepada tauḥīd.
Dalilnya adalah firman ALLAH Ta`ālā:
“Wahai orang yang berselimut.
Bangunlah, lalu berilah peringatan.
Dan Tuhanmu agungkanlah.
Pakaianmu bersihkanlah.
Segala bentuk berhala tinggalkanlah.
Janganlah engkau memberi dengan maksud memperoleh balasan yang lebih banyak.
Dan demi Tuhanmu, bersabarlah.”
Makna “Bangunlah, lalu berilah peringatan” adalah memperingatkan manusia dari kesyirikan dan mengajak mereka kepada tauḥīd.
Makna “Dan Tuhanmu agungkanlah” adalah mengagungkan-Nya dengan tauḥīd.
Makna “Pakaianmu bersihkanlah” adalah bersihkan amal-amalmu dari kesyirikan.
Makna “Segala bentuk berhala tinggalkanlah”, ar-rujz adalah berhala-berhala, sedangkan meninggalkannya berarti meninggalkan berhala itu sendiri, para penyembahnya, serta berlepas diri dari keduanya.
-20-[a19]
Beliau menempuh jalan dakwah ini selama 10 tahun, mengajak manusia kepada tauḥīd. Setelah 10 tahun, beliau diangkat ke langit dan diwajibkan atas beliau shalat 5 waktu.
Beliau shalat di Makkah selama 3 tahun, kemudian setelah itu diperintahkan berhijrah ke Madinah.
Hijrah adalah berpindah dari negeri syirik menuju negeri Islam.
Hijrah merupakan kewajiban atas umat ini dari negeri syirik menuju negeri Islam, dan kewajiban itu tetap berlaku hingga Hari Kiamat tiba.
Dalilnya adalah firman Allah Ta`ala:
“Sesungguhnya orang-orang yang diwafatkan oleh para malaikat dalam keadaan menzhalimi diri mereka sendiri, para malaikat berkata: ‘Dalam keadaan bagaimana kamu ini?’
Mereka menjawab: ‘Kami adalah orang-orang yang tertindas di negeri kami.’
Para malaikat berkata: ‘Bukankah bumi Allah itu luas sehingga kamu dapat berhijrah di dalamnya?’
Maka mereka itu tempatnya ialah Jahannam, dan Jahannam adalah seburuk-buruk tempat kembali.
Kecuali orang-orang yang tertindas, baik laki-laki, perempuan maupun anak-anak yang tidak mampu berdaya upaya dan tidak mengetahui jalan (untuk berhijrah). Maka mereka itu mudah-mudahan Allah memaafkan mereka. Dan Allah Maha Pemaaf lagi Maha Pengampun.” – [QS. An-Nisā’ 4:97–99]
Dan firmanNya:
“Wahai hamba-hambaKu yang beriman, sesungguhnya bumiKu luas, maka hanya kepadaKulah kalian beribadah.” – [QS. Al-`Ankabūt 29:56]
-21-[a20]
Al-Baghawi I berkata, “Sebab turunnya ayat ini adalah tentang kaum Muslimin yang masih berada di Makkah dan belum berhijrah. Allah memanggil mereka dengan sebutan orang-orang yang beriman.”
Dalil tentang hijrah dari As-Sunnah adalah sabda Nabi C,
“Hijrah tidak akan terputus hingga taubat terputus, dan taubat tidak akan terputus hingga matahari terbit dari arah barat.”
Ketika beliau telah menetap di Madinah, beliau diperintahkan menjalankan syariat-syariat Islam yang lain, seperti zakat, puasa, ḥaji, adzan, jihād, amar ma`ruf, nahi munkar, dan syariat-syariat Islam lainnya.
Beliau menjalankan dakwah di atas hal itu selama 10 tahun.
Kemudian beliau wafat —semoga shalawat dan salam Allah senantiasa tercurah kepada beliau— sedangkan agama beliau tetap lestari.
Inilah agama beliau. Tidak ada satu kebaikan pun melainkan beliau telah menunjukkannya kepada umat, dan tidak ada satu keburukan pun melainkan beliau telah memperingatkan umat darinya.
Kebaikan yang beliau tunjukkan adalah tauḥīd dan seluruh perkara yang Allah cintai dan ridhai. Sedangkan keburukan yang beliau peringatkan adalah syirik dan seluruh perkara yang Allah benci dan tidak ridhai.
Allah mengutus beliau kepada seluruh manusia, dan mewajibkan ketaatan kepada beliau atas seluruh makhluk yang mukallaf, yaitu bangsa jin dan manusia.
-22-[a21]
Dalilnya adalah firman Allah Ta’ala:
Katakanlah, wahai manusia! Sesungguhnya aku adalah utusan Allah kepada kalian semua. – [QS. Al-A`rāf 7:158]
Dengan beliau Allah telah menyempurnakan agama.
Dalilnya adalah firman Allah Ta`ala:
Pada hari ini telah Aku sempurnakan untuk kalian agama kalian, Aku cukupkan nikmat-Ku atas kalian, dan Aku ridhai Islam sebagai agama bagi kalian. – [QS. Al-Mā’idah 5:3]
Dalil tentang wafatnya Nabi C adalah firman Allah Ta`ala:
Sesungguhnya engkau akan mati dan sesungguhnya mereka pun akan mati.
Kemudian pada Hari Kiamat kalian akan saling berselisih di hadapan Rabb kalian. – [QS. Az-Zumar 39:30-31]
Manusia apabila telah meninggal akan dibangkitkan. Dalilnya adalah firman Allah Ta`ala:
Dari bumi itulah Kami menciptakan kalian, ke dalamnya Kami akan mengembalikan kalian, dan darinya Kami akan mengeluarkan kalian sekali lagi. – [QS. Thāhā 20:55]
Dan firmanNya:
Allah menumbuhkan kalian dari bumi sebagai suatu tumbuhan. Kemudian Dia mengembalikan kalian ke dalamnya dan mengeluarkan kalian darinya kembali. – [QS. Nūḥ 71:17-18]
Setelah dibangkitkan, manusia akan dihisab dan diberi balasan sesuai amal mereka.
Dalilnya adalah firman Allah Ta’ala:
Dan milik Allah apa yang ada di langit dan apa yang ada di bumi, agar Dia membalas orang-orang yang berbuat buruk sesuai apa yang mereka kerjakan dan membalas orang-orang yang berbuat baik dengan balasan terbaik.” – [QS. An-Najm 53:31]
-23-[a22]
Barang siapa mendustakan adanya kebangkitan, maka dia telah kafir.
Dalilnya adalah firman Allah Ta`ālā:
Orang-orang yang kafir mengira bahwa mereka tidak akan dibangkitkan.
Katakanlah, ‘Tidak demikian. Demi Rabbku, sungguh kalian pasti akan dibangkitkan, kemudian akan diberitakan kepada kalian apa yang telah kalian kerjakan. Dan yang demikian itu mudah bagi Allah.’ – [QS. At-Taghābun 64:7]
Allah telah mengutus seluruh rasul sebagai pembawa kabar gembira dan pemberi peringatan.
Dalilnya adalah firman Allah Ta`ālā:
(Mereka adalah) para rasul sebagai pembawa kabar gembira dan pemberi peringatan, agar tidak ada alasan bagi manusia di hadapan Allah setelah diutusnya para rasul. – [QS. An-Nisā’ 4:165]
Rasul yang pertama adalah Nūḥ D dan yang terakhir adalah Muḥammad C. Beliau adalah penutup para nabi.
Dalil bahwa rasul yang pertama adalah Nūḥ adalah firman Allah Ta`ālā:
Sesungguhnya Kami telah mewahyukan kepadamu sebagaimana Kami telah mewahyukan kepada Nūḥ dan para nabi setelahnya. – [QS. An-Nisā’ 4:163]
Setiap umat telah Allah utus kepada mereka seorang rasul, mulai dari Nūḥ hingga Muḥammad, yang memerintahkan mereka untuk beribadah hanya kepada Allah satu-satunya dan melarang mereka dari beribadah kepada thāghūt.
Dalilnya adalah firman Allah Ta`ālā:
Sungguh Kami telah mengutus kepada setiap umat seorang rasul (yang menyerukan), ‘Sembahlah Allah dan jauhilah thāghūt.’ – [QS. An-Naḥl 16:36]
Allah telah mewajibkan kepada seluruh hamba untuk kufur kepada thāghūt dan beriman kepada Allah.
Ibnu Al-Qayyim I berkata:
“Makna thāghūt adalah segala sesuatu yang menyebabkan seorang hamba melampaui batasnya, baik berupa sesuatu yang disembah, diikuti, maupun ditaati.
Dan thāghūt itu banyak.”
-24-[a23]
Kepala-kepala thāghūt ada 5:
- Iblīs yang dilaknat Allah,
- orang yang disembah dalam keadaan ridha,
- orang yang mengajak manusia untuk menyembah dirinya,
- orang yang mengaku mengetahui sesuatu dari ilmu ghaib,
- dan orang yang berhukum dengan selain apa yang Allah turunkan.
Dalilnya adalah firman Allah Ta`ālā:
Tidak ada paksaan dalam agama. Sungguh telah jelas jalan yang benar dari jalan yang sesat.
Maka barang siapa kufur kepada thāghūt dan beriman kepada Allah, sungguh dia telah berpegang teguh pada tali yang sangat kuat yang tidak akan putus.
Dan Allah Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui. – [QS. Al-Baqarah 2:256]
Inilah makna lā ilāha illallāh.
Dalam ḥadīts disebutkan:
“Pokok segala urusan adalah Islam, tiangnya adalah shalat, dan puncak tertingginya adalah jihad di jalan Allah.”
Dan Allah Maha Mengetahui.
(Tamatlah Al-Ushūl Ats-Tsalātsah. Setelah ini dilanjutkan dengan pembahasan syarat-syarat shalat yang berjumlah 9.)
Syarat, Rukun, dan Wajib Sholat
Al-Qowā`id Al-Arba` (4 Kaidah)
-25-[a24]
lā ḥaula wa lā quwwata illā billāh
Tiada daya dan tiada kekuatan kecuali dengan (pertolongan) Allah.
allāhu wa rosūluhu a`lam
Allah dan Rasul-Nya lebih mengetahui.
REFERENSI
AL-QUR’AN
DEMI WAKTU
وَالۡعَصۡرِ١ إِنَّ الۡإِنسَٰنَ لَفِي خُسۡرٍ٢ إِلَّا الَّذِينَ ءَامَنُواْ وَعَمِلُواْ الصَّـٰلِحَٰتِ وَتَوَاصَوۡاْ بِالۡحَقِّ وَتَوَاصَوۡاْ بِالصَّبۡرِ٣
Demi masa [1], sesungguhnya manusia benar-benar berada dalam kerugian [2], kecuali orang-orang yang beriman dan beramal shāliḥ serta saling menasihati untuk kebenaran dan kesabaran [3].
LĀ ILĀHA ILLALLĀH
فَاعۡلَمۡ أَنَّهُۥ لَآ إِلَٰهَ إِلَّا اللّٰهُ وَاسۡتَغۡفِرۡ لِذَنۢبِكَ وَلِلۡمُؤۡمِنِينَ وَالۡمُؤۡمِنَٰتِۗ وَاللّٰهُ يَعۡلَمُ مُتَقَلَّبَكُمۡ وَمَثۡوَىٰكُمۡ١٩
Ketahuilah bahwa tidak ada tuhan (yang patut disembah) selain Allah serta mohonlah ampunan atas dosamu dan (dosa) orang-orang mukmin laki-laki dan perempuan. Allah mengetahui tempat kegiatan dan tempat istirahatmu.
ALLAH MENGUTUS RASUL
إِنَّآ أَرۡسَلۡنَآ إِلَيۡكُمۡ رَسُولٗا شَٰهِدًا عَلَيۡكُمۡ كَمَآ أَرۡسَلۡنَآ إِلَىٰ فِرۡعَوۡنَ رَسُولٗا١٥ فَعَصَىٰ فِرۡعَوۡنُ الرَّسُولَ فَأَخَذۡنَٰهُ أَخۡذٗا وَبِيلٗا١٦
Sesungguhnya Kami telah mengutus seorang rasul (Nabi Muḥammad) kepadamu sebagai saksi atasmu, sebagaimana Kami telah mengutus seorang rasul kepada Fir`aun [1]. Namun, Fir`aun mendurhakai rasul itu sehingga Kami siksa dia dengan siksaan yang berat [2].
MASJID-MASJID MILIK ALLAH
وَأَنَّ الۡمَسَٰجِدَ لِلّٰهِ فَلَا تَدۡعُواْ مَعَ اللّٰهِ أَحَدٗا١٨
Sesungguhnya masjid-masjid itu milik Allah. Maka, janganlah menyembah apa pun bersamaan dengan (menyembah) Allah.
LOYALITAS
لَّا تَجِدُ قَوۡمٗا يُؤۡمِنُونَ بِاللّٰهِ وَالۡيَوۡمِ الۡأٓخِرِ يُوَآدُّونَ مَنۡ حَآدَّ اللّٰهَ وَرَسُولَهُۥ وَلَوۡ كَانُوٓاْ ءَابَآءَهُمۡ أَوۡ أَبۡنَآءَهُمۡ أَوۡ إِخۡوَٰنَهُمۡ أَوۡ عَشِيرَتَهُمۡۚ أُوْلَـٰٓئِكَ كَتَبَ فِي قُلُوبِهِمُ الۡإِيمَٰنَ وَأَيَّدَهُم بِرُوحٖ مِّنۡهُۖ وَيُدۡخِلُهُمۡ جَنَّـٰتٖ تَجۡرِي مِن تَحۡتِهَا الۡأَنۡهَٰرُ خَٰلِدِينَ فِيهَاۚ رَضِيَ اللّٰهُ عَنۡهُمۡ وَرَضُواْ عَنۡهُۚ أُوْلَـٰٓئِكَ حِزۡبُ اللّٰهِۚ أَلَآ إِنَّ حِزۡبَ اللّٰهِ هُمُ الۡمُفۡلِحُونَ٢٢
Engkau tidak akan mendapatkan suatu kaum yang beriman kepada Allah dan Hari Akhir saling berkasih sayang dengan orang yang menentang Allah dan RasulNya sekalipun mereka itu bapaknya, anaknya, saudaranya, atau kerabatnya. Mereka itulah orang-orang yang telah Allah tetapkan keimanan di dalam hatinya dan menguatkan mereka dengan pertolongan dariNya. Dia akan memasukkan mereka ke dalam surga yang mengalir di bawahnya sungai-sungai. Mereka kekal di dalamnya. Allah ridha kepada mereka dan mereka pun ridha kepadaNya. Merekalah golongan Allah. Ingatlah, sesungguhnya golongan Allah itulah orang-orang yang beruntung.
TUJUAN PENCIPTAAN
وَمَا خَلَقۡتُ الۡجِنَّ وَالۡإِنسَ إِلَّا لِيَعۡبُدُونِ٥٦
Tidaklah Aku menciptakan jin dan manusia kecuali untuk beribadah kepadaKu.
LARANGAN SYIRIK
۞وَاعۡبُدُواْ اللّٰهَ وَلَا تُشۡرِكُواْ بِهِۦ شَيۡـٔٗاۖ وَبِالۡوَٰلِدَيۡنِ إِحۡسَٰنٗا وَبِذِي الۡقُرۡبَىٰ وَالۡيَتَٰمَىٰ وَالۡمَسَٰكِينِ وَالۡجَارِ ذِي الۡقُرۡبَىٰ وَالۡجَارِ الۡجُنُبِ وَالصَّاحِبِ بِالۡجَنۢبِ وَابۡنِ السَّبِيلِ وَمَا مَلَكَتۡ أَيۡمَٰنُكُمۡۗ إِنَّ اللّٰهَ لَا يُحِبُّ مَن كَانَ مُخۡتَالٗا فَخُورًا٣٦
Sembahlah Allah dan janganlah kamu mempersekutukanNya dengan sesuatu apa pun. Berbuat baiklah kepada kedua orang tua, karib kerabat, anak-anak yatim, orang-orang miskin, tetangga dekat dan tetangga jauh, teman sejawat, ibnu sabil, serta hamba sahaya yang kamu miliki. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang yang sombong lagi sangat membanggakan diri.
ALLAH RABB SEMESTA ALAM
الۡحَمۡدُ لِلّٰهِ رَبِّ الۡعَٰلَمِينَ٢
Segala puji hanya milik Allah, Rabb semesta alam
SEBAGIAN TANDA-TANDA KEKUASAAN ALLAH
وَمِنۡ ءَايَٰتِهِ الَّيۡلُ وَالنَّهَارُ وَالشَّمۡسُ وَالۡقَمَرُۚ لَا تَسۡجُدُواْ لِلشَّمۡسِ وَلَا لِلۡقَمَرِ وَاسۡجُدُواْۤ لِلّٰهِۤ الَّذِي خَلَقَهُنَّ إِن كُنتُمۡ إِيَّاهُ تَعۡبُدُونَ٣٧
Sebagian dari tanda-tandaNya adalah malam, siang, matahari, dan bulan. Janganlah bersujud pada matahari dan jangan (pula) pada bulan. Bersujudlah kepada Allah yang menciptakannya jika kamu hanya menyembah kepadaNya.
إِنَّ رَبَّكُمُ اللّٰهُ الَّذِي خَلَقَ السَّمَٰوَٰتِ وَالۡأَرۡضَ فِي سِتَّةِ أَيَّامٖ ثُمَّ اسۡتَوَىٰ عَلَى الۡعَرۡشِۖ يُغۡشِي الَّيۡلَ النَّهَارَ يَطۡلُبُهُۥ حَثِيثٗا وَالشَّمۡسَ وَالۡقَمَرَ وَالنُّجُومَ مُسَخَّرَٰتِۭ بِأَمۡرِهِۦٓۗ أَلَا لَهُ الۡخَلۡقُ وَالۡأَمۡرُۗ تَبَارَكَ اللّٰهُ رَبُّ الۡعَٰلَمِينَ٥٤
Sesungguhnya Tuhanmu adalah Allah yang telah menciptakan langit dan bumi dalam 6 masa, kemudian Dia bersemayam di atas `Arasy. Dia menutupkan malam pada siang yang mengikutinya dengan cepat. (Dia ciptakan) matahari, bulan, dan bintang-bintang tunduk pada perintahNya. Ingatlah! Hanya milikNyalah segala penciptaan dan urusan. Maha Berlimpah anugerah Allah, Tuhan semesta alam.
PERINTAH MANUSIA UNTUK MENYEMBAH ALLAH
يَـٰٓأَيُّهَا النَّاسُ اعۡبُدُواْ رَبَّكُمُ الَّذِي خَلَقَكُمۡ وَالَّذِينَ مِن قَبۡلِكُمۡ لَعَلَّكُمۡ تَتَّقُونَ٢١ الَّذِي جَعَلَ لَكُمُ الۡأَرۡضَ فِرَٰشٗا وَالسَّمَآءَ بِنَآءٗ وَأَنزَلَ مِنَ السَّمَآءِ مَآءٗ فَأَخۡرَجَ بِهِۦ مِنَ الثَّمَرَٰتِ رِزۡقٗا لَّكُمۡۖ فَلَا تَجۡعَلُواْ لِلّٰهِ أَندَادٗا وَأَنتُمۡ تَعۡلَمُونَ٢٢
Wahai manusia, sembahlah Tuhanmu yang telah menciptakan kamu dan orang-orang yang sebelum kamu agar kamu bertakwa [1]. (Dialah) yang menjadikan bagimu bumi (sebagai) hamparan dan langit sebagai atap, dan Dialah yang menurunkan air (hujan) dari langit, lalu Dia menghasilkan dengan (hujan) itu buah-buahan sebagai rezeki untuk kamu. Oleh karena itu, janganlah kamu mengadakan tandingan-tandingan bagi Allah, padahal kamu mengetahui [2].
SEMUANYA MILIK ALLAH
وَمَن يَدۡعُ مَعَ اللّٰهِ إِلَٰهًا ءَاخَرَ لَا بُرۡهَٰنَ لَهُۥ بِهِۦ فَإِنَّمَا حِسَابُهُۥ عِندَ رَبِّهِۦٓۚ إِنَّهُۥ لَا يُفۡلِحُ الۡكَٰفِرُونَ١١٧
Siapa yang menyembah tuhan yang lain bersama Allah, padahal tidak ada suatu bukti pun baginya (yang membenarkan) tentang itu, maka perhitungannya hanya pada Tuhannya. Sesungguhnya orang-orang kafir itu tidak akan beruntung.
DOA
وَقَالَ رَبُّكُمُ ادۡعُونِيٓ أَسۡتَجِبۡ لَكُمۡۚ إِنَّ الَّذِينَ يَسۡتَكۡبِرُونَ عَنۡ عِبَادَتِي سَيَدۡخُلُونَ جَهَنَّمَ دَاخِرِينَ٦٠
Tuhanmu berfirman, “Berdoalah kepadaKu, niscaya akan Aku perkenankan bagimu (apa yang kamu harapkan). Sesungguhnya orang-orang yang menyombongkan diri tidak mau beribadah kepadaKu akan masuk (neraka) Jahanam dalam keadaan hina dina.”
KHOUF (TAKUT)
إِنَّمَا ذَٰلِكُمُ الشَّيۡطَٰنُ يُخَوِّفُ أَوۡلِيَآءَهُۥ فَلَا تَخَافُوهُمۡ وَخَافُونِ إِن كُنتُم مُّؤۡمِنِينَ١٧٥
Sesungguhnya mereka hanyalah setan yang menakut-nakuti (kamu) dengan teman-teman setianya. Oleh karena itu, janganlah takut kepada mereka, tetapi takutlah kepadaKu, jika kamu orang-orang mukmin.
ROJĀ’ (HARAPAN)
قُلۡ إِنَّمَآ أَنَا۠ بَشَرٞ مِّثۡلُكُمۡ يُوحَىٰٓ إِلَيَّ أَنَّمَآ إِلَٰهُكُمۡ إِلَٰهٞ وَٰحِدٞۖ فَمَن كَانَ يَرۡجُواْ لِقَآءَ رَبِّهِۦ فَلۡيَعۡمَلۡ عَمَلٗا صَٰلِحٗا وَلَا يُشۡرِكۡ بِعِبَادَةِ رَبِّهِۦٓ أَحَدَۢا١١٠
Katakanlah (Nabi Muḥammad), “Sesungguhnya aku ini hanya seorang manusia seperti kamu yang diwahyukan kepadaku bahwa Tuhan kamu adalah Tuhan Yang Maha Esa.” Siapa yang mengharapkan pertemuan dengan Tuhannya hendaklah melakukan amal shāliḥ dan tidak menjadikan apa dan siapa pun sebagai sekutu dalam beribadah kepada Tuhannya.
TAWAKKAL
قَالَ رَجُلَانِ مِنَ الَّذِينَ يَخَافُونَ أَنۡعَمَ اللّٰهُ عَلَيۡهِمَا ادۡخُلُواْ عَلَيۡهِمُ الۡبَابَ فَإِذَا دَخَلۡتُمُوهُ فَإِنَّكُمۡ غَٰلِبُونَۚ وَعَلَى اللّٰهِ فَتَوَكَّلُوٓاْ إِن كُنتُم مُّؤۡمِنِينَ٢٣
Berkatalah dua orang laki-laki di antara mereka yang bertakwa, yang keduanya telah diberi nikmat oleh Allah, “Masukilah pintu gerbang negeri itu untuk (menyerang) mereka (penduduk Baitul Maqdis). Jika kamu memasukinya, kamu pasti akan menang. Bertawakallah hanya kepada Allah, jika kamu orang-orang mukmin.”
وَيَرۡزُقۡهُ مِنۡ حَيۡثُ لَا يَحۡتَسِبُۚ وَمَن يَتَوَكَّلۡ عَلَى اللّٰهِ فَهُوَ حَسۡبُهُۥٓۚ إِنَّ اللّٰهَ بَٰلِغُ أَمۡرِهِۦۚ قَدۡ جَعَلَ اللّٰهُ لِكُلِّ شَيۡءٖ قَدۡرٗا٣
Dan menganugerahkan kepadanya rezeki dari arah yang tidak dia duga. Siapa yang bertawakal kepada Allah, niscaya Allah akan mencukupkannya. Sesungguhnya Allahlah yang menuntaskan urusanNya. Sungguh, Allah telah membuat ketentuan bagi setiap sesuatu.
ROGHBAH, ROHBAH, KHUSYUK
فَاسۡتَجَبۡنَا لَهُۥ وَوَهَبۡنَا لَهُۥ يَحۡيَىٰ وَأَصۡلَحۡنَا لَهُۥ زَوۡجَهُۥٓۚ إِنَّهُمۡ كَانُواْ يُسَٰرِعُونَ فِي الۡخَيۡرَٰتِ وَيَدۡعُونَنَا رَغَبٗا وَرَهَبٗاۖ وَكَانُواْ لَنَا خَٰشِعِينَ٩٠
Maka, Kami mengabulkan (doa)nya, menganugerahkan Yaḥya kepadanya, dan menjadikan istrinya (dapat mengandung). Sesungguhnya mereka selalu bersegera dalam (mengerjakan) kebaikan dan berdoa kepada Kami dengan penuh harap dan cemas. Mereka adalah orang-orang yang khusyuk kepada Kami.
KHOSYYAH (TAKUT YANG DILANDASI ILMU)
وَمِنۡ حَيۡثُ خَرَجۡتَ فَوَلِّ وَجۡهَكَ شَطۡرَ الۡمَسۡجِدِ الۡحَرَامِۚ وَحَيۡثُ مَا كُنتُمۡ فَوَلُّواْ وُجُوهَكُمۡ شَطۡرَهُۥ لِئَلَّا يَكُونَ لِلنَّاسِ عَلَيۡكُمۡ حُجَّةٌ إِلَّا الَّذِينَ ظَلَمُواْ مِنۡهُمۡ فَلَا تَخۡشَوۡهُمۡ وَاخۡشَوۡنِي وَلِأُتِمَّ نِعۡمَتِي عَلَيۡكُمۡ وَلَعَلَّكُمۡ تَهۡتَدُونَ١٥٠
Dari mana pun engkau (Nabi Muḥammad) keluar, maka hadapkanlah wajahmu ke arah Masjidil Ḥarām. Di mana saja kamu berada, maka hadapkanlah wajahmu ke arahnya agar tidak ada alasan bagi manusia (untuk menentangmu), kecuali orang-orang yang zhalim di antara mereka. Maka, janganlah kamu takut kepada mereka, tetapi takutlah kepadaKu agar Aku sempurnakan nikmatKu kepadamu dan agar kamu mendapat petunjuk.
INABAH (KEMBALI KEPADA ALLAH DENGAN TAAT DAN TAUBAT)
وَأَنِيبُوٓاْ إِلَىٰ رَبِّكُمۡ وَأَسۡلِمُواْ لَهُۥ مِن قَبۡلِ أَن يَأۡتِيَكُمُ الۡعَذَابُ ثُمَّ لَا تُنصَرُونَ٥٤
Kembalilah kepada Tuhanmu dan berserahdirilah kepadaNya sebelum datang adzab kepadamu, kemudian kamu tidak akan ditolong.
ISTI`ĀNAH (MEMOHON PERTOLONGAN)
إِيَّاكَ نَعۡبُدُ وَإِيَّاكَ نَسۡتَعِينُ٥
Hanya kepada Engkaulah kami menyembah dan hanya kepada Engkaulah kami memohon pertolongan.
ISTI`ĀDZAH (MEMOHON PERLINDUNGAN)
قُلۡ أَعُوذُ بِرَبِّ النَّاسِ١ مَلِكِ النَّاسِ٢ إِلَٰهِ النَّاسِ٣
Katakanlah, “Aku berlindung kepada Tuhan manusia [1], Raja manusia [2], Sembahan manusia [3],
ISTIGHŌTSAH (MEMOHON PERTOLONGAN KETIKA DALAM KESULITAN)
إِذۡ تَسۡتَغِيثُونَ رَبَّكُمۡ فَاسۡتَجَابَ لَكُمۡ أَنِّي مُمِدُّكُم بِأَلۡفٖ مِّنَ الۡمَلَـٰٓئِكَةِ مُرۡدِفِينَ٩
(Ingatlah) ketika kamu memohon pertolongan kepada Tuhanmu, lalu Dia mengabulkan(nya) bagimu (seraya berfirman), “Sesungguhnya Aku akan mendatangkan bala bantuan kepadamu berupa seribu malaikat yang datang berturut-turut.”
MENYEMBELIH (DZABḤ)
قُلۡ إِنَّ صَلَاتِي وَنُسُكِي وَمَحۡيَايَ وَمَمَاتِي لِلّٰهِ رَبِّ الۡعَٰلَمِينَ١٦٢ لَا شَرِيكَ لَهُۥۖ وَبِذَٰلِكَ أُمِرۡتُ وَأَنَا۠ أَوَّلُ الۡمُسۡلِمِينَ١٦٣
Katakanlah, “Sesungguhnya shalatku, ibadahku, hidupku, dan matiku hanyalah untuk Allah, Tuhan semesta alam [1]. Tidak ada sekutu bagiNya. Itulah yang diperintahkan kepadaku, dan aku adalah orang yang pertama-tama berserah diri [2].”
NADZAR
يُوفُونَ بِالنَّذۡرِ وَيَخَافُونَ يَوۡمٗا كَانَ شَرُّهُۥ مُسۡتَطِيرٗا٧
Mereka memenuhi nadzar dan takut akan suatu hari yang adzabnya merata di mana-mana.
SYAHADAT
شَهِدَ اللّٰهُ أَنَّهُۥ لَآ إِلَٰهَ إِلَّا هُوَ وَالۡمَلَـٰٓئِكَةُ وَأُوْلُواْ الۡعِلۡمِ قَآئِمَۢا بِالۡقِسۡطِۚ لَآ إِلَٰهَ إِلَّا هُوَ الۡعَزِيزُ الۡحَكِيمُ١٨
Allah menyatakan bahwa tidak ada tuhan (yang benar) selain Dia. (Demikian pula) para malaikat dan orang berilmu, yang menegakkan keadilan. Tidak ada tuhan (yang benar) selain Dia, Yang Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana.
MILLAH IBRĀHĪM
وَإِذۡ قَالَ إِبۡرَٰهِيمُ لِأَبِيهِ وَقَوۡمِهِۦٓ إِنَّنِي بَرَآءٌ مِّمَّا تَعۡبُدُونَ٢٦ إِلَّا الَّذِي فَطَرَنِي فَإِنَّهُۥ سَيَهۡدِينِ٢٧ وَجَعَلَهَا كَلِمَةَۢ بَاقِيَةٗ فِي عَقِبِهِۦ لَعَلَّهُمۡ يَرۡجِعُونَ٢٨
(Ingatlah) ketika Ibrāhīm berkata kepada ayahnya dan kaumnya, “Sesungguhnya aku berlepas diri dari apa yang kamu sembah [26], kecuali Dia yang menciptakanku. Dan sungguh, Dia akan memberiku petunjuk [27].” Dia (Ibrāhīm) menjadikannya (kalimat tauḥid) perkataan yang kekal pada keturunannya agar mereka kembali (kepada kebenaran) [28].
DAKWAH KEPADA AHLI KITAB
قُلۡ يَـٰٓأَهۡلَ الۡكِتَٰبِ تَعَالَوۡاْ إِلَىٰ كَلِمَةٖ سَوَآءٍۢ بَيۡنَنَا وَبَيۡنَكُمۡ أَلَّا نَعۡبُدَ إِلَّا اللّٰهَ وَلَا نُشۡرِكَ بِهِۦ شَيۡـٔٗا وَلَا يَتَّخِذَ بَعۡضُنَا بَعۡضًا أَرۡبَابٗا مِّن دُونِ اللّٰهِۚ فَإِن تَوَلَّوۡاْ فَقُولُواْ اشۡهَدُواْ بِأَنَّا مُسۡلِمُونَ٦٤
Katakanlah, “Wahai Ahli Kitab, marilah (kita) berpegang pada satu kalimat yang sama antara kami dan kamu, (yakni) kita tidak menyembah selain Allah, kita tidak mempersekutukanNya dengan sesuatu apa pun, dan tidak (pula) sebagian kita menjadikan sebagian yang lain sebagai tuhan-tuhan selain Allah.” Jika mereka berpaling, katakanlah (kepada mereka), “Saksikanlah bahwa sesungguhnya kami adalah orang-orang Muslim.”
MUḤAMMAD ADALAH UTUSAN ALLAH
لَقَدۡ جَآءَكُمۡ رَسُولٞ مِّنۡ أَنفُسِكُمۡ عَزِيزٌ عَلَيۡهِ مَا عَنِتُّمۡ حَرِيصٌ عَلَيۡكُم بِالۡمُؤۡمِنِينَ رَءُوفٞ رَّحِيمٞ١٢٨
Sungguh, benar-benar telah datang kepadamu seorang rasul dari kaummu sendiri. Berat terasa olehnya penderitaan yang kamu alami, sangat menginginkan (keimanan dan keselamatan) bagimu, dan (bersikap) penyantun dan penyayang terhadap orang-orang mukmin.
SHALAT, ZAKAT
وَمَآ أُمِرُوٓاْ إِلَّا لِيَعۡبُدُواْ اللّٰهَ مُخۡلِصِينَ لَهُ الدِّينَ حُنَفَآءَ وَيُقِيمُواْ الصَّلَوٰةَ وَيُؤۡتُواْ الزَّكَوٰةَۚ وَذَٰلِكَ دِينُ الۡقَيِّمَةِ٥
Mereka tidak diperintah, kecuali untuk menyembah Allah dengan mengikhlaskan ketaatan kepadaNya lagi ḥanif (istiqomah), melaksanakan shalat, dan menunaikan zakat. Itulah agama yang lurus (benar).
PUASA
يَـٰٓأَيُّهَا الَّذِينَ ءَامَنُواْ كُتِبَ عَلَيۡكُمُ الصِّيَامُ كَمَا كُتِبَ عَلَى الَّذِينَ مِن قَبۡلِكُمۡ لَعَلَّكُمۡ تَتَّقُونَ١٨٣
Wahai orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang-orang sebelum kamu agar kamu bertakwa.
ḤAJI
فِيهِ ءَايَٰتُۢ بَيِّنَٰتٞ مَّقَامُ إِبۡرَٰهِيمَۖ وَمَن دَخَلَهُۥ كَانَ ءَامِنٗاۗ وَلِلّٰهِ عَلَى النَّاسِ حِجُّ الۡبَيۡتِ مَنِ اسۡتَطَاعَ إِلَيۡهِ سَبِيلٗاۚ وَمَن كَفَرَ فَإِنَّ اللّٰهَ غَنِيٌّ عَنِ الۡعَٰلَمِينَ٩٧
Di dalamnya terdapat tanda-tanda yang jelas, (diantaranya) Maqam Ibrahim. Siapa yang memasukinya (Baitullah), maka amanlah dia. (Di antara) kewajiban manusia terhadap Allah adalah melaksanakan ibadah ḥaji ke Baitullah, (yaitu bagi) orang yang mampu mengadakan perjalanan ke sana. Siapa yang mengingkari (kewajiban ḥaji), maka sesungguhnya Allah Maha Kaya (tidak memerlukan sesuatu pun) dari seluruh alam.
RUKUN IMAN
۞لَّيۡسَ الۡبِرَّ أَن تُوَلُّواْ وُجُوهَكُمۡ قِبَلَ الۡمَشۡرِقِ وَالۡمَغۡرِبِ وَلَٰكِنَّ الۡبِرَّ مَنۡ ءَامَنَ بِاللّٰهِ وَالۡيَوۡمِ الۡأٓخِرِ وَالۡمَلَـٰٓئِكَةِ وَالۡكِتَٰبِ وَالنَّبِيِّـۧنَ وَءَاتَى الۡمَالَ عَلَىٰ حُبِّهِۦ ذَوِي الۡقُرۡبَىٰ وَالۡيَتَٰمَىٰ وَالۡمَسَٰكِينَ وَابۡنَ السَّبِيلِ وَالسَّآئِلِينَ وَفِي الرِّقَابِ وَأَقَامَ الصَّلَوٰةَ وَءَاتَى الزَّكَوٰةَ وَالۡمُوفُونَ بِعَهۡدِهِمۡ إِذَا عَٰهَدُواْۖ وَالصَّـٰبِرِينَ فِي الۡبَأۡسَآءِ وَالضَّرَّآءِ وَحِينَ الۡبَأۡسِۗ أُوْلَـٰٓئِكَ الَّذِينَ صَدَقُواْۖ وَأُوْلَـٰٓئِكَ هُمُ الۡمُتَّقُونَ١٧٧
Kebajikan itu bukanlah menghadapkan wajahmu ke arah timur dan barat, melainkan kebajikan itu ialah mereka yang beriman kepada Allah, Hari Akhir, malaikat-malaikat, kitab suci, dan nabi-nabi; memberikan harta yang dicintainya kepada kerabat, anak yatim, orang miskin, musafir, peminta-minta, dan (memerdekakan) hamba sahaya; melaksanakan shalat; menunaikan zakat; menepati janji apabila berjanji; sabar dalam kemelaratan, penderitaan, dan pada masa peperangan. Mereka itulah orang-orang yang benar dan mereka itulah orang-orang yang bertakwa.
TAKDIR
إِنَّا كُلَّ شَيۡءٍ خَلَقۡنَٰهُ بِقَدَرٖ٤٩
Sesungguhnya Kami menciptakan segala sesuatu sesuai dengan ukuran.
IḤSAN
إِنَّ اللّٰهَ مَعَ الَّذِينَ اتَّقَواْ وَّالَّذِينَ هُم مُّحۡسِنُونَ١٢٨
Sesungguhnya Allah bersama orang-orang yang bertakwa dan yang berbuat kebaikan.
وَتَوَكَّلۡ عَلَى الۡعَزِيزِ الرَّحِيمِ٢١٧ الَّذِي يَرَىٰكَ حِينَ تَقُومُ٢١٨ وَتَقَلُّبَكَ فِي السَّـٰجِدِينَ٢١٩ إِنَّهُۥ هُوَ السَّمِيعُ الۡعَلِيمُ٢٢٠
Bertawakallah kepada (Allah) Yang Maha Perkasa lagi Maha Penyayang [217]. (Dia) yang melihat ketika engkau berdiri (untuk shalat) [218]. Dan, (melihat) perubahan gerakan badanmu di antara orang-orang yang sujud [219]. Sesungguhnya Dialah Yang Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui [220].
وَمَا تَكُونُ فِي شَأۡنٖ وَمَا تَتۡلُواْ مِنۡهُ مِن قُرۡءَانٖ وَلَا تَعۡمَلُونَ مِنۡ عَمَلٍ إِلَّا كُنَّا عَلَيۡكُمۡ شُهُودًا إِذۡ تُفِيضُونَ فِيهِۚ وَمَا يَعۡزُبُ عَن رَّبِّكَ مِن مِّثۡقَالِ ذَرَّةٖ فِي الۡأَرۡضِ وَلَا فِي السَّمَآءِ وَلَآ أَصۡغَرَ مِن ذَٰلِكَ وَلَآ أَكۡبَرَ إِلَّا فِي كِتَٰبٖ مُّبِينٍ٦١
Engkau tidak berada dalam suatu urusan, tidak membaca suatu ayat Al-Qur’ān, dan tidak pula mengerjakan suatu pekerjaan, kecuali Kami menjadi saksi atasmu ketika kamu melakukannya. Tidak ada yang luput sedikit pun dari Tuhanmu, walaupun seberat dzarrah, baik di bumi maupun di langit. Tidak ada sesuatu yang lebih kecil dan yang lebih besar daripada itu, kecuali semua tercatat dalam kitab yang nyata.
DALIL NABI
اقۡرَأۡ بِاسۡمِ رَبِّكَ الَّذِي خَلَقَ١ خَلَقَ الۡإِنسَٰنَ مِنۡ عَلَقٍ٢ اقۡرَأۡ وَرَبُّكَ الۡأَكۡرَمُ٣ الَّذِي عَلَّمَ بِالۡقَلَمِ٤ عَلَّمَ الۡإِنسَٰنَ مَا لَمۡ يَعۡلَمۡ٥
Bacalah dengan (menyebut) nama Tuhanmu yang menciptakan! [1] Dia menciptakan manusia dari segumpal darah [2]. Bacalah! Tuhanmulah Yang Maha Mulia [3], yang mengajar (manusia) dengan pena [4]. Dia mengajarkan manusia apa yang tidak diketahuinya [5].
DALIL RASUL
يَـٰٓأَيُّهَا الۡمُدَّثِّرُ١ قُمۡ فَأَنذِرۡ٢ وَرَبَّكَ فَكَبِّرۡ٣ وَثِيَابَكَ فَطَهِّرۡ٤ وَالرُّجۡزَ فَاهۡجُرۡ٥ وَلَا تَمۡنُن تَسۡتَكۡثِرُ٦ وَلِرَبِّكَ فَاصۡبِرۡ٧
Wahai orang yang berselimut! [1] Bangunlah, lalu berilah peringatan! [2] Tuhanmu, agungkanlah! [3] Pakaianmu, bersihkanlah! [4] Segala (perbuatan) yang keji, tinggalkanlah! [5] Janganlah memberi (dengan maksud) memperoleh (balasan) yang lebih banyak! [6] Karena Tuhanmu, bersabarlah! [7]
HIJRAH
إِنَّ الَّذِينَ تَوَفَّىٰهُمُ الۡمَلَـٰٓئِكَةُ ظَالِمِيٓ أَنفُسِهِمۡ قَالُواْ فِيمَ كُنتُمۡۖ قَالُواْ كُنَّا مُسۡتَضۡعَفِينَ فِي الۡأَرۡضِۚ قَالُوٓاْ أَلَمۡ تَكُنۡ أَرۡضُ اللّٰهِ وَٰسِعَةٗ فَتُهَاجِرُواْ فِيهَاۚ فَأُوْلَـٰٓئِكَ مَأۡوَىٰهُمۡ جَهَنَّمُۖ وَسَآءَتۡ مَصِيرًا٩٧ إِلَّا الۡمُسۡتَضۡعَفِينَ مِنَ الرِّجَالِ وَالنِّسَآءِ وَالۡوِلۡدَٰنِ لَا يَسۡتَطِيعُونَ حِيلَةٗ وَلَا يَهۡتَدُونَ سَبِيلٗا٩٨ فَأُوْلَـٰٓئِكَ عَسَى اللّٰهُ أَن يَعۡفُوَ عَنۡهُمۡۚ وَكَانَ اللّٰهُ عَفُوًّا غَفُورٗا٩٩
Sesungguhnya orang-orang yang dicabut nyawanya oleh malaikat dalam keadaan menzhalimi dirinya, mereka (malaikat) bertanya, “Bagaimana kamu ini?” Mereka menjawab, “Kami adalah orang-orang yang tertindas di bumi.” Mereka (malaikat) bertanya, “Bukankah bumi Allah itu luas sehingga kamu dapat berhijrah di sana?” Maka, tempat mereka itu (neraka) Jahannam dan itu seburuk-buruk tempat kembali [97]. Kecuali, mereka yang tertindas dari (kalangan) laki-laki, perempuan, dan anak-anak yang tidak berdaya dan tidak mengetahui jalan (untuk berhijrah) [98]. Mereka itu, mudah-mudahan Allah memaafkannya. Allah Maha Pemaaf lagi Maha Pengampun [99].
يَٰعِبَادِيَ ٱلَّذِينَ ءَامَنُوٓاْ إِنَّ أَرۡضِي وَٰسِعَةٞ فَإِيَّـٰيَ فَٱعۡبُدُونِ٥٦
Wahai hamba-hambaKu yang beriman, sesungguhnya bumiKu itu luas, maka menyembahlah hanya kepadaKu.
DALIL RASUL UNTUK SEMUA MANUSIA
قُلۡ يَـٰٓأَيُّهَا النَّاسُ إِنِّي رَسُولُ اللّٰهِ إِلَيۡكُمۡ جَمِيعًا الَّذِي لَهُۥ مُلۡكُ السَّمَٰوَٰتِ وَالۡأَرۡضِۖ لَآ إِلَٰهَ إِلَّا هُوَ يُحۡيِۦ وَيُمِيتُۖ فَـَٔامِنُواْ بِاللّٰهِ وَرَسُولِهِ النَّبِيِّ الۡأُمِّيِّ الَّذِي يُؤۡمِنُ بِاللّٰهِ وَكَلِمَٰتِهِۦ وَاتَّبِعُوهُ لَعَلَّكُمۡ تَهۡتَدُونَ١٥٨
Katakanlah (Nabi Muḥammad), “Wahai manusia, sesungguhnya aku ini utusan Allah bagi kalian semua, Yang memiliki kerajaan langit dan bumi, tidak ada tuhan yang benar selain Dia, serta Yang menghidupkan dan mematikan. Maka, berimanlah kamu kepada Allah dan RasulNya, (yaitu) nabi ummi (tidak bisa baca tulis) yang beriman kepada Allah dan kalimat-kalimatNya (kitab-kitabNya). Ikutilah dia agar kamu mendapat petunjuk.”
KESEMPURNAAN AGAMA ISLAM
حُرِّمَتۡ عَلَيۡكُمُ الۡمَيۡتَةُ وَالدَّمُ وَلَحۡمُ الۡخِنزِيرِ وَمَآ أُهِلَّ لِغَيۡرِ اللّٰهِ بِهِۦ وَالۡمُنۡخَنِقَةُ وَالۡمَوۡقُوذَةُ وَالۡمُتَرَدِّيَةُ وَالنَّطِيحَةُ وَمَآ أَكَلَ السَّبُعُ إِلَّا مَا ذَكَّيۡتُمۡ وَمَا ذُبِحَ عَلَى النُّصُبِ وَأَن تَسۡتَقۡسِمُواْ بِالۡأَزۡلَٰمِۚ ذَٰلِكُمۡ فِسۡقٌۗ الۡيَوۡمَ يَئِسَ الَّذِينَ كَفَرُواْ مِن دِينِكُمۡ فَلَا تَخۡشَوۡهُمۡ وَاخۡشَوۡنِۚ الۡيَوۡمَ أَكۡمَلۡتُ لَكُمۡ دِينَكُمۡ وَأَتۡمَمۡتُ عَلَيۡكُمۡ نِعۡمَتِي وَرَضِيتُ لَكُمُ الۡإِسۡلَٰمَ دِينٗاۚ فَمَنِ اضۡطُرَّ فِي مَخۡمَصَةٍ غَيۡرَ مُتَجَانِفٖ لِّإِثۡمٖ فَإِنَّ اللّٰهَ غَفُورٞ رَّحِيمٞ٣
Diḥaramkan bagimu (memakan) bangkai, darah, daging babi, dan (daging hewan) yang disembelih bukan atas (nama) Allah, yang tercekik, yang dipukul, yang jatuh, yang ditanduk, dan yang diterkam binatang buas, kecuali yang (sempat) kamu sembelih. (Diḥaramkan pula) apa yang disembelih untuk berhala. (Demikian pula) mengundi nasib dengan azlām (anak panah), (karena) itu suatu perbuatan fasik. Pada hari ini orang-orang kafir telah putus asa untuk (mengalahkan) agamamu. Oleh sebab itu, janganlah kamu takut kepada mereka, tetapi takutlah kepadaKu. Pada hari ini telah Aku sempurnakan agamamu untukmu, telah Aku cukupkan nikmatKu bagimu, dan telah Aku ridhai Islam sebagai agamamu. Maka, siapa yang terpaksa karena lapar, bukan karena ingin berbuat dosa, sesungguhnya Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.
DALIL WAFATNYA RASUL
إِنَّكَ مَيِّتٞ وَإِنَّهُم مَّيِّتُونَ٣٠ ثُمَّ إِنَّكُمۡ يَوۡمَ الۡقِيَٰمَةِ عِندَ رَبِّكُمۡ تَخۡتَصِمُونَ٣١
Sesungguhnya engkau (Nabi Muḥammad akan) mati dan sesungguhnya mereka pun (akan) mati [30]. Kemudian, sesungguhnya kamu sekalian pada Hari Kiamat akan berbantah-bantahan di hadapan Tuhanmu [31].
MANUSIA AKAN DIBANGKITKAN SETELAH MATI
۞مِنۡهَا خَلَقۡنَٰكُمۡ وَفِيهَا نُعِيدُكُمۡ وَمِنۡهَا نُخۡرِجُكُمۡ تَارَةً أُخۡرَىٰ٥٥
Darinya (tanah) itulah Kami menciptakanmu, kepadanyalah Kami akan mengembalikanmu dan dari sanalah Kami akan mengeluarkanmu pada waktu yang lain.
وَاللّٰهُ أَنۢبَتَكُم مِّنَ الۡأَرۡضِ نَبَاتٗا١٧ ثُمَّ يُعِيدُكُمۡ فِيهَا وَيُخۡرِجُكُمۡ إِخۡرَاجٗا١٨
Allah benar-benar menciptakanmu dari tanah [17]. Kemudian, dia akan mengembalikanmu ke dalamnya (tanah) dan mengeluarkanmu (pada Hari Kiamat) dengan pasti [18].
HARI PEMBALASAN
وَلِلّٰهِ مَا فِي السَّمَٰوَٰتِ وَمَا فِي الۡأَرۡضِ لِيَجۡزِيَ الَّذِينَ أَسَـٰٓـُٔواْ بِمَا عَمِلُواْ وَيَجۡزِيَ الَّذِينَ أَحۡسَنُواْ بِالۡحُسۡنَى٣١
Milik Allahlah apa yang ada di langit dan apa yang ada di bumi. (Dengan demikian,) Dia akan memberi balasan kepada orang-orang yang berbuat jahat sesuai dengan apa yang telah mereka kerjakan dan Dia akan memberi balasan kepada orang-orang yang berbuat baik dengan pahala yang lebih baik (surga).
MENDUSTAKAN HARI PEMBALASAN KAFIR
زَعَمَ الَّذِينَ كَفَرُوٓاْ أَن لَّن يُبۡعَثُواْۚ قُلۡ بَلَىٰ وَرَبِّي لَتُبۡعَثُنَّ ثُمَّ لَتُنَبَّؤُنَّ بِمَا عَمِلۡتُمۡۚ وَذَٰلِكَ عَلَى اللّٰهِ يَسِيرٞ٧
Orang-orang yang kafir mengira bahwa sesungguhnya mereka tidak akan dibangkitkan. Katakanlah (Nabi Muḥammad), “Tidak demikian. Demi Tuhanku, kamu pasti akan dibangkitkan, kemudian pasti akan diberitakan apa yang telah kamu kerjakan.” Yang demikian itu mudah bagi Allah.
PEMBAWA KABAR GEMBIRA DAN PEMBERI PERINGATAN
رُّسُلٗا مُّبَشِّرِينَ وَمُنذِرِينَ لِئَلَّا يَكُونَ لِلنَّاسِ عَلَى اللّٰهِ حُجَّةُۢ بَعۡدَ الرُّسُلِۚ وَكَانَ اللّٰهُ عَزِيزًا حَكِيمٗا١٦٥
(Kami mengutus) rasul-rasul sebagai pembawa berita gembira dan pemberi peringatan agar tidak ada alasan bagi manusia untuk membantah Allah setelah rasul-rasul itu (diutus). Allah Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana.
RASUL PERTAMA
۞إِنَّآ أَوۡحَيۡنَآ إِلَيۡكَ كَمَآ أَوۡحَيۡنَآ إِلَىٰ نُوحٖ وَالنَّبِيِّـۧنَ مِنۢ بَعۡدِهِۦۚ وَأَوۡحَيۡنَآ إِلَىٰٓ إِبۡرَٰهِيمَ وَإِسۡمَٰعِيلَ وَإِسۡحَٰقَ وَيَعۡقُوبَ وَالۡأَسۡبَاطِ وَعِيسَىٰ وَأَيُّوبَ وَيُونُسَ وَهَٰرُونَ وَسُلَيۡمَٰنَۚ وَءَاتَيۡنَا دَاوُۥدَ زَبُورٗا١٦٣
Sesungguhnya Kami telah mewahyukan kepadamu (Nabi Muḥammad) sebagaimana Kami telah mewahyukan kepada Nūḥ dan nabi-nabi setelahnya. Kami telah mewahyukan pula kepada Ibrāhīm, Ismā`īl, Isḥāq, Ya`qūb dan keturunan(nya), `Īsā, Ayyūb, Yūnus, Hārūn, dan Sulaimān. Kami telah memberikan (Kitab) Zabūr kepada Dāwūd.
JAUHI THĀGHŪT
وَلَقَدۡ بَعَثۡنَا فِي كُلِّ أُمَّةٖ رَّسُولًا أَنِ اعۡبُدُواْ اللّٰهَ وَاجۡتَنِبُواْ الطَّـٰغُوتَۖ فَمِنۡهُم مَّنۡ هَدَى اللّٰهُ وَمِنۡهُم مَّنۡ حَقَّتۡ عَلَيۡهِ الضَّلَٰلَةُۚ فَسِيرُواْ فِي الۡأَرۡضِ فَانظُرُواْ كَيۡفَ كَانَ عَٰقِبَةُ الۡمُكَذِّبِينَ٣٦
Sungguh, Kami telah mengutus seorang rasul untuk setiap umat (untuk menyerukan), “Sembahlah Allah dan jauhilah thāghūt!” Di antara mereka ada yang diberi petunjuk oleh Allah dan ada pula yang ditetapkan dalam kesesatan. Maka, berjalanlah kamu di bumi dan perhatikanlah bagaimana kesudahan orang yang mendustakan (rasul-rasul).
TIDAK ADA PAKSAAN DALAM AGAMA
لَآ إِكۡرَاهَ فِي الدِّينِۖ قَد تَّبَيَّنَ الرُّشۡدُ مِنَ الۡغَيِّۚ فَمَن يَكۡفُرۡ بِالطَّـٰغُوتِ وَيُؤۡمِنۢ بِاللّٰهِ فَقَدِ اسۡتَمۡسَكَ بِالۡعُرۡوَةِ الۡوُثۡقَىٰ لَا انفِصَامَ لَهَاۗ وَاللّٰهُ سَمِيعٌ عَلِيمٌ٢٥٦
Tidak ada paksaan dalam (menganut) agama (Islam). Sungguh, telah jelas jalan yang benar dari jalan yang sesat. Siapa yang ingkar kepada thāghūt dan beriman kepada Allah sungguh telah berpegang teguh pada tali yang sangat kuat yang tidak akan putus. Allah Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui.
`ULAMA
3 PRINSIP DASAR DISERTAI DALIL
MUḤAMMAD BIN `ABDUL-WAHHĀB I
اَلۡمُؤَلِّفُ: مُحَمَّدُ بۡنُ عَبۡدِ الۡوَهَّابِ بۡنِ سُلَيۡمَانَ التَّمِيمِيُّ النَّجۡدِيُّ (ت ١٢٠٦هـ)
اَلنَّاشِرُ: وِزَارَةُ الشُّؤُونِ الۡإِسۡلَامِيَّةِ وَالۡأَوۡقَافِ وَالدَّعۡوَةِ وَالۡإِرۡشَادِ – الۡمَمۡلَكَةُ الۡعَرَبِيَّةُ السُّعُودِيَّةُ
رَقۡمُ الطَّبۡعَةِ: الۡأُولَى، ١٤٢١هـ
الصَّفۡحَاتُ: ٤٨
عَدَدُ الصَّفۡحَاتِ: ٤٧
(تَرۡقِيمُ الۡكِتَابِ مُوَافِقٌ لِلۡمَطۡبُوعِ)
صَفۡحَةُ الۡمُؤَلِّفِ: (مُحَمَّدُ بۡنُ عَبۡدِ الۡوَهَّابِ)
al-mu’allif: muḥammad bin `abdil-wahhāb bin sulaimān at-tamīmī an-najdī (w. 1206 h).
an-nāsyir: wizārot asy-syu’ūn al-islāmiyyah wal-auqōf wad-da`wah wal-irsyād – al-mamlakah al-`arobiyyah as-su`ūdiyyah.
roqmuth-thob`ah: al-ūlā, 1421 h.
ash-shofaḥāt: 48.
`adadush-shofaḥāt: 47.
(tarqīm al-kitāb muwāfiq lil-mathbū`).
shofḥat al-mu’allif: (muḥammad bin `abdil-wahhāb).
Kitab: Tiga Landasan Pokok dan Dalilnya – Syarat Shalat – Empat Kaidah.
Penulis: Muḥammad bin `Abdil Wahhāb bin Sulaimān At-Tamīmī An-Najdī (wafat 1206 H).
Penerbit: Kementerian Urusan Islam, Wakaf, Dakwah, dan Bimbingan – Kerajaan Arab Saudi.
Cetakan: Pertama, 1421 H.
Jumlah halaman: 48.
Jumlah halaman isi kitab: (25) 47.
Penomoran kitab telah disesuaikan dengan cetakan.
Halaman penulis: [Muḥammad bin `Abdul Wahhāb].
اَلۡأُصُولُ الثَّلَاثَةُ وَأَدِلَّتُهَا
بِسۡمِ اللّٰهِ الرَّحۡمَٰنِ الرَّحِيمِ
اَلۡحَمۡدُ لِلّٰهِ رَبِّ الۡعَالَمِينَ، وَصَلَّى اللّٰهُ وَسَلَّمَ عَلَىٰ نَبِيِّنَا مُحَمَّدٍ، وَعَلَىٰ آلِهِ وَأَصۡحَابِهِ، وَمَنِ اهۡتَدَىٰ بِهَدۡيِهِ إِلَىٰ يَوۡمِ الدِّينِ. أَمَّا بَعۡدُ: فَإِنَّ أَهَمَّ مَا يَهۡتَمُّ بِهِ الۡمُسۡلِمُ، وَأَعۡظَمَ مَا يَحۡرِصُ عَلَيۡهِ، مَا لَهُ عَلَاقَةٌ بِأُمُورِ الۡعَقِيدَةِ، وَأُصُولِ الۡعِبَادَةِ، إِذۡ سَلَامَةُ الۡمُعۡتَقَدِ وَالِاتِّبَاعُ عَلَيۡهِمَا الۡمَدَارُ فِي قَبُولِ الۡأَعۡمَالِ وَنَفۡعِهَا لِلۡعَبۡدِ.
وَقَدۡ أَكۡرَمَ اللّٰهُ هَٰذِهِ الۡأُمَّةَ، وَأَنۡعَمَ عَلَيۡهَا بِمَا يَسَّرَ لَهَا مِنۡ أَئِمَّةِ الۡهُدَىٰ، وَمَصَابِيحِ الدُّجَىٰ، الَّذِينَ أَنَارُوا الطَّرِيقَ، وَبَيَّنُوا مَا يَجِبُ وَيَمۡتَنِعُ، وَمَا يَضُرُّ وَيَنۡفَعُ، فِي دَقِيقِ الۡأُمُورِ وَجَلِيلِهَا، فَجَزَاهُمُ اللّٰهُ عَنِ الۡإِسۡلَامِ وَالۡمُسۡلِمِينَ خَيۡرَ الۡجَزَاءِ.
وَمِنۡ أَعۡظَمِ أُولَٰئِكَ الۡأَئِمَّةِ، وَأَشۡهَرِهِمۡ، شَيۡخُ الۡإِسۡلَامِ وَقُدۡوَةُ الۡأَنَامِ، الۡإِمَامُ مُحَمَّدُ بۡنُ عَبۡدِ الۡوَهَّابِ، أَجۡزَلَ اللّٰهُ لَهُ الۡأَجۡرَ وَالثَّوَابَ، وَأَدۡخَلَهُ الۡجَنَّةَ بِغَيۡرِ حِسَابٍ،
bismillāhir-roḥmānir-roḥīm.
al-ḥamdu lillāhi robbil-`ālamīn. wa shollallāhu wasallama `alā nabiyyinā muḥammad, wa `alā ālihi wa ashḥābih, wa manihtadā bihadyihī ilā yaumid-dīn. ammā ba`d:
fa’inna ahamma mā yahtammu bihil-muslim, wa a`zhoma mā yaḥrishu `alaih, mā lahu `alāqoh bi’umūril-`aqīdah wa ushūlil-`ibādah. idz salāmatu al-mu`taqod wal-ittibā` `alaihimā huwal-madār fī qobūlil-a`māl wa naf`ihā lil-`abd.
waqod akromallāhu hādzihil-ummah, wa an`ama `alaihā bimā yassaro lahā min a’immatil-hudā, wa mashōbīḥid-dujā. alladzīna anārū ath-thorīq, wa bayyanū mā yajibu wa yamtani`, wa mā yadhurru wa yanfa`, fī daqīqil-umūr wa jalīlihā. fa jazāhumullāhu `anil-islāmi wal-muslimīna khoirol-jazā’.
wa min a`zhomi ulā’ikal-a’immah, wa asyharihim, syaikhul-islām wa qudwatul-anām, al-imām muḥammad bin `abdil-wahhāb. ajzalallāhu lahu al-ajro wats-tsawāb, wa adkholahul-jannah bighoiri ḥisāb.
(Pengantar Penerbit)
**Al-Ushūl Ats-Tsalātsah wa Adillatuhā**
Dengan nama Allah Ar-Raḥmān Ar-Raḥīm.
Segala puji bagi Allah, Rabb semesta alam. Semoga Allah melimpahkan shalawat dan salam kepada nabi kita, Muḥammad, beserta keluarga, para sahabat beliau, dan seluruh orang yang mengikuti petunjuk beliau hingga Hari Kiamat. Amma ba`du:
Sesungguhnya perkara yang paling penting untuk diperhatikan oleh seorang Muslim, dan yang paling besar untuk dijaga, adalah segala sesuatu yang berkaitan dengan aqidah dan pokok-pokok ibadah. Sebab, keselamatan aqidah dan mengikuti tuntunan yang benar merupakan tolok ukur diterima atau tidaknya amal serta bermanfaat bagi seorang hamba.
Allah telah memuliakan umat ini, dan menganugerahkan kepada mereka para imam petunjuk dan pelita di tengah kegelapan. Mereka menerangi jalan, menjelaskan apa yang wajib dan apa yang dilarang, apa yang membawa mudharat dan apa yang membawa manfaat, baik dalam perkara yang kecil maupun yang besar. Semoga Allah membalas mereka dengan sebaik-baik balasan atas jasa mereka kepada Islam dan kaum muslimin.
Di antara imam-imam tersebut, bahkan termasuk yang paling agung dan paling masyhur, adalah Syaikhul Islam sekaligus teladan umat manusia, Imām Muḥammad bin `Abdil Wahhāb. Semoga Allah melimpahkan pahala dan ganjaran yang besar kepada beliau serta memasukkan beliau ke dalam surga tanpa ḥisāb.
وَهَٰذَا الۡكِتَابُ الَّذِي بَيۡنَ أَيۡدِينَا جَمَعَ ثَلَاثَ رَسَائِلَ لِهَٰذَا الۡإِمَامِ، هِيَ: (اَلۡأُصُولُ الثَّلَاثَةُ وَأَدِلَّتُهَا، وَشُرُوطُ الصَّلَاةِ وَوَاجِبَاتُهَا وَأَرۡكَانُهَا، وَالۡقَوَاعِدُ الۡأَرۡبَعُ).
وَهَٰذِهِ الرَّسَائِلُ مِنۡ أَهَمِّ رَسَائِلِهِ وَأَجۡمَعِهَا فِي بَيَانِ أُصُولِ الۡعَقِيدَةِ وَالۡعِبَادَةِ، جَمَعَ فِيهَا رَحِمَهُ اللّٰهُ مَا يَجِبُ عَلَىٰ كُلِّ مُسۡلِمٍ مَعۡرِفَتُهُ وَالۡعَمَلُ بِهِ فِي أَهَمِّ أُمُورِ دِينِهِ.
مَعَ تَحۡذِيرِ الۡمُسۡلِمِ مِنۡ شُبَهِ دُعَاةِ الشِّرۡكِ الَّذِينَ يُشَبِّهُونَ عَلَى النَّاسِ بِزَعۡمِهِمۡ قَصۡرَ الشِّرۡكِ بِاللّٰهِ عَلَى الشِّرۡكِ فِي الرُّبُوبِيَّةِ، فَبَيَّنَ خَطَأَهُمۡ وَرَدَّ شُبَهَهُمۡ مِنۡ كِتَابِ اللّٰهِ وَسُنَّةِ رَسُولِهِ صَلَّى اللّٰهُ عَلَيۡهِ وَسَلَّمَ.
أَلَّفَهَا رَحِمَهُ اللّٰهُ لِلۡمُبۡتَدِئِينَ، وَاجۡتَهَدَ فِي تَسۡهِيلِهَا وَاخۡتِصَارِهَا، حَتَّىٰ خَرَجَتۡ بِأَحۡسَنِ حُلَّةٍ وَأَعۡظَمِ فَائِدَةٍ؛
wa hādzihir-rosā’il min ahammi rosā’ilihī wa ajma`ihā fī bayāni ushūlil-`aqīdah wal-`ibādah. jama`a fīhā roḥimahullāh mā yajibu `alā kulli muslim ma`rifatuhū wal-`amalu bih, fī ahammi umūri dīnih.
ma`a taḥdzīril-muslim min syubah du`āti asy-syirk, alladzīna yusyabbihūna `alan-nās biza`mihim qoshro asy-syirki billāh `ala asy-syirki fir-rubūbiyyah. fabayyana khotho’ahum wa rodda syubahahum min kitābillāh wa sunnati rosūlihī shollallāhu `alaihi wasallam.
allafahā roḥimahullāh lil-mubtadi’īn, wajtahada fī tashīlihā wakhtishōrihā, ḥattā khorojat biaḥsani ḥullah wa a`zhomi fā’idah;
Sungguh beliau, raḥimahullāh, telah bersungguh-sungguh menjelaskan kebenaran beserta dalilnya. Beliau berjihad dengan pena, lisan, dan senjatanya, hingga Allah menyelamatkan banyak umat melalui beliau dari kegelapan kekafiran dan kebodohan menuju cahaya ilmu dan iman.
Kitab yang berada di hadapan kita ini menghimpun 3 risalah karya imam tersebut, yaitu: Al-Ushūl Ats-Tsalātsah wa Adillatuhā, Syurūth Ash-Sholāh wa Wājibātuhā wa Arkānuhā, dan Al-Qowā`id Al-Arba`.
Ke-3 risalah ini termasuk karya beliau yang paling penting dan paling lengkap dalam menjelaskan pokok-pokok akidah dan ibadah. Di dalamnya beliau menghimpun berbagai perkara yang wajib diketahui dan diamalkan oleh setiap muslim dalam urusan agamanya yang paling mendasar.
Di samping itu, beliau juga memperingatkan kaum muslimin dari syubhat para penyeru kesyirikan yang berusaha mengaburkan pemahaman manusia dengan mengklaim bahwa syirik kepada Allah hanya terbatas pada syirik dalam rubūbiyyah. Beliau menjelaskan kekeliruan mereka dan membantah syubhat-syubhat tersebut dengan dalil dari Kitab Allah dan Sunnah Rasul-Nya C.
Beliau menyusun risalah-risalah ini untuk para pemula, serta bersungguh-sungguh memudahkan penyampaiannya dan meringkas isinya, hingga tampil dalam bentuk yang paling baik dan memberikan manfaat yang sangat besar,
وَإِنَّ وِزَارَةَ الشُّؤُونِ الۡإِسۡلَامِيَّةِ وَالۡأَوۡقَافِ وَالدَّعۡوَةِ وَالۡإِرۡشَادِ، مُمَثَّلَةً فِي وَكَالَةِ الۡمَطۡبُوعَاتِ وَالنَّشۡرِ، لَمَّا رَأَتۡ فِي هَٰذِهِ الرَّسَائِلِ مِنَ الۡفَائِدَةِ الۡعَظِيمَةِ الۡكَامِنَةِ فِي سُهُولَةِ أُسۡلُوبِهَا وَيُسۡرِهِ مَعَ جَلَالَةِ قَدۡرِ مَوۡضُوعَاتِهَا وَأَهَمِّيَّتِهَا؛ رَأَتۡ أَنَّهَا مِنۡ أَوۡلَىٰ مَا يَجِبُ أَنۡ يُهۡتَمَّ بِهِ وَيُنۡشَرَ، دَعۡوَةً إِلَىٰ دِينِ اللّٰهِ الۡقَوِيمِ بِالۡحِكۡمَةِ وَالطَّرِيقِ الۡأَسۡلَمِ، وَنُصۡحًا لِلّٰهِ وَكِتَابِهِ وَرَسُولِهِ وَالۡمُسۡلِمِينَ.
وَاللّٰهُ سُبۡحَانَهُ نَسۡأَلُ أَنۡ يُوَفِّقَ الۡمُسۡلِمِينَ جَمِيعًا لِلۡفِقۡهِ فِي دِينِهِ وَالۡعَمَلِ بِكِتَابِهِ وَسُنَّةِ رَسُولِهِ، إِنَّهُ سَمِيعٌ قَرِيبٌ، وَصَلَّى اللّٰهُ عَلَىٰ نَبِيِّنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَىٰ آلِهِ وَصَحۡبِهِ وَسَلَّمَ.
وَكِيلُ وِزَارَةِ الشُّؤُونِ الۡإِسۡلَامِيَّةِ وَالۡأَوۡقَافِ وَالدَّعۡوَةِ وَالۡإِرۡشَادِ الۡمُسَاعِدُ لِشُؤُونِ الۡمَطۡبُوعَاتِ وَالنَّشۡرِ
د/ عَبۡدُ اللّٰهِ بۡنُ أَحۡمَدَ الزَّيۡدِ
wallāhu subḥānah, nas’alu ayyuwaffiqol-muslimīna jamī`an lil-fiqhi fī dīnih, wal-`amali bikitābihī wa sunnati rosūlih. innahū samī`un qorīb. wa shollallāhu `alā nabiyyinā muḥammad, wa `alā ālihī wa shoḥbihī wasallam.
wakīlu wizāroti asy-syu’ūnil-islāmiyyah wal-auqōfi wad-da`wati wal-irsyād, al-musā`idu lisyu’ūnil-mathbū`āti wan-nasyr.
d\ `abdullāh bin aḥmad az-zaid.
…sehingga dapat dipahami oleh pemula, sementara yang sudah berilmu pun tetap perlu mempelajarinya. Dengan demikian, manfaatnya tersebar luas dan kebaikannya melimpah, karena agungnya tema-tema yang dibahas serta mulianya kandungan yang dimilikinya.
Kementerian Urusan Islam, Wakaf, Dakwah, dan Bimbingan, yang diwakili oleh Deputi Percetakan dan Penerbitan, memandang bahwa risalah-risalah ini memiliki manfaat yang sangat besar. Hal itu tampak dari mudahnya gaya bahasa yang digunakan, ringkas penyampaiannya, serta agung dan pentingnya pembahasan yang dikandungnya. Oleh karena itu, kementerian memandang bahwa risalah-risalah ini termasuk yang paling layak untuk diperhatikan dan disebarluaskan sebagai ajakan kepada agama Allah yang lurus dengan hikmah dan metode yang paling aman, sekaligus sebagai bentuk nasihat kepada Allah, KitabNya, RasulNya, dan kaum Muslimin.
Kami memohon kepada Allah Subḥānahu wa Ta`ālā agar memberikan taufik kepada seluruh kaum Muslimin untuk memahami agamaNya, mengamalkan KitabNya, dan Sunnah RasulNya. Sesungguhnya Dia Maha Mendengar lagi Maha Dekat. Semoga Allah melimpahkan shalawat dan salam kepada nabi kita Muḥammad, beserta keluarga dan para sahabat beliau.
Wakil Menteri Urusan Islam, Wakaf, Dakwah, dan Bimbingan Bidang Percetakan dan Penerbitan,
Dr. `Abdullāh bin Aḥmad Az-Zaid.
بِسۡمِ اللّٰهِ الرَّحۡمَٰنِ الرَّحِيمِ
اِعۡلَمۡ رَحِمَكَ اللّٰهُ أَنَّهُ يَجِبُ عَلَيۡنَا تَعَلُّمُ أَرۡبَعِ مَسَائِلَ.
(الۡأُولَىٰ) الۡعِلۡمُ وَهُوَ مَعۡرِفَةُ اللّٰهِ، وَمَعۡرِفَةُ نَبِيِّهِ، وَمَعۡرِفَةُ دِينِ الۡإِسۡلَامِ بِالۡأَدِلَّةِ.
(الثَّانِيَةُ) الۡعَمَلُ بِهِ.
(الثَّالِثَةُ) الدَّعۡوَةُ إِلَيۡهِ.
(الرَّابِعَةُ) الصَّبۡرُ عَلَى الۡأَذَىٰ فِيهِ، وَالدَّلِيلُ قَوۡلُهُ تَعَالَىٰ: بِسۡمِ اللّٰهِ الرَّحۡمَٰنِ الرَّحِيمِ (وَالۡعَصۡرِ ١ إِنَّ الۡإِنۡسَانَ لَفِي خُسۡرٍ ٢ إِلَّا الَّذِينَ آمَنُوا وَعَمِلُوا الصَّالِحَاتِ وَتَوَاصَوۡا بِالۡحَقِّ وَتَوَاصَوۡا بِالصَّبۡرِ ٣) [العصر: ١-٣]
قَالَ الشَّافِعِيُّ رَحِمَهُ اللّٰهُ تَعَالَىٰ: لَوۡ مَا أَنۡزَلَ اللّٰهُ حُجَّةً عَلَىٰ خَلۡقِهِ إِلَّا هَٰذِهِ السُّورَةَ لَكَفَتۡهُمۡ.
وَقَالَ الۡبُخَارِيُّ رَحِمَهُ اللّٰهُ تَعَالَىٰ (جُزۡءُ ١ صَفۡحَةُ ٤٥)
(بَابُ) «الۡعِلۡمُ قَبۡلَ الۡقَوۡلِ وَالۡعَمَلِ، وَالدَّلِيلُ قَوۡلُهُ تَعَالَىٰ: (فَاعۡلَمۡ أَنَّهُ لَا إِلَٰهَ إِلَّا اللّٰهُ وَاسۡتَغۡفِرۡ لِذَنۡبِكَ) [محمد: ١٩]
i`lam, roḥimakallāh. annahū yajibu `alainā ta`allumu arba`i masā’il.
(al-ūlā) al-`ilmu, wa huwa ma`rifatullāh, wa ma`rifatu nabiyyih, wa ma`rifatu dīnil-islām bil-adillah.
(ats-tsāniyah) al-`amalu bih.
(ats-tsālitsah) ad-da`watu ilaih.
(ar-rōbi`ah) ash-shobru `alal-adzā fīh. wad-dalīlu qouluhū ta`ālā: bismillāhir-roḥmānir-roḥīm. (wal-`ashr. innal-insāna lafī khusr. illalladzīna āmanū wa `amilush-shōliḥāt, wa tawāshou bil-ḥaqqi wa tawāshou bish-shobr.) [العصر: ١-٣]
qōla asy-syāfi`ī roḥimahullāhu ta`ālā: lau mā anzalallāhu ḥujjatan `alā kholqihī illā hādzihis-sūroh lakafathum.
wa qōlal-bukhōrī raḥimahullāhu ta`ālā [juz ١, shofaḥah ٤٥].
(bāb) “al-`ilmu qoblal-qouli wal-`amal, wad-dalīlu qouluhū ta`ālā: (fa`lam annahū lā ilāha illallāh wastaghfir lidzambik).” [محمد: ١٩]
(Kewajiban yang Harus Dipelajari oleh Setiap Muslim)
Dengan nama Allah Yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang.
Ketahuilah, semoga Allah meraḥmatimu, bahwa kita wajib mempelajari 4 perkara.
Pertama, ilmu, yaitu mengenal Allah, mengenal nabi-Nya, dan mengenal agama Islam berdasarkan dalil-dalilnya.
Kedua, mengamalkan ilmu tersebut.
Ketiga, berdakwah kepadanya.
Keempat bersabar atas gangguan dalam menjalankannya.
Dalilnya adalah firman Allah Ta`ālā: “Demi masa. Sesungguhnya manusia benar-benar berada dalam kerugian. Kecuali orang-orang yang beriman, beramal shōliḥ, saling menasihati dalam kebenaran, dan saling menasihati dalam kesabaran.” – [QS. Al-`Ashr 103:1-3]
Imām Asy-Syāfi`ī raḥimahullāh Ta`ālā berkata, “Seandainya Allah tidak menurunkan hujah kepada makhluk-Nya selain surah ini, niscaya surah ini sudah mencukupi mereka.”
Imām Al-Bukhārī raḥimahullāh Ta`ālā berkata [Juz 1, hlm. 45]:
“(Bab) Ilmu sebelum ucapan dan perbuatan.”
Dalilnya adalah firman Allah Ta`ālā:
“Maka ketahuilah bahwa tidak ada ilah yang benar selain Allah, dan mohonlah ampunan atas dosamu.” – [QS. Muḥammad 47:19]
(اِعۡلَمۡ) رَحِمَكَ اللّٰهُ أَنَّهُ يَجِبُ عَلَىٰ كُلِّ مُسۡلِمٍ وَمُسۡلِمَةٍ تَعَلُّمُ هَٰذِهِ الثَّلَاثِ مَسَائِلَ وَالۡعَمَلُ بِهِنَّ.
(الۡأُولَىٰ) أَنَّ اللّٰهَ خَلَقَنَا وَرَزَقَنَا وَلَمۡ يَتۡرُكۡنَا هَمَلًا، بَلۡ أَرۡسَلَ إِلَيۡنَا رَسُولًا، فَمَنۡ أَطَاعَهُ دَخَلَ الۡجَنَّةَ، وَمَنۡ عَصَاهُ دَخَلَ النَّارَ، وَالدَّلِيلُ قَوۡلُهُ تَعَالَىٰ: (إِنَّا أَرۡسَلۡنَا إِلَيۡكُمۡ رَسُولًا شَاهِدًا عَلَيۡكُمۡ كَمَا أَرۡسَلۡنَا إِلَىٰ فِرۡعَوۡنَ رَسُولًا ١٥ فَعَصَىٰ فِرۡعَوۡنُ الرَّسُولَ فَأَخَذۡنَاهُ أَخۡذًا وَبِيلًا ١٦) [المزمل: ١٥-١٦]
سُورَةُ الۡمُزَّمِّلِ، آيَةُ ١٥، ١٦.
(الثَّانِيَةُ) أَنَّ اللّٰهَ لَا يَرۡضَىٰ أَنۡ يُشۡرَكَ مَعَهُ فِي عِبَادَتِهِ أَحَدٌ، لَا مَلَكٌ مُقَرَّبٌ وَلَا نَبِيٌّ مُرۡسَلٌ، وَالدَّلِيلُ قَوۡلُهُ تَعَالَىٰ: (وَأَنَّ الۡمَسَاجِدَ لِلّٰهِ فَلَا تَدۡعُوا مَعَ اللّٰهِ أَحَدًا) [الجن: ١٨]
سُورَةُ الۡجِنِّ، آيَةُ ١٨.
(الثَّالِثَةُ) أَنَّ مَنۡ أَطَاعَ الرَّسُولَ وَوَحَّدَ اللّٰهَ لَا يَجُوزُ لَهُ مُوَالَاةُ مَنۡ حَادَّ اللّٰهَ وَرَسُولَهُ، وَلَوۡ كَانَ أَقۡرَبَ قَرِيبٍ، وَالدَّلِيلُ قَوۡلُهُ تَعَالَىٰ:
(لَا تَجِدُ قَوۡمًا يُؤۡمِنُونَ بِاللّٰهِ وَالۡيَوۡمِ الۡآخِرِ يُوَادُّونَ مَنۡ حَادَّ اللّٰهَ وَرَسُولَهُ وَلَوۡ كَانُوا آبَاءَهُمۡ أَوۡ أَبۡنَاءَهُمۡ أَوۡ إِخۡوَانَهُمۡ أَوۡ عَشِيرَتَهُمۡ، أُولَٰئِكَ كَتَبَ فِي قُلُوبِهِمُ الۡإِيمَانَ وَأَيَّدَهُمۡ بِرُوحٍ مِنۡهُ وَيُدۡخِلُهُمۡ جَنَّاتٍ تَجۡرِي مِنۡ تَحۡتِهَا الۡأَنۡهَارُ خَالِدِينَ فِيهَا، رَضِيَ اللّٰهُ عَنۡهُمۡ وَرَضُوا عَنۡهُ، أُولَٰئِكَ حِزۡبُ اللّٰهِ، أَلَا إِنَّ حِزۡبَ اللّٰهِ هُمُ الۡمُفۡلِحُونَ) [المجادلة: ٢٢]
سُورَةُ الۡمُجَادِلَةِ، آيَةُ ٢٢.
(al-ūlā) annallāha kholaqonā wa rozaqonā, wa lam yatruknā hamalā. bal arsala ilainā rosūlā. faman athō`ahū dakholal-jannah, wa man `ashōhū dakholan-nār. wad-dalīlu qouluhū ta`ālā:
(innā arsalnā ilaikum rosūlan syāhidan `alaikum kamā arsalnā ilā fir`auna rosūlā. fa`ashō fir`aunur-rosūla fa’akhodznāhū akhdzaw wabīlā.) – [QS. Al-Muzzammil 73:15-16]
sūrotul-muzzammil. āyatu 15, 16.
(ats-tsāniyah) annallāha lā yardhō ay-yusyroka ma`ahū fī `ibādatihī aḥad. lā malakun muqorrob, wa lā nabiyyum mursal. wad-dalīlu qouluhū ta`ālā:
(wa annal-masājida lillāhi falā tad`ū ma`allāhi aḥadā.) – [QS. Al-Jinn 72:18]
sūratu al-jinn. āyatu 18.
(ats-tsālitsah) anna man athō`ar-rosūla wa waḥḥadallāh, lā yajūzu lahū muwālātu man ḥāddallāha wa rosūlah, walau kāna aqroba qorīb. wad-dalīlu qouluhū ta`ālā:
(lā tajidu qoumay yu’minūna billāhi wal-yaumil-ākhir, yuwāddūna man ḥāddallāha wa rosūlah, walau kānū ābā’ahum au abnā’ahum au ikhwānahum au `asyīrotahum. ulā’ika kataba fī qulūbihimul-īmān, wa ayyadahum birūḥim minh, wa yudkhiluhum jannātin tajrī min taḥtihal-anhār, khōlidīna fīhā. rodhiyallāhu `anhum wa rodhū `anh. ulā’ika ḥizbullāh. alā inna ḥizballāhi humul-mufliḥūn.) – [QS. Al-Mujādilah 58:22]
sūrotu al-mujādilah. āyatu 22.
Maka beliau memulai dengan ilmu sebelum ucapan dan perbuatan.
(Ketahuilah) semoga Allah meraḥmatimu, bahwa wajib atas setiap muslim dan muslimah mempelajari tiga perkara ini serta mengamalkannya.
(Pertama) Allah telah menciptakan kita, memberikan rezeki kepada kita, dan tidak membiarkan kita begitu saja tanpa tujuan. Bahkan, Dia mengutus kepada kita seorang rasul. Barang siapa menaatinya, ia akan masuk surga. Dan barang siapa mendurhakainya, ia akan masuk neraka. Dalilnya adalah firman Allah Ta`ālā:
“Sesungguhnya Kami telah mengutus kepada kalian seorang rasul yang menjadi saksi atas kalian, sebagaimana Kami telah mengutus seorang rasul kepada Fir`aun. Namun Fir`aun mendurhakai rasul itu, lalu Kami menghukumnya dengan adzab yang sangat berat.” – [QS. Al-Muzzammil 73:15-16]
Surah Al-Muzzammil, ayat 15 dan 16.
(Kedua) Allah tidak meridhai adanya sesuatu pun yang dipersekutukan dengan-Nya dalam ibadah. Baik malaikat yang didekatkan kepada-Nya maupun nabi yang diutus. Dalilnya adalah firman Allah Ta`ālā:
“Dan sesungguhnya masjid-masjid itu adalah milik Allah, maka janganlah kalian berdoa (menyembah) kepada siapa pun bersama Allah.” – [QS. Al-Jinn 72:18]
Surah Al-Jinn, ayat 18.
(Ketiga) Barang siapa menaati Rasul dan mentauḥidkan Allah, maka tidak boleh baginya menjadikan sebagai wali orang yang memusuhi Allah dan Rasul-Nya, sekalipun ia adalah kerabat yang paling dekat.
Dalilnya adalah firman Allah Ta`ālā:
“Engkau tidak akan mendapati suatu kaum yang beriman kepada Allah dan Hari Akhir saling berkasih sayang dengan orang-orang yang memusuhi Allah dan Rasul-Nya, sekalipun mereka itu adalah bapak-bapak mereka, anak-anak mereka, saudara-saudara mereka, ataupun keluarga mereka. Mereka itulah orang-orang yang Allah tanamkan keimanan dalam hati mereka, Dia menguatkan mereka dengan ruḥ dari-Nya, dan memasukkan mereka ke dalam surga-surga yang mengalir di bawahnya sungai-sungai. Mereka kekal di dalamnya. Allah ridha kepada mereka dan mereka pun ridha kepada-Nya. Mereka itulah golongan Allah. Ketahuilah, sesungguhnya golongan Allah itulah orang-orang yang beruntung.” – [QS. Al-Mujādilah 58:22]
Surah Al-Mujādilah, ayat 22.
(اِعۡلَمۡ) أَرۡشَدَكَ اللّٰهُ لِطَاعَتِهِ، أَنَّ الۡحَنِيفِيَّةَ مِلَّةَ إِبۡرَاهِيمَ أَنۡ تَعۡبُدَ اللّٰهَ وَحۡدَهُ مُخۡلِصًا لَهُ الدِّينَ! وَبِذَٰلِكَ أَمَرَ اللّٰهُ جَمِيعَ النَّاسِ وَخَلَقَهُمۡ لَهَا، كَمَا قَالَ تَعَالَىٰ: (وَمَا خَلَقۡتُ الۡجِنَّ وَالۡإِنۡسَ إِلَّا لِيَعۡبُدُونِ) [الذاريات: ٥٦]
وَمَعۡنَىٰ يَعۡبُدُونِ: يُوَحِّدُونِ.
وَأَعۡظَمُ مَا أَمَرَ اللّٰهُ بِهِ التَّوۡحِيدُ، وَهُوَ إِفۡرَادُ اللّٰهِ بِالۡعِبَادَةِ.
وَأَعۡظَمُ مَا نَهَىٰ عَنۡهُ الشِّرۡكُ، وَهُوَ دَعۡوَةُ غَيۡرِهِ مَعَهُ، وَالدَّلِيلُ قَوۡلُهُ تَعَالَىٰ: (وَاعۡبُدُوا اللّٰهَ وَلَا تُشۡرِكُوا بِهِ شَيۡـًٔا) [النساء: ٣٦]
wa ma`nā ya`budūn: yuwaḥḥidūn.
wa a`zhomu mā amarallāhu bihit-tauḥīd, wa huwa ifrōdullāhi bil-`ibādah.
wa a`zhomu mā nahā `anhusy-syirk, wa huwa da`watu ghoirihī ma`ah. wad-dalīlu qouluhū ta`ālā: (wa`budullāha wa lā tusyrikū bihī syai’ā.) – [QS. An-Nisā’ 4:36]
(Al-Ḥanīfiyyah, Agama Nabi Ibrāhīm, adalah Beribadah kepada Allah satu-satunya)
(Ketahuilah) semoga Allah membimbingmu untuk menaati-Nya, bahwa Al-Ḥanīfiyyah, yaitu agama Nabi Ibrāhīm, adalah engkau beribadah hanya kepada Allah satu-satunya dengan memurnikan agama untukNya. Dengan itulah Allah memerintahkan seluruh manusia, dan untuk itulah Dia menciptakan mereka, sebagaimana firmanNya:
“Dan Aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan agar mereka beribadah kepada-Ku.” – [QS. Adz-Dzāriyāt 51:56]
Makna ‘beribadah kepada-Ku’ adalah: mentauḥidkan-Ku.
Perkara paling agung yang Allah perintahkan adalah tauḥid, yaitu mengesakan Allah dalam seluruh bentuk ibadah.
Sedangkan perkara paling besar yang Allah larang adalah syirik, yaitu memanjatkan ibadah atau doa kepada selainNya bersamaNya.
Dalilnya adalah firman Allah Ta`ālā:
“Beribadahlah kepada Allah, dan janganlah kalian mempersekutukan sesuatu pun dengan-Nya.” – [QS. An-Nisā’ 4:36]
فَقُلۡ: مَعۡرِفَةُ الۡعَبۡدِ رَبَّهُ، وَدِينَهُ، وَنَبِيَّهُ مُحَمَّدًا صَلَّى اللّٰهُ عَلَيۡهِ وَسَلَّمَ.
(فَإِذَا قِيلَ لَكَ): مَنۡ رَبُّكَ؟
فَقُلۡ: رَبِّيَ اللّٰهُ الَّذِي رَبَّانِي وَرَبَّىٰ جَمِيعَ الۡعَالَمِينَ بِنِعَمِهِ، وَهُوَ مَعۡبُودِي، لَيۡسَ لِي مَعۡبُودٌ سِوَاهُ، وَالدَّلِيلُ قَوۡلُهُ تَعَالَىٰ: (الۡحَمۡدُ لِلّٰهِ رَبِّ الۡعَالَمِينَ) [الفاتحة: ٢]
وَكُلُّ مَا سِوَى اللّٰهِ عَالَمٌ، وَأَنَا وَاحِدٌ مِنۡ ذَٰلِكَ الۡعَالَمِ.
(فَإِذَا قِيلَ لَكَ): بِمَ عَرَفۡتَ رَبَّكَ؟
فَقُلۡ: بِآيَاتِهِ وَمَخۡلُوقَاتِهِ، وَمِنۡ آيَاتِهِ الَّيۡلُ وَالنَّهَارُ وَالشَّمۡسُ وَالۡقَمَرُ، وَمِنۡ مَخۡلُوقَاتِهِ السَّمَاوَاتُ السَّبۡعُ وَالۡأَرَضُونَ السَّبۡعُ وَمَنۡ فِيهِنَّ وَمَا بَيۡنَهُمَا، وَالدَّلِيلُ قَوۡلُهُ تَعَالَىٰ: (وَمِنۡ آيَاتِهِ الَّيۡلُ وَالنَّهَارُ وَالشَّمۡسُ وَالۡقَمَرُ، لَا تَسۡجُدُوا لِلشَّمۡسِ وَلَا لِلۡقَمَرِ وَاسۡجُدُوا لِلّٰهِ الَّذِي خَلَقَهُنَّ إِنۡ كُنۡتُمۡ إِيَّاهُ تَعۡبُدُونَ) [فصلت: ٣٧]
سُورَةُ فُصِّلَتۡ، آيَةُ ٣٧، وَقَوۡلُهُ تَعَالَىٰ:
(إِنَّ رَبَّكُمُ اللّٰهُ الَّذِي خَلَقَ السَّمَاوَاتِ وَالۡأَرۡضَ فِي سِتَّةِ أَيَّامٍ ثُمَّ اسۡتَوَىٰ عَلَى الۡعَرۡشِ يُغۡشِي الَّيۡلَ النَّهَارَ يَطۡلُبُهُ حَثِيثًا وَالشَّمۡسَ وَالۡقَمَرَ وَالنُّجُومَ مُسَخَّرَاتٍ بِأَمۡرِهِ، أَلَا لَهُ الۡخَلۡقُ وَالۡأَمۡرُ، تَبَارَكَ اللّٰهُ رَبُّ الۡعَالَمِينَ) [الأعراف: ٥٤]
سُورَةُ الۡأَعۡرَافِ، آيَةُ ٥٤.
(fa idzā qīla lak): mar-robbuk?
faqul: robbiyallāh alladzī robbānī, wa robbā jamī`al-`ālamīna bini`amih. wa huwa ma`būdī. laisa lī ma`būdun siwāh. wad-dalīlu qouluhū ta`ālā: (al-ḥamdu lillāhi robbil-`ālamīn.) – [QS. Al-Fātiḥah 1:2]
wa kullu mā siwallāhi `ālam, wa anā wāḥidum min dzālikal-`ālam.
(fa idzā qīla lak): bima `arofta robbak?
faqul: bi’āyātihī wa makhlūqōtih. wa min āyātihil-lailu wan-nahār, wasy-syamsu wal-qomar. wa min makhlūqōtihis-samāwātu as-sab`, wal-arodhūna as-sab`, wa man fīhinna wa mā bainahumā. wad-dalīlu qouluhū ta`ālā: (wa min āyātihil-lailu wan-nahār, wasy-syamsu wal-qomar. lā tasjudū lisy-syamsi wa lā lil-qomar, wasjudū lillāhilladzī kholaqohunna in kuntum iyyāhu ta`budūn.) – [QS. Fusshilat 41:37]
sūratu fushshilat. āyatu 37. wa qouluhū ta`ālā:
(inna robbakumullāh alladzī kholaqos-samāwāti wal-ardho fī sittati ayyām, tsummastawā `alal-`arsy. yughsyil-laila an-nahāro yathlubuhū ḥatsītsā, wasy-syamsa wal-qomaro wan-nujūma musakhkhorōtim bi’amrih. alā lahul-kholqu wal-amr. tabārakallāhu robbul-`ālamīn.) – [QS. Al-A`rāf 7:54]
sūratu al-a`rāf. āyatu 54.
(Jika dikatakan kepadamu): “Apakah 3 prinsip dasar yang wajib diketahui oleh setiap manusia?”
Maka katakanlah: “Yaitu seorang hamba mengenal Rabbnya, agamanya, dan nabinya, yaitu Muḥammad C.”
(Jika dikatakan kepadamu): “Siapakah Rabb-mu?”
Maka katakanlah: “Rabb-ku adalah Allah, yang telah memeliharaku dan memelihara seluruh alam dengan berbagai nikmatNya. Dialah ilahku. Tidak ada ilah bagiku selain Dia. Dalilnya adalah firman Allah Ta`ālā:
‘Segala puji bagi Allah, Rabb seluruh alam.’ – [QS. Al-Fātiḥah 1:2]
Segala sesuatu selain Allah termasuk alam, dan aku adalah salah satu bagian dari alam tersebut.”
(Jika dikatakan kepadamu): “Dengan apa engkau mengenal Rabb-mu?”
Maka katakanlah: “Aku mengenal Rabbku melalui ayat-ayatNya dan makhluk-makhluk ciptaanNya. Di antara tanda-tanda kekuasaanNya ialah malam, siang, matahari, dan bulan. Dan di antara makhluk ciptaanNya ialah 7 langit, 7 bumi, seluruh makhluk yang ada di dalam keduanya, serta apa yang berada di antara keduanya.”
Dalilnya adalah firman Allah Ta`ālā:
“Dan di antara tanda-tanda kekuasaanNya ialah malam, siang, matahari, dan bulan. Janganlah kalian bersujud kepada matahari dan jangan pula kepada bulan, tetapi bersujudlah kepada Allah yang telah menciptakannya, jika hanya kepadaNya kalian beribadah.” – [QS. Fusshilat 41:37]
Surah Fusshilat, ayat 37.
Dan firman-Nya Ta`ālā:
“Sesungguhnya Rabb kalian adalah Allah yang menciptakan langit dan bumi dalam 6 masa, kemudian Dia bersemayam di atas `Arsy. Dia menutupkan malam kepada siang yang mengikutinya dengan cepat. Dan Dia menciptakan matahari, bulan, dan bintang-bintang yang semuanya tunduk kepada perintah-Nya. Ingatlah, hanya milik-Nya penciptaan dan segala urusan. Maha Suci Allah, Rabb seluruh alam.” – [QS. Al-A`rāf 7:54]
Surah Al-A`rāf, ayat 54.
(يَا أَيُّهَا النَّاسُ اعۡبُدُوا رَبَّكُمُ الَّذِي خَلَقَكُمۡ وَالَّذِينَ مِنۡ قَبۡلِكُمۡ لَعَلَّكُمۡ تَتَّقُونَ ٢١ الَّذِي جَعَلَ لَكُمُ الۡأَرۡضَ فِرَاشًا وَالسَّمَاءَ بِنَاءً وَأَنۡزَلَ مِنَ السَّمَاءِ مَاءً فَأَخۡرَجَ بِهِ مِنَ الثَّمَرَاتِ رِزۡقًا لَكُمۡ فَلَا تَجۡعَلُوا لِلّٰهِ أَنۡدَادًا وَأَنۡتُمۡ تَعۡلَمُونَ ٢٢) [البقرة: ٢١-٢٢]
سُورَةُ الۡبَقَرَةِ، آيَتَا ٢١ وَ٢٢.
قَالَ ابۡنُ كَثِيرٍ رَحِمَهُ اللّٰهُ تَعَالَىٰ: الۡخَالِقُ لِهَذِهِ الۡأَشۡيَاءِ هُوَ الۡمُسۡتَحِقُّ لِلۡعِبَادَةِ.
((أَنۡوَاعُ الۡعِبَادَةِ الَّتِي أَمَرَ اللّٰهُ بِهَا))
(وَأَنۡوَاعُ الۡعِبَادَةِ) الَّتِي أَمَرَ اللّٰهُ بِهَا، مِثۡلُ الۡإِسۡلَامِ وَالۡإِيمَانِ وَالۡإِحۡسَانِ، وَمِنۡهَا الدُّعَاءُ وَالۡخَوۡفُ وَالرَّجَاءُ وَالتَّوَكُّلُ وَالرَّغۡبَةُ وَالرَّهۡبَةُ وَالۡخُشُوعُ وَالۡخَشۡيَةُ وَالۡإِنَابَةُ وَالِاسۡتِعَانَةُ وَالِاسۡتِعَاذَةُ وَالِاسۡتِغَاثَةُ،
sūrotu al-baqoroh. āyatā 21 wa 22.
qōla ibnu katsīr raḥimahullāhu ta`ālā: al-khōliqu lihādzihil-asyyā’i huwal-mustaḥiqqu lil-`ibādah.
((anwā`ul-`ibādah allatī amarallāhu bihā))
(wa anwā`ul-`ibādah) allatī amarallāhu bihā, mitslul-islām wal-īmān wal-iḥsān. wa minhad-du`ā’, wal-khouf, war-rojā’, wat-tawakkul, war-roghbah, war-rohbah, wal-khusyū`, wal-khosyyah, wal-inābah, wal-isti`ānah, wal-isti`ādzah, wal-istighōtsah.
Dan Rabb adalah yang berhak disembah. Dalilnya adalah firman Allah Ta`ālā:
“Wahai manusia! Beribadahlah kepada Rabb kalian yang telah menciptakan kalian dan orang-orang sebelum kalian agar kalian bertakwa. Dialah yang menjadikan bumi sebagai hamparan bagi kalian, langit sebagai atap, menurunkan air dari langit, lalu dengan air itu Dia mengeluarkan berbagai buah-buahan sebagai rezeki untuk kalian. Maka janganlah kalian menjadikan tandingan-tandingan bagi Allah, padahal kalian mengetahui.” – [QS. Al-Baqarah 2:21-22]
Surah Al-Baqarah, ayat 21 dan 22.
Ibnu Katsīr raḥimahullāhu ta`ālā berkata:
“Pencipta seluruh urusan tersebut adalah satu-satunya yang berhak untuk diibadahi.”
(Macam-Macam Ibadah yang Allah Perintahkan)
Di antara berbagai macam ibadah yang Allah perintahkan adalah: Islam, Iman, dan Iḥsan. Termasuk di dalamnya ialah doa, rasa takut, harapan, tawakkal, keinginan (raghbah), rasa cemas (rahbah), khusyuk, khosyyah (takut yang dilandasi ilmu), inābah (kembali kepada Allah), isti`ānah (memohon pertolongan), isti`ādzah (memohon perlindungan), dan istighōtsah (memohon pertolongan ketika dalam kesulitan).
سُورَةُ الۡجِنِّ، آيَةُ ١٨.
فَمَنۡ صَرَفَ مِنۡهَا شَيۡـًٔا لِغَيۡرِ اللّٰهِ فَهُوَ مُشۡرِكٌ كَافِرٌ، وَالدَّلِيلُ قَوۡلُهُ تَعَالَىٰ: (وَمَنۡ يَدۡعُ مَعَ اللّٰهِ إِلَٰهًا آخَرَ لَا بُرۡهَانَ لَهُ بِهِ فَإِنَّمَا حِسَابُهُ عِنۡدَ رَبِّهِ، إِنَّهُ لَا يُفۡلِحُ الۡكَافِرُونَ) [المؤمنون: ١١٧]
سُورَةُ الۡمُؤۡمِنُونَ، آيَةُ ١١٧.
وَفِي الۡحَدِيثِ: «الدُّعَاءُ مُخُّ الۡعِبَادَةِ»، وَالدَّلِيلُ قَوۡلُهُ تَعَالَىٰ: (وَقَالَ رَبُّكُمُ ادۡعُونِي أَسۡتَجِبۡ لَكُمۡ، إِنَّ الَّذِينَ يَسۡتَكۡبِرُونَ عَنۡ عِبَادَتِي سَيَدۡخُلُونَ جَهَنَّمَ دَاخِرِينَ) [غافر: ٦٠]
سُورَةُ غَافِرٍ، آيَةُ ٦٠.
وَدَلِيلُ الۡخَوۡفِ قَوۡلُهُ تَعَالَىٰ: (فَلَا تَخَافُوهُمۡ وَخَافُونِ إِنۡ كُنۡتُمۡ مُؤۡمِنِينَ) [آل عمران: ١٧٥]
سُورَةُ آلِ عِمۡرَانَ، آيَةُ ١٧٥.
وَدَلِيلُ الرَّجَاءِ قَوۡلُهُ تَعَالَىٰ:
(فَمَنۡ كَانَ يَرۡجُوا لِقَاءَ رَبِّهِ فَلۡيَعۡمَلۡ عَمَلًا صَالِحًا وَلَا يُشۡرِكۡ بِعِبَادَةِ رَبِّهِ أَحَدًا) [الكهف: ١١٠]
سُورَةُ الۡكَهۡفِ، آيَةُ ١١٠.
fa man shorofa minhā syai’an lighoirillāhi fahuwa musyrikun kāfir. wad-dalīlu qouluhū ta`ālā: (wa may yad`u ma`allāhi ilāhan ākhoro lā burhāna lahū bih, fa innamā ḥisābuhū `inda robbih. innahū lā yufliḥul-kāfirūn.) – [QS. Al-Mu’minūn 23:117]
sūrotu al-mu’minūn. āyatu 117.
wa fil-ḥadīts: «ad-du`ā’u mukhkhul-`ibādah». wad-dalīlu qouluhū ta`ālā: (wa qōla robbukumud`ūnī astajib lakum. innalladzīna yastakbirūna `an `ibādatī sayadkhulūna jahannama dākhirīn.) – [QS. Ghōfir 40:60]
sūratu ghōfir. āyatu 60.
wa dalīlul-khoufi qouluhū ta`ālā: (falā takhōfūhum wa khōfūni in kuntum mu’minīn.) – [QS. Āli `Imrōn 3:175]
sūrotu āli `imrōn. āyatu 175.
wa dalīlur-rojā’i qouluhū ta`ālā:
(fa man kāna yarjū liqō’a robbihī falya`mal `amalan shōliḥaw wa lā yusyrik bi`ibādati robbihī aḥadā.) – [QS. Al-Kahf 18:110]
sūrotu al-kahf. āyatu 110.
Demikian pula menyembelih, bernadzar, dan seluruh bentuk ibadah lain yang Allah perintahkan, semuanya hanya untuk Allah.
Dalilnya adalah firman Allah Ta`ālā:
“Dan sesungguhnya masjid-masjid itu adalah milik Allah, maka janganlah kalian berdoa (menyembah) kepada siapa pun bersama Allah.” – [QS. Al-Jinn 72:18]
Surah Al-Jinn, ayat 18.
Barang siapa memalingkan salah satu bentuk ibadah tersebut kepada selain Allah, maka ia adalah seorang musyrik lagi kafir.
Dalilnya adalah firman Allah Ta`ālā:
“Dan barang siapa berdoa kepada tuhan lain bersama Allah, padahal tidak ada bukti baginya tentang hal itu, maka sungguh perhitungannya berada di sisi Rabbnya. Sesungguhnya orang-orang kafir itu tidak akan beruntung.” – [QS. Al-Mu’minūn 23:117]
Surah Al-Mu’minūn, ayat 117.
Di dalam ḥadīts disebutkan:
“Doa adalah inti ibadah.”
Dalilnya adalah firman Allah Ta`ālā:
“Dan Rabb kalian berfirman, ‘Berdoalah kepada-Ku, niscaya Aku akan mengabulkan doa kalian. Sesungguhnya orang-orang yang menyombongkan diri dari beribadah kepadaKu akan masuk ke dalam Jahannam dalam keadaan hina.'” – [QS. Ghāfir 40:60]
Surah Ghāfir, ayat 60.
Dalil tentang rasa takut (khauf) adalah firman Allah Ta`ālā:
“Maka janganlah kalian takut kepada mereka, tetapi takutlah kepada-Ku, jika kalian benar-benar orang-orang yang beriman.” – [QS. Āli `Imrān 3:175]
Surah Āli `Imrān, ayat 175.
Dalil tentang harapan (rojā’) adalah firman Allah Ta`ālā:
“Maka barang siapa mengharap perjumpaan dengan Rabb-nya, hendaklah ia mengerjakan amal saleh dan janganlah ia mempersekutukan sesuatu pun dalam beribadah kepada Rabb-nya.” – [QS. Al-Kahf 18:110]
Surah Al-Kahf, ayat 110.
سُورَةُ الۡمَائِدَةِ، آيَةُ ٢٣.
(وَمَنۡ يَتَوَكَّلۡ عَلَى اللّٰهِ فَهُوَ حَسۡبُهُ) [الطلاق: ٣]
سُورَةُ الطَّلَاقِ، آيَةُ ٣.
وَدَلِيلُ الرَّغۡبَةِ وَالرَّهۡبَةِ وَالۡخُشُوعِ قَوۡلُهُ تَعَالَىٰ:
(إِنَّهُمۡ كَانُوا يُسَارِعُونَ فِي الۡخَيۡرَاتِ وَيَدۡعُونَنَا رَغَبًا وَرَهَبًا وَكَانُوا لَنَا خَاشِعِينَ) [الأنبياء: ٩٠]
سُورَةُ الۡأَنۡبِيَاءِ، آيَةُ ٩٠.
وَدَلِيلُ الۡخَشۡيَةِ قَوۡلُهُ تَعَالَىٰ:
(فَلَا تَخۡشَوۡهُمۡ وَاخۡشَوۡنِي) [البقرة: ١٥٠]
الۡآيَةُ، سُورَةُ الۡبَقَرَةِ، آيَةُ ١٥٠.
وَدَلِيلُ الۡإِنَابَةِ قَوۡلُهُ تَعَالَىٰ:
(وَأَنِيبُوا إِلَىٰ رَبِّكُمۡ وَأَسۡلِمُوا لَهُ) [الزمر: ٥٤]
الۡآيَةُ، سُورَةُ الزُّمَرِ، آيَةُ ٥٤.
وَدَلِيلُ الِاسۡتِعَانَةِ قَوۡلُهُ تَعَالَىٰ:
(إِيَّاكَ نَعۡبُدُ وَإِيَّاكَ نَسۡتَعِينُ) [الفاتحة: ٥]
سُورَةُ الۡفَاتِحَةِ، آيَةُ ٥.
وَفِي الۡحَدِيثِ: «إِذَا اسۡتَعَنۡتَ فَاسۡتَعِنۡ بِاللّٰهِ».
وَدَلِيلُ الِاسۡتِعَاذَةِ قَوۡلُهُ تَعَالَىٰ:
(٢ قُلۡ أَعُوذُ بِرَبِّ النَّاسِ ١ مَلِكِ النَّاسِ) [الناس: ١-٢]
sūrotu al-mā’idah. āyatu 23.(wa may yatawakkal `alallāhi fahuwa ḥasbuh.) – [QS. Ath-Tholāq 65:3]
sūrotu ath-tholāq. āyatu 3.
wa dalīlur-roghbati war-rohbati wal-khusyū`i qouluhū ta`ālā:
(innahum kānū yusāri`ūna fil-khoirōt, wa yad`ūnanā roghobaw wa rohabaw wa kānū lanā khōsyi`īn.) – [QS. Al-Anbiyā’ 21:90]
sūrotu al-anbiyā’. āyatu 90.
wa dalīlul-khosyyati qouluhū ta`ālā:
(falā takhsyauhum wakhsyaunī.) – [QS. Al-Baqoroh 2:150]
al-āyah. sūrotu al-baqoroh. āyatu 150.
wa dalīlul-inābati qouluhū ta`ālā:
(wa anībū ilā robbikum wa aslimū lah.) – [QS. Az-Zumar 39:54]
al-āyah. sūrotu az-zumar. āyatu 54.
wa dalīlul-isti`ānati qouluhū ta`ālā:
(iyyāka na`budu wa iyyāka nasta`īn.) – [QS. Al-Fātiḥah 1:5]
sūrotu al-fātiḥah. āyatu 5.
wa fil-ḥadīts: «idzasta`anta fasta`in billāh.»
wa dalīlul-isti`ādzah qouluhū ta`ālā:
(qul a`ūdzu birobbin-nās. malikin-nās.) – [QS. An-Nās 114:1-2]
Dalil tentang tawakal adalah firman Allah Ta`ālā:
“Dan hanya kepada Allah hendaklah kalian bertawakal, jika kalian benar-benar orang-orang yang beriman.” – [QS. Al-Mā’idah 5:23]
Surah Al-Mā’idah, ayat 23.
Dan firmanNya:
“Barang siapa bertawakal kepada Allah, maka Dia akan mencukupinya.” – [QS. Ath-Thalāq 65:3]
Surah Ath-Thalāq, ayat 3.
Dalil tentang roghbah (harap yang disertai keinginan), rohbah (rasa takut), dan khusyuk adalah firman Allah Ta`ālā:
“Sesungguhnya mereka selalu bersegera dalam berbagai kebaikan, berdoa kepada Kami dengan penuh harap dan cemas, serta mereka adalah orang-orang yang khusyuk kepada Kami.” – [QS. Al-Anbiyā’ 21:90]
Surah Al-Anbiyā’, ayat 90.
Dalil tentang khosyyah adalah firman Allah Ta`ālā:
“Maka janganlah kalian takut kepada mereka, tetapi takutlah kepada-Ku.” – [QS. Al-Baqarah 2:150]
(Penggalan ayat)
Surah Al-Baqarah, ayat 150.
Dalil tentang inabah (kembali kepada Allah dengan taat dan taubat) adalah firman Allah Ta`ālā:
“Dan kembalilah kepada Rabb kalian serta berserah dirilah kepadaNya.” – [QS. Az-Zumar 39:54]
(Penggalan ayat)
Surah Az-Zumar, ayat 54.
Dalil tentang isti`ānah (memohon pertolongan) adalah firman Allah Ta`ālā:
“Hanya kepada-Mu kami beribadah, dan hanya kepada-Mu kami memohon pertolongan.” – [QS. Al-Fātiḥah 1:5]
Surah Al-Fātiḥah, ayat 5.
Di dalam ḥadīts disebutkan:
“Apabila engkau memohon pertolongan, maka mohonlah pertolongan kepada Allah.”
Dalil tentang isti`ādzah (memohon perlindungan) adalah firman Allah Ta`ālā:
“Katakanlah, ‘Aku berlindung kepada Rabb manusia, Raja manusia.'” – [QS. An-Nās 114:1-2]
(إِذۡ تَسۡتَغِيثُونَ رَبَّكُمۡ فَاسۡتَجَابَ لَكُمۡ) [الأنفال: ٩]
الۡآيَةُ، سُورَةُ الۡأَنۡفَالِ، آيَةُ ٩.
وَدَلِيلُ الذَّبۡحِ قَوۡلُهُ تَعَالَىٰ:
(قُلۡ إِنَّ صَلَاتِي وَنُسُكِي وَمَحۡيَايَ وَمَمَاتِي لِلّٰهِ رَبِّ الۡعَالَمِينَ ١٦٢ لَا شَرِيكَ لَهُ وَبِذَٰلِكَ أُمِرۡتُ وَأَنَا أَوَّلُ الۡمُسۡلِمِينَ ١٦٣) [الأنعام: ١٦٢-١٦٣]
سُورَةُ الۡأَنۡعَامِ، آيَتَا ١٦٢، ١٦٣.
وَمِنَ السُّنَّةِ: «لَعَنَ اللّٰهُ مَنۡ ذَبَحَ لِغَيۡرِ اللّٰهِ».
وَدَلِيلُ النَّذۡرِ قَوۡلُهُ تَعَالَىٰ:
(يُوفُونَ بِالنَّذۡرِ وَيَخَافُونَ يَوۡمًا كَانَ شَرُّهُ مُسۡتَطِيرًا) [الإنسان: ٧]
سُورَةُ الدَّهۡرِ، آيَةُ ٧.
al-āyah. sūrotu al-anfāl. āyatu 9.
wa dalīludz-dzabḥi qouluhū ta`ālā:
(qul inna sholātī wa nusukī wa maḥyāya wa mamātī lillāhi robbil-`ālamīn. lā syarīka lah, wa bidzālika umirtu wa ana awwalul-muslimīn.) – [QS. Al-An`ām 6:162-163]
sūrotu al-an`ām. āyatā 162, 163.
wa minas-sunnah:
«la`anallāhu man dzabaḥa lighoirillāh.»
wa dalīlun-nadzri qouluhū ta`ālā:
(yūfūna bin-nadzri wa yakhōfūna yauman kāna syarruhū mustathīrō.) – [QS. Ad-Dahr 76:7]
sūratu ad-dahr. āyatu 7.
Dalil tentang istighātsah (memohon pertolongan ketika dalam kesulitan) adalah firman Allah Ta`ālā:
“(Ingatlah) ketika kalian memohon pertolongan kepada Rabb kalian, lalu Dia mengabulkan permohonan kalian.” – [QS. Al-Anfāl 8:9]
(Penggalan ayat) Surah Al-Anfāl, ayat 9.
Dalil tentang menyembelih (dzabḥ) adalah firman Allah Ta`ālā:
“Katakanlah, sesungguhnya shalatku, sembelihanku, hidupku, dan matiku hanyalah untuk Allah, Rabb seluruh alam. Tidak ada sekutu bagiNya. Dengan itulah aku diperintahkan, dan aku adalah orang yang pertama berserah diri.” – [QS. Al-An`ām 6:162-163]
Surah Al-An`ām, ayat 162 dan 163.
Dan dari Sunnah:
“Allah melaknat orang yang menyembelih untuk selain Allah.”
Dalil tentang nadzar adalah firman Allah Ta`ālā:
“Mereka menunaikan nadzar dan mereka takut akan suatu hari yang azabnya merata di mana-mana.” – [QS. Ad-Dahr 76:7]
Surah Ad-Dahr, ayat 7.
[الۡمَرۡتَبَةُ الۡأُولَى الۡإِسۡلَامُ]
الۡأَصۡلُ الثَّانِي
مَعۡرِفَةُ دِينِ الۡإِسۡلَامِ بِالۡأَدِلَّةِ، وَهُوَ الِاسۡتِسۡلَامُ لِلّٰهِ بِالتَّوۡحِيدِ، وَالِانۡقِيَادُ لَهُ بِالطَّاعَةِ، وَالۡخُلُوصُ مِنَ الشِّرۡكِ.
وَهُوَ ثَلَاثُ مَرَاتِبَ:
(الۡإِسۡلَامُ)، وَ(الۡإِيمَانُ)، وَ(الۡإِحۡسَانُ)، وَكُلُّ مَرۡتَبَةٍ لَهَا أَرۡكَانٌ.
فَأَرۡكَانُ الۡإِسۡلَامِ (خَمۡسَةٌ): شَهَادَةُ أَنۡ لَا إِلٰهَ إِلَّا اللّٰهُ، وَأَنَّ مُحَمَّدًا رَسُولُ اللّٰهِ، وَ(إِقَامُ الصَّلَاةِ)، وَ(إِيتَاءُ الزَّكَاةِ)، وَ(صَوۡمُ رَمَضَانَ)، وَ(حَجُّ بَيۡتِ اللّٰهِ الۡحَرَامِ).
فَدَلِيلُ الشَّهَادَةِ قَوۡلُهُ تَعَالَىٰ:
(شَهِدَ اللّٰهُ أَنَّهُ لَا إِلٰهَ إِلَّا هُوَ وَالۡمَلَائِكَةُ وَأُولُوا الۡعِلۡمِ قَائِمًا بِالۡقِسۡطِۚ لَا إِلٰهَ إِلَّا هُوَ الۡعَزِيزُ الۡحَكِيمُ) [آل عمران: ١٨]
سُورَةُ آلِ عِمۡرَانَ، آيَةُ ١٨.
وَمَعۡنَاهَا: لَا مَعۡبُودَ بِحَقٍّ إِلَّا اللّٰهُ وَحۡدَهُ.
وَ(لَا إِلٰهَ): نَافِيًا جَمِيعَ مَا يُعۡبَدُ مِنۡ دُونِ اللّٰهِ، وَ(إِلَّا اللّٰهُ): مُثۡبِتًا الۡعِبَادَةَ لِلّٰهِ وَحۡدَهُ لَا شَرِيكَ لَهُ فِي عِبَادَتِهِ، كَمَا أَنَّهُ لَيۡسَ لَهُ شَرِيكٌ فِي مُلۡكِهِ.
وَتَفۡسِيرُهَا الَّذِي يُوَضِّحُهَا قَوۡلُهُ تَعَالَىٰ:
(وَإِذۡ قَالَ إِبۡرَاهِيمُ لِأَبِيهِ وَقَوۡمِهِ إِنَّنِي بَرَاءٌ مِمَّا تَعۡبُدُونَ ٢٦ إِلَّا الَّذِي فَطَرَنِي فَإِنَّهُ سَيَهۡدِينِ ٢٧ وَجَعَلَهَا كَلِمَةً بَاقِيَةً فِي عَقِبِهِ لَعَلَّهُمۡ يَرۡجِعُونَ ٢٨) [الزخرف: ٢٦-٢٨]
سُورَةُ الزُّخۡرُفِ، آيَاتُ ٢٦، ٢٧، ٢٨.
al-ashluts-tsānī.
ma`rifatu dīnil-islāmi bil-adillah. wa huwal-istislāmu lillāhi bit-tauḥīd, wal-inqiyādu lahū bith-thō`ah, wal-khulūshu minasy-syirk.
wa huwa tsalātsu marōtib:
(al-islām), wal-īmān, wal-iḥsān. wa kullu martabatin lahā arkān.
fa arkānul-islāmi (khomsah):
syahādatu an lā ilāha illallāh, wa anna muḥammadar rasūlullāh, wa (iqāmush-sholāh), wa (ītā’uz-zakāh), wa (shoumu romadhōn), wa (ḥajju baitillāhil-ḥarōm).
fa dalīlusy-syahādati qouluhū ta`ālā:
(syahidallāhu annahū lā ilāha illā huwa, wal-malā’ikatu wa ulul-`ilmi qō’imam bil-qisth. lā ilāha illā huwal-`azīzul-ḥakīm.) – [QS. Āli `Imrōn 3:18]
sūrotu āli `imrōn. āyatu 18.
wa ma`nāhā: lā ma`būda biḥaqqin illallāhu waḥdah.
wa (lā ilāha): nāfiyan jamī`a mā yu`badu min dūnillāh. wa (illallāh): mutsbitan al-`ibādata lillāhi waḥdah, lā syarīka lahū fī `ibādatih, kamā annahū laisa lahū syarīkun fī mulkih.
wa tafsīruhalladzī yuwadhdhiḥuhā qouluhū ta`ālā:
(wa idz qōla ibrōhīmu li’abīhi wa qoumihī innanī barō’um mimmā ta`budūn. illalladzī fathoronī fa innahū sayahdīn. wa ja`alahā kalimatam bāqiyatan fī `aqibihī la`allahum yarji`ūn.) – [QS. Az-Zukhruf 43:26-28]
sūrotu az-zukhruf. āyātu 26, 27, 28.
[Pokok Kedua: Mengenal Agama Islam dengan Dalil-Dalilnya]
[Tingkatan Pertama: Islam]
Pokok yang kedua adalah mengenal agama Islam dengan dalil-dalilnya. Islam adalah berserah diri kepada Allah dengan mentauḥidkanNya, tunduk kepadaNya dengan ketaatan, dan berlepas diri dari kesyirikan.
Islam memiliki tiga tingkatan, yaitu: Islam, Iman, dan Ihsan. Setiap tingkatan memiliki rukun-rukunnya.
Adapun rukun Islam ada 5, yaitu: bersaksi bahwa tidak ada tuhan yang benar selain Allah, dan bahwa Muḥammad adalah utusan Allah; mendirikan shalat; menunaikan zakat; berpuasa Ramadhan; dan menunaikan ḥaji ke Baitullah Al-Ḥaram.
Dalil tentang syahadat adalah firman Allah Ta`ālā:
“Allah menyatakan bahwa tidak ada tuhan yang benar selain Dia. Demikian pula para malaikat dan orang-orang yang berilmu, yang menegakkan keadilan. Tidak ada tuhan yang benar selain Dia, Yang Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana.” – [QS. Āli `Imrān 3:18]
Surah Āli `Imrān, ayat 18.
Maknanya adalah: tidak ada tuhan yang benar selain Allah satu-satunya.
Ungkapan lā ilāha menafikan seluruh tuhan selain Allah, sedangkan illallāh menetapkan ibadah hanya bagi Allah satu-satunya, tidak ada sekutu bagiNya dalam ibadah, sebagaimana tidak ada sekutu bagiNya dalam kerajaanNya.
Penafsiran yang menjelaskan makna tersebut adalah firman Allah Ta`ālā:
“Dan (ingatlah) ketika Ibrāhīm berkata kepada ayahnya dan kaumnya, ‘Sesungguhnya aku berlepas diri dari apa yang kalian sembah, kecuali (Allah) Yang telah menciptakanku, karena sesungguhnya Dia akan memberi petunjuk kepadaku.’ Dan Dia menjadikan kalimat itu kekal pada keturunannya agar mereka kembali.” – [QS. Az-Zukhruf 43:26-28]
Surah Az-Zukhruf, ayat 26, 27, dan 28.
(قُلۡ يَا أَهۡلَ الۡكِتَابِ تَعَالَوۡا إِلَىٰ كَلِمَةٍ سَوَاءٍ بَيۡنَنَا وَبَيۡنَكُمۡ أَلَّا نَعۡبُدَ إِلَّا اللّٰهَ وَلَا نُشۡرِكَ بِهِ شَيۡـًٔا وَلَا يَتَّخِذَ بَعۡضُنَا بَعۡضًا أَرۡبَابًا مِنۡ دُونِ اللّٰهِۚ فَإِن تَوَلَّوۡا فَقُولُوا اشۡهَدُوا بِأَنَّا مُسۡلِمُونَ) [آل عمران: ٦٤]
سُورَةُ آلِ عِمۡرَانَ، آيَةُ ٦٤.
وَدَلِيلُ شَهَادَةِ أَنَّ مُحَمَّدًا رَسُولُ اللّٰهِ قَوۡلُهُ تَعَالَىٰ:
(لَقَدۡ جَاءَكُمۡ رَسُولٌ مِنۡ أَنۡفُسِكُمۡ عَزِيزٌ عَلَيۡهِ مَا عَنِتُّمۡ حَرِيصٌ عَلَيۡكُمۡ بِالۡمُؤۡمِنِينَ رَءُوفٌ رَحِيمٌ) [التوبة: ١٢٨]
سُورَةُ التَّوۡبَةِ، آيَةُ ١٢٨.
وَمَعۡنَىٰ شَهَادَةِ أَنَّ مُحَمَّدًا رَسُولُ اللّٰهِ: طَاعَتُهُ فِيمَا أَمَرَ، وَتَصۡدِيقُهُ فِيمَا أَخۡبَرَ، وَاجۡتِنَابُ مَا عَنۡهُ نَهَىٰ وَزَجَرَ، وَأَنۡ لَا يُعۡبَدَ اللّٰهُ إِلَّا بِمَا شَرَعَ.
وَدَلِيلُ الصَّلَاةِ وَالزَّكَاةِ وَتَفۡسِيرُ التَّوۡحِيدِ قَوۡلُهُ تَعَالَىٰ:
(وَمَا أُمِرُوا إِلَّا لِيَعۡبُدُوا اللّٰهَ مُخۡلِصِينَ لَهُ الدِّينَ حُنَفَاءَ وَيُقِيمُوا الصَّلَاةَ وَيُؤۡتُوا الزَّكَاةَ وَذَٰلِكَ دِينُ الۡقَيِّمَةِ) [البينة: ٥]
سُورَةُ الۡبَيِّنَةِ، آيَةُ ٥.
sūrotu āli `imrōn. āyatu 64.
wa dalīlu syahādati anna muḥammadar rasūlullāhi qouluhū ta`ālā:
(laqod jā’akum rosūlum min anfusikum. `azīzun `alaihi mā `anittum, ḥarīshun `alaikum bil-mu’minīna ro’ūfur roḥīm.) – [QS. At-Taubah 9:128]
sūrotu at-taubah. āyatu 128.
wa ma`nā syahādati anna muḥammadar rasūlullāh:
thō`atuhū fīmā amar, wa tashdīquhū fīmā akhbar, wajtinābu mā `anhu nahā wa zajar, wa al lā yu`badallāhu illā bimā syara`.
wa dalīlush-sholāti waz-zakāti wa tafsīrut-tauḥīdi qouluhū ta`ālā:
(wa mā umirū illā liya`budullāha mukhlishīna lahud-dīna ḥunafā’. wa yuqīmush-sholāh, wa yu’tuz-zakāh. wa dzālika dīnul-qoyyimah.) – [QS. Al-Bayyinah 98:5]
sūrotu al-bayyinah. āyatu 5.
Dan firman Allah Ta`ālā:
“Katakanlah, ‘Wahai Ahli Kitab, marilah kepada suatu kalimat yang sama antara kami dan kalian, yaitu bahwa kita tidak beribadah kecuali kepada Allah, tidak mempersekutukan-Nya dengan sesuatu apa pun, dan tidak menjadikan sebagian kita sebagai tuhan-tuhan selain Allah.’ Jika mereka berpaling, maka katakanlah, ‘Saksikanlah bahwa kami adalah orang-orang muslim.'” – [QS. Āli `Imrān 3:64]
Surah Āli `Imrān, ayat 64.
Dalil syahadat bahwa Muḥammad adalah utusan Allah adalah firman Allah Ta`ālā:
“Sungguh telah datang kepada kalian seorang rasul dari kalangan kalian sendiri. Berat terasa olehnya penderitaan yang kalian alami, sangat menginginkan (keimanan dan keselamatan) bagi kalian, serta terhadap orang-orang yang beriman beliau sangat penyantun lagi penyayang.” – [QS. At-Taubah 9:128]
Surah At-Taubah, ayat 128.
Makna syahadat bahwa Muḥammad adalah utusan Allah ialah: menaatinya dalam segala yang beliau perintahkan, membenarkannya dalam setiap berita yang beliau sampaikan, menjauhi segala yang beliau larang dan cegah, serta tidak beribadah kepada Allah kecuali dengan syariat yang beliau ajarkan.
Dalil tentang shalat, zakat, dan penjelasan tauḥid adalah firman Allah Ta`ālā:
“Padahal mereka tidak diperintahkan kecuali agar beribadah kepada Allah dengan memurnikan agama untukNya, dalam keadaan ḥanif, mendirikan shalat, menunaikan zakat. Itulah agama yang lurus.” – [QS. Al-Bayyinah 98:5]
Surah Al-Bayyinah, ayat 5.
(يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا كُتِبَ عَلَيۡكُمُ الصِّيَامُ كَمَا كُتِبَ عَلَى الَّذِينَ مِنۡ قَبۡلِكُمۡ لَعَلَّكُمۡ تَتَّقُونَ) [البقرة: ١٨٣]
سُورَةُ الۡبَقَرَةِ، آيَةُ ١٨٣.
وَدَلِيلُ الۡحَجِّ قَوۡلُهُ تَعَالَىٰ:
(وَلِلّٰهِ عَلَى النَّاسِ حِجُّ الۡبَيۡتِ مَنِ اسۡتَطَاعَ إِلَيۡهِ سَبِيلًا، وَمَن كَفَرَ فَإِنَّ اللّٰهَ غَنِيٌّ عَنِ الۡعَالَمِينَ) [آل عمران: ٩٧]
سُورَةُ آلِ عِمۡرَانَ، آيَةُ ٩٧.
[الۡمَرۡتَبَةُ الثَّانِيَةُ الۡإِيمَانُ]
الۡمَرۡتَبَةُ الثَّانِيَةُ الۡإِيمَانُ: وَهُوَ بِضۡعٌ وَسَبۡعُونَ شُعۡبَةً. فَأَعۡلَاهَا قَوۡلُ لَا إِلٰهَ إِلَّا اللّٰهُ، وَأَدۡنَاهَا إِمَاطَةُ الۡأَذَىٰ عَنِ الطَّرِيقِ، وَالۡحَيَاءُ شُعۡبَةٌ مِنَ الۡإِيمَانِ.
وَأَرۡكَانُهُ سِتَّةٌ: أَنۡ تُؤۡمِنَ بِاللّٰهِ، وَمَلَائِكَتِهِ، وَكُتُبِهِ، وَرُسُلِهِ، وَالۡيَوۡمِ الۡآخِرِ، وَبِالۡقَدَرِ خَيۡرِهِ وَشَرِّهِ.
وَالدَّلِيلُ عَلَىٰ هٰذِهِ الۡأَرۡكَانِ السِّتَّةِ قَوۡلُهُ تَعَالَىٰ:
(لَيۡسَ الۡبِرَّ أَنۡ تُوَلُّوا وُجُوهَكُمۡ قِبَلَ الۡمَشۡرِقِ وَالۡمَغۡرِبِ، وَلٰكِنَّ الۡبِرَّ مَنۡ آمَنَ بِاللّٰهِ وَالۡيَوۡمِ الۡآخِرِ وَالۡمَلَائِكَةِ وَالۡكِتَابِ وَالنَّبِيِّينَ) [البقرة: ١٧٧]
الۡآيَةُ، سُورَةُ الۡبَقَرَةِ، آيَةُ ١٧٧.
وَدَلِيلُ الۡقَدَرِ قَوۡلُهُ تَعَالَىٰ:
(إِنَّا كُلَّ شَيۡءٍ خَلَقۡنَاهُ بِقَدَرٍ) [القمر: ٤٩]
سُورَةُ الۡقَمَرِ، آيَةُ ٤٩.
sūratu al-baqoroh. āyatu 183.
wa dalīlul-ḥajji qouluhū ta`ālā:
(wa lillāhi `alan-nāsi ḥijjul-baiti manis-tathō`a ilaihi sabīlā. wa man kafaro fa innallāha ghoniyyun `anil-`ālamīn.) – [QS. Āli `Imrōn 3:97]
sūratu āli `imrōn. āyatu 97.
[al-martabatut-tsāniyah: al-īmān]
al-martabatut-tsāniyah: al-īmān. wa huwa bidh`uw wa sab`ūna syu`bah. fa a`lāhā qoulu lā ilāha illallāh. wa adnāhā imāthotul-adzā `anith-thorīq. wal-ḥayā’u syu`batum minal-īmān.
wa arkānuhu sittah. an tu’mina billāhi, wa malā’ikatih, wa kutubih, wa rusulih, wal-yaumil-ākhir. wa bil-qodari khoirih wa syarrih.
wad-dalīlu `alā hādzihil-arkānis-sittah qouluhū ta`ālā:
(laisal-birro an tuwallū wujūhakum qibalal-masyriqi wal-maghrib. wa lākinnal-birro man āmana billāhi wal-yaumil-ākhiri wal-malā’ikati wal-kitābi wan-nabiyyīn.) – [QS. Al-Baqoroh 2:177]
al-āyah. sūratu al-baqoroh. āyatu 177.
wa dalīlul-qodari qouluhū ta`ālā:
(innā kulla syai’in kholaqnāhu biqodar.) – [QS. Al-Qomar 54:49]
sūratu al-qomar. āyatu 49.
Dalil puasa adalah firman Allah Ta`ālā:
“Wahai orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kalian berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang-orang sebelum kalian agar kalian bertakwa.” – [QS. Al-Baqarah 2:183]
Surah Al-Baqarah, ayat 183.
Dalil ḥaji adalah firman Allah Ta`ālā:
“Dan menjadi kewajiban manusia terhadap Allah untuk melaksanakan ḥaji ke Baitullah, yaitu bagi siapa yang mampu menempuh jalan ke sana. Barang siapa kafir, maka sungguh Allah Maha Kaya, tidak memerlukan seluruh alam.” – [QS. Āli `Imrān 3:97]
Surah Āli `Imrān, ayat 97.
Tingkatan kedua: Iman
Tingkatan kedua adalah iman, yaitu memiliki lebih dari 70 cabang. Cabang yang paling tinggi adalah ucapan lā ilāha illallāh. Cabang yang paling rendah adalah menyingkirkan gangguan dari jalan. Dan rasa malu adalah salah satu cabang dari iman.
Rukun-rukunnya ada 6, yaitu engkau beriman kepada Allah, para malaikatNya, kitab-kitabNya, rasul-rasulNya, Hari Akhir, serta beriman kepada takdir, yang baik maupun yang buruk.
Dalil atas 6 rukun tersebut adalah firman Allah Ta`ālā:
“Bukanlah kebajikan itu menghadapkan wajahmu ke arah timur dan barat, tetapi kebajikan adalah orang yang beriman kepada Allah, hari akhir, para malaikat, kitab, dan para nabi.” – [QS. Al-Baqarah 2:177]
Ayat tersebut terdapat dalam Surah Al-Baqarah, ayat 177.
Dalil tentang takdir adalah firman Allah Ta`ālā:
“Sesungguhnya Kami menciptakan segala sesuatu menurut ukuran (takdir).” – [QS. Al-Qomar 54:49]
Surah Al-Qomar, ayat 49.
الۡمَرۡتَبَةُ الثَّالِثَةُ: الۡإِحۡسَانُ رُكۡنٌ وَاحِدٌ، وَهُوَ أَنۡ تَعۡبُدَ اللّٰهَ كَأَنَّكَ تَرَاهُ، فَإِن لَمۡ تَكُنۡ تَرَاهُ فَإِنَّهُ يَرَاكَ، وَالدَّلِيلُ قَوۡلُهُ تَعَالَىٰ:
(إِنَّ اللّٰهَ مَعَ الَّذِينَ اتَّقَوۡا وَالَّذِينَ هُمۡ مُحۡسِنُونَ) [النحل: ١٢٨]
سُورَةُ النَّحۡلِ، آيَةُ ١٢٨، وَقَوۡلُهُ تَعَالَىٰ:
(وَتَوَكَّلۡ عَلَى الۡعَزِيزِ الرَّحِيمِ ٢١٧ الَّذِي يَرَاكَ حِينَ تَقُومُ ٢١٨ وَتَقَلُّبَكَ فِي السَّاجِدِينَ ٢١٩ إِنَّهُ هُوَ السَّمِيعُ الۡعَلِيمُ ٢٢٠) [الشعراء: ٢١٧-٢٢٠]
سُورَةُ الشُّعَرَاءِ، آيَةُ ٢١٧-٢٢٠، وَقَوۡلُهُ تَعَالَىٰ:
(وَمَا تَكُونُ فِي شَأۡنٍ وَمَا تَتۡلُوا مِنۡهُ مِن قُرۡآنٍ وَلَا تَعۡمَلُونَ مِنۡ عَمَلٍ إِلَّا كُنَّا عَلَيۡكُمۡ شُهُودًا إِذۡ تُفِيضُونَ فِيهِ) [يونس: ٦١]
سُورَةُ يُونُسَ، آيَةُ ٦١.
(innallōha ma`alladzīnattaqou. walladzīna hum muḥsinūn.) – [QS. An-Naḥl 16:128]
sūrotu an-naḥl. āyatu 128. wa qouluhū ta`ālā:
(wa tawakkal `alal-`azīzir-roḥīm. alladzī yarōka ḥīna taqūm. wa taqollubaka fis-sājidīn. innahū huwas-samī`ul-`alīm.) – [QS. Asy-Syu`arō’ 26:217-220]
sūratusy-syu`arō’. āyatu 217-220. wa qouluhū ta`ālā:
(wa mā takūnu fī sya’nin. wa mā tatlū minhu min qur’ānin. wa lā ta`malūna min `amalin. illā kunnā `alaikum syuhūdan idz tufīdhūna fīh.) – [QS. Yūnus 10:61]
sūratu yūnus. āyatu 61.
[Tingkatan Ketiga: Iḥsan]
Tingkatan ketiga adalah iḥsan. Rukunnya hanya satu, yaitu engkau beribadah kepada Allah seakan-akan engkau melihatNya. Jika engkau tidak melihatNya, maka sesungguhnya Dia melihatmu.
Dalilnya adalah firman Allah Ta`ālā:
“Sesungguhnya Allah bersama orang-orang yang bertakwa dan orang-orang yang berbuat iḥsan.” – [QS. An-Naḥl 16:128]
Surah An-Naḥl, ayat 128.
Dan firman-Nya:
“Dan bertawakallah kepada Yang Maha Perkasa lagi Maha Penyayang, yang melihatmu ketika engkau berdiri, dan melihat perubahan gerakmu di antara orang-orang yang bersujud. Sesungguhnya Dia Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui.” – [QS. Asy-Syu`arā’ 26:217-220]
Surah Asy-Syu`arā’, ayat 217-220.
Dan firman-Nya:
“Dan tidaklah engkau berada dalam suatu urusan, tidak pula engkau membaca suatu ayat Al-Qur’an, dan tidak pula kalian mengerjakan suatu pekerjaan, melainkan Kami menjadi saksi atas kalian ketika kalian melakukannya.” – [QS. Yūnus 10:61]
Surah Yūnus ayat 61.
«قَالَ: بَيۡنَمَا نَحۡنُ جُلُوسٌ عِنۡدَ النَّبِيِّ صَلَّى اللّٰهُ عَلَيۡهِ وَسَلَّمَ، إِذۡ طَلَعَ عَلَيۡنَا رَجُلٌ شَدِيدُ بَيَاضِ الثِّيَابِ، شَدِيدُ سَوَادِ الشَّعۡرِ، لَا يُرَىٰ عَلَيۡهِ أَثَرُ السَّفَرِ، وَلَا يَعۡرِفُهُ مِنَّا أَحَدٌ، فَجَلَسَ إِلَى النَّبِيِّ صَلَّى اللّٰهُ عَلَيۡهِ وَسَلَّمَ، فَأَسۡنَدَ رُكۡبَتَيۡهِ إِلَىٰ رُكۡبَتَيۡهِ، وَوَضَعَ كَفَّيۡهِ عَلَىٰ فَخِذَيۡهِ، وَقَالَ: يَا مُحَمَّدُ، أَخۡبِرۡنِي عَنِ الۡإِسۡلَامِ.
فَقَالَ: أَنۡ تَشۡهَدَ أَنۡ لَا إِلٰهَ إِلَّا اللّٰهُ، وَأَنَّ مُحَمَّدًا صَلَّى اللّٰهُ عَلَيۡهِ وَسَلَّمَ رَسُولُ اللّٰهِ، وَتُقِيمَ الصَّلَاةَ، وَتُؤۡتِيَ الزَّكَاةَ، وَتَصُومَ رَمَضَانَ، وَتَحُجَّ الۡبَيۡتَ إِنِ اسۡتَطَعۡتَ إِلَيۡهِ سَبِيلًا.
قَالَ: صَدَقۡتَ.
فَعَجِبۡنَا لَهُ، يَسۡأَلُهُ وَيُصَدِّقُهُ.
قَالَ: أَخۡبِرۡنِي عَنِ الۡإِيمَانِ.
قَالَ: أَنۡ تُؤۡمِنَ بِاللّٰهِ، وَمَلَائِكَتِهِ، وَكُتُبِهِ، وَرُسُلِهِ، وَالۡيَوۡمِ الۡآخِرِ، وَبِالۡقَدَرِ خَيۡرِهِ وَشَرِّهِ.
قَالَ: أَخۡبِرۡنِي عَنِ الۡإِحۡسَانِ.
قَالَ: أَنۡ تَعۡبُدَ اللّٰهَ كَأَنَّكَ تَرَاهُ، فَإِن لَمۡ تَكُنۡ تَرَاهُ فَإِنَّهُ يَرَاكَ.
قَالَ: أَخۡبِرۡنِي عَنِ السَّاعَةِ.
قَالَ: مَا الۡمَسۡئُولُ عَنۡهَا بِأَعۡلَمَ مِنَ السَّائِلِ».
fa qōla: an tasyhada an lā ilāha illallāh. wa anna muḥammadan shollallāhu `alaihi wa sallama rosūlullāh. wa tuqīmash-sholāh. wa tu’tiyaz-zakāh. wa tashūma romadhōn. wa taḥujjal-baita inis-tatho`ta ilaihi sabīlā.
qōla: shodaqta.
fa `ajibnā lah. yas’aluhū wa yushoddiquh.
qōla: akhbirnī `anil-īmān.
qōla: an tu’mina billāh. wa malā’ikatih. wa kutubih. wa rusulih. wal-yaumil-ākhir. wa bil-qodari khoirih wa syarrih.
qōla: akhbirnī `anil-iḥsān.
qōla: an ta`budallāha ka’annaka tarōh. fa il lam takun tarōh, fa innahū yarōk.
qōla: akhbirnī `anis-sā`ah.
qōla: mal-mas’ūlu `anhā bi a`lama minas-sā’il.”
(Dalil dari As-Sunnah) adalah ḥadīts Jibril yang masyhur, dari `Umar bin Al-Khaththāb radhiyallāhu `anhu:
Ia berkata, “Ketika kami sedang duduk di sisi Nabi shallallāhu `alaihi wa sallam, tiba-tiba datang kepada kami seorang laki-laki yang pakaiannya sangat putih, rambutnya sangat hitam. Tidak tampak padanya bekas perjalanan, dan tidak seorang pun di antara kami mengenalnya. Lalu ia duduk di hadapan Nabi shallallāhu `alaihi wa sallam, menyandarkan kedua lututnya kepada kedua lutut beliau, meletakkan kedua telapak tangannya di atas kedua pahanya, lalu berkata:
‘Wahai Muḥammad, kabarkan kepadaku tentang Islam.’
Beliau menjawab:
‘Islam adalah engkau bersaksi bahwa tidak ada tuhan yang benar kecuali Allah, dan bahwa Muḥammad shallallāhu `alaihi wa sallam adalah Rasul Allah; engkau menegakkan shalat, menunaikan zakat, berpuasa Ramadhan, dan berḥaji ke Baitullah apabila mampu menempuh perjalanan ke sana.’
Ia berkata, ‘Engkau benar.’
Kami pun heran, ia bertanya tetapi membenarkan jawabannya.
Lalu ia berkata, ‘Kabarkan kepadaku tentang īmān.’
Beliau menjawab:
‘Engkau beriman kepada Allah, para malaikatNya, kitab-kitabNya, rasul-rasulNya, Hari Akhir, dan beriman kepada takdir, baik maupun buruknya.’
Ia berkata, ‘Kabarkan kepadaku tentang iḥsān.’
Beliau menjawab:
‘Engkau beribadah kepada Allah seakan-akan engkau melihatNya. Jika engkau tidak melihatNya, maka sesungguhnya Dia melihatmu.’
Ia berkata, ‘Kabarkan kepadaku tentang Hari Kiamat.’
Beliau menjawab:
‘Orang yang ditanya tidak lebih mengetahui daripada orang yang bertanya.’
Ia (Jibril) berkata, ‘Beritahukan kepadaku tentang tanda-tanda Kiamat.’
Beliau menjawab, ‘Yaitu apabila seorang budak perempuan melahirkan tuannya, dan engkau melihat orang-orang yang bertelanjang kaki, berpakaian seadanya, miskin, para penggembala kambing, saling berlomba meninggikan bangunan.’
(`Umar) berkata, ‘Kemudian ia pergi. Kami pun menunggu beberapa lama. Lalu beliau bersabda, ‘Wahai `Umar, tahukah kalian siapa orang yang bertanya itu?”
Kami menjawab, ‘ALLAH dan RasulNya lebih mengetahui.’
Beliau bersabda, ‘Dia adalah Jibril. Ia datang kepada kalian untuk mengajarkan urusan agama kalian.'”
الأَصۡلُ الثَّالِثُ مَعۡرِفَةُ نَبِيِّكُمۡ مُحَمَّدٍ صَلَّى اللّٰهُ عَلَيۡهِ وَسَلَّمَ، وَهُوَ مُحَمَّدُ بۡنُ عَبۡدِ اللّٰهِ بۡنِ عَبۡدِ الۡمُطَّلِبِ بۡنِ هَاشِمٍ، وَهَاشِمٌ مِنۡ قُرَيۡشٍ، وَقُرَيۡشٌ مِنَ الۡعَرَبِ، وَالۡعَرَبُ مِنۡ ذُرِّيَّةِ إِسۡمَاعِيلَ بۡنِ إِبۡرَاهِيمَ الۡخَلِيلِ عَلَيۡهِ وَعَلَى نَبِيِّنَا أَفۡضَلُ الصَّلَاةِ وَالسَّلَامِ.
وَلَهُ مِنَ الۡعُمُرِ ثَلَاثٌ وَسِتُّونَ سَنَةً، مِنۡهَا أَرۡبَعُونَ قَبۡلَ النُّبُوَّةِ، وَثَلَاثٌ وَعِشۡرُونَ نَبِيًّا رَسُولًا. نُبِّئَ بِاقۡرَأۡ، وَأُرۡسِلَ بِالۡمُدَّثِّرِ. وَبَلَدُهُ مَكَّةُ.
بَعَثَهُ اللّٰهُ بِالنِّذَارَةِ عَنِ الشِّرۡكِ وَيَدۡعُو إِلَى التَّوۡحِيدِ، وَالدَّلِيلُ قَوۡلُهُ تَعَالَى: (يَا أَيُّهَا الۡمُدَّثِّرُ ١ قُمۡ فَأَنۡذِرۡ ٢ وَرَبَّكَ فَكَبِّرۡ ٣ وَثِيَابَكَ فَطَهِّرۡ ٤ وَالرُّجۡزَ فَاهۡجُرۡ ٥ وَلَا تَمۡنُنۡ تَسۡتَكۡثِرُ ٦ وَلِرَبِّكَ فَاصۡبِرۡ ٧) [المدثر: ١-٧] الۡمُدَّثِّرُ آيَةُ [١-٧]،
وَمَعۡنَى (قُمۡ فَأَنۡذِرۡ): يُنۡذِرُ عَنِ الشِّرۡكِ وَيَدۡعُو إِلَى التَّوۡحِيدِ، وَ(رَبَّكَ فَكَبِّرۡ): عَظِّمۡهُ بِالتَّوۡحِيدِ، وَ(ثِيَابَكَ فَطَهِّرۡ): أَيۡ طَهِّرۡ أَعۡمَالَكَ مِنَ الشِّرۡكِ، وَ(الرُّجۡزَ فَاهۡجُرۡ)، الرُّجۡزُ: الۡأَصۡنَامُ، وَهَجۡرُهَا: تَرۡكُهَا وَأَهۡلَهَا وَالۡبَرَاءَةُ مِنۡهَا وَأَهۡلِهَا.
wa lahu minal-`umri tsalātsun wa sittūna sanah. minhā arba`ūna qoblan-nubuwwah. wa tsalātsun wa `isyrūna nabiyyan rosūlā. nubbi’a bi iqro’. wa ursila bil-muddats-tsir. wa baladuhu makkah.
ba`atsahullāhu bin-nidzāroti `anis-syirk, wa yad`ū ilat-tauḥīd. wad-dalīlu qouluhu ta`ālā: (yā ayyuhal-muddats-tsir. qum fa andzir. wa robbaka fakabbir. wa tsiyābaka fathohhir. war-rujza fahjur. wa lā tamnun tastaktsir. wa li robbika fashbir) [QS. Al-Muddatstsir 74:1–7].
wa ma`nā qum fa andzir: yundziru `anis-syirk wa yad`ū ilat-tauḥīd. wa robbaka fakabbir: `azhzhimhu bit-tauḥīd. wa tsiyābaka fathohhir: ai thohhir a`mālaka minasy-syirk. war-rujza fahjur. ar-rujzu: al-ashnām. wa hajruhā: tarkuhā wa ahlahā wal-barō’atu minhā wa ahlihā.
[Pokok Ketiga: Mengenal Nabi kalian, Muḥammad C]
Pokok ketiga adalah mengenal nabi kalian, Muḥammad C. Beliau adalah Muḥammad bin `Abdillāh bin `Abdil-Muththalib bin Hāsyim. Hāsyim berasal dari Quraisy, Quraisy berasal dari bangsa Arab, dan bangsa Arab merupakan keturunan Ismā`īl bin Ibrāhīm Al-Khalīl. Semoga shalawat dan salam yang paling utama tercurah kepada beliau dan kepada nabi kita C.
Usia beliau 63 tahun. 40 tahun sebelum diangkat menjadi nabi, dan 23 tahun sebagai nabi sekaligus rasul. Beliau diangkat menjadi nabi dengan turunnya surat Iqra’, dan diutus sebagai rasul dengan turunnya surat Al-Muddatstsir. Negeri beliau adalah Makkah.
ALLAH mengutus beliau untuk memperingatkan manusia dari kesyirikan dan mengajak kepada tauḥīd. Dalilnya adalah firman ALLAH Ta`ālā:
“(Wahai orang yang berselimut. Bangunlah, lalu berilah peringatan. Dan agungkanlah Tuhanmu. Bersihkanlah pakaianmu. Tinggalkanlah segala bentuk berhala. Janganlah engkau memberi dengan maksud memperoleh balasan yang lebih banyak. Dan demi Tuhanmu, bersabarlah).” – [QS. Al-Muddatstsir 74:1–7]
Makna “Bangunlah lalu berilah peringatan” adalah memperingatkan manusia dari kesyirikan dan mengajak mereka kepada tauḥīd.
Makna “Dan agungkanlah Tuhanmu” ialah mengagungkan-Nya dengan tauḥīd.
Makna “Dan bersihkanlah pakaianmu” ialah bersihkan amal-amalmu dari kesyirikan.
Makna “Dan tinggalkanlah segala bentuk berhala”, yaitu ar-rujz adalah berhala-berhala, sedangkan meninggalkannya berarti meninggalkan berhala itu sendiri, para penyembahnya, serta berlepas diri dari keduanya.
وَالۡهِجۡرَةُ الِانۡتِقَالُ مِنۡ بَلَدِ الشِّرۡكِ إِلَى بَلَدِ الۡإِسۡلَامِ، وَالۡهِجۡرَةُ فَرِيضَةٌ عَلَى هٰذِهِ الۡأُمَّةِ مِنۡ بَلَدِ الشِّرۡكِ إِلَى بَلَدِ الۡإِسۡلَامِ، وَهِيَ بَاقِيَةٌ إِلَى أَنۡ تَقُومَ السَّاعَةُ.
وَالدَّلِيلُ قَوۡلُهُ تَعَالَى: (إِنَّ الَّذِينَ تَوَفَّاهُمُ الۡمَلَائِكَةُ ظَالِمِي أَنۡفُسِهِمۡ قَالُوا فِيمَ كُنۡتُمۡ قَالُوا كُنَّا مُسۡتَضۡعَفِينَ فِي الۡأَرۡضِ قَالُوا أَلَمۡ تَكُنۡ أَرۡضُ اللّٰهِ وَاسِعَةً فَتُهَاجِرُوا فِيهَا فَأُولٰئِكَ مَأْوَاهُمۡ جَهَنَّمُ وَسَاءَتۡ مَصِيرًا – إِلَّا الۡمُسۡتَضۡعَفِينَ مِنَ الرِّجَالِ وَالنِّسَاءِ وَالۡوِلۡدَانِ لَا يَسۡتَطِيعُونَ حِيلَةً وَلَا يَهۡتَدُونَ سَبِيلًا – فَأُولٰئِكَ عَسَى اللّٰهُ أَنۡ يَعۡفُوَ عَنۡهُمۡ وَكَانَ اللّٰهُ عَفُوًّا غَفُورًا) [النِّسَاءِ: ٩٧ – ٩٩] سُورَةُ النِّسَاءِ آيَةُ ٩٧ – ٩٩،
وَقَوۡلُهُ تَعَالَى: (يَا عِبَادِيَ الَّذِينَ آمَنُوا إِنَّ أَرۡضِي وَاسِعَةٌ فَإِيَّايَ فَاعۡبُدُونَ) [الۡعَنۡكَبُوتِ: ٥٦] سُورَةُ الۡعَنۡكَبُوتِ آيَةُ ٥٦.
wad-dalīlu qouluhū ta`ālā: (innal-ladzīna tawaffāhumul-malā’ikatu zhōlimī anfusihim qōlū fīma kuntum, qōlū kunnā mustadh`afīna fil-ardh. qōlū alam takun ardhullāhi wāsi`atan fatuhājirū fīhā, fa’ulā’ika ma’wāhum jahannamu wa sā’at mashīrō. illal-mustadh`afīna minar-rijāli wan-nisā’i wal-wildān, lā yastathī`ūna ḥīlatan wa lā yahtadūna sabīlā. fa’ulā’ika `asallāhu ay ya`fuwa `anhum. wa kānallāhu `afuwwan ghofūrō.) [an-nisā’: 97–99]. sūratu an-nisā’ āyah 97–99.
wa qouluhū ta`ālā: (yā `ibādiyal-ladzīna āmanū, inna ardhī wāsi`atun fa’iyyāya fa`budūn.) [al-`ankabūt: 56]. sūrotu al-`ankabūt āyah 56.
Beliau menempuh jalan dakwah ini selama sepuluh tahun, mengajak manusia kepada tauhid. Setelah 10 tahun, beliau diangkat ke langit dan diwajibkan atas beliau shalat 5 waktu. Beliau shalat di Makkah selama 3 tahun, kemudian setelah itu diperintahkan berhijrah ke Madinah.
Hijrah adalah berpindah dari negeri syirik menuju negeri Islam. Hijrah merupakan kewajiban atas umat ini dari negeri syirik menuju negeri Islam, dan kewajiban itu tetap berlaku hingga hari Kiamat tiba.
Dalilnya adalah firman Allah Ta’ala:
“(Sesungguhnya orang-orang yang diwafatkan oleh para malaikat dalam keadaan menzalimi diri mereka sendiri, para malaikat berkata: ‘Dalam keadaan bagaimana kamu ini?’ Mereka menjawab: ‘Kami adalah orang-orang yang tertindas di negeri kami.’ Para malaikat berkata: ‘Bukankah bumi Allah itu luas sehingga kamu dapat berhijrah di dalamnya?’ Maka mereka itu tempatnya ialah Jahannam, dan Jahannam adalah seburuk-buruk tempat kembali. Kecuali orang-orang yang tertindas, baik laki-laki, perempuan maupun anak-anak yang tidak mampu berdaya upaya dan tidak mengetahui jalan (untuk berhijrah). Maka mereka itu mudah-mudahan Allah memaafkan mereka. Dan Allah Maha Pemaaf lagi Maha Pengampun).” [An-Nisā’: 97–99].
Surah An-Nisā’ ayat 97–99.
Dan firman-Nya:
“(Wahai hamba-hamba-Ku yang beriman, sesungguhnya bumi-Ku luas, maka hanya kepada-Kulah kalian beribadah).” [Al-`Ankabūt: 56].
Surah Al-`Ankabūt ayat 56.
وَالدَّلِيلُ عَلَى الۡهِجۡرَةِ مِنَ السُّنَّةِ قَوۡلُهُ صَلَّى اللّٰهُ عَلَيۡهِ وَسَلَّمَ: «لَا تَنۡقَطِعُ الۡهِجۡرَةُ حَتَّى تَنۡقَطِعَ التَّوۡبَةُ، وَلَا تَنۡقَطِعُ التَّوۡبَةُ حَتَّى تَطۡلُعَ الشَّمۡسُ مِنۡ مَغۡرِبِهَا».
فَلَمَّا اسۡتَقَرَّ فِي الۡمَدِينَةِ أُمِرَ بِبَقِيَّةِ شَرَائِعِ الۡإِسۡلَامِ مِثۡلَ الزَّكَاةِ، وَالصَّوۡمِ، وَالۡحَجِّ، وَالۡأَذَانِ، وَالۡجِهَادِ، وَالۡأَمۡرِ بِالۡمَعۡرُوفِ، وَالنَّهۡيِ عَنِ الۡمُنۡكَرِ، وَغَيۡرِ ذٰلِكَ مِنۡ شَرَائِعِ الۡإِسۡلَامِ، أَخَذَ عَلَى هٰذَا عَشۡرَ سِنِينَ.
وَتُوُفِّيَ صَلَوَاتُ اللّٰهِ وَسَلَامُهُ عَلَيۡهِ وَدِينُهُ بَاقٍ، وَهٰذَا دِينُهُ، لَا خَيۡرَ إِلَّا دَلَّ الۡأُمَّةَ عَلَيۡهِ، وَلَا شَرَّ إِلَّا حَذَّرَهَا مِنۡهُ، وَالۡخَيۡرُ الَّذِي دَلَّهَا عَلَيۡهِ التَّوۡحِيدُ وَجَمِيعُ مَا يُحِبُّهُ اللّٰهُ وَيَرۡضَاهُ، وَالشَّرُّ الَّذِي حَذَّرَهَا مِنۡهُ الشِّرۡكُ وَجَمِيعُ مَا يَكۡرَهُهُ اللّٰهُ وَيَأۡبَاهُ، بَعَثَهُ اللّٰهُ فِي النَّاسِ كَافَّةً، وَافۡتَرَضَ طَاعَتَهُ عَلَى جَمِيعِ الثَّقَلَيۡنِ الۡجِنِّ وَالۡإِنۡسِ.
falammastaqorro fil-madīnah, umiro bi-baqiyyati syarō’i`il-islām, mitslaz-zakāh, wash-shoum, wal-ḥajj, wal-adzān, wal-jihād, wal-amri bil-ma`rūf, wan-nahyi `anil-munkar, wa ghoiri dzālika min syarō’i`il-islām. akhodza `alā hādzā `asyro sinīn.
wa tuwuffiya sholawātullāhi wa salāmuhū `alaihi, wa dīnuhū bāq. wa hādzā dīnuh. lā khoiro illā dallal-ummah `alaih. wa lā syarro illā ḥadzdzarohā minh. wal-khoirul-ladzī dallahā `alaih, at-tauḥīd wa jamī`u mā yuḥibbuhullāhu wa yardhōh. wasy-syarrul-ladzī ḥadzdzarohā minh, asy-syirk wa jamī`u mā yakrohuhullāhu wa ya’bāh. ba`atsahullāhu fin-nāsi kāffah. waftarodho thō`atahū `alā jamī`its-tsaqolainil-jinni wal-ins.
Al-Baghawi raḥimahullah berkata, “Sebab turunnya ayat ini adalah tentang kaum Muslimin yang masih berada di Makkah dan belum berhijrah. Allah memanggil mereka dengan sebutan orang-orang yang beriman.”
Dalil tentang hijrah dari As-Sunnah adalah sabda Nabi C, “Hijrah tidak akan terputus hingga taubat terputus, dan taubat tidak akan terputus hingga matahari terbit dari arah barat.”
Ketika beliau telah menetap di Madinah, beliau diperintahkan menjalankan syariat-syariat Islam yang lain, seperti zakat, puasa, ḥaji, adzan, jihād, amar ma`ruf, nahi munkar, dan syariat-syariat Islam lainnya. Beliau menjalankan dakwah di atas hal itu selama 10 tahun.
Kemudian beliau wafat —semoga shalawat dan salam Allah senantiasa tercurah kepada beliau— sedangkan agama beliau tetap lestari. Inilah agama beliau. Tidak ada satu kebaikan pun melainkan beliau telah menunjukkannya kepada umat, dan tidak ada satu keburukan pun melainkan beliau telah memperingatkan umat darinya.
Kebaikan yang beliau tunjukkan adalah tauḥīd dan seluruh perkara yang Allah cintai dan ridhai. Sedangkan keburukan yang beliau peringatkan adalah syirik dan seluruh perkara yang Allah benci dan tidak ridhai.
Allah mengutus beliau kepada seluruh manusia, dan mewajibkan ketaatan kepada beliau atas seluruh makhluk yang mukallaf, yaitu bangsa jin dan manusia.
(قُلۡ يَٰأَيُّهَا النَّاسُ إِنِّي رَسُولُ اللّٰهِ إِلَيۡكُمۡ جَمِيعًا) [الۡأَعۡرَافِ: ١٥٨] الۡأَعۡرَافُ آيَةُ ١٥٨،
وَكَمَّلَ اللّٰهُ بِهِ الدِّينَ، وَالدَّلِيلُ قَوۡلُهُ تَعَالَىٰ:
(الۡيَوۡمَ أَكۡمَلۡتُ لَكُمۡ دِينَكُمۡ وَأَتۡمَمۡتُ عَلَيۡكُمۡ نِعۡمَتِي وَرَضِيتُ لَكُمُ الۡإِسۡلَامَ دِينًا) [الۡمَائِدَةِ: ٣] الۡمَائِدَةُ آيَةُ ٣.
وَالدَّلِيلُ عَلَىٰ مَوۡتِهِ صَلَّى اللّٰهُ عَلَيۡهِ وَسَلَّمَ قَوۡلُهُ تَعَالَىٰ:
(إِنَّكَ مَيِّتٌ وَإِنَّهُمۡ مَيِّتُونَ ٣٠ ثُمَّ إِنَّكُمۡ يَوۡمَ الۡقِيَامَةِ عِنۡدَ رَبِّكُمۡ تَخۡتَصِمُونَ ٣١) [الزُّمَرِ: ٣٠ – ٣١] الزُّمَرُ آيَةُ ٣٠، ٣١،
وَالنَّاسُ إِذَا مَاتُوا يُبۡعَثُونَ، وَالدَّلِيلُ قَوۡلُهُ تَعَالَىٰ:
(مِنۡهَا خَلَقۡنَاكُمۡ وَفِيهَا نُعِيدُكُمۡ وَمِنۡهَا نُخۡرِجُكُمۡ تَارَةً أُخۡرَىٰ) [طه: ٥٥] طه آيَةُ ٥٥،
وَقَوۡلُهُ تَعَالَىٰ:
(وَاللّٰهُ أَنۢبَتَكُمۡ مِنَ الۡأَرۡضِ نَبَاتًا ١٧ ثُمَّ يُعِيدُكُمۡ فِيهَا وَيُخۡرِجُكُمۡ إِخۡرَاجًا ١٨) [نُوحٍ: ١٧ – ١٨] نُوحٌ آيَةُ ١٧، ١٨،
وَبَعۡدَ الۡبَعۡثِ مُحَاسَبُونَ وَمَجۡزِيُّونَ بِأَعۡمَالِهِمۡ، وَالدَّلِيلُ قَوۡلُهُ تَعَالَىٰ:
(وَلِلّٰهِ مَا فِي السَّمَاوَاتِ وَمَا فِي الۡأَرۡضِ لِيَجۡزِيَ الَّذِينَ أَسَاءُوا بِمَا عَمِلُوا وَيَجۡزِيَ الَّذِينَ أَحۡسَنُوا بِالۡحُسۡنَىٰ) [النَّجۡمِ: ٣١] النَّجۡمُ آيَةُ ٣١.
wa ad-dalīlu `alā mautihi shollallāhu `alaihi wa sallama qouluhu ta`ālā: (innaka mayyitun wa innahum mayyitūn – tsumma innakum yaumal-qiyāmati `inda robbikum takhtashimūn) [az-zumar: 30-31] az-zumar āyatu 30, 31.
wa an-nāsu idzā mātū yub`atsūna, wa ad-dalīlu qouluhu ta`ālā: (minhā kholaqnākum wa fīhā nu`īdukum wa minhā nukhrijukum tārotan ukhrō) [thōhā: 55] thōhā āyatu 55,
wa qouluhu ta`ālā: (wallāhu anbatakum minal-ardhi nabātan – tsumma yu`īdukum fīhā wa yukhrijukum ikhrōjan) [nūḥ: 17-18] nūḥ āyatu 17, 18.
wa ba`da al-ba`tsi muḥāsabūna wa majziyyūna bi’a`mālihim, wa ad-dalīlu qouluhu ta`ālā: (wa lillāhi mā fīs-samāwāti wa mā fī al-ardhi liyajziyalladzīna asā’ū bimā `amilū wa yajziyalladzīna aḥsanū bil-ḥusnā) [an-najm: 31] an-najm āyatu 31.
Dalilnya adalah firman Allah Ta’ala:
(Katakanlah, wahai manusia! Sesungguhnya aku adalah utusan Allah kepada kalian semua). – [QS. Al-A`rāf 7:158]. Surah Al-A`raf ayat 158.
Dengan beliau Allah telah menyempurnakan agama. Dalilnya adalah firman Allah Ta`ala:
(Pada hari ini telah Aku sempurnakan untuk kalian agama kalian, Aku cukupkan nikmat-Ku atas kalian, dan Aku ridhai Islam sebagai agama bagi kalian). – [QS. Al-Mā’idah 5:3]. Surah Al-Ma’idah ayat 3.
Dalil tentang wafatnya Nabi C adalah firman Allah Ta`ala:
(Sesungguhnya engkau akan wafat dan sesungguhnya mereka pun akan wafat. Kemudian pada hari Kiamat kalian akan saling berselisih di hadapan Rabb kalian). – [QS. Az-Zumar 39:30-31]. Surah Az-Zumar ayat 30, 31.
Manusia apabila telah meninggal akan dibangkitkan. Dalilnya adalah firman Allah Ta`ala:
(Dari bumi itulah Kami menciptakan kalian, ke dalamnya Kami akan mengembalikan kalian, dan darinya Kami akan mengeluarkan kalian sekali lagi). – [QS. Thāhā 20:55]. Surah Thaha ayat 55.
Dan firman-Nya:
(Allah menumbuhkan kalian dari bumi sebagai suatu tumbuhan. Kemudian Dia mengembalikan kalian ke dalamnya dan mengeluarkan kalian darinya kembali). – [QS. Nūḥ 71:17-18]. Surah Nuh ayat 17, 18.
Setelah dibangkitkan, manusia akan dihisab dan diberi balasan sesuai amal mereka. Dalilnya adalah firman Allah Ta’ala:
(Dan milik Allah apa yang ada di langit dan apa yang ada di bumi, agar Dia membalas orang-orang yang berbuat buruk sesuai apa yang mereka kerjakan dan membalas orang-orang yang berbuat baik dengan balasan terbaik).” – [QS. An-Najm 53:31]. Surah An-Najm ayat 31.
(زَعَمَ الَّذِينَ كَفَرُوٓا أَن لَّن يُبۡعَثُوا، قُلۡ بَلَىٰ وَرَبِّي لَتُبۡعَثُنَّ ثُمَّ لَتُنَبَّؤُنَّ بِمَا عَمِلۡتُمۡ وَذَٰلِكَ عَلَى اللّٰهِ يَسِيرٌ) [التَّغَابُنِ: ٧] التَّغَابُنُ آيَةُ ٧،
وَأَرۡسَلَ اللّٰهُ جَمِيعَ الرُّسُلِ مُبَشِّرِينَ وَمُنذِرِينَ، وَالدَّلِيلُ قَوۡلُهُ تَعَالَىٰ:
(رُّسُلًا مُّبَشِّرِينَ وَمُنذِرِينَ لِئَلَّا يَكُونَ لِلنَّاسِ عَلَى اللّٰهِ حُجَّةُۢ بَعۡدَ الرُّسُلِ) [النِّسَاءِ: ١٦٥] النِّسَاءُ آيَةُ ١٦٥،
وَأَوَّلُهُمۡ نُوحٌ عَلَيۡهِ السَّلَامُ وَآخِرُهُمۡ مُحَمَّدٌ صَلَّى اللّٰهُ عَلَيۡهِ وَسَلَّمَ، وَهُوَ خَاتَمُ النَّبِيِّينَ، وَالدَّلِيلُ عَلَىٰ أَنَّ أَوَّلَهُمۡ نُوحٌ قَوۡلُهُ تَعَالَىٰ:
(إِنَّآ أَوۡحَيۡنَآ إِلَيۡكَ كَمَآ أَوۡحَيۡنَآ إِلَىٰ نُوحٍ وَالنَّبِيِّۦنَ مِنۢ بَعۡدِهِ) [النِّسَاءِ: ١٦٣] النِّسَاءُ آيَةُ ١٦٣،
وَكُلُّ أُمَّةٍ بَعَثَ اللّٰهُ إِلَيۡهِمۡ رَسُولًا مِنۡ نُوحٍ إِلَىٰ مُحَمَّدٍ يَأۡمُرُهُمۡ بِعِبَادَةِ اللّٰهِ وَحۡدَهُ وَيَنۡهَىٰهُمۡ عَنۡ عِبَادَةِ الطَّاغُوتِ.
وَالدَّلِيلُ قَوۡلُهُ تَعَالَىٰ:
(وَلَقَدۡ بَعَثۡنَا فِي كُلِّ أُمَّةٍ رَسُولًا أَنِ اعۡبُدُوا اللّٰهَ وَاجۡتَنِبُوا الطَّاغُوتَ) [النَّحۡلِ: ٣٦] النَّحۡلُ آيَةُ ٣٦،
وَافۡتَرَضَ اللّٰهُ عَلَىٰ جَمِيعِ الۡعِبَادِ الۡكُفۡرَ بِالطَّاغُوتِ وَالۡإِيمَانَ بِاللّٰهِ.
قَالَ ابۡنُ الۡقَيِّمِ رَحِمَهُ اللّٰهُ تَعَالَىٰ: مَعۡنَى الطَّاغُوتِ مَا تَجَاوَزَ بِهِ الۡعَبۡدُ حَدَّهُ مِنۡ مَعۡبُودٍ أَوۡ مَتۡبُوعٍ أَوۡ مُطَاعٍ، وَالطَّوَاغِيتُ كَثِيرُونَ.
wa awwaluhum nūḥun `alaihis-salām wa ākhiruhum muḥammadun shollallāhu `alaihi wa sallam, wa huwa khōtamu an-nabiyyīna, wa ad-dalīlu `alā anna awwalahum nūḥun qouluhu ta`ālā: (innā auḥainā ilaika kamā auḥainā ilā nūḥin wan-nabiyyīna min ba`dihi) [an-nisā’: 163] an-nisā’ āyatu 163,
wa kullu ummatin ba`atsallāhu ilaihim rosūlan min nūḥin ilā muḥammadin ya’muruhum bi`ibādatillāhi waḥdahu wa yanhāhum `an `ibādati ath-thōghūti.
wa ad-dalīlu qouluhu ta`ālā: (wa laqod ba`atsnā fī kulli ummatin rosūlan ani`budūllāha wajtanibū ath-thōghūta) [an-naḥl: 36] an-naḥl āyatu 36,
wa iftarodho allāhu `alā jamī`il-`ibādi al-kufro bith-thōghūti wal-īmāna billāhi.
qōla ibnu al-qoyyim roḥimahullāhu ta`ālā: ma`nā ath-thōghūti mā tajāwaza bihi al-`abdu ḥaddahu min ma`būdin au matbū`in au muthō`in, wath-thowāghītu katsīrūna.
Barang siapa mendustakan adanya kebangkitan, maka dia telah kafir. Dalilnya adalah firman Allah Ta`ālā:
Orang-orang yang kafir mengira bahwa mereka tidak akan dibangkitkan. Katakanlah, ‘Tidak demikian. Demi Rabbku, sungguh kalian pasti akan dibangkitkan, kemudian akan diberitakan kepada kalian apa yang telah kalian kerjakan. Dan yang demikian itu mudah bagi Allah.’ [QS. At-Taghābun 64:7] At-Taghābun ayat 7.
Allah telah mengutus seluruh rasul sebagai pembawa kabar gembira dan pemberi peringatan. Dalilnya adalah firman Allah Ta`ālā:
(Mereka adalah) para rasul sebagai pembawa kabar gembira dan pemberi peringatan, agar tidak ada alasan bagi manusia di hadapan Allah setelah diutusnya para rasul. [QS. An-Nisā’ 4:165] An-Nisā’ ayat 165.
Rasul yang pertama adalah Nūḥ `alaihis-salām dan yang terakhir adalah Muhammad shallallāhu `alaihi wa sallam. Beliau adalah penutup para nabi. Dalil bahwa rasul yang pertama adalah Nūḥ adalah firman Allah Ta`ālā:
Sesungguhnya Kami telah mewahyukan kepadamu sebagaimana Kami telah mewahyukan kepada Nūḥ dan para nabi setelahnya. [QS. An-Nisā’ 4:163] An-Nisā’ ayat 163.
Setiap umat telah Allah utus kepada mereka seorang rasul, mulai dari Nūḥ hingga Muhammad, yang memerintahkan mereka untuk beribadah hanya kepada Allah satu-satunya dan melarang mereka dari beribadah kepada thāghūt.
Dalilnya adalah firman Allah Ta`ālā:
Sungguh Kami telah mengutus kepada setiap umat seorang rasul (yang menyerukan), ‘Sembahlah Allah dan jauhilah thāghūt.’ [QS. An-Naḥl 16:36] An-Naḥl ayat 36.
Allah telah mewajibkan kepada seluruh hamba untuk kufur kepada thāghūt dan beriman kepada Allah.
Ibnu al-Qayyim raḥimahullāh Ta`ālā berkata:
“Makna thāghūt adalah segala sesuatu yang menyebabkan seorang hamba melampaui batasnya, baik berupa sesuatu yang disembah, diikuti, maupun ditaati. Dan thāghūt itu banyak.”
وَالدَّلِيلُ قَوۡلُهُ تَعَالَىٰ:
(لَآ إِكۡرَاهَ فِي الدِّينِ قَدۡ تَبَيَّنَ الرُّشۡدُ مِنَ الۡغَيِّ فَمَن يَكۡفُرۡ بِالطَّاغُوتِ وَيُؤۡمِنۢ بِاللّٰهِ فَقَدِ اسۡتَمۡسَكَ بِالۡعُرۡوَةِ الۡوُثۡقَىٰ لَا انۡفِصَامَ لَهَا، وَاللّٰهُ سَمِيعٌ عَلِيمٌ) [الۡبَقَرَةِ: ٢٥٦] الۡبَقَرَةُ آيَةُ ٢٥٦،
وَهَذَا هُوَ مَعۡنَىٰ لَا إِلٰهَ إِلَّا اللّٰهُ.
وَفِي الۡحَدِيثِ:
«رَأۡسُ الۡأَمۡرِ الۡإِسۡلَامُ، وَعَمُودُهُ الصَّلَاةُ، وَذِرۡوَةُ سَنَامِهِ الۡجِهَادُ فِي سَبِيلِ اللّٰهِ»
وَاللّٰهُ أَعۡلَمُ.
(تَمَّتِ الۡأُصُولُ الثَّلَاثَةُ وَيَلِيهَا شُرُوطُ الصَّلَاةِ وَهِيَ تِسۡعَةٌ)
(lā ikrōha fid-dīn, qod tabayyanar-rusydu minal-ghoyyi, fa man yakfur bith-thōghūti wa yu’min billāhi faqodistamsaka bil-`urwatil-wutsqō lānfishōma lahā, wallāhu samī`un `alīmun) [al-baqoroh: 256] al-baqoroh āyatu 256,
wa hādzā huwa ma`nā lā ilāha illā allāhu.
wa fī al-ḥadītsi: «ro’su al-amri al-islāmu, wa `amūduhu ash-sholātu, wa dzirwatu sanāmihi al-jihādu fī sabīlillāh»
wallāhu a`lam.
(tammat al-ushūluts-tsalātsah wa yalīhā syurūthu ash-sholāh wa hiya tis`ah)
Kepala-kepala thāghūt ada 5: Iblīs yang dilaknat Allah, orang yang disembah dalam keadaan ridha, orang yang mengajak manusia untuk menyembah dirinya, orang yang mengaku mengetahui sesuatu dari ilmu ghaib, dan orang yang berhukum dengan selain apa yang Allah turunkan.
Dalilnya adalah firman Allah Ta`ālā:
Tidak ada paksaan dalam agama. Sungguh telah jelas jalan yang benar dari jalan yang sesat. Maka barang siapa kufur kepada thāghūt dan beriman kepada Allah, sungguh dia telah berpegang teguh pada tali yang sangat kuat yang tidak akan putus. Dan Allah Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui. [QS. Al-Baqarah 2:256] Al-Baqarah ayat 256.
Inilah makna lā ilāha illallāh.
Dalam ḥadīts disebutkan:
“Pokok segala urusan adalah Islam, tiangnya adalah shalat, dan puncak tertingginya adalah jihad di jalan Allah.”
Dan Allah Maha Mengetahui.
(Tamatlah Al-Ushūl Ats-Tsalātsah. Setelah ini dilanjutkan dengan pembahasan syarat-syarat shalat yang berjumlah 9.)




