4 KAIDAH (AL-QOWĀ`IDUL-ARBA`) – MUḤAMMAD BIN `ABDUL-WAHHĀB

Sumber Referensi:
AL-QAWĀ`IDUL-ARBA` (4 KAIDAH)

Penulis : Muḥammad bin `Abdul Wahhāb bin Sulaimān At-Tamīmī An-Najdī (wafat 1206 H)
Halaman : 7 dari 47 halaman
Al-Qowā`idul-Arba`

AL-QAWĀ`IDUL-ARBA` (4 KAIDAH)

[Al-Qowā`id Al-Arba`]

(Dengan nama Allah Ar-Raḥmān Ar-Raḥīm)

Aku memohon kepada Allah Yang Maha Mulia, Rabb Pemilik `Arsy yang agung, agar Dia melindungimu di dunia dan akhirat, menjadikanmu seorang yang diberkahi di mana pun engkau berada, serta menjadikanmu termasuk orang yang apabila diberi nikmat ia bersyukur, apabila diuji ia bersabar, dan apabila berbuat dosa ia beristighfar. Sesungguhnya 3 perkara itulah tanda kebahagiaan.

Ketahuilah —semoga Allah membimbingmu untuk taat kepadaNya— bahwa Al-Ḥanīfiyyah adalah agama Ibrāhīm, yaitu engkau beribadah kepada Allah satu-satunya dengan memurnikan agama hanya untukNya. Sebagaimana firmanNya:

وَمَا خَلَقۡتُ الۡجِنَّ وَالۡإِنسَ إِلَّا لِيَعۡبُدُونِ٥٦

wa mā kholaqtul-jinna wal-insa illā liya`budūn(i)

Tidaklah Aku menciptakan jin dan manusia kecuali untuk beribadah kepadaKu.

Apabila engkau telah mengetahui bahwa Allah menciptakanmu untuk beribadah kepadaNya, maka ketahuilah bahwa suatu ibadah tidak disebut sebagai ibadah kecuali jika disertai tauḥid. Sebagaimana shalat tidak disebut shalat kecuali jika disertai dengan bersuci. Maka apabila syirik masuk ke dalam ibadah, rusaklah ibadah tersebut, sebagaimana ḥadats yang masuk ke dalam kesucian akan merusaknya.

-41-[a1]

Apabila engkau telah mengetahui bahwa syirik, apabila bercampur dengan ibadah, akan merusaknya, menghapus pahala amal, dan menjadikan pelakunya termasuk penghuni neraka yang kekal, maka engkau akan mengetahui bahwa perkara yang paling penting bagimu adalah memahami hal tersebut.

Mudah-mudahan Allah menyelamatkanmu dari jerat ini, yaitu syirik kepada Allah, yang tentangnya Allah Ta`ālā berfirman:

إِنَّ اللّٰهَ لَا يَغۡفِرُ أَن يُشۡرَكَ بِهِۦ وَيَغۡفِرُ مَا دُونَ ذَٰلِكَ لِمَن يَشَآءُۚ وَمَن يُشۡرِكۡ بِاللّٰهِ فَقَدۡ ضَلَّ ضَلَٰلَۢا بَعِيدًا١١٦

innallāha lā yaghfiru ay yusyroka bihī wa yaghfiru mā dūna dzālika limay yasyā'(u), wa may yusyrik billāhi faqod dholla dholālam ba`īdā(n)

Sesungguhnya Allah tidak akan mengampuni (dosa) karena mempersekutukanNya (syirik), tetapi Dia mengampuni apa (dosa) yang selain (syirik) itu bagi siapa yang Dia kehendaki. Siapa pun yang mempersekutukan Allah sungguh telah tersesat jauh.

Semua itu dapat diketahui dengan memahami 4 kaidah yang Allah Ta`ālā sebutkan di dalam Kitab-Nya.

ORANG KAFIR MENGAKUI TAUḤID RUBŪBIYYAH

Kaidah Pertama

Ketahuilah bahwa orang-orang kafir yang diperangi oleh Rasulullah C mengakui bahwa Allah Ta`ālā adalah Sang Pencipta, Maha Pemberi Rezeki, dan Pengatur seluruh urusan. Namun pengakuan tersebut tidak memasukkan mereka ke dalam Islam.

Dalilnya adalah firman Allah Ta`ālā:

قُلۡ مَن يَرۡزُقُكُم مِّنَ السَّمَآءِ وَالۡأَرۡضِ أَمَّن يَمۡلِكُ السَّمۡعَ وَالۡأَبۡصَٰرَ وَمَن يُخۡرِجُ الۡحَيَّ مِنَ الۡمَيِّتِ وَيُخۡرِجُ الۡمَيِّتَ مِنَ الۡحَيِّ وَمَن يُدَبِّرُ الۡأَمۡرَۚ فَسَيَقُولُونَ اللّٰهُۚ فَقُلۡ أَفَلَا تَتَّقُونَ٣١

qul may yarzuqukum minas-samā’i wal-ardhi ammay yamlikus-sam`a wal-abshōro wa may yukhrijul-ḥayya minal-mayyiti wa yukhrijul-mayyita minal-ḥayyi wa may yudabbirul-amr(o), fa sayaqūlūnallāh(u), faqul afalā tattaqūn(a)

Katakanlah:

“Siapakah yang memberi rezeki kepada kalian dari langit dan bumi? Atau siapakah yang memiliki pendengaran dan penglihatan? Dan siapakah yang mengeluarkan yang hidup dari yang mati serta mengeluarkan yang mati dari yang hidup? Dan siapakah yang mengatur segala urusan?”

Maka mereka akan menjawab:

“Allah.”

Maka katakanlah:

“Mengapa kalian tidak bertakwa?”

 

-42-[a2]

KAFIR MUSYRIK KARENA SYIRIK DALAM TAUḤID ULŪHIYYAH, MESKIPUN MENGAKUI TAUḤID RUBŪBIYYAH

Kaidah Kedua

Mereka berkata,

Kami tidak berdoa kepada mereka dan tidak pula mengarahkan ibadah kepada mereka, kecuali untuk mencari kedekatan (kepada Allah) dan memperoleh syafa`at.

Dalil tentang mencari kedekatan adalah firman Allah Ta`ālā:

أَلَا لِلّٰهِ الدِّينُ الۡخَالِصُۚ وَالَّذِينَ اتَّخَذُوا مِن دُونِهِ أَوۡلِيَآءَ مَا نَعۡبُدُهُمۡ إِلَّا لِيُقَرِّبُونَآ إِلَى اللّٰهِ زُلۡفَىٓۚ إِنَّ اللّٰهَ يَحۡكُمُ بَيۡنَهُمۡ فِي مَا هُمۡ فِيهِ يَخۡتَلِفُونَۗ إِنَّ اللّٰهَ لَا يَهۡدِي مَنۡ هُوَ كَاذِبٌ كَفَّارٌ٣

alā lillāhid-dīnul-khōlish(u), wal-ladzīnattakhodzū min dūnihī auliyā'(a), mā na`buduhum illā liyuqorribūnā ilallāhi zulfā, innallāha yaḥkumu bainahum fī mā hum fīhi yakhtalifūn(a), innallāha lā yahdī man huwa kādzibun kaffār(un)

Ketahuilah, hanya untuk Allah agama yang bersih (dari syirik). Orang-orang yang mengambil pelindung selain Dia (berkata,) “Kami tidak menyembah mereka, kecuali (berharap) agar mereka mendekatkan kami kepada Allah dengan sedekat-dekatnya.” Sesungguhnya Allah akan memberi putusan di antara mereka tentang apa yang mereka perselisihkan. Sesungguhnya Allah tidak memberi petunjuk kepada pendusta lagi sangat ingkar.

 

SYAFAAT

Dalil tentang syafa`at adalah firman Allah Ta`ālā:

وَيَعۡبُدُونَ مِن دُونِ اللّٰهِ مَا لَا يَضُرُّهُمۡ وَلَا يَنفَعُهُمۡ وَيَقُولُونَ هَـٰؤُلَاءِ شُفَعَاؤُنَا عِندَ اللّٰهِۚ قُلۡ أَتُنَبِّـُٔونَ اللّٰهَ بِمَا لَا يَعۡلَمُ فِي السَّمَاوَاتِ وَلَا فِي الۡأَرۡضِۚ سُبۡحَانَهُ وَتَعَالَىٰ عَمَّا يُشۡرِكُونَ١٨

wa ya`budūna min dūnillāhi mā lā yadhurruhum wa lā yanfa`uhum wa yaqūlūna hā’ulā’i syufa`ā’unā `indallāh(i), qul atunabbi’ūnallāha bimā lā ya`lamu fis-samāwāti wa lā fil-ardh(i), subḥānahū wa ta`ālā `ammā yusyrikūn(a)

Mereka menyembah selain Allah apa yang tidak dapat mendatangkan mudharat kepada mereka dan tidak (pula) memberi manfaat.

Mereka berkata,

Mereka (sesembahan) itu adalah pemberi syafaat kami di hadapan Allah.

Katakanlah,

Apakah kamu akan memberitahukan kepada Allah sesuatu di langit dan di bumi yang tidak Dia ketahui?

Maha Suci dan Maha Tinggi Dia dari apa yang mereka persekutukan.

Syafa`at ada 2 macam:

1. Syafa`at yang dinafikan.

2. Syafa`at yang ditetapkan.

Adapun syafa`at yang dinafikan adalah syafa`at yang diminta kepada selain Allah dalam perkara yang tidak mampu dilakukan kecuali oleh Allah.

Dalilnya adalah firman Allah Ta`ālā:

يَـٰٓأَيُّهَا الَّذِينَ ءَامَنُوٓاْ أَنفِقُواْ مِمَّا رَزَقۡنَٰكُم مِّن قَبۡلِ أَن يَأۡتِيَ يَوۡمٞ لَّا بَيۡعٞ فِيهِ وَلَا خُلَّةٞ وَلَا شَفَٰعَةٞۗ وَالۡكَٰفِرُونَ هُمُ الظَّـٰلِمُونَ٢٥٤

yā ayyuhal-ladzīna āmanū anfiqū mimmā rozaqnākum min qobli ay ya’tiya yaumul lā bai`un fīhi wa lā khullatuw wa lā syafā`ah(tun), wal-kāfirūna humuzh-zhōlimūn(a)

Wahai orang-orang yang beriman, infakkanlah sebagian dari rezeki yang telah Kami anugerahkan kepadamu sebelum datang hari yang tidak ada jual beli padanya (hari itu), tidak ada juga persahabatan yang akrab, dan tidak ada pula syafaat. Orang-orang kafir itulah orang-orang zhalim.

-43-[a3]

Adapun syafa`at yang ditetapkan adalah syafa`at yang diminta kepada Allah. Orang yang memberi syafa`at dimuliakan dengan syafa`at tersebut, sedangkan orang yang diberi syafa`at adalah orang yang Allah ridhai ucapan dan amalnya, setelah Allah memberikan izin.

Sebagaimana firman Allah Ta`ālā:

…مَن ذَا الَّذِي يَشۡفَعُ عِندَهُۥٓ إِلَّا بِإِذۡنِهِۦۚ…

…man dzal-ladzī yasyfa`u `indahū illā bi’idznih(ī)…

…Tiada yang dapat memberi syafa`at di sisi Allah tanpa izin-Nya…

-44-[a4]

KAFIR MUSYRIK DIPERANGI KARENA SYIRIK DALAM TAUḤID ULŪHIYYAH, MESKIPUN MENGAKUI TAUḤID RUBŪBIYYAH

Kaidah Ketiga

Sesungguhnya Nabi Muḥammad C diutus kepada orang-orang yang berbeda-beda dalam bentuk ibadah mereka. Di antara mereka ada yang menyembah malaikat, ada yang menyembah para nabi dan orang-orang shāliḥ, ada yang menyembah pohon dan batu, dan ada pula yang menyembah matahari serta bulan.

Rasulullah C memerangi mereka semuanya dan tidak membedakan di antara mereka.

Dalilnya adalah firman Allah Ta`ālā:

وَقَٰتِلُوهُمۡ حَتَّىٰ لَا تَكُونَ فِتۡنَةٞ وَيَكُونَ الدِّينُ كُلُّهُۥ لِلّٰهِۚ فَإِنِ انتَهَوۡاْ فَإِنَّ اللّٰهَ بِمَا يَعۡمَلُونَ بَصِيرٞ٣٩

wa qōtilūhum ḥattā lā takūna fitnatuw wa yakunad-dīnu kulluhū lillāh(i),fa inintahau fa innallāha bimā ya`malūna bashīr(un)

Perangilah mereka sampai tidak ada lagi fitnah dan agama seutuhnya hanya bagi Allah. Jika mereka berhenti (dari kekufuran), sesungguhnya Allah Maha Melihat apa yang mereka kerjakan.

Dalil mengenai matahari dan bulan adalah firman Allah Ta`ālā:

وَمِنۡ ءَايَٰتِهِ الَّيۡلُ وَالنَّهَارُ وَالشَّمۡسُ وَالۡقَمَرُۚ لَا تَسۡجُدُواْ لِلشَّمۡسِ وَلَا لِلۡقَمَرِ وَاسۡجُدُواْۤ لِلّٰهِۤ الَّذِي خَلَقَهُنَّ إِن كُنتُمۡ إِيَّاهُ تَعۡبُدُونَ٣٧

wa min āyātihil-lailu wan-nahāru wasy-syamsu wal-qomar(u), lā tasjudū lisy-syamsi wa lā lil-qomari wasjudū lillāhil-ladzī kholaqohunna in kuntum iyyāhu ta`budūn(a)

Sebagian dari tanda-tanda (kebesaran)Nya adalah malam, siang, matahari, dan bulan. Janganlah bersujud pada matahari dan jangan (pula) pada bulan. Bersujudlah kepada Allah yang menciptakannya jika kamu hanya menyembah kepada-Nya.

Dalil mengenai malaikat adalah firman Allah Ta`ālā:

QS. Āli `Imrān (3) : 80

وَلَا يَأۡمُرَكُمۡ أَن تَتَّخِذُواْ الۡمَلَـٰٓئِكَةَ وَالنَّبِيِّـۧنَ أَرۡبَابًاۚ أَيَأۡمُرُكُم بِالۡكُفۡرِ بَعۡدَ إِذۡ أَنتُم مُّسۡلِمُونَ٨٠

wa lā ya’murokum an tattakhidzul-malā’ikata wan-nabiyyīna arbābā(n), aya’murukum bil-kufri ba`da idz antum muslimūn(a)

Tidak pula dia menyuruh kamu menjadikan para malaikat dan para nabi sebagai tuhan. Apakah dia menyuruh kamu (berbuat) kekufuran setelah kamu menjadi Muslim?

Dalil mengenai para nabi adalah firman Allah Ta`ālā:

وَإِذۡ قَالَ اللّٰهُ يَٰعِيسَى ابۡنَ مَرۡيَمَ ءَأَنتَ قُلۡتَ لِلنَّاسِ اتَّخِذُونِي وَأُمِّيَ إِلَٰهَيۡنِ مِن دُونِ اللّٰهِۖ قَالَ سُبۡحَٰنَكَ مَا يَكُونُ لِيٓ أَنۡ أَقُولَ مَا لَيۡسَ لِي بِحَقٍّۚ إِن كُنتُ قُلۡتُهُۥ فَقَدۡ عَلِمۡتَهُۥۚ تَعۡلَمُ مَا فِي نَفۡسِي وَلَآ أَعۡلَمُ مَا فِي نَفۡسِكَۚ إِنَّكَ أَنتَ عَلَّـٰمُ الۡغُيُوبِ١١٦

wa idz qōlallāhu yā `īsabna maryama a’anta qulta lin-nāsittakhidzūnī wa ummiya ilāhaini min dūnillah(i), qōla subḥānaka mā yakūnu lī an aqūla mā laisa lī biḥaqq(in), in kuntu qultuhū faqod `alimtah(ū), ta`lamu mā fī nafsī wa lā a`lamu mā fī nafsik(a), innaka anta `allāmul-ghuyūb(i)

(Ingatlah) ketika Allah berfirman, “Wahai `Isa putra Maryam, apakah engkau mengatakan kepada orang-orang, ‘Jadikanlah aku dan ibuku sebagai 2 tuhan selain Allah?’”

Dia (`Isa) menjawab, “Maha Suci Engkau, tidak patut bagiku mengatakan apa pun yang bukan hakku. Jika aku pernah mengatakannya tentulah Engkau telah mengetahuinya. Engkau mengetahui apa pun yang ada pada diriku dan aku tidak mengetahui apa pun yang ada pada diriMu. Sungguh, Engkaulah Yang Maha Mengetahui segala yang ghaib.”

-45-[a5]

Dalil mengenai orang-orang saleh adalah firman Allah Ta`ālā:

أُوْلَـٰٓئِكَ الَّذِينَ يَدۡعُونَ يَبۡتَغُونَ إِلَىٰ رَبِّهِمُ الۡوَسِيلَةَ أَيُّهُمۡ أَقۡرَبُ وَيَرۡجُونَ رَحۡمَتَهُۥ وَيَخَافُونَ عَذَابَهُۥٓۚ إِنَّ عَذَابَ رَبِّكَ كَانَ مَحۡذُورٗا٥٧

ulā’ikal-ladzīna yad`ūna yabtaghūna ilā robbihimul-wasīlata ayyuhum aqrobu wa yarjūna roḥmatahū wa yakhōfūna `adzābah(ū), inna `adzāba robbika kāna maḥdzūrō(n)

Orang-orang yang mereka seru itu, mereka (sendiri) mencari jalan kepada Tuhan, (masing-masing berharap) siapa di antara mereka yang lebih dekat (kepada Allah). Mereka juga mengharapkan rahmatNya dan takut akan adzabNya. Sesungguhnya, azab Tuhanmu itu adalah yang (harus) ditakuti.

Dalil mengenai pohon dan batu adalah firman Allah Ta`ālā:

أَفَرَءَيۡتُمُ اللَّـٰتَ وَالۡعُزَّىٰ١٩ وَمَنَوٰةَ الثَّالِثَةَ الۡأُخۡرَىٰٓ٢٠

afa ro’aitumul-lāta wal-`uzzā. [19] wa manātats-tsālitsatal-ukhrō. [20]

Apakah patut kamu (orang-orang musyrik) menganggap (2 berhala) al-lata dan al-`uzza, [19] serta manat (berhala) ke-3 yang paling terkemudian (sebagai anak perempuan Allah)? [20]

Ḥadits Abū Wāqid Al-Laitsī radhiyallāhu `anhu:

Kami pernah keluar bersama Nabi C menuju Ḥunain, sedangkan kami baru saja meninggalkan kekafiran. Orang-orang musyrik mempunyai sebuah pohon bidara yang mereka beri’tikaf di sisinya dan menggantungkan senjata-senjata mereka padanya. Pohon itu disebut Dzātu Anwāth. Ketika kami melewati sebuah pohon bidara, kami berkata, ‘Wahai Rasulullah, jadikanlah untuk kami Dzātu Anwāth sebagaimana mereka mempunyai Dzātu Anwāth.’

(Ḥadits selengkapnya…)

-46-[a6]

KESYIRIKAN KAFIR MUSYRIK ZAMAN INI LEBIH PARAH DARIPADA KAFIR MUSYRIK TERDAHULU

Kaidah Keempat

Sesungguhnya orang-orang musyrik pada zaman kita lebih berat kesyirikannya daripada orang-orang musyrik terdahulu. Sebab, orang-orang musyrik terdahulu berbuat syirik ketika dalam keadaan lapang, tetapi mereka memurnikan ibadah kepada Allah ketika berada dalam kesulitan. Adapun orang-orang musyrik pada zaman kita, kesyirikan mereka berlangsung terus-menerus, baik ketika dalam keadaan lapang maupun ketika dalam kesulitan.

Dalilnya adalah firman Allah Ta`ālā:

فَإِذَا رَكِبُواْ فِي الۡفُلۡكِ دَعَوُاْ اللّٰهَ مُخۡلِصِينَ لَهُ الدِّينَ فَلَمَّا نَجَّىٰهُمۡ إِلَى الۡبَرِّ إِذَا هُمۡ يُشۡرِكُونَ٦٥

fa’idzā rokibū fil-fulki da`awullāha mukhlishīna lahud-dīn(a), falammā najjāhum ilal-barri idzā hum yusyrikūn(a)

Apabila naik ke dalam bahtera, mereka berdoa kepada Allah dengan penuh rasa pengabdian (ikhlash) kepadaNya. Akan tetapi, ketika Dia (Allah) menyelamatkan mereka sampai ke darat, tiba-tiba mereka (kembali) mempersekutukan (Allah).

(Tamat. Semoga Allah melimpahkan shalawat dan salam kepada Muḥammad, keluarga beliau, dan para shahabat beliau.)

-47-[a7]

lā ḥaula wa lā quwwata illā billāh
Tiada daya dan tiada kekuatan kecuali dengan (pertolongan) Allah.

allāhu wa rosūluhu a`lam
Allah dan Rasul-Nya lebih mengetahui.

REFERENSI

AL-QUR’AN

TUJUAN PENCIPTAAN JIN DAN MANUSIA


QS. Adz-Dzāriyāt (51) : 56

وَمَا خَلَقۡتُ الۡجِنَّ وَالۡإِنسَ إِلَّا لِيَعۡبُدُونِ٥٦

wa mā kholaqtul-jinna wal-insa illā liya`budūn(i)

Tidaklah Aku menciptakan jin dan manusia kecuali untuk beribadah kepadaKu.

ALLAH TIDAK AKAN MENGAMPUNI DOSA SYIRIK


QS. An-Nisā’ (4) : 116

إِنَّ اللّٰهَ لَا يَغۡفِرُ أَن يُشۡرَكَ بِهِۦ وَيَغۡفِرُ مَا دُونَ ذَٰلِكَ لِمَن يَشَآءُۚ وَمَن يُشۡرِكۡ بِاللَّهِ فَقَدۡ ضَلَّ ضَلَٰلَۢا بَعِيدًا١١٦

innallāha lā yaghfiru ay yusyroka bihī wa yaghfiru mā dūna dzālika limay yasyā'(u), wa may yusyrik billāhi faqod dholla dholālam ba`īdā(n)

Sesungguhnya Allah tidak akan mengampuni (dosa) karena mempersekutukanNya (syirik), tetapi Dia mengampuni apa (dosa) yang selain (syirik) itu bagi siapa yang Dia kehendaki. Siapa pun yang mempersekutukan Allah sungguh telah tersesat jauh.

ORANG KAFIR MENGAKUI TAUḤID RUBŪBIYYAH


QS. Yūnus (10) : 31

قُلۡ مَن يَرۡزُقُكُم مِّنَ السَّمَآءِ وَالۡأَرۡضِ أَمَّن يَمۡلِكُ السَّمۡعَ وَالۡأَبۡصَٰرَ وَمَن يُخۡرِجُ الۡحَيَّ مِنَ الۡمَيِّتِ وَيُخۡرِجُ الۡمَيِّتَ مِنَ الۡحَيِّ وَمَن يُدَبِّرُ الۡأَمۡرَۚ فَسَيَقُولُونَ اللّٰهُۚ فَقُلۡ أَفَلَا تَتَّقُونَ٣١

qul may yarzuqukum minas-samā’i wal-ardhi ammay yamlikus-sam`a wal-abshōro wa may yukhrijul-ḥayya minal-mayyiti wa yukhrijul-mayyita minal-ḥayyi wa may yudabbirul-amr(o), fa sayaqūlūnallāh(u), faqul afalā tattaqūn(a)

Katakanlah:

“Siapakah yang memberi rezeki kepada kalian dari langit dan bumi? Atau siapakah yang memiliki pendengaran dan penglihatan? Dan siapakah yang mengeluarkan yang hidup dari yang mati serta mengeluarkan yang mati dari yang hidup? Dan siapakah yang mengatur segala urusan?”

Maka mereka akan menjawab:

“Allah.”

Maka katakanlah:

“Mengapa kalian tidak bertakwa?”

 

SYUBHAT KAFIR MUSYRIK


QS. Az-Zumar (39) : 3

أَلَا لِلّٰهِ الدِّينُ الۡخَالِصُۚ وَالَّذِينَ اتَّخَذُوا مِن دُونِهِ أَوۡلِيَآءَ مَا نَعۡبُدُهُمۡ إِلَّا لِيُقَرِّبُونَآ إِلَى اللّٰهِ زُلۡفَىٓۚ إِنَّ اللّٰهَ يَحۡكُمُ بَيۡنَهُمۡ فِي مَا هُمۡ فِيهِ يَخۡتَلِفُونَۗ إِنَّ اللّٰهَ لَا يَهۡدِي مَنۡ هُوَ كَاذِبٌ كَفَّارٌ٣

alā lillāhid-dīnul-khōlish(u), wal-ladzīnattakhodzū min dūnihī auliyā'(a), mā na`buduhum illā liyuqorribūnā ilallāhi zulfā, innallāha yaḥkumu bainahum fī mā hum fīhi yakhtalifūn(a), innallāha lā yahdī man huwa kādzibun kaffār(un)

Ketahuilah, hanya untuk Allah agama yang bersih (dari syirik). Orang-orang yang mengambil pelindung selain Dia (berkata,) “Kami tidak menyembah mereka, kecuali (berharap) agar mereka mendekatkan kami kepada Allah dengan sedekat-dekatnya.” Sesungguhnya Allah akan memberi putusan di antara mereka tentang apa yang mereka perselisihkan. Sesungguhnya Allah tidak memberi petunjuk kepada pendusta lagi sangat ingkar.

آلهة ālihah (tuhan-tuhan BATHIL) TIDAK MEMBERI MUDHARAT MAUPUN MANFAAT


QS. Yūnus (10) : 18

وَيَعۡبُدُونَ مِن دُونِ اللّٰهِ مَا لَا يَضُرُّهُمۡ وَلَا يَنفَعُهُمۡ وَيَقُولُونَ هَـٰؤُلَاءِ شُفَعَاؤُنَا عِندَ اللّٰهِۚ قُلۡ أَتُنَبِّـُٔونَ اللّٰهَ بِمَا لَا يَعۡلَمُ فِي السَّمَاوَاتِ وَلَا فِي الۡأَرۡضِۚ سُبۡحَانَهُ وَتَعَالَىٰ عَمَّا يُشۡرِكُونَ١٨

wa ya`budūna min dūnillāhi mā lā yadhurruhum wa lā yanfa`uhum wa yaqūlūna hā’ulā’i syufa`ā’unā `indallāh(i), qul atunabbi’ūnallāha bimā lā ya`lamu fis-samāwāti wa lā fil-ardh(i), subḥānahū wa ta`ālā `ammā yusyrikūn(a)

Mereka menyembah selain Allah apa yang tidak dapat mendatangkan mudharat kepada mereka dan tidak (pula) memberi manfaat. Mereka berkata, “Mereka (sesembahan) itu adalah penolong-penolong kami di hadapan Allah.” Katakanlah, “Apakah kamu akan memberitahukan kepada Allah sesuatu di langit dan di bumi yang tidak Dia ketahui?” Maha Suci dan Maha Tinggi Dia dari apa yang mereka persekutukan.

SYAFA`AT


QS. Al-Baqarah (2) : 254

يَـٰٓأَيُّهَا الَّذِينَ ءَامَنُوٓاْ أَنفِقُواْ مِمَّا رَزَقۡنَٰكُم مِّن قَبۡلِ أَن يَأۡتِيَ يَوۡمٞ لَّا بَيۡعٞ فِيهِ وَلَا خُلَّةٞ وَلَا شَفَٰعَةٞۗ وَالۡكَٰفِرُونَ هُمُ الظَّـٰلِمُونَ٢٥٤

yā ayyuhal-ladzīna āmanū anfiqū mimmā rozaqnākum min qobli ay ya’tiya yaumul lā bai`un fīhi wa lā khullatuw wa lā syafā`ah(tun), wal-kāfirūna humuzh-zhōlimūn(a)

Wahai orang-orang yang beriman, infakkanlah sebagian dari rezeki yang telah Kami anugerahkan kepadamu sebelum datang hari yang tidak ada jual beli padanya (hari itu), tidak ada juga persahabatan yang akrab, dan tidak ada pula syafaat. Orang-orang kafir itulah orang-orang zhalim.


QS. Al-Baqarah (2) : 254

يَـٰٓأَيُّهَا الَّذِينَ ءَامَنُوٓاْ أَنفِقُواْ مِمَّا رَزَقۡنَٰكُم مِّن قَبۡلِ أَن يَأۡتِيَ يَوۡمٞ لَّا بَيۡعٞ فِيهِ وَلَا خُلَّةٞ وَلَا شَفَٰعَةٞۗ وَالۡكَٰفِرُونَ هُمُ الظَّـٰلِمُونَ٢٥٤

yā ayyuhal-ladzīna āmanū anfiqū mimmā rozaqnākum min qobli ay ya’tiya yaumul lā bai`un fīhi wa lā khullatuw wa lā syafā`ah(tun), wal-kāfirūna humuzh-zhōlimūn(a)

Wahai orang-orang yang beriman, infakkanlah sebagian dari rezeki yang telah Kami anugerahkan kepadamu sebelum datang hari yang tidak ada jual beli padanya (hari itu), tidak ada juga persahabatan yang akrab, dan tidak ada pula syafaat. Orang-orang kafir itulah orang-orang zhalim.


QS. Al-Baqarah (2) : 255

اللّٰهُ لَآ إِلَٰهَ إِلَّا هُوَ الۡحَيُّ الۡقَيُّومُۚ لَا تَأۡخُذُهُۥ سِنَةٌ وَلَا نَوۡمٌۗ لَّهُۥ مَا فِي السَّمَٰوَٰتِ وَمَا فِي الۡأَرۡضِۗ مَن ذَا الَّذِي يَشۡفَعُ عِندَهُۥٓ إِلَّا بِإِذۡنِهِۦۚ يَعۡلَمُ مَا بَيۡنَ أَيۡدِيهِمۡ وَمَا خَلۡفَهُمۡۖ وَلَا يُحِيطُونَ بِشَيۡءٖ مِّنۡ عِلۡمِهِۦٓ إِلَّا بِمَا شَآءَۚ وَسِعَ كُرۡسِيُّهُ السَّمَٰوَٰتِ وَالۡأَرۡضَۖ وَلَا يَـُٔودُهُۥ حِفۡظُهُمَاۚ وَهُوَ الۡعَلِيُّ الۡعَظِيمُ٢٥٥

allāhu lā ilāha illā huw(a), al-ḥayyul-qoyyūm(u), lā ta’khudzuhū sinatuw wa lā naum(un), lahū mā fis-samāwāti wa mā fil-ardh(i), man dzal-ladzī yasyfa`u `indahū illā bi’idznih(ī), ya`lamu mā baina aidīhim wa mā kholfahum, wa lā yuḥīthūna bisyai’im min `ilmihī illā bimā syā'(a), wasi`a kursiyyuhus-samāwāti wal-ardh(o), wa lā ya’ūduhū ḥifzhuhumā, wa huwal-`aliyyul-`azhīm(u)

Allah, tidak ada tuhan yang benar selain Dia, Yang Hidup kekal lagi terus menerus mengurus (makhluk-Nya); tidak mengantuk dan tidak tidur. Kepunyaan-Nya apa yang di langit dan di bumi. Tiada yang dapat memberi syafa`at di sisi Allah tanpa izin-Nya. Allah mengetahui apa-apa yang di hadapan mereka dan di belakang mereka, dan mereka tidak mengetahui apa-apa dari ilmu Allah melainkan apa yang dikehendaki-Nya. Kursi Allah meliputi langit dan bumi. Dan Allah tidak merasa berat memelihara keduanya, dan Allah Maha Tinggi lagi Maha Agung.

PERINTAH MEMERANGI ORANG KAFIR MUSYRIK


QS. Al-Anfāl (8) : 39

وَقَٰتِلُوهُمۡ حَتَّىٰ لَا تَكُونَ فِتۡنَةٞ وَيَكُونَ الدِّينُ كُلُّهُۥ لِلّٰهِۚ فَإِنِ انتَهَوۡاْ فَإِنَّ اللّٰهَ بِمَا يَعۡمَلُونَ بَصِيرٞ٣٩

wa qōtilūhum ḥattā lā takūna fitnatuw wa yakunad-dīnu kulluhū lillāh(i),fa inintahau fa innallāha bimā ya`malūna bashīr(un)

Perangilah mereka sampai tidak ada lagi fitnah dan agama seutuhnya hanya bagi Allah. Jika mereka berhenti (dari kekufuran), sesungguhnya Allah Maha Melihat apa yang mereka kerjakan.

BERSUJUDLAH HANYA KEPADA ALLAH YANG MENCIPTAKAN SEMUANYA


QS. Fushshilat (41) : 37

وَمِنۡ ءَايَٰتِهِ الَّيۡلُ وَالنَّهَارُ وَالشَّمۡسُ وَالۡقَمَرُۚ لَا تَسۡجُدُواْ لِلشَّمۡسِ وَلَا لِلۡقَمَرِ وَاسۡجُدُواْۤ لِلّٰهِۤ الَّذِي خَلَقَهُنَّ إِن كُنتُمۡ إِيَّاهُ تَعۡبُدُونَ٣٧

wa min āyātihil-lailu wan-nahāru wasy-syamsu wal-qomar(u), lā tasjudū lisy-syamsi wa lā lil-qomari wasjudū lillāhil-ladzī kholaqohunna in kuntum iyyāhu ta`budūn(a)

Sebagian dari tanda-tanda (kebesaran)Nya adalah malam, siang, matahari, dan bulan. Janganlah bersujud pada matahari dan jangan (pula) pada bulan. Bersujudlah kepada Allah yang menciptakannya jika kamu hanya menyembah kepada-Nya.

ALLAH TIDAK PERNAH MENYURUH UNTUK MENJADIKAN MALAIKAT DAN NABI SEBAGAI TUHAN


QS. Āli `Imrān (3) : 80

وَلَا يَأۡمُرَكُمۡ أَن تَتَّخِذُواْ الۡمَلَـٰٓئِكَةَ وَالنَّبِيِّـۧنَ أَرۡبَابًاۚ أَيَأۡمُرُكُم بِالۡكُفۡرِ بَعۡدَ إِذۡ أَنتُم مُّسۡلِمُونَ٨٠

wa lā ya’murokum an tattakhidzul-malā’ikata wan-nabiyyīna arbābā(n), aya’murukum bil-kufri ba`da idz antum muslimūn(a)

Tidak pula dia menyuruh kamu menjadikan para malaikat dan para nabi sebagai tuhan. Apakah dia menyuruh kamu (berbuat) kekufuran setelah kamu menjadi Muslim?


QS. Al-Mā’idah (5) : 116

وَإِذۡ قَالَ اللّٰهُ يَٰعِيسَى ابۡنَ مَرۡيَمَ ءَأَنتَ قُلۡتَ لِلنَّاسِ اتَّخِذُونِي وَأُمِّيَ إِلَٰهَيۡنِ مِن دُونِ اللّٰهِۖ قَالَ سُبۡحَٰنَكَ مَا يَكُونُ لِيٓ أَنۡ أَقُولَ مَا لَيۡسَ لِي بِحَقٍّۚ إِن كُنتُ قُلۡتُهُۥ فَقَدۡ عَلِمۡتَهُۥۚ تَعۡلَمُ مَا فِي نَفۡسِي وَلَآ أَعۡلَمُ مَا فِي نَفۡسِكَۚ إِنَّكَ أَنتَ عَلَّـٰمُ الۡغُيُوبِ١١٦

wa idz qōlallāhu yā `īsabna maryama a’anta qulta lin-nāsittakhidzūnī wa ummiya ilāhaini min dūnillah(i), qōla subḥānaka mā yakūnu lī an aqūla mā laisa lī biḥaqq(in), in kuntu qultuhū faqod `alimtah(ū), ta`lamu mā fī nafsī wa lā a`lamu mā fī nafsik(a), innaka anta `allāmul-ghuyūb(i)

(Ingatlah) ketika Allah berfirman, “Wahai `Isa putra Maryam, apakah engkau mengatakan kepada orang-orang, ‘Jadikanlah aku dan ibuku sebagai 2 tuhan selain Allah?’”

Dia (`Isa) menjawab, “Maha Suci Engkau, tidak patut bagiku mengatakan apa pun yang bukan hakku. Jika aku pernah mengatakannya tentulah Engkau telah mengetahuinya. Engkau mengetahui apa pun yang ada pada diriku dan aku tidak mengetahui apa pun yang ada pada diriMu. Sungguh, Engkaulah Yang Maha Mengetahui segala yang ghaib.”

ORANG SHALIḤ PUN MENCARI WASILAH


QS. Al-Isrā’ (17) : 57

أُوْلَـٰٓئِكَ الَّذِينَ يَدۡعُونَ يَبۡتَغُونَ إِلَىٰ رَبِّهِمُ الۡوَسِيلَةَ أَيُّهُمۡ أَقۡرَبُ وَيَرۡجُونَ رَحۡمَتَهُۥ وَيَخَافُونَ عَذَابَهُۥٓۚ إِنَّ عَذَابَ رَبِّكَ كَانَ مَحۡذُورٗا٥٧

ulā’ikal-ladzīna yad`ūna yabtaghūna ilā robbihimul-wasīlata ayyuhum aqrobu wa yarjūna roḥmatahū wa yakhōfūna `adzābah(ū), inna `adzāba robbika kāna maḥdzūrō(n)

Orang-orang yang mereka seru itu, mereka (sendiri) mencari jalan kepada Tuhan, (masing-masing berharap) siapa di antara mereka yang lebih dekat (kepada Allah). Mereka juga mengharapkan rahmatNya dan takut akan adzabNya. Sesungguhnya, azab Tuhanmu itu adalah yang (harus) ditakuti.

ORANG SHALIḤ PUN MENCARI WASILAH


QS. An-Najm (53) : 19-20

أَفَرَءَيۡتُمُ اللَّـٰتَ وَالۡعُزَّىٰ١٩ وَمَنَوٰةَ الثَّالِثَةَ الۡأُخۡرَىٰٓ٢٠

afa ro’aitumul-lāta wal-`uzzā. [19] wa manātats-tsālitsatal-ukhrō. [20]

Apakah patut kamu (orang-orang musyrik) menganggap (2 berhala) al-lata dan al-`uzza, [19] serta manat (berhala) ke-3 yang paling terkemudian (sebagai anak perempuan Allah)? [20]

KAFIR MUSYRIK ZAMAN INI LEBIH PARAH SYIRIKNYA DARIPADA KAFIR MUSYRIK TERDAHULU


QS. Al-`Ankabūt (29) : 65

فَإِذَا رَكِبُواْ فِي الۡفُلۡكِ دَعَوُاْ اللّٰهَ مُخۡلِصِينَ لَهُ الدِّينَ فَلَمَّا نَجَّىٰهُمۡ إِلَى الۡبَرِّ إِذَا هُمۡ يُشۡرِكُونَ٦٥

fa’idzā rokibū fil-fulki da`awullāha mukhlishīna lahud-dīn(a), falammā najjāhum ilal-barri idzā hum yusyrikūn(a)

Apabila naik ke dalam bahtera, mereka berdoa kepada Allah dengan penuh rasa pengabdian (ikhlash) kepadaNya. Akan tetapi, ketika Dia (Allah) menyelamatkan mereka sampai ke darat, tiba-tiba mereka (kembali) mempersekutukan (Allah).

`ULAMA

QOWĀ`IDUL-ARBA` (4 KAIDAH)

MUḤAMMAD BIN `ABDUL-WAHHĀB I

Tsalātsatul Ushūl wa Syurūthish-Sholāh wal-Qowā`idil-Arba`
(كتاب ثلاثة الأصول وشروط الصلاة والقواعد الأربع)
Halaman 41 Edisi Syamila
[الۡقَوَاعِدُ الۡأَرۡبَعُ]

(بِسۡمِ اللّٰهِ الرَّحۡمَٰنِ الرَّحِيمِ)

أَسۡأَلُ اللّٰهَ الۡكَرِيمَ رَبَّ الۡعَرۡشِ الۡعَظِيمِ أَنۡ يَتَوَلَّاكَ فِي الدُّنۡيَا وَالۡآخِرَةِ، وَأَنۡ يَجۡعَلَكَ مُبَارَكًا أَيۡنَ مَا كُنۡتَ، وَأَنۡ يَجۡعَلَكَ مِمَّنۡ إِذَآ أُعۡطِيَ شَكَرَ، وَإِذَا ابۡتُلِيَ صَبَرَ، وَإِذَآ أَذۡنَبَ اسۡتَغۡفَرَ، فَإِنَّ هَٰٓؤُلَاءِ الثَّلَاثَةَ عُنۡوَانُ السَّعَادَةِ.

اعۡلَمۡ أَرۡشَدَكَ اللّٰهُ لِطَاعَتِهِ، أَنَّ الۡحَنِيفِيَّةَ مِلَّةُ إِبۡرَاهِيمَ، أَنۡ تَعۡبُدَ اللّٰهَ وَحۡدَهُ مُخۡلِصًا لَهُ الدِّينَ، كَمَا قَالَ تَعَالَىٰ:

(وَمَا خَلَقۡتُ الۡجِنَّ وَالۡإِنۡسَ إِلَّا لِيَعۡبُدُونِ) [الذَّارِيَاتِ: ٥٦] الذَّارِيَاتُ آيَةُ ٥٦.

فَإِذَا عَرَفۡتَ أَنَّ اللّٰهَ خَلَقَكَ لِعِبَادَتِهِ، فَاعۡلَمۡ أَنَّ الۡعِبَادَةَ لَا تُسَمَّىٰ عِبَادَةً إِلَّا مَعَ التَّوۡحِيدِ، كَمَا أَنَّ الصَّلَاةَ لَا تُسَمَّىٰ صَلَاةً إِلَّا مَعَ الطَّهَارَةِ، فَإِذَا دَخَلَ الشِّرۡكُ فِي الۡعِبَادَةِ فَسَدَتۡ، كَالۡحَدَثِ إِذَا دَخَلَ فِي الطَّهَارَةِ.

[al-qowā`idul-arba`](bismillāhir-roḥmānir-roḥīm)

as’alullāha al-karīma, robbal-`arsyil-`azhīm, an yatawallāka fīd-dunyā wal-ākhirah. wa an yaj`alaka mubārokan aina mā kunta. wa an yaj`alaka mimman idzā u`thiya syakaro. wa idzā ubtuliya shobaro. wa idzā adznaba istaghfaro. fa inna hā’ulā’i ats-tsalātsata `unwānu as-sa`ādah.

i`lam, arsyadakallāhu lithō`atihi, anna al-ḥanīfiyyata millatu ibrōhīm. an ta`budallāha waḥdahu mukhlishon lahud-dīn. kamā qōla ta`ālā:

(wa mā kholaqtul-jinna wal-insa illā liya`budūn) [adz-dzāriyāt: 56] adz-dzāriyāt āyatu 56.

fa idzā `arofta annallāha kholaqoka li`ibādatihi, fa`lam annal-`ibādata lā tusammā `ibādatan illā ma`a at-tauḥīd. kamā anna ash-sholāta lā tusammā sholātan illā ma`a ath-thohāroh. fa idzā dakhola asy-syirku fī al-`ibādati fasadat. kal-ḥadatsi idzā dakhola fī ath-thohāroh.

[Al-Qawā`id Al-Arba`]

(Dengan nama Allah Yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang)

Aku memohon kepada Allah Yang Maha Mulia, Rabb Pemilik `Arsy yang agung, agar Dia melindungimu di dunia dan akhirat, menjadikanmu seorang yang diberkahi di mana pun engkau berada, serta menjadikanmu termasuk orang yang apabila diberi nikmat ia bersyukur, apabila diuji ia bersabar, dan apabila berbuat dosa ia beristighfar. Sesungguhnya 3 perkara itulah tanda kebahagiaan.

Ketahuilah —semoga Allah membimbingmu untuk taat kepadaNya— bahwa Al-Ḥanīfiyyah adalah agama Ibrāhīm, yaitu engkau beribadah kepada Allah satu-satunya dengan memurnikan agama hanya untukNya. Sebagaimana firmanNya:

(Tidaklah Aku menciptakan jin dan manusia melainkan agar mereka beribadah kepadaKu.) [QS. Adz-Dzāriyāt 51:56] Adz-Dzāriyāt ayat 56.

Apabila engkau telah mengetahui bahwa Allah menciptakanmu untuk beribadah kepadaNya, maka ketahuilah bahwa suatu ibadah tidak disebut sebagai ibadah kecuali jika disertai tauḥid. Sebagaimana shalat tidak disebut shalat kecuali jika disertai dengan bersuci. Maka apabila syirik masuk ke dalam ibadah, rusaklah ibadah tersebut, sebagaimana ḥadats yang masuk ke dalam kesucian akan merusaknya.


Tsalātsatul Ushūl wa Syurūthish-Sholāh wal-Qowā`idil-Arba`
(كتاب ثلاثة الأصول وشروط الصلاة والقواعد الأربع)
Halaman 42 Edisi Syamila
فَإِذَا عَرَفۡتَ أَنَّ الشِّرۡكَ إِذَا خَالَطَ الۡعِبَادَةَ أَفۡسَدَهَا، وَأَحۡبَطَ الۡعَمَلَ، وَصَارَ صَاحِبُهُ مِنَ الۡخَالِدِينَ فِي النَّارِ، عَرَفۡتَ أَنَّ أَهَمَّ مَا عَلَيۡكَ مَعۡرِفَةُ ذَٰلِكَ، لَعَلَّ اللّٰهَ أَنۡ يُخَلِّصَكَ مِنۡ هَٰذِهِ الشَّبَكَةِ، وَهِيَ الشِّرۡكُ بِاللّٰهِ، الَّذِي قَالَ اللّٰهُ تَعَالَىٰ فِيهِ:

(إِنَّ اللّٰهَ لَا يَغۡفِرُ أَن يُشۡرَكَ بِهِ وَيَغۡفِرُ مَا دُونَ ذَٰلِكَ لِمَن يَشَآءُ) [النِّسَاءِ: ١١٦] النِّسَاءُ آيَةُ ١١٦،

وَذَٰلِكَ بِمَعۡرِفَةِ أَرۡبَعِ قَوَاعِدَ ذَكَرَهَا اللّٰهُ تَعَالَىٰ فِي كِتَابِهِ.

اَلۡقَاعِدَةُ الۡأُولَىٰ: أَنۡ تَعۡلَمَ أَنَّ الۡكُفَّارَ الَّذِينَ قَاتَلَهُمۡ رَسُولُ اللّٰهِ صَلَّى اللّٰهُ عَلَيۡهِ وَسَلَّمَ يُقِرُّونَ بِأَنَّ اللّٰهَ تَعَالَىٰ هُوَ الۡخَالِقُ الرَّازِقُ الۡمُدَبِّرُ، وَأَنَّ ذَٰلِكَ لَمۡ يُدۡخِلۡهُمۡ فِي الۡإِسۡلَامِ، وَالدَّلِيلُ قَوۡلُهُ تَعَالَىٰ:

(قُلۡ مَن يَرۡزُقُكُمۡ مِنَ السَّمَآءِ وَالۡأَرۡضِ أَمَّن يَمۡلِكُ السَّمۡعَ وَالۡأَبۡصَارَ وَمَن يُخۡرِجُ الۡحَيَّ مِنَ الۡمَيِّتِ وَيُخۡرِجُ الۡمَيِّتَ مِنَ الۡحَيِّ وَمَن يُدَبِّرُ الۡأَمۡرَ فَسَيَقُولُونَ اللّٰهُ، فَقُلۡ أَفَلَا تَتَّقُونَ) [يُونُسَ: ٣١] يُونُسُ آيَةُ ٣١.

fa idzā `arofta anna asy-syirka idzā khōlatho al-`ibādata afsadahā, wa aḥbatho al-`amala, wa shōro shōḥibuhu minal-khōlidīna fīn-nār. `arofta anna ahamma mā `alaika ma`rifatu dzālika. la`allallāha an yukhollishoka min hādzihi asy-syabakah. wa hiya asy-syirku billāhi, alladzī qōla allāhu ta`ālā fīhi:(innallāha lā yaghfiru an yusyroka bihi wa yaghfiru mā dūna dzālika liman yasyā’) [an-nisā’: 116] an-nisā’ āyatu 116.

wa dzālika bima`rifati arba`i qowā`ida dzakarohā allāhu ta`ālā fī kitābihi.

al-qō`idatul-ūlā.

an ta`lama anna al-kuffāro alladzīna qōtalahum rosūlullāhi shollallāhu `alaihi wa sallama, yuqirrūna bi’annallāha ta`ālā huwal-khōliqur-rōziqu al-mudabbiru. wa anna dzālika lam yudkhilhum fī al-islām.

wa ad-dalīlu qouluhu ta`ālā:

(qul man yarzuqukum minas-samā’i wal-ardhi, amman yamliku as-sam`a wal-abshōro, wa man yukhrijul-ḥayya minal-mayyiti, wa yukhrijul-mayyita minal-ḥayyi, wa man yudabbirul-amro. fasayaqūlūnallāhu. fa qul afalā tattaqūn.) [yūnus: 31] yūnus āyatu 31.

Apabila engkau telah mengetahui bahwa syirik, apabila bercampur dengan ibadah, akan merusaknya, menghapus pahala amal, dan menjadikan pelakunya termasuk penghuni neraka yang kekal, maka engkau akan mengetahui bahwa perkara yang paling penting bagimu adalah memahami hal tersebut.

Mudah-mudahan Allah menyelamatkanmu dari jerat ini, yaitu syirik kepada Allah, yang tentangnya Allah Ta`ālā berfirman:

(Sesungguhnya Allah tidak akan mengampuni dosa syirik kepada-Nya, dan Dia mengampuni dosa selain itu bagi siapa yang Dia kehendaki.) – [QS. An-Nisā’ 4:116] An-Nisā’ ayat 116.

Semua itu dapat diketahui dengan memahami 4 kaidah yang Allah Ta`ālā sebutkan di dalam Kitab-Nya.

Kaidah Pertama

Ketahuilah bahwa orang-orang kafir yang diperangi oleh Rasulullah C mengakui bahwa Allah Ta`ālā adalah Sang Pencipta, Maha Pemberi Rezeki, dan Pengatur seluruh urusan. Namun pengakuan tersebut tidak memasukkan mereka ke dalam Islam.

Dalilnya adalah firman Allah Ta`ālā:

(Katakanlah, ‘Siapakah yang memberi rezeki kepada kalian dari langit dan bumi? Atau siapakah yang menguasai pendengaran dan penglihatan? Siapakah yang mengeluarkan yang hidup dari yang mati dan mengeluarkan yang mati dari yang hidup? Dan siapakah yang mengatur segala urusan?’ Maka mereka akan menjawab, ‘Allah.’ Maka katakanlah, ‘Mengapa kalian tidak bertakwa?’) [QS. Yūnus 10:31] Yūnus ayat 31.


Tsalātsatul Ushūl wa Syurūthish-Sholāh wal-Qowā`idil-Arba`
(كتاب ثلاثة الأصول وشروط الصلاة والقواعد الأربع)
Halaman 43 Edisi Syamila
اَلۡقَاعِدَةُ الثَّانِيَةُ: أَنَّهُمۡ يَقُولُونَ: مَا دَعَوۡنَاهُمۡ وَتَوَجَّهۡنَآ إِلَيۡهِمۡ إِلَّا لِطَلَبِ الۡقُرۡبَةِ وَالشَّفَاعَةِ.

فَدَلِيلُ الۡقُرۡبَةِ قَوۡلُهُ تَعَالَىٰ: (وَالَّذِينَ اتَّخَذُوا مِن دُونِهِ أَوۡلِيَآءَ مَا نَعۡبُدُهُمۡ إِلَّا لِيُقَرِّبُونَآ إِلَى اللّٰهِ زُلۡفَىٰ، إِنَّ اللّٰهَ يَحۡكُمُ بَيۡنَهُمۡ فِي مَا هُمۡ فِيهِ يَخۡتَلِفُونَ، إِنَّ اللّٰهَ لَا يَهۡدِي مَنۡ هُوَ كَاذِبٌ كَفَّارٌ) [الزُّمَرِ: ٣] الزُّمَرُ آيَةُ ٣.

وَدَلِيلُ الشَّفَاعَةِ قَوۡلُهُ تَعَالَىٰ: (وَيَعۡبُدُونَ مِن دُونِ اللّٰهِ مَا لَا يَضُرُّهُمۡ وَلَا يَنفَعُهُمۡ وَيَقُولُونَ هَٰٓؤُلَآءِ شُفَعَٰٓؤُنَا عِندَ اللّٰهِ) [يُونُسَ: ١٨] يُونُسُ آيَةُ ١٨.

وَالشَّفَاعَةُ شَفَاعَتَانِ:

١ – شَفَاعَةٌ مَنۡفِيَّةٌ.
٢ – وَشَفَاعَةٌ مُثۡبَتَةٌ.

فَالشَّفَاعَةُ الۡمَنۡفِيَّةُ: مَا كَانَتۡ تُطۡلَبُ مِنۡ غَيۡرِ اللّٰهِ فِيمَا لَا يَقۡدِرُ عَلَيۡهِ إِلَّا اللّٰهُ.

وَالدَّلِيلُ قَوۡلُهُ تَعَالَىٰ: (يَٰأَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوٓا أَنفِقُوا مِمَّا رَزَقۡنَاكُم مِّن قَبۡلِ أَن يَأۡتِيَ يَوۡمٞ لَّا بَيۡعٞ فِيهِ وَلَا خُلَّةٞ وَلَا شَفَاعَةٞ، وَالۡكَافِرُونَ هُمُ الظَّالِمُونَ) [الۡبَقَرَةِ: ٢٥٤] الۡبَقَرَةُ آيَةُ ٢٥٤.

al-qō`idatu ats-tsāniyah.annahum yaqūlūna: mā da`aunāhum wa tawajjahnā ilaihim, illā litholabi al-qurbati wa asy-syafā`ah.

fa dalīlu al-qurbati qouluhu ta`ālā: (walladzīna ittakhodzū min dūnihi auliyā’a, mā na`buduhum illā liyuqorribūnā ilā allāhi zulfā. innallāha yaḥkumu bainahum fī mā hum fīhi yakhtalifūn. innallāha lā yahdī man huwa kādzibun kaffār.) [az-zumar: 3] az-zumaru āyatu 3.

wa dalīlu asy-syafā`ati qouluhu ta`ālā: (wa ya`budūna min dūnillāhi mā lā yadhurruhum wa lā yanfa`uhum, wa yaqūlūna hā’ulā’i syufa`ā’unā `indallāh.) [yūnusa: 18] yūnusu āyatu 18.

wa asy-syafā`atu syafā`atān.

1 – syafā`atun manfiyyah.
2 – wa syafā`atun mutsbatah.

fa asy-syafā`atu al-manfiyyah. mā kānat tuthlabu min ghoirillāhi, fīmā lā yaqdiru `alaihi illāllāh.

wa ad-dalīlu qouluhu ta`ālā: (yā ayyuhā alladzīna āmanū anfiqū mimmā rozaqnākum min qobli an ya’tiya yaumun lā bai`un fīhi wa lā khullatun wa lā syafā`ah, wal-kāfirūna humuzh-zhōlimūn.) [al-baqoroh: 254] al-baqoroh ayat 254.

Kaidah Kedua

Mereka berkata, “Kami tidak berdoa kepada mereka dan tidak pula mengarahkan ibadah kepada mereka, kecuali untuk mencari kedekatan (kepada Allah) dan memperoleh syafa`at.”

Dalil tentang mencari kedekatan adalah firman Allah Ta`ālā:

(Dan orang-orang yang mengambil pelindung selain Dia berkata, ‘Kami tidak menyembah mereka melainkan agar mereka mendekatkan kami kepada Allah dengan sedekat-dekatnya.’ Sesungguhnya Allah akan memberikan keputusan di antara mereka tentang apa yang mereka perselisihkan. Sesungguhnya Allah tidak memberi petunjuk kepada orang yang pendusta lagi sangat kufur.) [QS. Az-Zumar 39:3] Az-Zumar ayat 3.

Dalil tentang syafa`at adalah firman Allah Ta`ālā:

(Mereka menyembah selain Allah sesuatu yang tidak dapat memberi mudarat kepada mereka dan tidak pula memberi manfaat kepada mereka. Mereka berkata, ‘Mereka itulah pemberi syafa`at kami di sisi Allah.’) [QS. Yūnus 10:18] Yūnus ayat 18.

Syafa`at ada 2 macam:

1. Syafa`at yang dinafikan.
2. Syafa`at yang ditetapkan.

Adapun syafa`at yang dinafikan adalah syafa`at yang diminta kepada selain Allah dalam perkara yang tidak mampu dilakukan kecuali oleh Allah.

Dalilnya adalah firman Allah Ta`ālā:

(Wahai orang-orang yang beriman! Infakkanlah sebagian dari rezeki yang telah Kami berikan kepada kalian sebelum datang suatu hari yang pada hari itu tidak ada lagi jual beli, tidak ada persahabatan, dan tidak ada syafa`at. Orang-orang kafir itulah orang-orang yang zhalim.) [QS. Al-Baqarah 2:254] Al-Baqarah ayat 254.


Tsalātsatul Ushūl wa Syurūthish-Sholāh wal-Qowā`idil-Arba`
(كتاب ثلاثة الأصول وشروط الصلاة والقواعد الأربع)
Halaman 44 Edisi Syamila
وَالشَّفَاعَةُ الۡمُثۡبَتَةُ: هِيَ الَّتِي تُطۡلَبُ مِنَ اللّٰهِ، وَالشَّافِعُ مُكۡرَمٌ بِالشَّفَاعَةِ، وَالۡمَشۡفُوعُ لَهُ مَنۡ رَضِيَ اللّٰهُ عَنۡهُ قَوۡلَهُ وَعَمَلَهُ بَعۡدَ الۡإِذۡنِ، كَمَا قَالَ تَعَالَىٰ:

(مَن ذَا الَّذِي يَشۡفَعُ عِندَهُ إِلَّا بِإِذۡنِهِ) [الۡبَقَرَةِ: ٢٥٥] الۡبَقَرَةُ آيَةُ ٢٥٥.

wa asy-syafā`atu al-mutsbatah.hiya allatī tuthlabu minallāhi. wa asy-syāfi`u mukromun bisy-syafā`ah. wa al-masyfū`u lahu man rodhiyallāhu `anhu qoulahu wa `amalahu, ba`da al-idzni.

kamā qōla ta`ālā: (man dzālladzī yasyfa`u `indahu illā bi’idznih.) [al-baqoroh: 255] al-baqoroh ayat 255.

Adapun syafa`at yang ditetapkan adalah syafa`at yang diminta kepada Allah. Orang yang memberi syafa`at dimuliakan dengan syafa`at tersebut, sedangkan orang yang diberi syafa`at adalah orang yang Allah ridhai ucapan dan amalnya, setelah Allah memberikan izin.

Sebagaimana firman Allah Ta`ālā:

(Siapakah yang dapat memberi syafa`at di sisi-Nya kecuali dengan izinNya?) [QS. Al-Baqarah 2:255] Al-Baqarah ayat 255.


Tsalātsatul Ushūl wa Syurūthish-Sholāh wal-Qowā`idil-Arba`
(كتاب ثلاثة الأصول وشروط الصلاة والقواعد الأربع)
Halaman 45 Edisi Syamila
اَلۡقَاعِدَةُ الثَّالِثَةُ: أَنَّ النَّبِيَّ صَلَّى اللّٰهُ عَلَيۡهِ وَسَلَّمَ ظَهَرَ عَلَىٰ أُنَاسٖ مُّتَفَرِّقِينَ فِي عِبَادَاتِهِمۡ، مِنۡهُم مَّن يَعۡبُدُ الۡمَلَائِكَةَ، وَمِنۡهُم مَّن يَعۡبُدُ الۡأَنۢبِيَآءَ وَالصَّالِحِينَ، وَمِنۡهُم مَّن يَعۡبُدُ الۡأَشۡجَارَ وَالۡأَحۡجَارَ، وَمِنۡهُم مَّن يَعۡبُدُ الشَّمۡسَ وَالۡقَمَرَ، وَقَاتَلَهُمۡ رَسُولُ اللّٰهِ صَلَّى اللّٰهُ عَلَيۡهِ وَسَلَّمَ وَلَمۡ يُفَرِّقۡ بَيۡنَهُمۡ، وَالدَّلِيلُ قَوۡلُهُ تَعَالَىٰ:

(وَقَاتِلُوهُمۡ حَتَّىٰ لَا تَكُونَ فِتۡنَةٞ وَيَكُونَ الدِّينُ كُلُّهُ لِلّٰهِ) [الۡأَنفَالِ: ٣٩] الۡأَنفَالُ آيَةُ ٣٩.

وَدَلِيلُ الشَّمۡسِ وَالۡقَمَرِ قَوۡلُهُ تَعَالَىٰ: (وَمِنۡ ءَايَاتِهِ الَّيۡلُ وَالنَّهَارُ وَالشَّمۡسُ وَالۡقَمَرُ، لَا تَسۡجُدُوا لِلشَّمۡسِ وَلَا لِلۡقَمَرِ وَاسۡجُدُوا لِلّٰهِ الَّذِي خَلَقَهُنَّ إِن كُنتُمۡ إِيَّاهُ تَعۡبُدُونَ) [فُصِّلَتۡ: ٣٧] فُصِّلَتۡ آيَةُ ٣٧.

وَدَلِيلُ الۡمَلَائِكَةِ قَوۡلُهُ تَعَالَىٰ: (وَلَا يَأۡمُرَكُمۡ أَن تَتَّخِذُوا الۡمَلَائِكَةَ وَالنَّبِيِّۦنَ أَرۡبَابًا) [آلِ عِمۡرَانَ: ٨٠] آلُ عِمۡرَانَ آيَةُ ٨٠.

وَدَلِيلُ الۡأَنۢبِيَاءِ قَوۡلُهُ تَعَالَىٰ: (وَإِذۡ قَالَ اللّٰهُ يَٰعِيسَى ابۡنَ مَرۡيَمَ ءَأَنتَ قُلۡتَ لِلنَّاسِ اتَّخِذُونِي وَأُمِّيَ إِلَٰهَيۡنِ مِن دُونِ اللّٰهِ، قَالَ سُبۡحَانَكَ مَا يَكُونُ لِيٓ أَنۡ أَقُولَ مَا لَيۡسَ لِي بِحَقٍّ، إِن كُنتُ قُلۡتُهُ فَقَدۡ عَلِمۡتَهُ، تَعۡلَمُ مَا فِي نَفۡسِي وَلَآ أَعۡلَمُ مَا فِي نَفۡسِكَ، إِنَّكَ أَنتَ عَلَّامُ الۡغُيُوبِ) [الۡمَائِدَةِ: ١١٦] الۡمَائِدَةُ آيَةُ ١١٦.

al-qō`idatu ats-tsālitsah.anna an-nabiyya shollallāhu `alaihi wa sallama zhoharo `alā unāsin mutafarriqīna fī `ibādātihim. minhum man ya`budu al-malā’ikah. wa minhum man ya`budu al-anbiyā’a wa ash-shōliḥīn. wa minhum man ya`budu al-asyjāro wal-aḥjār. wa minhum man ya`budu asy-syamsa wal-qomar. wa qōtalahum rosūlullāhi shollallāhu `alaihi wa sallam. wa lam yufarriq bainahum.

wa ad-dalīlu qouluhu ta`ālā: (wa qōtilūhum ḥattā lā takūna fitnatun wa yakūna ad-dīnu kulluhu lillāh.) [al-anfāl: 39] al-anfāl ayat 39.

wa dalīlu asy-syamsi wal-qomari qouluhu ta`ālā: (wa min āyātihi al-lailu wan-nahāru wasy-syamsu wal-qomar. lā tasjudū lisy-syamsi wa lā lil-qomar. wasjudū lillāhi alladzī kholaqohunna in kuntum iyyāhu ta`budūn.) [fushshilat: 37] fushshilat ayat 37.

wa dalīlu al-malā’ikati qouluhu ta`ālā: (wa lā ya’murokum an tattakhidzū al-malā’ikata wan-nabiyyīna arbābā.) [āli `imrōn: 80] āli `imrōn ayat 80.

wa dalīlu al-anbiyā’i qouluhu ta`ālā: (wa idz qōlallāhu yā `īsā ibna maryama. a’anta qulta lin-nāsi ittakhidzūnī wa ummiya ilāhaini min dūnillāh. qōla subḥānaka. mā yakūnu lī an aqūla mā laisa lī biḥaqq. in kuntu qultuhu faqod `alimtah. ta`lamu mā fī nafsī wa lā a`lamu mā fī nafsik. innaka anta `allāmu al-ghuyūb.) [al-mā’idah: 116] al-mā’idah ayat 116.

Kaidah Ketiga

Sesungguhnya Nabi Muḥammad C diutus kepada orang-orang yang berbeda-beda dalam bentuk ibadah mereka. Di antara mereka ada yang menyembah malaikat, ada yang menyembah para nabi dan orang-orang shāliḥ, ada yang menyembah pohon dan batu, dan ada pula yang menyembah matahari serta bulan. Rasulullah C memerangi mereka semuanya dan tidak membedakan di antara mereka.

Dalilnya adalah firman Allah Ta`ālā:

(Perangilah mereka hingga tidak ada lagi fitnah, dan agama seluruhnya hanya untuk Allah.) [QS. Al-Anfāl 8:39] Al-Anfāl ayat 39.

Dalil mengenai matahari dan bulan adalah firman Allah Ta`ālā:

(Di antara tanda-tanda kekuasaan-Nya ialah malam, siang, matahari, dan bulan. Janganlah kalian bersujud kepada matahari dan jangan pula kepada bulan, tetapi bersujudlah kepada Allah yang menciptakan semuanya, jika benar hanya kepada-Nya kalian beribadah.) [QS. Fushshilat 41:37] Fushshilat ayat 37.

Dalil mengenai malaikat adalah firman Allah Ta`ālā:

(Dan Dia tidak pernah menyuruh kalian menjadikan para malaikat dan para nabi sebagai tuhan-tuhan.) [QS. Āli `Imrān 3:80] Āli `Imrān ayat 80.

Dalil mengenai para nabi adalah firman Allah Ta`ālā:

(Dan (ingatlah) ketika Allah berfirman, ‘Wahai `Īsā putra Maryam! Apakah engkau pernah mengatakan kepada manusia: Jadikanlah aku dan ibuku sebagai dua tuhan selain Allah?’ `Īsā menjawab, ‘Maha Suci Engkau. Tidak pantas bagiku mengatakan sesuatu yang bukan hakku. Jika aku pernah mengatakannya, tentu Engkau telah mengetahuinya. Engkau mengetahui apa yang ada dalam diriku, sedangkan aku tidak mengetahui apa yang ada pada diriMu. Sesungguhnya Engkaulah Yang Maha Mengetahui segala yang gaib.’) [QS. Al-Mā’idah 5:116] Al-Mā’idah ayat 116.


Tsalātsatul Ushūl wa Syurūthish-Sholāh wal-Qowā`idil-Arba`
(كتاب ثلاثة الأصول وشروط الصلاة والقواعد الأربع)
Halaman 46 Edisi Syamila
وَدَلِيلُ الصَّالِحِينَ قَوۡلُهُ تَعَالَىٰ:

(أُولَٰٓئِكَ الَّذِينَ يَدۡعُونَ يَبۡتَغُونَ إِلَىٰ رَبِّهِمُ الۡوَسِيلَةَ أَيُّهُمۡ أَقۡرَبُ وَيَرۡجُونَ رَحۡمَتَهُ وَيَخَافُونَ عَذَابَهُ) [الۡإِسۡرَاءِ: ٥٧] الۡإِسۡرَاءُ آيَةُ ٥٧.

وَدَلِيلُ الۡأَشۡجَارِ وَالۡأَحۡجَارِ قَوۡلُهُ تَعَالَىٰ: (أَفَرَءَيۡتُمُ اللَّاتَ وَالۡعُزَّىٰ، وَمَنَوٰةَ الثَّالِثَةَ الۡأُخۡرَىٰ) [النَّجۡمِ: ١٩-٢٠] النَّجۡمُ الآيَتَانِ ١٩، ٢٠.

وَحَدِيثُ أَبِي وَاقِدٍ اللَّيۡثِيِّ رَضِيَ اللّٰهُ عَنۡهُ، قَالَ:

«خَرَجۡنَا مَعَ النَّبِيِّ صَلَّى اللّٰهُ عَلَيۡهِ وَسَلَّمَ إِلَىٰ حُنَيۡنٍ وَنَحۡنُ حُدَثَاءُ عَهۡدٍ بِكُفۡرٍ، وَلِلۡمُشۡرِكِينَ سِدۡرَةٞ يَعۡكُفُونَ عِندَهَا وَيَنُوطُونَ بِهَآ أَسۡلِحَتَهُمۡ يُقَالُ لَهَا ذَاتُ أَنۡوَاطٍ، فَمَرَرۡنَا بِسِدۡرَةٖ فَقُلۡنَا: يَا رَسُولَ اللّٰهِ، اجۡعَل لَّنَا ذَاتَ أَنۡوَاطٍ كَمَا لَهُمۡ ذَاتُ أَنۡوَاطٍ»

الۡحَدِيثُ.

wa dalīlu ash-shōliḥīna qouluhu ta`ālā: (ulā’ika alladzīna yad`ūna yabtaghūna ilā robbihimu al-wasīlata ayyuhum aqrobu. wa yarjūna raḥmatahu. wa yakhōfūna `adzābah.) [al-isrō’: 57] al-isrō’ ayat 57.wa dalīlu al-asyjāri wal-aḥjāri qouluhu ta`ālā: (a faro’aitumu al-lāta wal-`uzzā. wa manāta ats-tsālitsata al-ukhrō.) [an-najm: 19-20] an-najm ayat 19–20.

wa ḥadītsu abī wāqidin al-laitsiyyi rodhiyallāhu `anhu, qōla: (khorojnā ma`a an-nabiyyi shollallāhu `alaihi wa sallama ilā ḥunain. wa naḥnu ḥudatsā’u `ahdin bikufrin. wa lil-musyrikīna sidrotun ya`kufūna `indahā. wa yanūthūna bihā asliḥatahum. yuqōlu lahā dzātu anwāth. fa marornā bisidrotin fa qulnā. yā rosūlallāh. ij`al lanā dzāta anwāthin kamā lahum dzātu anwāth.)

al-ḥadīts.

Dalil mengenai orang-orang saleh adalah firman Allah Ta`ālā:

(Orang-orang yang mereka seru itu sendiri mencari jalan untuk mendekatkan diri kepada Rabb mereka, siapa di antara mereka yang lebih dekat. Mereka mengharapkan rahmatNya dan takut terhadap adzabNya.) [QS. Al-Isrā’ 17:57] Al-Isrā’ ayat 57.

Dalil mengenai pohon dan batu adalah firman Allah Ta`ālā:

(Maka apakah kalian telah memperhatikan al-lāta dan al-`uzzā, serta manāt yang ke-3, yang terakhir?) [QS. An-Najm 53:19–20] An-Najm ayat 19–20.

Ḥadits Abū Wāqid Al-Laitsī radhiyallāhu `anhu:

Kami pernah keluar bersama Nabi C menuju Ḥunain, sedangkan kami baru saja meninggalkan kekafiran. Orang-orang musyrik mempunyai sebuah pohon bidara yang mereka beri’tikaf di sisinya dan menggantungkan senjata-senjata mereka padanya. Pohon itu disebut Dzātu Anwāth. Ketika kami melewati sebuah pohon bidara, kami berkata, ‘Wahai Rasulullah, jadikanlah untuk kami Dzātu Anwāth sebagaimana mereka mempunyai Dzātu Anwāth.’

(Ḥadits selengkapnya…)


Tsalātsatul Ushūl wa Syurūthish-Sholāh wal-Qowā`idil-Arba`
(كتاب ثلاثة الأصول وشروط الصلاة والقواعد الأربع)
Halaman 47 Edisi Syamila
اَلۡقَاعِدَةُ الرَّابِعَةُ: أَنَّ مُشۡرِكِي زَمَانِنَآ أَغۡلَظُ شِرۡكٗا مِنَ الۡأَوَّلِينَ، لِأَنَّ الۡأَوَّلِينَ يُشۡرِكُونَ فِي الرَّخَآءِ وَيُخۡلِصُونَ فِي الشِّدَّةِ، وَمُشۡرِكُو زَمَانِنَا شِرۡكُهُمۡ دَآئِمٞ فِي الرَّخَآءِ وَالشِّدَّةِ، وَالدَّلِيلُ قَوۡلُهُ تَعَالَىٰ:

(فَإِذَا رَكِبُوا فِي الۡفُلۡكِ دَعَوُا اللّٰهَ مُخۡلِصِينَ لَهُ الدِّينَ، فَلَمَّا نَجَّىٰهُمۡ إِلَى الۡبَرِّ إِذَا هُمۡ يُشۡرِكُونَ) [الۡعَنكَبُوتِ: ٦٥] الۡعَنكَبُوتُ آيَةُ ٦٥.

(تَمَّتۡ، وَصَلَّى اللّٰهُ عَلَىٰ مُحَمَّدٖ وَآلِهِ وَصَحۡبِهِ وَسَلَّمَ)

al-qō`idatu ar-rōbi`ah.anna musyrikī zamāninā aghlazhu syirkan minal-awwalīn. li’anna al-awwalīna yusyrikūna fī ar-rokhō’. wa yukhlishūna fī asy-syiddah. wa musyrikū zamāninā syirkuhum dā’imun fī ar-rokhō’i wa asy-syiddah.

wa ad-dalīlu qouluhu ta`ālā:

(fa idzā rokibū fī al-fulki da`awū allāha mukhlishīna lahud-dīn. fa lammā najjāhum ilā al-barri idzā hum yusyrikūn.) [al-`ankabūt 65] al-`ankabūt ayat 65.

(tammat. wa shollallāhu `alā muḥammadin wa ālihi wa shoḥbihi wa sallam.)

Kaidah Keempat

Sesungguhnya orang-orang musyrik pada zaman kita lebih berat kesyirikannya daripada orang-orang musyrik terdahulu. Sebab, orang-orang musyrik terdahulu berbuat syirik ketika dalam keadaan lapang, tetapi mereka memurnikan ibadah kepada Allah ketika berada dalam kesulitan. Adapun orang-orang musyrik pada zaman kita, kesyirikan mereka berlangsung terus-menerus, baik ketika dalam keadaan lapang maupun ketika dalam kesulitan.

Dalilnya adalah firman Allah Ta`ālā:

(Apabila mereka naik ke dalam kapal, mereka berdoa kepada Allah dengan memurnikan ketaatan hanya kepadaNya. Namun ketika Dia menyelamatkan mereka sampai ke daratan, tiba-tiba mereka kembali mempersekutukan Allah.) [QS. Al-`Ankabūt 29:65] Al-`Ankabūt ayat 65.

(Tamat. Semoga Allah melimpahkan shalawat dan salam kepada Muḥammad, keluarga beliau, dan para sahabat beliau.)