SYARAT, RUKUN, DAN WAJIB SHOLAT – MUḤAMMAD BIN `ABDUL-WAHHĀB
Sumber Referensi[a1]:
Syarat, Rukun, Dan Wajib Sholat
Penulis : Muḥammad bin `Abdul Wahhāb bin Sulaimān At-Tamīmī An-Najdī (wafat 1206 H) Halaman : 12 halaman
SYARAT, RUKUN, DAN WAJIB SHOLAT
Ditulis oleh: Muḥammad bin `Abdul Wahhab I
Dengan nama Allah Ar-Raḥmān Ar-Raḥīm
SYARAT SHOLAT
[Syarat Shalat Ada 9]
- Islam
- Berakal
- Tamyiz (kemampuan membedakan)
- Suci dari ḥadats
- Suci dari najis
- Menutup aurat
- Masuk waktu sholat
- Menghadap kiblat
- Niat
Syarat pertama: Islam, lawannya adalah kafir. Orang kafir amalnya tertolak, amalan apa pun.
Dalilnya firman Allah Ta`ālā:
“Tidaklah pantas orang-orang musyrik memakmurkan masjid-masjid Allah sedang mereka mengakui kekafiran terhadap diri mereka sendiri. Amalan mereka sia-sia dan mereka kekal di dalam neraka.” – [QS.At-Taubah 9:17]
Dan firman-Nya Ta`ālā:
“Kami perlihatkan kepada mereka semua amal yang mereka kerjakan, lalu Kami jadikan amal itu debu yang beterbangan.” – [QS.Al-Furqān 25:23]
Syarat kedua: berakal, lawannya gila. Orang gila diangkat darinya pena hingga ia waras kembali.
Dalilnya ḥadits:
“Pena diangkat dari 3 golongan: orang yang tidur sampai ia bangun, orang gila sampai ia waras, dan anak kecil sampai ia baligh.” – ḤR. Aḥmad, Abu Dāwud, An-Nasā’i, dan Ibnu Mājah[a2]
—
Syarat ketiga: tamyiz (mampu membedakan), lawannya adalah masih kecil. Batasnya adalah 7 tahun. Pada usia itu anak diperintahkan untuk sholat.
Dalilnya adalah sabda Nabi C:
“Perintahkan anak-anak kalian untuk sholat pada usia 7 tahun, pukullah mereka pada usia 10 tahun, dan pisahkan tempat tidur mereka.” – ḤR. Al-Ḥākim, Aḥmad, dan Abu Dāwud
Syarat keempat: suci dari ḥadats, yaitu dengan berwudhu yang sudah dikenal tata caranya, dan yang membuatnya wajib adalah ḥadats.
WUDHU’
Syarat wudhu’ ada 10:
- Islam
- Berakal
- Tamyiz (kemampuan membedakan)
- Niat
- Tetap mempertahankan niat sampai selesai bersuci
- Terputusnya sebab ḥadats
- Istinja’ atau istijmar sebelumnya
- Air yang suci lagi menyucikan
- Air yang mubah
- Menghilangkan sesuatu yang menghalangi sampainya air ke kulit
- Masuknya waktu sholat bagi orang yang ḥadatsnya terus-menerus untuk shalat fardhunya
Adapun rukun wudhu’ ada 6:
- Membasuh wajah, termasuk berkumur dan menghirup air ke hidung; batas wajah memanjang dari tempat tumbuh rambut kepala hingga dagu, dan melebar hingga kedua telinga;
- Membasuh kedua tangan sampai siku;
- Mengusap seluruh kepala termasuk kedua telinga;
- Membasuh kedua kaki sampai mata kaki;
- Tertib;
- Berkesinambungan (muwālāh).
Dalilnya adalah firman Allah Ta`ālā:
“Wahai orang-orang yang beriman, apabila kalian hendak melaksanakan shalat maka basuhlah wajah-wajah kalian dan tangan-tangan kalian sampai siku, usaplah kepala kalian dan basuhlah kaki-kaki kalian sampai kedua mata kaki.” – [QS.Al-Mā’idah 5:6]
Dalil tentang tertib adalah ḥadits:
“Mulailah dengan apa yang Allah mulai dengannya.” – ḤR. Aḥmad, Muslim, dan An-Nasā’ī[a3]
—
Dalil muwālāh (berkesinambungan dalam wudhu) adalah ḥadīts tentang seseorang yang sebagian kecil kakinya tidak terkena air. Nabi C melihat seorang laki-laki yang pada kakinya terdapat bagian sebesar dirham yang tidak terkena air, lalu beliau memerintahkannya untuk mengulangi wudhunya.
Wajib wudhu adalah membaca bismillāh apabila ingat.
Pembatal-pembatal wudhu ada 8:
- Keluar sesuatu dari dua jalan (kemaluan atau dubur)
- Keluarnya najis yang banyak dari tubuh
- Hilang akal
- Menyentuh wanita dengan syahwat
- Menyentuh kemaluan dengan tangan
- Baik bagian depan maupun belakang
- Memakan daging unta
- Memandikan mayit
- Murtad dari Islam
Semoga Allah melindungi kita dari hal tersebut.
Syarat kelima: menghilangkan najis dari 3 tempat, yaitu badan, pakaian, dan tempat shalat.
Dalilnya firman Allah Ta`ālā:
“Dan pakaianmu bersihkanlah.” – [QS.Al-Muddatstsir 74:4]
Syarat keenam: menutup aurat.
Para ulama telah bersepakat bahwa shalat orang yang shalat dalam keadaan telanjang padahal mampu menutup aurat adalah tidak sah.
Batas aurat laki-laki adalah dari pusar sampai lutut. Aurat budak perempuan juga sama.
Adapun wanita merdeka seluruh tubuhnya adalah aurat kecuali wajahnya.
Dalilnya firman Allah Ta`ālā:
“Wahai anak-anak Adam, pakailah pakaianmu yang bagus pada setiap (memasuki) masjid.” – [QS.Al-A`rāf 7:31]
Maksudnya: pada setiap shalat.[a4]
—
Syarat ketujuh: masuknya waktu shalat.
Dalil dari sunnah adalah ḥadīts Jibril D, bahwa beliau mengimami Nabi C pada awal waktu dan pada akhir waktu, kemudian berkata:
“Wahai Muḥammad, waktu sholat berada di antara dua waktu ini.”
Dan firman Allah Ta`ālā:
“Sesungguhnya shalat itu adalah kewajiban yang ditentukan waktunya atas orang-orang yang beriman.” – [QS.An-Nisā’ 4:103]
Maksudnya: diwajibkan pada waktu-waktu yang telah ditetapkan.
Dalil waktu-waktu shalat adalah firman Allah Ta`ālā:
“Dirikanlah shalat dari sesudah matahari tergelincir sampai gelap malam, dan (dirikanlah pula) shalat Shubuh. Sesungguhnya shalat Shubuh itu disaksikan.” – [QS.Al-Isrā’ 17:78]
Syarat kedelapan: menghadap kiblat.
Dalilnya firman Allah Ta`ālā:
“Sungguh Kami melihat wajahmu menengadah ke langit, maka sungguh Kami akan memalingkan engkau ke kiblat yang engkau sukai. Maka hadapkanlah wajahmu ke arah Masjidil Ḥaram. Dan di mana saja kalian berada, hadapkanlah wajah kalian ke arahnya.” – [QS.Al-Baqarah 2:144]
Syarat kesembilan: niat.
Tempat niat adalah di dalam hati, sedangkan melafalkannya adalah bid`ah.
Dalilnya adalah ḥadīts:
“Sesungguhnya amalan itu tergantung niatnya, dan setiap orang akan mendapatkan sesuai dengan apa yang ia niatkan.” – ḤR. Al-Bukhārī 1, Muslim 1907, At-Tirmidzī 1647, An-Nasā’ī 75 3437 3794, Abu Dāwud 2201, Ibn Mājah 4227, dan Aḥmad (1/25, 1/43)[a5]
—
RUKUN SHOLAT
Rukun Shalat ada 14.
- Berdiri bagi yang mampu
- Takbiratul iḥram
- Membaca Al-Fatiḥah
- Ruku`
- Bangkit dari ruku`
- Sujud di atas 7 anggota badan
- I`tidal
- Duduk di antara 2 sujud
- Thuma’ninah dalam semua rukun
- Tertib
- Tasyahud akhir
- Duduk untuk tasyahud akhir
- Sholawat kepada Nabi C
- 2 salam
Rukun pertama: berdiri bagi yang mampu.
Dalilnya firman Allah Ta`ālā:
“Peliharalah shalat-shalat dan shalat wustha serta berdirilah untuk Allah dengan khusyuk.” – [QS.Al-Baqarah 2:238]
Rukun kedua: takbiratul iḥram.
Dalilnya ḥadīts:
“Pembukaan shalat adalah takbir, dan penutupnya adalah salam.” – ḤR. At-Tirmidzi 3, Ibn Mājah 275, Aḥmad (1/123, 1/129), dan Ad-Dārimi 687
Setelah itu doa istiftah, yang mana itu merupakan sunnah:
subḥānaka allāhumma wa biḥamdika wa tabārokasmuka wa ta`ālā jadduka wa lā ilāha ghoiruk.
Maknanya:
-
- subḥānaka allāhumma: aku menyucikan Engkau dengan penyucian yang layak bagi keagungan-Mu
- wa biḥamdika: pujian kepada-Mu
- tabārokasmuka: keberkahan diperoleh dengan menyebut nama-Mu
- ta`ālā jadduka: Maha Tinggi kebesaran-Mu
- lā ilāha ghoiruk: tidak ada sembahan yang benar selain Engkau
- a`ūdzu billāhi minasy-syaithōnir-rojīm: aku berlindung kepada Allah dari setan yang terkutuk, yang dijauhkan dari raḥmat Allah, yang tidak membahayakan dalam agama dan dunia
—
Rukun ketiga: Membaca Al-Fātiḥah adalah rukun pada setiap rakaat, sebagaimana dalam ḥadīts:
“Tidak sah sholat bagi orang yang tidak membaca Fātiḥatul Kitāb.” – ḤR. Al-Bukhāri 756; Muslim 394; At-Tirmidzi 247; An-Nasā’ī 910, 911; Abū Dāwud 822; Ibn Mājah 837; Aḥmad (5/313, 5/316, 5/321); dan Ad-Dārimi 1242.
Al-Fātiḥah adalah Ummul Qur’ān.
bismillāhir-roḥmānir-roḥīm: mengandung makna memohon keberkahan dan pertolongan.
al-ḥamdu lillāh: Al-ḥamdu berarti pujian. Alif dan lam pada kata tersebut menunjukkan seluruh macam pujian.
Adapun pujian terhadap sesuatu yang indah yang tidak berkaitan dengan perbuatannya, seperti ketampanan, kecantikan, dan semisalnya, maka itu disebut madḥ (sanjungan), bukan ḥamd.
Rabbil-`ālamīn: Ar-Rabb adalah Yang disembah, Yang menciptakan, Yang memberi rezeki, Yang memiliki dan mengatur, serta Yang memelihara seluruh makhluk dengan berbagai nikmat.
al-`ālamīn adalah segala sesuatu selain Allah, dan Dia adalah Rabb bagi seluruhnya.
Ar-Raḥmān: Raḥmat yang umum bagi seluruh makhluk.
Ar-Raḥīm: Raḥmat yang khusus bagi orang-orang beriman.
Dalilnya adalah firman Allah Ta`ālā:
“Dan Dia Maha Penyayang kepada orang-orang yang beriman.”- [QS.Al-Aḥzāb 33:43][a7]
—
māliki yaumid-dīn “Pemilik Hari Pembalasan”
Yaitu hari pembalasan dan perhitungan, hari ketika setiap orang dibalas sesuai amalnya. Jika amalnya baik maka balasannya baik, dan jika amalnya buruk maka balasannya buruk.
Dalilnya firman Allah Ta`ālā:
“Tahukah kamu apakah Hari Pembalasan itu? Kemudian tahukah kamu apakah Hari Pembalasan itu? Pada hari itu seseorang tidak berdaya sedikit pun untuk menolong orang lain, dan segala urusan pada hari itu milik Allah.” – [QS.Al-Infithār 82:17–19]
Dan ḥadīts Nabi C:
“Orang yang cerdas adalah orang yang menghisab dirinya dan beramal untuk kehidupan setelah kematian. Sedangkan orang yang lemah adalah orang yang mengikuti hawa nafsunya dan hanya berangan-angan kepada Allah.” – ḤR. Aḥmad, At-Tirmidzi, Ibn Mājah, dan Al-Ḥākim
iyyāka na`bud “Hanya kepada-Mu kami menyembah”
Artinya: kami tidak menyembah selain Engkau. Ini adalah perjanjian antara hamba dengan Rabbnya bahwa ia tidak akan menyembah selain Allah.
wa iyyāka nasta`īn “Dan hanya kepada-Mu kami memohon pertolongan”
Ini adalah perjanjian antara hamba dengan Rabbnya bahwa ia tidak akan meminta pertolongan kepada selain Allah.
ihdinash-shirōthol-mustaqīm “Tunjukilah kami jalan yang lurus”
Makna ihdina “tunjukilah kami”: berilah petunjuk, bimbingan, dan keteguhan kepada kami.
shirōth “Jalan” adalah Islam. Ada pula yang menafsirkannya dengan Rasul, dan ada yang menafsirkannya dengan Al-Qur’an. Semua makna tersebut benar.
al-mustaqīm “Yang lurus” yaitu yang tidak memiliki penyimpangan.
shirōtholladzīna an`amta `alaihim “Jalan orang-orang yang telah Engkau beri nikmat kepada mereka”
Yaitu jalan orang-orang yang memperoleh nikmat dari Allah.
Dalilnya firman Allah Ta`ālā:
“Barang siapa menaati Allah dan Rasul, maka mereka akan bersama orang-orang yang diberi nikmat oleh Allah, yaitu para nabi, pecinta kebenaran, para syuhada, dan orang-orang shāliḥ. Mereka itulah sebaik-baik teman.” – [QS.An-Nisā’ 4:69] [a8]
—
ghoiril-maghdhūbi `alaihim “Bukan jalan orang-orang yang dimurkai”
Mereka adalah orang-orang Yahudi. Mereka memiliki ilmu tetapi tidak mengamalkannya.
Maka mintalah kepada Allah agar dijauhkan dari jalan mereka.
wa ladh-dhōllīn “Dan bukan pula jalan orang-orang yang sesat”
Mereka adalah orang-orang Nasrani. Mereka beribadah kepada Allah di atas kebodohan dan kesesatan.
Maka engkau memohon kepada Allah agar dijauhkan dari jalan mereka.
Dalil tentang orang-orang sesat adalah firman Allah Ta`ālā:
“Katakanlah: Maukah Kami beritahukan kepada kalian tentang orang-orang yang paling merugi perbuatannya? Yaitu orang-orang yang sia-sia usahanya dalam kehidupan dunia, sedangkan mereka mengira bahwa mereka telah berbuat sebaik-baiknya. Mereka itulah orang-orang yang kafir terhadap ayat-ayat Tuhan mereka dan terhadap pertemuan dengan-Nya, maka gugurlah amal-amal mereka, dan Kami tidak mengadakan suatu penilaian bagi mereka pada Hari Kiamat.” – [QS.Al-Kahf 18:103–105]
Dan sabda Nabi C:
“Kalian benar-benar akan mengikuti jalan orang-orang sebelum kalian sejengkal demi sejengkal dan sehasta demi sehasta. Sampai-sampai jika mereka masuk ke lubang biawak, niscaya kalian akan mengikutinya.”
Para sahabat bertanya:
“Wahai Rasulullah, apakah mereka itu Yahudi dan Nasrani?”
Beliau menjawab:
“Siapa lagi kalau bukan mereka?”
Keduanya (Bukhari dan Muslim) meriwayatkannya.
Ḥadīts kedua:
“Orang-orang Yahudi terpecah menjadi 71 golongan, orang-orang Nasrani terpecah menjadi 72 golongan, dan umat ini akan terpecah menjadi 73 golongan. Semuanya di neraka kecuali 1.”
Para sahabat bertanya:
“Siapakah golongan itu wahai Rasulullah?”
Beliau menjawab:
“Yaitu orang-orang yang berada di atas ajaran yang aku dan para sahabatku berada di atasnya.” – Diriwayatkan oleh 4 penyusun kitab Sunan. At-Tirmidzi berkata: “Ḥasan Shaḥīḥ.”[a9]
—
Rukun keempat sampai kedelapan: Ruku`, bangkit dari ruku`, sujud di atas tujuh anggota badan, i`tidal setelah ruku’, dan duduk di antara dua sujud.
Dalilnya adalah firman Allah Ta`ālā:
“Wahai orang-orang yang beriman, rukuklah dan sujudlah.” – [QS.Al-Ḥajj 22:77]
Dan sabda Nabi C:
“Aku diperintahkan untuk sujud di atas 7 tulang (anggota badan).” – ḤR. Al-Bukhāri dan Muslim
Rukun kesembilan sampai kesepuluh: Termasuk rukun pula thuma’ninah pada seluruh gerakan sholat dan tertib di antara rukun-rukunnya.
Dalilnya adalah ḥadīts orang yang salah dalam sholatnya.
Dari Abu Hurairah E berkata:
“Ketika kami sedang duduk bersama Nabi C, masuklah seorang laki-laki lalu sholat. Setelah itu ia memberi salam kepada Nabi C. Beliau bersabda:
‘Ulangi sholatmu, karena engkau belum sholat.’
Hal itu terjadi sampai 3 kali.
Lalu orang itu berkata:
‘Demi Dzat yang mengutus engkau dengan kebenaran sebagai nabi, aku tidak bisa melakukan yang lebih baik dari ini, maka ajarilah aku.’
Nabi C bersabda:
‘Apabila engkau berdiri untuk sholat maka bertakbirlah. Kemudian bacalah apa yang mudah bagimu dari Al-Qur’an. Kemudian rukuklah sampai engkau tenang (thuma’ninah) dalam keadaan rukuk. Kemudian bangkitlah sampai engkau tegak berdiri. Kemudian sujudlah sampai engkau tenang (thuma’ninah) dalam keadaan sujud. Kemudian bangkitlah sampai engkau tenang (thuma’ninah) dalam keadaan duduk. Kemudian lakukanlah demikian dalam seluruh sholatmu.'” – Ḥadits shaḥīḥ. Diriwayatkan oleh Al-Bukhāri, Muslim, dan selain keduanya.[a10]
—
Rukun kesebelas sampai keduabelas: Tasyahud akhir adalah rukun yang diwajibkan, sebagaimana dalam ḥadīts Ibnu Mas`ud E, beliau berkata:
“Dahulu kami mengucapkan sebelum tasyahud diwajibkan: as-salāmu `alallāhi min `ibādih, as-salāmu `alā jibrīl wa mīkā’īl Salam atas Allah dari hamba-hamba-Nya, salam atas Jibril dan Mika’il.”
Kemudian Nabi C bersabda:
“Janganlah kalian mengatakan: ‘Salam atas Allah dari hamba-hamba-Nya’, karena Allah adalah As-Salam. Akan tetapi ucapkanlah:
at-taḥiyyātu lillāhi wash-sholawātu wath-thoyyibāt, as-salāmu `alaika ayyuhan-nabiyyu wa roḥmatullāhi wa barokātuh, as-salāmu `alainā wa `alā `ibādillāhish-shōliḥīn, asyhadu an lā ilāha illallāh wa asyhadu anna muḥammadan `abduhū wa rosūluh
‘Segala penghormatan, sholat dan kebaikan adalah milik Allah. Semoga keselamatan, raḥmat Allah dan keberkahan-Nya tercurah kepadamu wahai Nabi. Semoga keselamatan tercurah kepada kami dan kepada hamba-hamba Allah yang shāliḥ. Aku bersaksi bahwa tidak ada tuhan yang benar kecuali Allah, dan aku bersaksi bahwa Muḥammad adalah hamba dan utusan-Nya.'” – An-Nasā’ī, Kitāb As-Sahw (1277)
Makna “At-Taḥiyyat” adalah seluruh bentuk pengagungan adalah milik Allah, baik dari sisi kepemilikan maupun hak yang memang layak bagi-Nya.
Contohnya adalah membungkuk, rukuk, sujud, kekekalan, dan seluruh bentuk pengagungan yang digunakan untuk mengagungkan Rabb semesta alam.
Maka seluruhnya adalah milik Allah. Barang siapa memalingkan sedikit saja dari bentuk-bentuk pengagungan tersebut kepada selain Allah, maka ia termasuk musyrik dan kafir.[a11]
—
“Dan sholawat” maknanya adalah seluruh bentuk doa, dan ada pula yang mengatakan: shalat 5 waktu.
“Dan thoyyibat itu milik Allah”: Allah itu Maha Baik, dan tidak menerima dari ucapan maupun amal kecuali yang baik.
“Semoga keselamatan atasmu wahai Nabi, raḥmat Allah dan keberkahan-Nya”: engkau mendoakan Nabi C dengan keselamatan, raḥmat, dan keberkahan.
Dan orang yang didoakan tidak boleh disamakan dengan Allah dalam doa.
“Semoga keselamatan atas kami dan atas hamba-hamba Allah yang shāliḥ”: engkau mendoakan keselamatan untuk dirimu dan semua hamba Allah yang shāliḥ di langit dan di bumi.
Salam adalah doa, dan orang-orang shāliḥ didoakan, bukan dimintai doa bersama Allah.
“Saya bersaksi bahwa tidak ada yang berhak diibadahi kecuali Allah satu-satunya, tidak ada sekutu bagi-Nya, dan saya bersaksi bahwa Muḥammad adalah hamba dan rasulNya”:
Kesaksian ini adalah keyakinan bahwa tidak ada yang berhak diibadahi di bumi maupun di langit selain Allah.
Dan kesaksian bahwa Muḥammad adalah rasul Allah berarti beliau adalah hamba yang tidak diibadahi, dan rasul tidak didustakan, tetapi ditaati dan diikuti.
Allah memuliakan beliau dengan sifat kehambaan.
Dalilnya firman Allah Ta`ālā:
“Maha Suci (Allah) yang telah menurunkan Al-Furqān kepada hamba-Nya agar dia menjadi pemberi peringatan bagi seluruh alam.” – [QS.Al-Furqān 25:1]
Rukun ketigabelas: Shalawat.
allāhumma sholli `alā muḥammadin wa `alā āli muḥammadin kamā shollaita `alā ibrōhīma wa `alā āli ibrōhīm innaka ḥamīd
“Ya Allah, limpahkan shalawat kepada Muḥammad dan keluarga Muḥammad sebagaimana Engkau telah melimpahkan kepada Ibrahim dan keluarga Ibrahim. Sesungguhnya Engkau Maha Terpuji.”
Shalawat dari Allah adalah pujian-Nya kepada hamba di hadapan para malaikat yang tinggi.
Sebagaimana disebutkan dalam Shaḥiḥ Bukhari dari Abu Al-`Aliyah: shalawat Allah adalah pujian-Nya kepada hamba di hadapan malaikat.
Ada yang mengatakan: raḥmat, namun yang benar adalah pendapat pertama.
Dari malaikat berupa istighfar, dan dari manusia berupa doa.
“Dan bārik” dan setelahnya adalah sunnah dalam ucapan dan perbuatan.[a12]
—
WAJIB SHOLAT
Wajib sholat ada 8:
- Semua takbir selain takbiratul iḥrām
- Mengucapkan subḥāna robbiyal-`azhīm ketika ruku`
- Mengucapkan sami`allāhu liman ḥamidah bagi imam dan orang yang sholat sendiri
- Mengucapkan robbanā wa lakal-ḥamd untuk semua
- Mengucapkan subḥāna robbiyal-a`lā ketika sujud
- Mengucapkan robbighfir lī di antara dua sujud
- Tasyahud awal
- Duduk untuk tasyahud awal
Rukun adalah sesuatu yang jika ditinggalkan baik sengaja maupun lupa maka sholat menjadi batal.
Adapun wajib, jika ditinggalkan dengan sengaja maka sholat batal, sedangkan jika karena lupa maka ditutupi dengan sujud sahwi.
Dan Allah lebih mengetahui.[a13]
lā ḥaula wa lā quwwata illā billāh
Tiada daya dan tiada kekuatan kecuali dengan (pertolongan) Allah.
allāhu wa rosūluhu a`lam
Allah dan Rasul-Nya lebih mengetahui.
REFERENSI
AL-QUR’AN
ORANG KAFIR AMALNYA TERTOLAK
Tidaklah pantas bagi orang-orang musyrik itu memakmurkan masjid-masjid Allah, sedangkan mereka bersaksi bahwa diri mereka kafir. Itulah orang-orang yang sia-sia amal mereka dan di dalam nerakalah mereka kekal.
وَقَدِمۡنَا إِلَىٰ مَا عَمِلُواْ مِنۡ عَمَلٖ فَجَعَلۡنَٰهُ هَبَآءٗ مَّنثُورًا٢٣
Kami perlihatkan segala amal yang mereka kerjakan, lalu Kami jadikan amal itu (bagaikan) debu yang beterbangan.
DALIL WUDHU
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُواْ إِذَا قُمۡتُمۡ إِلَى الصَّلَوٰةِ فَاغۡسِلُواْ وُجُوهَكُمۡ وَأَيۡدِيَكُمۡ إِلَى الۡمَرَافِقِ وَامۡسَحُواْ بِرُءُوسِكُمۡ وَأَرۡجُلَكُمۡ إِلَى الۡكَعۡبَيۡنِۚ وَإِن كُنتُمۡ جُنُبًا فَاطَّهَّرُواْۚ وَإِن كُنتُم مَّرۡضَىٰ أَوۡ عَلَىٰ سَفَرٍ أَوۡ جَاءَ أَحَدٞ مِّنكُم مِّنَ الۡغَائِطِ أَوۡ لَامَسۡتُمُ النِّسَاءَ فَلَمۡ تَجِدُواْ مَاءٗ فَتَيَمَّمُواْ صَعِيدًا طَيِّبًا فَامۡسَحُواْ بِوُجُوهِكُمۡ وَأَيۡدِيكُم مِّنۡهُۚ مَا يُرِيدُ اللّٰهُ لِيَجۡعَلَ عَلَيۡكُم مِّنۡ حَرَجٖ وَلَٰكِن يُرِيدُ لِيُطَهِّرَكُمۡ وَلِيُتِمَّ نِعۡمَتَهُ عَلَيۡكُمۡ لَعَلَّكُمۡ تَشۡكُرُونَ٦
Wahai orang-orang yang beriman, apabila kamu berdiri hendak melaksanakan sholat, maka basuhlah wajahmu dan tanganmu sampai ke siku serta usaplah kepalamu dan (basuh) kedua kakimu sampai kedua mata kaki. Jika kamu dalam keadaan junub, mandilah. Jika kamu sakit, dalam perjalanan, kembali dari tempat buang air (kakus), atau menyentuh perempuan, lalu tidak memperoleh air, bertayamumlah dengan debu yang baik (suci); usaplah wajahmu dan tanganmu dengan (debu) itu. Allah tidak ingin menjadikan bagimu sedikit pun kesulitan, tetapi Dia hendak membersihkan kamu dan menyempurnakan nikmat-Nya bagimu agar kamu bersyukur.
DALIL MEMBERSIHKAN NAJIS
وَثِيَابَكَ فَطَهِّرۡ٤
Pakaianmu, bersihkanlah!
DALIL MEMAKAI PAKAIAN YANG BAGUS UNTUK KE MASJID
۞يَٰبَنِي آدَمَ خُذُواْ زِينَتَكُمۡ عِندَ كُلِّ مَسۡجِدٖ وَكُلُواْ وَاشۡرَبُواْ وَلَا تُسۡرِفُواْۚ إِنَّهُ لَا يُحِبُّ الۡمُسۡرِفِينَ٣١
Wahai anak cucu Adam, pakailah pakaianmu yang indah pada setiap (memasuki) masjid, makan serta minumlah, tetapi janganlah berlebihan. Sesungguhnya Dia tidak menyukai orang-orang yang berlebihan.
DALIL WAKTU SHOLAT
فَإِذَا قَضَيۡتُمُ الصَّلَوٰةَ فَاذۡكُرُواْ اللّٰهَ قِيَٰمٗا وَقُعُودٗا وَعَلَىٰ جُنُوبِكُمۡۚ فَإِذَا اطۡمَأۡنَنتُمۡ فَأَقِيمُواْ الصَّلَوٰةَۚ إِنَّ الصَّلَوٰةَ كَانَتۡ عَلَى الۡمُؤۡمِنِينَ كِتَٰبٗا مَّوۡقُوتٗا١٠٣
Apabila kamu telah menyelesaikan shalat, berzikirlah kepada Allah (mengingat dan menyebut-Nya), baik ketika kamu berdiri, duduk, maupun berbaring. Apabila kamu telah merasa aman, laksanakanlah shalat itu (dengan sempurna). Sesungguhnya shalat itu merupakan kewajiban yang waktunya telah ditentukan atas orang-orang mukmin.
أَقِمِ الصَّلَوٰةَ لِدُلُوكِ الشَّمۡسِ إِلَىٰ غَسَقِ الَّيۡلِ وَقُرۡءَانَ الۡفَجۡرِۖ إِنَّ قُرۡءَانَ الۡفَجۡرِ كَانَ مَشۡهُودٗا٧٨
Dirikanlah shalat sejak matahari tergelincir sampai gelapnya malam dan (laksanakan pula shalat) Shubuh! Sesungguhnya shalat Shubuh itu disaksikan (oleh malaikat).
DALIL MENGHADAP KIBLAT
قَدۡ نَرَىٰ تَقَلُّبَ وَجۡهِكَ فِي السَّمَاءِۖ فَلَنُوَلِّيَنَّكَ قِبۡلَةٗ تَرۡضَىٰهَاۚ فَوَلِّ وَجۡهَكَ شَطۡرَ الۡمَسۡجِدِ الۡحَرَامِۚ وَحَيۡثُ مَا كُنتُمۡ فَوَلُّواْ وُجُوهَكُمۡ شَطۡرَهُۗ وَإِنَّ الَّذِينَ أُوتُواْ الۡكِتَٰبَ لَيَعۡلَمُونَ أَنَّهُ الۡحَقُّ مِن رَّبِّهِمۡۗ وَمَا اللّٰهُ بِغَٰفِلٍ عَمَّا يَعۡمَلُونَ١٤٤
Sungguh, Kami melihat wajahmu (Nabi Muḥammad) sering menengadah ke langit. Maka, pasti akan Kami palingkan engkau ke kiblat yang engkau sukai. Lalu, hadapkanlah wajahmu ke arah Masjidil Ḥaram. Di mana pun kamu sekalian berada, hadapkanlah wajahmu ke arah itu. Sesungguhnya orang-orang yang diberi kitab benar-benar mengetahui bahwa (pemindahan kiblat ke Masjidil Ḥaram) itu adalah kebenaran dari Tuhan mereka. Allah tidak lengah terhadap apa yang mereka kerjakan.
DALIL BERDIRI BAGI YANG MAMPU
حَافِظُواْ عَلَى الصَّلَوَاتِ وَالصَّلَوٰةِ الۡوُسۡطَىٰ وَقُومُواْ لِلّٰهِ قَانِتِينَ٢٣٨
Peliharalah semua shalat (fardhu) dan shalat Wusthā. Berdirilah karena Allah (dalam shalat) dengan khusyuk.
ARTI AR-RAḤĪM
هُوَ الَّذِي يُصَلِّي عَلَيۡكُمۡ وَمَلَائِكَتُهُ لِيُخۡرِجَكُم مِّنَ الظُّلُمَٰتِ إِلَى النُّورِۚ وَكَانَ بِالۡمُؤۡمِنِينَ رَحِيمٗا٤٣
Dialah yang memberi raḥmat kepadamu dan para malaikat-Nya (memohonkan ampunan untukmu), agar Dia mengeluarkan kamu dari berbagai kegelapan menuju cahaya (yang terang benderang). Dia Maha Penyayang kepada orang-orang mukmin.
DEFINISI HARI PEMBALASAN
وَمَا أَدۡرَىٰكَ مَا يَوۡمُ الدِّينِ١٧ ثُمَّ مَا أَدۡرَىٰكَ مَا يَوۡمُ الدِّينِ١٨ يَوۡمَ لَا تَمۡلِكُ نَفۡسٞ لِّنَفۡسٖ شَيۡـٔٗاۖ وَالۡأَمۡرُ يَوۡمَئِذٖ لِّلّٰهِ١٩
Tahukah engkau apakah Hari Pembalasan itu? [17] Kemudian, tahukah engkau apakah Hari Pembalasan itu? [18] (Itulah) hari (ketika) seseorang tidak berdaya (menolong) orang lain sedikit pun. Segala urusan pada hari itu adalah milik Allah. [19]
JALAN ORANG-ORANG YANG DIBERI NIKMAT
وَمَن يُطِعِ اللّٰهَ وَالرَّسُولَ فَأُولَٰئِكَ مَعَ الَّذِينَ أَنۡعَمَ اللّٰهُ عَلَيۡهِم مِّنَ النَّبِيِّۧنَ وَالصِّدِّيقِينَ وَالشُّهَدَاءِ وَالصَّالِحِينَۚ وَحَسُنَ أُولَٰئِكَ رَفِيقٗا٦٩
Siapa yang menaati Allah dan Rasul (Nabi Muḥammad), mereka itulah orang-orang yang (akan dikumpulkan) bersama orang-orang yang dianugerahi nikmat oleh Allah, (yaitu) para nabi, para pencinta kebenaran, orang-orang yang mati syahid, dan orang-orang shāliḥ. Mereka itulah teman yang sebaik-baiknya.
DEFINISI ORANG-ORANG SESAT
قُلۡ هَلۡ نُنَبِّئُكُم بِالۡأَخۡسَرِينَ أَعۡمَٰلًا١٠٣ الَّذِينَ ضَلَّ سَعۡيُهُمۡ فِي الۡحَيَوٰةِ الدُّنۡيَا وَهُمۡ يَحۡسَبُونَ أَنَّهُمۡ يُحۡسِنُونَ صُنۡعًا١٠٤ أُولَٰئِكَ الَّذِينَ كَفَرُواْ بِـَٔايَٰتِ رَبِّهِمۡ وَلِقَائِهِ فَحَبِطَتۡ أَعۡمَٰلُهُمۡ فَلَا نُقِيمُ لَهُمۡ يَوۡمَ الۡقِيَٰمَةِ وَزۡنٗا١٠٥
Katakanlah (Nabi Muḥammad), “Apakah perlu kami beri tahukan orang-orang yang paling rugi perbuatannya kepadamu?” [103] (Yaitu) orang-orang yang sia-sia usahanya dalam kehidupan dunia, sedangkan mereka mengira bahwa mereka berbuat sebaik-baiknya. [104] Mereka itu adalah orang-orang yang kufur terhadap ayat-ayat Tuhannya dan (kufur pula terhadap) pertemuan dengan-Nya. Maka, amal mereka sia-sia dan Kami tidak memberikan penimbangan terhadap (amal) mereka pada Hari Kiamat. [105]
DALIL RUKUK DAN SUJUD
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُواْ ارۡكَعُواْ وَاسۡجُدُواْ وَاعۡبُدُواْ رَبَّكُمۡ وَافۡعَلُواْ الۡخَيۡرَ لَعَلَّكُمۡ تُفۡلِحُونَ٧٧
Wahai orang-orang yang beriman, rukuklah, sujudlah, sembahlah Tuhanmu, dan lakukanlah kebaikan agar kamu beruntung.
ALLAH MEMULIAKAN MUḤAMMAD DENGAN SIFAT KEHAMBAAN
تَبَارَكَ الَّذِي نَزَّلَ الۡفُرۡقَانَ عَلَىٰ عَبۡدِهِ لِيَكُونَ لِلۡعَالَمِينَ نَذِيرًا١
Maha berlimpah anugerah (Allah) yang telah menurunkan Furqan (Al-Qur’an) kepada hamba-Nya (Nabi Muḥammad) agar dia menjadi pemberi peringatan kepada seluruh alam.
`ULAMA
SYARAT, RUKUN, DAN WAJIB SHOLAT
MUḤAMMAD BIN `ABDUL-WAHHĀB I
(شروط الصلاة وأركانها وواجباتها)
Halaman Indeks Edisi Syamila
الۡمُؤَلِّفُ: مُحَمَّدُ بۡنُ عَبۡدِ الۡوَهَّابِ بۡنِ سُلَيۡمَانَ التَّمِيمِيُّ النَّجۡدِيُّ (ت ١٢٠٦ هـ)
الۡمُحَقِّقُ: عَبۡدُ الۡعَزِيزِ بۡنُ زَيۡدٍ الرُّومِي، صَالِحُ بۡنُ مُحَمَّدٍ الۡحَسَنِ
النَّاشِرُ: جَامِعَةُ الۡإِمَامِ مُحَمَّدِ بۡنِ سُعُودٍ، الرِّيَاضُ، الۡمَمۡلَكَةُ الۡعَرَبِيَّةُ السُّعُودِيَّةُ
الطَّبۡعَةُ: –
عَدَدُ الصَّفَحَاتِ: ١٢
[تَرۡقِيمُ الۡكِتَابِ مُوَافِقٌ لِلۡمَطۡبُوعِ]
صَفۡحَةُ الۡمُؤَلِّفِ: مُحَمَّدُ بۡنُ عَبۡدِ الۡوَهَّابِ
al-mu’allif: muḥammad bin `abdil-wahhāb bin sulaimān at-tamīmī an-najdī (t 1206 h)
al-muḥaqqiq: `abdul-`azīz bin zaid ar-rumī, shōliḥ bin muḥammad al-ḥasan
an-nāshir: jāmi`ah al-imām muḥammad bin sa`ūd, ar-riyādh, al-mamlakah al-`arobiyyah as-sa`ūdiyyah
ath-thob`ah: –
`adad ash-shofḥāt: 12
[tarqīm al-kitāb muwāfiq lil-mathbū`]
shofḥah al-mu’allif: muḥammad bin `abdil-wahhāb
Judul Kitab: Syarat, Rukun, dan Wajib Shalat (dicetak dalam Kumpulan Karya Syaikh Muḥammad bin `Abdul Wahhab, jilid 3)
Penulis: Muḥammad bin `Abdul Wahhab bin Sulaiman At-Tamimi An-Najdi (wafat 1206 H)
Peneliti (taḥqiq): `Abdul `Aziz bin Zaid Ar-Rumi, Shalih bin Muḥammad Al-Ḥasan
Penerbit: Universitas Imam Muḥammad bin Saud, Riyadh, Kerajaan Arab Saudi
Edisi: –
Jumlah halaman: 12
[Penomoran kitab sesuai cetakan]
Halaman penulis: [Muḥammad bin `Abdul Wahhāb]
(شروط الصلاة وأركانها وواجباتها)
Halaman 3 Edisi Syamila
تَأۡلِيفُ: مُحَمَّدِ بۡنِ عَبۡدِ الۡوَهَّابِ رَحِمَهُ اللّٰهُ
بِسۡمِ اللّٰهِ الرَّحۡمَٰنِ الرَّحِيمِ
[شُرُوطُ الصَّلَاةِ تِسۡعَةٌ]
الۡإِسۡلَامُ، وَالۡعَقۡلُ، وَالتَّمۡيِيزُ، وَرَفۡعُ الۡحَدَثِ، وَإِزَالَةُ النَّجَاسَةِ، وَسَتۡرُ الۡعَوۡرَةِ، وَدُخُولُ الۡوَقۡتِ، وَاسۡتِقۡبَالُ الۡقِبۡلَةِ، وَالنِّيَّةُ
الشَّرۡطُ الۡأَوَّلُ: الۡإِسۡلَامُ، وَضِدُّهُ الۡكُفۡرُ[١] وَالۡكَافِرُ عَمَلُهُ مَرۡدُودٌ، وَلَوۡ عَمِلَ أَيَّ عَمَلٍ، وَالدَّلِيلُ قَوۡلُهُ تَعَالَى:
(مَا كَانَ لِلۡمُشۡرِكِينَ أَن يَعۡمُرُواْ مَسَاجِدَ اللّٰهِ شَاهِدِينَ عَلَىٰ أَنفُسِهِم بِالۡكُفۡرِۚ أُولَٰئِكَ حَبِطَتۡ أَعۡمَٰلُهُمۡ وَفِي النَّارِ هُمۡ خَٰلِدُونَ)[٢]
وَقَوۡلُهُ تَعَالَى:
(وَقَدِمۡنَا إِلَىٰ مَا عَمِلُواْ مِنۡ عَمَلٖ فَجَعَلۡنَٰهُ هَبَاءٗ مَّنثُورًا)[٣]
الثَّانِي: الۡعَقۡلُ، وَضِدُّهُ الۡجُنُونُ، وَالۡمَجۡنُونُ مَرۡفُوعٌ عَنۡهُ الۡقَلَمُ حَتَّىٰ يُفِيقَ، وَالدَّلِيلُ الۡحَدِيثُ:
“رُفِعَ الۡقَلَمُ عَنۡ ثَلَاثَةٍ: النَّائِمِ حَتَّىٰ يَسۡتَيۡقِظَ وَالۡمَجۡنُونِ حَتَّىٰ يُفِيقَ وَالصَّغِيرِ حَتَّىٰ يَبۡلُغَ”[٤]
ta’līf: muḥammad bin `abdil-wahhāb roḥimahullāhbismillāhir-roḥmānir-roḥīm
[syurūthush-sholāh tis`ah]
al-islām, wal-`aql, wat-tamyīz, wa raf`ul-ḥadats, wa izālatun-najāsa, wa satrul-`auroh, wa dukhūlul-waqt, wa istiqbālul-qiblah, wan-niyyah
asy-syarthul-awwal: al-islām, wa dhidduhul-kufr, wal-kāfir `amaluhū mardūd [١], wa lau `amila ayya `amal, wad-dalīl qōlallāhu ta`ālā
(mā kāna lil-musyrikīna an ya`murū masājidallāhi syāhidīna `alā anfusihim bil-kufr ulā’ika ḥabithot a`māluhum wa fin-nāri hum khōlidūn) [٢]
wa qōlallāhu ta`ālā
(wa qodimnā ilā mā `amilū min `amalin faja`alnāhu habā’an mantsūrō)[٣]
ats-tsānī: al-`aql wa dhidduhul-junūn, wal-majnūnu marfū`un `anhul-qolam ḥattā yufīq, wad-dalīlul-ḥadīts
“rufi`al-qolamu `an tsalātsah: an-nā’im ḥattā yastaiqizh wal-majnūnu ḥattā yufīq wash-shoghīr ḥattā yablugh” [٤]
Syarat, Rukun, dan Wajib Sholat
Ditulis oleh: Muḥammad bin `Abdul Wahhab I
Dengan nama Allah Ar-Raḥmān Ar-Raḥīm
[Syarat Shalat Ada 9]
Islam, berakal, tamyiz (kemampuan membedakan), suci dari hadats, suci dari najis, menutup aurat, masuk waktu sholat, menghadap kiblat, dan niat
Syarat pertama: Islam, lawannya adalah kafir. Orang kafir amalnya tertolak [١], amalan apa pun.
Dalilnya firman Allah:
“Tidaklah pantas orang-orang musyrik memakmurkan masjid-masjid Allah sedang mereka mengakui kekafiran terhadap diri mereka sendiri. Amalan mereka sia-sia dan mereka kekal di dalam neraka.” [QS.At-Taubah 9:17] [٢]
Dan firman-Nya:
“Kami perlihatkan kepada mereka semua amal yang mereka kerjakan, lalu Kami jadikan amal itu debu yang beterbangan.” [QS.Al-Furqan 25:23] [٣]
Kedua: berakal, lawannya gila. Orang gila diangkat darinya beban (taklif) sampai ia waras kembali.
Dalilnya ḥadits:
“Pena diangkat dari tiga golongan: orang yang tidur sampai ia bangun, orang gila sampai ia waras, dan anak kecil sampai ia baligh.” [٤]
Dalam naskah manuskrip terdapat tambahan:”Dan shalat tidak diterima kecuali dari seorang Muslim. Dalilnya adalah firman Allah Ta`ālā: ‘Barang siapa mencari agama selain Islam, maka sekali-kali tidak akan diterima darinya, dan di akhirat ia termasuk orang-orang yang merugi.'”
[٢]
Surah At-Taubah, ayat 17.
[٣]
Surah Al-Furqān, ayat 23.
[٤]
Diriwayatkan oleh Aḥmad dalam Musnad-nya, Abu Dāwud, An-Nasā’i, dan Ibn Mājah.
(شروط الصلاة وأركانها وواجباتها)
Halaman 4 Edisi Syamila
لِقَوۡلِهِ صَلَّى اللّٰهُ عَلَيۡهِ وَسَلَّمَ: “مُرُوا أَبۡنَاءَكُم بِالصَّلَاةِ لِسَبۡعٍ، وَاضۡرِبُوهُمۡ عَلَيۡهَا لِعَشۡرٍ، وَفَرِّقُوا بَيۡنَهُمۡ فِي الۡمَضَاجِعِ” [١]
الشَّرۡطُ الرَّابِعُ: رَفۡعُ الۡحَدَثِ، وَهُوَ الۡوُضُوءُ الۡمَعۡرُوفُ وَمُوجِبُهُ الۡحَدَثُ
وَشُرُوطُهُ عَشَرَةٌ: الۡإِسۡلَامُ، وَالۡعَقۡلُ، وَالتَّمۡيِيزُ، وَالنِّيَّةُ، وَاسۡتِصۡحَابُ حُكۡمِهَا، بِأَنۡ لَا يَنۡوِيَ قَطۡعَهَا حَتَّىٰ تَتِمَّ الطَّهَارَةُ، وَانۡقِطَاعُ مُوجِبٍ، وَاسۡتِنۡجَاءٌ أَوِ اسۡتِجۡمَارٌ قَبۡلَهُ، وَطَهُورِيَّةُ مَاءٍ، وَإِبَاحَتُهُ، وَإِزَالَةُ مَا يَمۡنَعُ وُصُولَهُ إِلَى الۡبَشَرَةِ، وَدُخُولُ وَقۡتٍ عَلَى مَنۡ حَدَثُهُ دَائِمٌ لِفَرۡضِهِ
وَأَمَّا فُرُوضُهُ فَسِتَّةٌ: غَسۡلُ الۡوَجۡهِ، وَمِنۡهُ الۡمَضۡمَضَةُ وَالِاسۡتِنۡشَاقُ، وَحَدُّهُ طُولًا مِنۡ مَنَابِتِ شَعۡرِ الرَّأۡسِ إِلَى الذَّقَنِ، وَعَرۡضًا إِلَىٰ فُرُوعِ الۡأُذُنَيۡنِ، وَغَسۡلُ الۡيَدَيۡنِ إِلَى الۡمِرۡفَقَيۡنِ، وَمَسۡحُ جَمِيعِ الرَّأۡسِ، وَمِنۡهُ الۡأُذُنَانِ، وَغَسۡلُ الرِّجۡلَيۡنِ إِلَى الۡكَعۡبَيۡنِ، وَالتَّرۡتِيبُ، وَالۡمُوَالَاةُ
وَالدَّلِيلُ قَوۡلُهُ تَعَالَى:
(يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُواْ إِذَا قُمۡتُمۡ إِلَى الصَّلَوٰةِ فَاغۡسِلُواْ وُجُوهَكُمۡ وَأَيۡدِيَكُمۡ إِلَى الۡمَرَافِقِ وَامۡسَحُواْ بِرُءُوسِكُمۡ وَأَرۡجُلَكُمۡ إِلَى الۡكَعۡبَيۡنِ) [٢] الۡآيَةُ
وَدَلِيلُ التَّرۡتِيبِ الۡحَدِيثُ:
“ابۡدَءُوا بِمَا بَدَأَ اللّٰهُ بِهِ [٣]“
asy-syarthur-rōbi`: raf`ul-ḥadats, wa huwal-wudhū’ul-ma`rūf wa mūjibuhul-ḥadats
wa syurūthuhu `asyaroh: al-islām, wal-`aql, wat-tamyīz, wan-niyyah, wastishḥābu ḥukmihā, bi an lā yanwī qoth`ahā ḥattā tatimmath-thohāroh, wanqithō`u mūjib, wastinjā’un au istijmār qoblah, wa thohūriyyatu mā’, wa ibāḥatuh, wa izālatu mā yamna`u wushūlahu ilal-basyaroh, wa dukhūlu waqtin `alā man ḥadatsuhu dā’im lifardhih
wa ammā furūdhuhu fasittah: ghoslul-wajh, wa minhul-madhmadhoh wal-istinsyāq, wa ḥadduhu thūlan min manābiti sya`rir-ro’s iladz-dzaqon, wa `ardhon ilā furū`il-udzunain, wa ghoslul-yadaini ilal-mirfaqoin, wa masḥu jamī`ir-ro’s, wa minhul-udzunān, wa ghoslur-rijlain ilal-ka`bain, wat-tartīb, wal-muwālāh
wad-dalīl qouluhū ta`ālā:
(yā ayyuhalladzīna āmanū idzā qumtum ilash-sholāh faghsilū wujūhakum wa aidiyakum ilal-marōfiq wamsaḥū biru’ūsikum wa arjulakum ilal-ka`bain) al-āyah [٢]
wa dalīlut-tartīb al-ḥadīts:
“ibda’ū bimā bada’allāhu bih” [٣]
Syarat ketiga: tamyiz (mampu membedakan), lawannya adalah masih kecil. Batasnya adalah 7 tahun [٥]. Pada usia itu anak diperintahkan untuk sholat.
Dalilnya adalah sabda Nabi C:
“Perintahkan anak-anak kalian untuk sholat pada usia 7 tahun, pukullah mereka pada usia 10 tahun, dan pisahkan tempat tidur mereka.” [١]
Syarat keempat: suci dari hadats, yaitu wudhu yang sudah dikenal tata caranya, dan yang membuatnya wajib adalah hadats.
Syarat-syarat wudhu ada 10: Islam, berakal, tamyiz, niat, tetap mempertahankan niat sampai selesai bersuci, terputusnya sebab hadats, istinja’ atau istijmar sebelumnya, air yang suci lagi menyucikan, air yang mubah, menghilangkan sesuatu yang menghalangi sampainya air ke kulit, dan masuknya waktu sholat bagi orang yang hadatsnya terus-menerus untuk shalat fardhunya.
Adapun rukun-rukun wudhu ada 6: Membasuh wajah, termasuk berkumur dan menghirup air ke hidung; batas wajah memanjang dari tempat tumbuh rambut kepala hingga dagu, dan melebar hingga kedua telinga; membasuh kedua tangan sampai siku; mengusap seluruh kepala termasuk kedua telinga; membasuh kedua kaki sampai mata kaki; tertib; dan berkesinambungan (muwālāh).
Dalilnya adalah firman Allah:
“Wahai orang-orang yang beriman, apabila kalian hendak melaksanakan shalat maka basuhlah wajah-wajah kalian dan tangan-tangan kalian sampai siku, usaplah kepala kalian dan basuhlah kaki-kaki kalian sampai kedua mata kaki.” [٢]
Dalil tentang tertib adalah ḥadits:
“Mulailah dengan apa yang Allah mulai dengannya.” [٣]
Dalam naskah manuskrip tertulis:
fa aktsaro yu’maru… (maka lebih banyak diperintahkan…) atau (lalu lebih sering diperintahkan…) sesuai konteks kalimatnya.[١]
Diriwayatkan oleh Al-Ḥākim dengan lafaz yang hampir sama dengan ini. Juga diriwayatkan oleh Al-Imām Aḥmad dalam Al-Musnad, dan Abū Dāwud dalam Sunan-nya.
[٢]
Surah Al-Mā’idah, ayat 6.
[٣]
Diriwayatkan oleh An-Nasā’ī dalam As-Sunan Al-Kubrā dengan lafaz ini. Sedangkan Muslim meriwayatkan lafaz abda’u (أبدأ) dalam bentuk khabar (berita), dan Aḥmad serta selainnya meriwayatkan lafaz nabda’u (نبدأ) dengan huruf nūn.
(شروط الصلاة وأركانها وواجباتها)
Halaman 5 Edisi Syamila
أَنَّهُ لَمَّا رَأَىٰ رَجُلًا فِي قَدَمِهِ لُمۡعَةً قَدۡرَ الدِّرۡهَمِ لَمۡ يُصِبۡهَا الۡمَاءُ فَأَمَرَهُ بِالۡإِعَادَةِ
وَوَاجِبُهُ التَّسۡمِيَةُ مَعَ الذِّكۡرِ [١]
وَنَوَاقِضُهُ ثَمَانِيَةٌ: الۡخَارِجُ مِنَ السَّبِيلَيۡنِ، وَالۡخَارِجُ الۡفَاحِشُ النَّجِسُ مِنَ الۡجَسَدِ [٢]، وَزَوَالُ الۡعَقۡلِ، وَمَسُّ الۡمَرۡأَةِ بِشَهۡوَةٍ، وَمَسُّ الۡفَرۡجِ بِالۡيَدِ [٣] قُبُلًا كَانَ أَوۡ دُبُرًا، وَأَكۡلُ لَحۡمِ الۡجَزُورِ، وَتَغۡسِيلُ الۡمَيِّتِ، وَالرِّدَّةُ عَنِ الۡإِسۡلَامِ
أَعَاذَنَا اللّٰهُ مِنۡ ذٰلِكَ
الشَّرۡطُ الۡخَامِسُ: إِزَالَةُ النَّجَاسَةِ مِنۡ ثَلَاثٍ: مِنَ الۡبَدَنِ، وَالثَّوۡبِ، وَالۡبُقۡعَةِ، وَالدَّلِيلُ قَوۡلُهُ تَعَالَىٰ
{وَثِيَابَكَ فَطَهِّرۡ} [٤]
الشَّرۡطُ السَّادِسُ: سَتۡرُ الۡعَوۡرَةِ
أَجۡمَعَ أَهۡلُ الۡعِلۡمِ عَلَىٰ فَسَادِ صَلَاةِ مَنۡ صَلَّىٰ عُرۡيَانًا وَهُوَ يَقۡدِرُ
وَحَدُّ عَوۡرَةِ الرَّجُلِ مِنَ السُّرَّةِ إِلَى الرُّكۡبَةِ، وَالۡأَمَةُ كَذٰلِكَ، وَالۡحُرَّةُ كُلُّهَا عَوۡرَةٌ إِلَّا وَجۡهَهَا [٥]
وَالدَّلِيلُ قَوۡلُهُ تَعَالَىٰ
{يَا بَنِي آدَمَ خُذُواْ زِينَتَكُمۡ عِندَ كُلِّ مَسۡجِدٖ} [٦]
أَيۡ عِنۡدَ كُلِّ صَلَاةٍ
wa wājibuhut-tasmiyah ma`adz-dzikr [١]
wa nawāqidhuhu tsamāniyah: al-khōrij minas-sabīlain, wal-khōrijul-fāḥisyun-najisu minal-jasad [٢] wa zawālul-`aql, wa massul-mar’ah bisyahwah, wa massul-farji bil-yad [٣] qubulan kāna au duburō, wa aklu laḥmil-jazūr, wa taghsīlul-mayyit, war-riddah `anil-islām
a`ādzanallāhu min dzālik
asy-syarthul-khōmis: izālatun-najāsah min tsalāts: minal-badan, wats-tsaub, wal-buq`ah, wad-dalīlu wa qouluhū ta`ālā
{wa tsiyābaka fathohhir} [٤]
asy-syarthus-sādis: satrul-`auroh
ajma`a ahlul-`ilmi `alā fasādi sholāti man shollā `uryānan wa huwa yaqdir
wa ḥaddu `aurotir-rojuli minas-surroh ilar-rukbah, wal-amah kadzālik, wal-ḥurroh kulluhā `auroh illā wajhahā [٥]
wad-dalīlu qouluhū ta`ālā
{yā banī ādam khudzū zīnatakum `inda kulli masjid}
ai `inda kulli sholāh
Dalil muwālāh (berkesinambungan dalam wudhu) adalah ḥadīts tentang seseorang yang sebagian kecil kakinya tidak terkena air. Nabi C melihat seorang laki-laki yang pada kakinya terdapat bagian sebesar dirham yang tidak terkena air, lalu beliau memerintahkannya untuk mengulangi wudhunya.
Wajib wudhu adalah membaca bismillāh apabila ingat. [١]
Pembatal-pembatal wudhu ada 8: keluar sesuatu dari dua jalan (kemaluan atau dubur), keluarnya najis yang banyak dari tubuh [٢], hilang akal, menyentuh wanita dengan syahwat, menyentuh kemaluan dengan tangan [٣], baik bagian depan maupun belakang, memakan daging unta, memandikan mayit, dan murtad dari Islam.
Semoga Allah melindungi kita dari hal tersebut.
Syarat kelima: menghilangkan najis dari 3 tempat, yaitu badan, pakaian, dan tempat shalat.
Dalilnya firman Allah Ta`ālā:
“Dan pakaianmu bersihkanlah.” [٦]
Syarat keenam: menutup aurat.
Para ulama telah bersepakat bahwa shalat orang yang shalat dalam keadaan telanjang padahal mampu menutup aurat adalah tidak sah.
Batas aurat laki-laki adalah dari pusar sampai lutut. Aurat budak perempuan juga sama. Adapun wanita merdeka seluruh tubuhnya adalah aurat kecuali wajahnya. [٥]
Dalilnya firman Allah Ta`ālā:
“Wahai anak-anak Adam, pakailah pakaianmu yang bagus pada setiap (memasuki) masjid.” [٦]
Maksudnya: pada setiap shalat.
Dalam naskah manuskrip, kalimat ini ditempatkan setelah ucapan: wa al-muwālāt.[٢]
Redaksi dalam naskah manuskrip:
wa al-khōriju min sā’iri al-jasadi idzā faḥusya (dan sesuatu yang keluar dari bagian tubuh selain dua jalan, apabila banyak/berlebihan).
[٣]
Dalam naskah manuskrip tertulis:
bi al-kaffi (dengan telapak tangan).
[٤]
Surah Al-Muddatstsir, ayat 4.
[٥]
Dalam manuskrip terdapat tambahan:
fī ash-sholāh (di dalam shalat).
[٦]
Surah Al-A`rāf, ayat 31.
(شروط الصلاة وأركانها وواجباتها)
Halaman 6 Edisi Syamila
“أَنَّهُ أَمَّ النَّبِيَّ صَلَّى اللّٰهُ عَلَيۡهِ وَسَلَّمَ فِي أَوَّلِ الۡوَقۡتِ، وَفِي آخِرِهِ فَقَالَ: يَا مُحَمَّدُ، الصَّلَاةُ بَيۡنَ هَذَيۡنِ الۡوَقۡتَيۡنِ”
وَقَوۡلُهُ تَعَالَىٰ
{إِنَّ الصَّلَوٰةَ كَانَتۡ عَلَى الۡمُؤۡمِنِينَ كِتَٰبٗا مَّوۡقُوتٗا} [١]
أَيۡ مَفۡرُوضًا فِي الۡأَوۡقَاتِ
وَدَلِيلُ الۡأَوۡقَاتِ قَوۡلُهُ تَعَالَىٰ
{أَقِمِ الصَّلَوٰةَ لِدُلُوكِ الشَّمۡسِ إِلَىٰ غَسَقِ الَّيۡلِ وَقُرۡءَانَ الۡفَجۡرِ إِنَّ قُرۡءَانَ الۡفَجۡرِ كَانَ مَشۡهُودٗا} [٢]
الشَّرۡطُ الثَّامِنُ: اسۡتِقۡبَالُ الۡقِبۡلَةِ
وَالدَّلِيلُ قَوۡلُهُ تَعَالَىٰ
{قَدۡ نَرَىٰ تَقَلُّبَ وَجۡهِكَ فِي السَّمَاءِ فَلَنُوَلِّيَنَّكَ قِبۡلَةٗ تَرۡضَىٰهَا فَوَلِّ وَجۡهَكَ شَطۡرَ الۡمَسۡجِدِ الۡحَرَامِ وَحَيۡثُ مَا كُنتُمۡ فَوَلُّواْ وُجُوهَكُمۡ شَطۡرَهُ} [٣]
الشَّرۡطُ التَّاسِعُ: النِّيَّةُ، وَمَحَلُّهَا الۡقَلۡبُ، وَالتَّلَفُّظُ بِهَا بِدۡعَةٌ
وَالدَّلِيلُ: الۡحَدِيثُ [٤]
“إِنَّمَا الۡأَعۡمَالُ بِالنِّيَّاتِ، وَإِنَّمَا لِكُلِّ امۡرِئٖ مَا نَوَىٰ” [٥]
wa qouluhū ta`ālā {innash-sholāta kānat `alal-mu’minīna kitāban mauqūtā} [١]
ai mafrūdhon fil-auqōt
wa dalīlul-auqōt qouluhū ta`ālā {aqimish-sholāta lidulūkisy-syamsi ilā ghosaqil-laili wa qur’ānal-fajr inna qur’ānal-fajri kāna masyhūdā} [٢]
asy-syarthuts-tsāmin: istiqbālul-qiblah
wad-dalīlu qouluhū ta`ālā {qod narō taqolluba wajhika fis-samā’ falanuwalliyannaka qiblatan tardhōhā fa walli wajhaka syathrol-masjidil-ḥarōm wa ḥaitsu mā kuntum fa wallū wujūhakum} [٣]
asy-syarthut-tāsi`: an-niyyah, wa maḥalluhal-qolb, wat-talaffuzhu bihā bid`ah
wad-dalīl: al-ḥadīts [٤] “innamal-a`mālu bin-niyyāt, wa innamā likullimri’in mā nawā” [٥]
Syarat ketujuh: masuknya waktu shalat.
Dalil dari Sunnah adalah ḥadīts Jibril D, bahwa beliau mengimami Nabi C pada awal waktu dan pada akhir waktu, kemudian berkata:
“Wahai Muḥammad, waktu sholat berada di antara dua waktu ini.”
Dan firman Allah Ta`ālā:
“Sesungguhnya shalat itu adalah kewajiban yang ditentukan waktunya atas orang-orang yang beriman.” [١]
Maksudnya: diwajibkan pada waktu-waktu yang telah ditetapkan.
Dalil waktu-waktu shalat adalah firman Allah:
“Dirikanlah shalat dari sesudah matahari tergelincir sampai gelap malam, dan (dirikanlah pula) shalat Subuh. Sesungguhnya shalat Subuh itu disaksikan.” [٢]
Syarat kedelapan: menghadap kiblat.
Dalilnya firman Allah Ta`ālā:
“Sungguh Kami melihat wajahmu menengadah ke langit, maka sungguh Kami akan memalingkan engkau ke kiblat yang engkau sukai. Maka hadapkanlah wajahmu ke arah Masjidil Ḥaram. Dan di mana saja kalian berada, hadapkanlah wajah kalian ke arahnya.” [٣]
Syarat kesembilan: niat.
Tempat niat adalah di dalam hati, sedangkan melafalkannya adalah bid`ah.
Dalilnya adalah ḥadīts [٤]:
“Sesungguhnya amalan itu tergantung niatnya, dan setiap orang akan mendapatkan sesuai dengan apa yang ia niatkan.” [٥]
Surah An-Nisā’, ayat 103.[٢]
Surah Al-Isrā’, ayat 78.
[٣]
Surah Al-Baqarah, ayat 144.
[٤]
Dalam naskah manuskrip terdapat tambahan:
alladzī rowāhu `umar qōla: qōla rosūlullāh C (yang diriwayatkan oleh `Umar, ia berkata: Rasulullah C bersabda:)
[٥]
Diriwayatkan oleh Al-Bukhārī dalam “Bad’ Al-Waḥy” (1), Muslim dalam “Al-Imārah” (1907), At-Tirmidzī dalam “Fadhā`il Al-Jihād” (1647), An-Nasā’ī dalam “At-Thahārah” (75), “At-Thalāq” (3437), dan “Al-Aimān wa An-Nudzur” (3794), Abu Dāwud dalam “At-Thalāq” (2201), Ibn Mājah dalam “Az-Zuhd” (4227), serta Aḥmad (1/25, 1/43).
(شروط الصلاة وأركانها وواجباتها)
Halaman 7 Edisi Syamila
الۡقِيَامُ مَعَ الۡقُدۡرَةِ، وَتَكۡبِيرَةُ الۡإِحۡرَامِ، وَقِرَاءَةُ الۡفَاتِحَةِ، وَالرُّكُوعُ، وَالرَّفۡعُ مِنۡهُ، وَالسُّجُودُ عَلَى الۡأَعۡضَاءِ السَّبۡعَةِ [٦]، وَالِاعۡتِدَالُ مِنۡهُ، وَالۡجَلۡسَةُ بَيۡنَ السَّجۡدَتَيۡنِ، وَالطُّمَأۡنِينَةُ فِي جَمِيعِ الۡأَرۡكَانِ، وَالتَّرۡتِيبُ، وَالتَّشَهُّدُ الۡأَخِيرُ، وَالۡجُلُوسُ لَهُ، وَالصَّلَاةُ عَلَى النَّبِيِّ صَلَّى اللّٰهُ عَلَيۡهِ وَسَلَّمَ، وَالتَّسۡلِيمَتَانِ
الرُّكۡنُ الۡأَوَّلُ: الۡقِيَامُ مَعَ الۡقُدۡرَةِ، وَالدَّلِيلُ قَوۡلُهُ تَعَالَىٰ
{حَافِظُواْ عَلَى الصَّلَوَاتِ وَالصَّلَوٰةِ الۡوُسۡطَىٰ وَقُومُواْ لِلّٰهِ قَانِتِينَ} [١]
الثَّانِي: تَكۡبِيرَةُ الۡإِحۡرَامِ، وَالدَّلِيلُ الۡحَدِيثُ
“تَحۡرِيمُهَا التَّكۡبِيرُ، وَتَحۡلِيلُهَا التَّسۡلِيمُ” [٢]
وَبَعۡدَهَا الِاسۡتِفۡتَاحُ وَهُوَ سُنَّةٌ: “سُبۡحَانَكَ اللّٰهُمَّ وَبِحَمۡدِكَ وَتَبَارَكَ اسۡمُكَ وَتَعَالَىٰ جَدُّكَ وَلَا إِلٰهَ غَيۡرُكَ”
وَمَعۡنَىٰ “سُبۡحَانَكَ اللّٰهُمَّ”: أَيۡ أُنَزِّهُكَ التَّنۡزِيهَ اللَّائِقَ بِجَلَالِكَ
“وَبِحَمۡدِكَ”: أَيۡ ثَنَاءٌ عَلَيۡكَ
“وَتَبَارَكَ اسۡمُكَ”: أَيِ الۡبَرَكَةُ تُنَالُ بِذِكۡرِكَ [٣]
“وَتَعَالَىٰ جَدُّكَ”: أَيۡ جَلَّتۡ عَظَمَتُكَ [٤]
“وَلَا إِلٰهَ غَيۡرُكَ”: أَيۡ لَا مَعۡبُودَ فِي الۡأَرۡضِ وَلَا فِي السَّمَاءِ بِحَقٍّ سِوَاكَ يَا اللّٰهُ
“أَعُوذُ بِاللّٰهِ مِنَ الشَّيۡطَانِ الرَّجِيمِ”
مَعۡنَىٰ “أَعُوذُ”: أَلُوذُ وَأَلۡتَجِئُ وَأَعۡتَصِمُ بِكَ يَا اللّٰهُ
“مِنَ الشَّيۡطَانِ الرَّجِيمِ” [٥] الۡمَطۡرُودُ الۡمُبۡعَدُ عَنۡ رَحۡمَةِ اللّٰهِ [٦] لَا يَضُرُّنِي فِي دِينِي وَلَا فِي دُنۡيَايَ
ar-ruknul-awwal: al-qiyāmu ma`al-qudroh, wad-dalīlu qouluhū ta`ālā {ḥāfizhū `alash-sholawāti wash-sholātul-wusthō wa qūmū lillāhi qōnitīn} [١]
ats-tsānī: takbīratul-iḥrōm, wad-dalīlul-ḥadīts
“taḥrīmuhā at-takbīr, wa taḥlīluhā at-taslīm” [٢]
wa ba`dahul-istiftāḥ wa huwa sunnah: “subḥānaka allāhumma wa biḥamdika wa tabārokasmuka wa ta`ālā jadduka wa lā ilāha ghoiruk”
wa ma`nā “subḥānaka allāhumma”: ai unazzihuka at-tanzīhal-lā’iq bi jalālika
“wa biḥamdika”: ai tsanā’un `alaik
“wa tabārokasmuka”: ai al-barokah tunālu bidzikrika [٣]
“wa ta`ālā jadduka”: ai jallat `azhomatuka [٤]
“wa lā ilāha ghoiruk”: ai lā ma`būda fil-ardhi was-samā’i bi ḥaqqin siwāka yā Allāh
“a`ūdzu billāhi minasy-syaithōnir-rojīm”
ma`nā “a`ūdzu”: alūdzu wa altaji’u wa a`tashimu bika yā Allāh
“minasy-syaithōnir-rojīm” [٥] al-matrūd al-mub`ad `an roḥmatillāh [٦] lā yadhurrunī fī dīnī wa lā fī dunyāya
Rukun-rukun shalat ada 14.
Berdiri bagi yang mampu, takbiratul iḥram, membaca Al-Fatiḥah, ruku`, bangkit dari ruku`, sujud di atas 7 anggota badan [٦], i`tidal, duduk di antara 2 sujud, thuma’ninah dalam semua rukun, tertib, tasyahud akhir, duduk untuknya, sholawat kepada Nabi C, dan 2 salam.
Rukun pertama: berdiri bagi yang mampu.
Dalilnya firman Allah Ta`ālā:
“Peliharalah shalat-shalat dan shalat wustha serta berdirilah untuk Allah dengan khusyuk.” [١]
Kedua: takbiratul iḥram.
Dalilnya ḥadīts:
“Pembukaan shalat adalah takbir, dan penutupnya adalah salam.” [٢]
Setelah itu doa istiftah, yang mana itu merupakan sunnah: subḥānaka allāhumma wa biḥamdika wa tabārokasmuka wa ta`ālā jadduka wa lā ilāha ghoiruk.
Maknanya:
- subḥānaka allāhumma: aku menyucikan Engkau dengan penyucian yang layak bagi keagungan-Mu
- wa biḥamdika: pujian kepada-Mu
- tabārokasmuka: keberkahan diperoleh dengan menyebut nama-Mu [٣]
- ta`ālā jadduka: Maha Tinggi kebesaran-Mu [٤]
- lā ilāha ghoiruk: tidak ada sembahan yang benar selain Engkau
- a`ūdzu billāhi minasy-syaithōnir-rojīm [٥]: aku berlindung kepada Allah dari setan yang terkutuk, yang dijauhkan dari raḥmat Allah [٦], yang tidak membahayakan dalam agamaku dan duniaku
Dalam naskah manuskrip: `alā sab`ati al-a`dhō’ (di atas 7 anggota tubuh).[١]
Surah Al-Baqarah, ayat 238.
[٢]
At-Tirmidzi, Kitāb Ath-Thahārah (3); Ibn Mājah, Kitāb Ath-Thahārah wa Sunanihā (275); Aḥmad (1/123, 1/129); dan Ad-Dārimi, Kitāb Ath-Thahārah (687).
[٣]
Dalam naskah manuskrip: lā tunālu illā bidzikrika (Tidak dapat diperoleh kecuali dengan mengingat-Mu.)
[٤]
Dalam naskah manuskrip: ai irtafa`a qodruka wa `azhuma sya’nuka (Yakni, kedudukanmu menjadi tinggi dan urusanmu menjadi agung.)
[٥]
Dalam naskah manuskrip: `an hādzā asy-syaithōni ar-rojīm (dari setan yang terkutuk ini.)
[٦]
Dalam naskah manuskrip: `an roḥmatika (dari rahmat-Mu.)
(شروط الصلاة وأركانها وواجباتها)
Halaman 8 Edisi Syamila
“لَا صَلَاةَ لِمَن لَمۡ يَقۡرَأۡ بِفَاتِحَةِ الۡكِتَابِ” [٨]
وَهِيَ أُمُّ الۡقُرۡآنِ
بِسۡمِ اللّٰهِ الرَّحۡمَٰنِ الرَّحِيمِ
بَرَكَةٌ وَاسۡتِعَانَةٌ
الۡحَمۡدُ لِلّٰهِ
“الۡحَمۡدُ” ثَنَاءٌ، وَالۡأَلِفُ وَاللَّامُ لِاسۡتِغۡرَاقِ جَمِيعِ الۡمَحَامِدِ
وَأَمَّا الۡجَمِيلُ الَّذِي لَا صُنۡعَ لَهُ فِيهِ، مِثۡلُ الۡجَمَالِ وَنَحۡوِهِ، فَالثَّنَاءُ بِهِ يُسَمَّىٰ مَدۡحًا لَا حَمۡدًا
رَبِّ الۡعَالَمِينَ
“الرَّبُّ” هُوَ الۡمَعۡبُودُ الۡخَالِقُ الرَّازِقُ [١] الۡمَالِكُ الۡمُتَصَرِّفُ مُرَبِّي جَمِيعِ الۡخَلۡقِ بِالنِّعَمِ
“الۡعَالَمِينَ” كُلُّ مَا سِوَى اللّٰهِ عَالَمٌ، وَهُوَ رَبُّ الۡجَمِيعِ
الرَّحۡمَٰنُ
رَحۡمَةٌ عَامَّةٌ [٢] لِجَمِيعِ الۡمَخۡلُوقَاتِ
الرَّحِيمُ
رَحۡمَةٌ خَاصَّةٌ بِالۡمُؤۡمِنِينَ [٣]
وَالدَّلِيلُ قَوۡلُهُ تَعَالَىٰ
{وَكَانَ بِالۡمُؤۡمِنِينَ رَحِيمٗا} [٤]
wa hiya ummul-qur’ān
bismillāhir-roḥmānir-roḥīm barokah wasta`ānah
al-ḥamdu lillāh “al-ḥamd” tsanā’, wal-alifu wal-lām listighrōqi jamī`il-maḥāmid
wa ammāl-jamīlu alladzī lā shun`a lahū fīh, mitslal-jamāl wa naḥwih, fats-tsanā’u bih yusammā madḥan lā ḥamdā
robbil-`ālamīn “ar-robb” huwal-ma`būd al-khōliqu ar-rōziq [١] al-mālikul-mutashorrif murobbī jamī`il-kholqi bin-ni`am
“al-`ālamīn” kullu mā siwallāhi `ālam, wa huwa robbul-jamī`
ar-roḥmān roḥmatun `āmmah [٢] jamī`il-makhlūqōt
ar-roḥīm roḥmatun khōshshoh bil-mu’minīn [٣]
wad-dalīlu qouluhū ta`ālā {wa kāna bil-mu’minīna roḥīmā} [٤]
Membaca Al-Fātiḥah adalah rukun pada setiap rakaat [٧], sebagaimana dalam ḥadīts:
“Tidak sah sholat bagi orang yang tidak membaca Fātiḥatul Kitāb.” [٨]
Al-Fātiḥah adalah Ummul Qur’ān.
bismillāhir-roḥmānir-roḥīm: mengandung makna memohon keberkahan dan pertolongan.
al-ḥamdu lillāh: Al-ḥamdu berarti pujian. Alif dan lam pada kata tersebut menunjukkan seluruh macam pujian.
Adapun pujian terhadap sesuatu yang indah yang tidak berkaitan dengan perbuatannya, seperti ketampanan, kecantikan, dan semisalnya, maka itu disebut madḥ (sanjungan), bukan ḥamd.
Rabbil-`Ālamīn: Ar-Rabb adalah Yang disembah, Yang menciptakan, Yang memberi rezeki [١], Yang memiliki dan mengatur, serta Yang memelihara seluruh makhluk dengan berbagai nikmat.
Al-`Ālamīn adalah segala sesuatu selain Allah, dan Dia adalah Rabb bagi seluruhnya.
Ar-Raḥmān: Raḥmat yang umum [٢] bagi seluruh makhluk.
Ar-Raḥīm: Raḥmat yang khusus bagi orang-orang beriman. [٣]
Dalilnya adalah firman Allah Ta`ālā:
“Dan Dia Maha Penyayang kepada orang-orang yang beriman.” [٤]
Dalam naskah manuskrip: fī kulli ṣolāh (Pada setiap sholat.)[٨]
Al-Bukhāri, Kitāb Al-Adzān (756); Muslim, Kitāb Ash-Sholāh (394); At-Tirmidzi, Kitāb Ash-Sholāh (247); An-Nasā’ī, Kitāb Al-Iftitāḥ (910, 911); Abū Dāwud, Kitāb Ash-Sholāh (822); Ibn Mājah, Kitāb Iqāmati Ash-Sholāh wa As-Sunnah Fīhā (837); Aḥmad (5/313, 5/316, 5/321); dan Ad-Dārimi, Kitāb Ash-Sholāh (1242).
[١]
“Al-Khāliq” dan “Ar-Rāziq” merupakan tambahan yang tidak terdapat dalam naskah manuskrip.
[٢]
Dalam naskah manuskrip: li jamī`il-mu’minīn (bagi seluruh kaum mukminin.)
[٣]
Dalam naskah manuskrip: li jamī`il-mu’minīn (bagi seluruh kaum mukminin.)
[٤]
Surah Al-Aḥzāb, ayat 43.
(شروط الصلاة وأركانها وواجباتها)
Halaman 8 Edisi Syamila
يَوۡمُ الۡجَزَاءِ وَالۡحِسَابِ، يَوۡمُ كُلٍّ يُجۡزَىٰ بِعَمَلِهِ، إِنۡ خَيۡرًا فَخَيۡرٌ وَإِنۡ شَرًّا فَشَرٌّ
وَالدَّلِيلُ قَوۡلُهُ تَعَالَىٰ
(وَمَا أَدۡرَىٰكَ مَا يَوۡمُ الدِّينِ ثُمَّ مَا أَدۡرَىٰكَ مَا يَوۡمُ الدِّينِ يَوۡمَ لَا تَمۡلِكُ نَفۡسٞ لِنَفۡسٖ شَيۡـٔٗاۖ وَالۡأَمۡرُ يَوۡمَئِذٖ لِلّٰهِ) [٥]
وَالۡحَدِيثُ عَنۡهُ صَلَّى اللّٰهُ عَلَيۡهِ وَسَلَّمَ
“الۡكَيِّسُ مَنۡ دَانَ نَفۡسَهُ وَعَمِلَ لِمَا بَعۡدَ الۡمَوۡتِ، وَالۡعَاجِزُ مَنۡ أَتۡبَعَ نَفۡسَهُ هَوَاهَا وَتَمَنَّىٰ عَلَى اللّٰهِ الۡأَمَانِيَ [٦]”
إِيَّاكَ نَعۡبُدُ
أَيۡ لَا نَعۡبُدُ غَيۡرَكَ، عَهۡدٌ بَيۡنَ الۡعَبۡدِ وَبَيۡنَ رَبِّهِ أَنۡ لَا يَعۡبُدَ إِلَّا إِيَّاهُ
وَإِيَّاكَ نَسۡتَعِينُ
عَهۡدٌ بَيۡنَ الۡعَبۡدِ وَبَيۡنَ رَبِّهِ أَنۡ لَا يَسۡتَعِينَ بِأَحَدٍ غَيۡرِ اللّٰهِ
اهۡدِنَا الصِّرَاطَ الۡمُسۡتَقِيمَ
مَعۡنَىٰ “اهۡدِنَا” دُلَّنَا وَأَرۡشِدۡنَا وَثَبِّتۡنَا، وَ”الصِّرَاطُ” الۡإِسۡلَامُ، وَقِيلَ: الرَّسُولُ، وَقِيلَ: الۡقُرۡآنُ، وَالۡكُلُّ حَقٌّ
وَالۡمُسۡتَقِيمُ الَّذِي لَا عِوَجَ فِيهِ
صِرَاطَ الَّذِينَ أَنۡعَمۡتَ عَلَيۡهِمۡ
طَرِيقُ الۡمُنۡعَمِ عَلَيۡهِمۡ
وَالدَّلِيلُ قَوۡلُهُ تَعَالَىٰ
(وَمَن يُطِعِ اللّٰهَ وَالرَّسُولَ فَأُولَٰئِكَ مَعَ الَّذِينَ أَنۡعَمَ اللّٰهُ عَلَيۡهِم مِّنَ النَّبِيِّۧنَ وَالصِّدِّيقِينَ وَالشُّهَدَاءِ وَالصَّالِحِينَۚ وَحَسُنَ أُولَٰئِكَ رَفِيقٗا) [١]
wad-dalīlu qouluhū ta`ālā (wa mā adrōka mā yaumud-dīn tsumma mā adrōka mā yaumud-dīn yauma lā tamliku nafsul-linafsin syai’an wal-amru yauma’idzil-lillāh) [٥]
wal-ḥadītsu `anhu C “al-kayyisu man dāna nafsah wa `amila limā ba`dal-maut, wal-`ājizu man atba`a nafsahū hawāhā wa tamannā `alallāhil-amānī” [٦]
iyyāka na`bud
ai lā na`budu ghoirok, `ahdun bainal-`abdi wa baina robbih an lā ya`buda illā iyyāh
wa iyyāka nasta`īn
`ahdun bainal-`abdi wa baina robbih an lā yasta`īna bi aḥadin ghoirillāh
ihdinash-shirōthol-mustaqīm
ma`nā “ihdinā” dullanā wa arsyidnā wa tsabbitnā, wash-shirōth al-islām, wa qīla: ar-rosūl, wa qīla: al-qur’ān, wal-kullu ḥaqq
wal-mustaqīm alladzī lā `iwaja fīh
shirōtholladzīna an`amta `alaihim
thorīqul-mun`ami `alaihim
wad-dalīlu qouluhū ta`ālā (wa man yuthi`illāha war-rosūla fa ulā’ika ma`alladzīna an`amallāhu `alaihim minan-nabiyyīn wash-shiddīqīn wasy-syuhadā’i wash-shōliḥīn wa ḥasuna ulā’ika rofīqō) [١]
“Pemilik Hari Pembalasan”
Yaitu hari pembalasan dan perhitungan, hari ketika setiap orang dibalas sesuai amalnya. Jika amalnya baik maka balasannya baik, dan jika amalnya buruk maka balasannya buruk.
Dalilnya firman Allah Ta`ālā:
“Tahukah kamu apakah Hari Pembalasan itu? Kemudian tahukah kamu apakah Hari Pembalasan itu? Pada hari itu seseorang tidak berdaya sedikit pun untuk menolong orang lain, dan segala urusan pada hari itu milik Allah.” [٥]
Dan ḥadīts Nabi C:
“Orang yang cerdas adalah orang yang menghisab dirinya dan beramal untuk kehidupan setelah kematian. Sedangkan orang yang lemah adalah orang yang mengikuti hawa nafsunya dan hanya berangan-angan kepada Allah.” [٦]
“Hanya kepada-Mu kami menyembah”
Artinya: kami tidak menyembah selain Engkau. Ini adalah perjanjian antara hamba dengan Rabbnya bahwa ia tidak akan menyembah selain Allah.
“Dan hanya kepada-Mu kami memohon pertolongan”
Ini adalah perjanjian antara hamba dengan Rabbnya bahwa ia tidak akan meminta pertolongan kepada selain Allah.
“Tunjukilah kami jalan yang lurus”
Makna “tunjukilah kami”: berilah petunjuk, bimbingan, dan keteguhan kepada kami.
“Jalan” adalah Islam. Ada pula yang menafsirkannya dengan Rasul, dan ada yang menafsirkannya dengan Al-Qur’an. Semua makna tersebut benar.
“Yang lurus” yaitu yang tidak memiliki penyimpangan.
“Jalan orang-orang yang telah Engkau beri nikmat kepada mereka”
Yaitu jalan orang-orang yang memperoleh nikmat dari Allah.
Dalilnya firman Allah Ta`ālā:
“Barang siapa menaati Allah dan Rasul, maka mereka akan bersama orang-orang yang diberi nikmat oleh Allah, yaitu para nabi, pecinta kebenaran, para syuhada, dan orang-orang shāliḥ. Mereka itulah sebaik-baik teman.” [١]
Surah Al-Infithār, ayat 17–18–19.[٦]
Diriwayatkan oleh Aḥmad, At-Tirmidzi, Ibn Mājah, dan Al-Ḥākim. Al-Ḥākim menshaḥiḥkannya.
[١]
Surah An-Nisā’, ayat 69.
(شروط الصلاة وأركانها وواجباتها)
Halaman 9 Edisi Syamila
وَهُمُ الۡيَهُودُ، مَعَهُمۡ عِلۡمٌ وَلَمۡ يَعۡمَلُواْ بِهِ
تَسۡأَلُ اللّٰهَ أَنۡ يُجَنِّبَكَ طَرِيقَهُمۡ
وَلَا الضَّالِّينَ [٢]
وَهُمُ النَّصَارَىٰ، يَعۡبُدُونَ اللّٰهَ عَلَىٰ جَهۡلٍ وَضَلَالٍ، تَسۡأَلُ اللّٰهَ أَنۡ يُجَنِّبَكَ طَرِيقَهُمۡ
وَدَلِيلُ الضَّالِّينَ قَوۡلُهُ تَعَالَىٰ
(قُلۡ هَلۡ نُنَبِّئُكُم بِالۡأَخۡسَرِينَ أَعۡمَٰلًا الَّذِينَ ضَلَّ سَعۡيُهُمۡ فِي الۡحَيَوٰةِ الدُّنۡيَا وَهُمۡ يَحۡسَبُونَ أَنَّهُمۡ يُحۡسِنُونَ صُنۡعًا أُولَٰئِكَ الَّذِينَ كَفَرُواْ بِـَٔايَٰتِ رَبِّهِمۡ وَلِقَائِهِ فَحَبِطَتۡ أَعۡمَٰلُهُمۡ فَلَا نُقِيمُ لَهُمۡ يَوۡمَ الۡقِيَٰمَةِ وَزۡنٗا) [٣]
وَالۡحَدِيثُ عَنۡهُ صَلَّى اللّٰهُ عَلَيۡهِ وَسَلَّمَ
“لَتَتَّبِعُنَّ سَنَنَ مَنۡ قَبۡلَكُمۡ حَذۡوَ الۡقُذَّةِ بِالۡقُذَّةِ حَتَّىٰ لَوۡ دَخَلُواْ جُحۡرَ ضَبٍّ لَدَخَلۡتُمُوهُ، قَالُوا: يَا رَسُولَ اللّٰهِ الۡيَهُودَ وَالنَّصَارَىٰ؟ قَالَ: فَمَنۡ”
أَخۡرَجَاهُ
وَالۡحَدِيثُ الثَّانِي
“افۡتَرَقَتِ الۡيَهُودُ عَلَىٰ إِحۡدَىٰ وَسَبۡعِينَ فِرۡقَةً، وَافۡتَرَقَتِ النَّصَارَىٰ عَلَى اثۡنَتَيۡنِ وَسَبۡعِينَ فِرۡقَةً، وَسَتَفۡتَرِقُ هٰذِهِ الۡأُمَّةُ عَلَىٰ ثَلَاثٍ وَسَبۡعِينَ فِرۡقَةً، كُلُّهَا فِي النَّارِ إِلَّا وَاحِدَةً، قُلۡنَا: مَنۡ هِيَ يَا رَسُولَ اللّٰهِ؟ قَالَ: مَنۡ كَانَ عَلَىٰ مِثۡلِ مَا أَنَا عَلَيۡهِ [٤] وَأَصۡحَابِي” [٥]
tas’alullāha an yujannibaka thorīqohum
wa ladh-dhōllīn [٢]
wa human-nashōrō, ya`budūnallāha `alā jahl wa dholāl, tas’alullāha an yujannibaka thorīqohum
wa dalīludh-dhōllīn qouluhū ta`ālā
(qul hal nunabbi’ukum bil-akhsarīna a`mālā alladzīna dholla sa`yuhum fil-ḥayātid-dunyā wa hum yaḥsabūna annahum yuḥsinūna shun`ā ulā’ikalladzīna kafarū bi āyāti robbihim wa liqō’ihī fa ḥabithot a`māluhum fa lā nuqīmu lahum yaumal-qiyāmati waznā) [٣]
wal-ḥadītsu `anhu C
“latattabi`unna sunana man qoblakum ḥadzwal-qudzdzati bil-qudzdzah ḥattā lau dakholū juḥro dhobbin ladakholtumūh, qōlū: yā rosūlallāh al-yahūdu wan-nashōrō? qōla: faman”
akhrojāh
wal-ḥadītsuts-tsānī
“iftaroqotil-yahūdu `alā iḥdā wa sab`īna firqoh, waftaroqotin-nashōrō `alā itsnataini wa sab`īna firqoh, wa sataftariqu hādzihil-ummah `alā tsalātsin wa sab`īna firqoh, kulluhā fin-nār illā wāḥidah, qulnā: man hiya yā rosūlallāh? qōla: man kāna `alā mitsli mā anā `alaihi [٤] wa ashḥābī” [٥]
“Bukan jalan orang-orang yang dimurkai”
Mereka adalah orang-orang Yahudi. Mereka memiliki ilmu tetapi tidak mengamalkannya.
Maka mintalah kepada Allah agar dijauhkan dari jalan mereka.
“Dan bukan pula jalan orang-orang yang sesat” [٢]
Mereka adalah orang-orang Nasrani. Mereka beribadah kepada Allah di atas kebodohan dan kesesatan.
Maka engkau memohon kepada Allah agar dijauhkan dari jalan mereka.
Dalil tentang orang-orang sesat adalah firman Allah Ta`ālā:
“Katakanlah: Maukah Kami beritahukan kepada kalian tentang orang-orang yang paling merugi perbuatannya? Yaitu orang-orang yang sia-sia usahanya dalam kehidupan dunia, sedangkan mereka mengira bahwa mereka telah berbuat sebaik-baiknya. Mereka itulah orang-orang yang kafir terhadap ayat-ayat Tuhan mereka dan terhadap pertemuan dengan-Nya, maka gugurlah amal-amal mereka, dan Kami tidak mengadakan suatu penilaian bagi mereka pada Hari Kiamat.” [٣]
Dan sabda Nabi C:
“Kalian benar-benar akan mengikuti jalan orang-orang sebelum kalian sejengkal demi sejengkal dan sehasta demi sehasta. Sampai-sampai jika mereka masuk ke lubang biawak, niscaya kalian akan mengikutinya.”
Para sahabat bertanya:
“Wahai Rasulullah, apakah mereka itu Yahudi dan Nasrani?”
Beliau menjawab:
“Siapa lagi kalau bukan mereka?”
Keduanya (Bukhari dan Muslim) meriwayatkannya.
Ḥadīts kedua:
“Orang-orang Yahudi terpecah menjadi 71 golongan, orang-orang Nasrani terpecah menjadi 72 golongan, dan umat ini akan terpecah menjadi 73 golongan. Semuanya di neraka kecuali 1.”
Para sahabat bertanya:
“Siapakah golongan itu wahai Rasulullah?”
Beliau menjawab:
“Yaitu orang-orang yang berada di atas ajaran yang aku [٤] dan para sahabatku berada di atasnya.” [٥]
Dalam naskah manuskrip: wa adh-dhōllīn (dan orang-orang yang sesat.)[٣]
Surah Al-Kahf, ayat 103–105.
[٤]
Dalam naskah manuskrip: mā anā `alaihi al-yauma wa ashḥābī (Apa yang aku dan para sahabatku berada di atasnya pada hari ini.)
[٥]
Diriwayatkan oleh 4 penyusun kitab Sunan. At-Tirmidzi berkata: “Ḥasan Shaḥīḥ.”
(شروط الصلاة وأركانها وواجباتها)
Halaman 10 Edisi Syamila
وَالدَّلِيلُ قَوۡلُهُ تَعَالَىٰ
(يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا ارۡكَعُوا وَاسۡجُدُوا) [١]
وَالۡحَدِيثُ عَنۡهُ صَلَّى اللّٰهُ عَلَيۡهِ وَسَلَّمَ
“أُمِرۡتُ أَنۡ أَسۡجُدَ عَلَىٰ سَبۡعَةِ أَعۡظُمٍ [٢]”
وَالطُّمَأۡنِينَةُ فِي جَمِيعِ الۡأَفۡعَالِ، وَالتَّرۡتِيبُ بَيۡنَ الۡأَرۡكَانِ [٣]
وَالدَّلِيلُ حَدِيثُ الۡمُسِيءِ
عَنۡ أَبِي هُرَيۡرَةَ قَالَ
“بَيۡنَمَا نَحۡنُ جُلُوسٌ عِنۡدَ النَّبِيِّ صَلَّى اللّٰهُ عَلَيۡهِ وَسَلَّمَ إِذۡ دَخَلَ رَجُلٌ فَصَلَّى [٤] فَسَلَّمَ عَلَى النَّبِيِّ صَلَّى اللّٰهُ عَلَيۡهِ وَسَلَّمَ فَقَالَ: ارۡجِعۡ فَصَلِّ فَإِنَّكَ لَمۡ تُصَلِّ، فَعَلَهَا ثَلَاثًا، ثُمَّ قَالَ: وَالَّذِي بَعَثَكَ بِالۡحَقِّ نَبِيًّا لَا أُحۡسِنُ غَيۡرَ هٰذَا فَعَلِّمۡنِي، فَقَالَ لَهُ النَّبِيُّ صَلَّى اللّٰهُ عَلَيۡهِ وَسَلَّمَ: إِذَا قُمۡتَ إِلَى الصَّلَاةِ فَكَبِّرۡ، ثُمَّ اقۡرَأۡ مَا تَيَسَّرَ مَعَكَ مِنَ الۡقُرۡآنِ، ثُمَّ ارۡكَعۡ حَتَّىٰ تَطۡمَئِنَّ رَاكِعًا، ثُمَّ ارۡفَعۡ حَتَّىٰ تَعۡتَدِلَ [٥] قَائِمًا، ثُمَّ اسۡجُدۡ حَتَّىٰ تَطۡمَئِنَّ سَاجِدًا، ثُمَّ ارۡفَعۡ حَتَّىٰ تَطۡمَئِنَّ جَالِسًا، ثُمَّ افۡعَلۡ ذٰلِكَ فِي صَلَاتِكَ كُلِّهَا” [٦]
wal-ḥadītsu `anhu C
“umirtu an asjuda `alā sab`ati a`zhum” [٢]
wath-thuma’nīnatu fī jamī`il-af`āl, wat-tartību bainal-arkān [٣]
wad-dalīlu ḥadītsul-musī’
`an abī hurairota qōla
“bainamā naḥnu julūsun `indan-nabiyyi C idz dakhola rojulun fashollā [٤] fasallama `alan-nabiyyi C qōla: irji` fasholli fa innaka lam tusholli, fa`alahā tsalātsā, tsumma qōla: walladzī ba`atsaka bil-ḥaqqi nabiyyan lā uḥsinu ghoiro hādzā fa `allimnī, faqōla lahun-nabiyyu C: idzā qumta ilash-sholāti fakabbir, tsummaqro’ mā tayassaro ma`aka minal-qur’ān, tsummarka` ḥattā tathma’inna rōki`ā, tsummarfa` ḥattā ta`tadil [٥] qō’imā, tsummasjud ḥattā tathma’inna sājidā, tsummarfa` ḥattā tathma’inna jālisan, tsummaf`al dzālika fī sholātika kullihā” [٦]
Ruku`, bangkit dari ruku`, sujud di atas tujuh anggota badan, i`tidal setelah ruku’, dan duduk di antara dua sujud.
Dalilnya adalah firman Allah Ta`ālā:
“Wahai orang-orang yang beriman, rukuklah dan sujudlah.” [١]
Dan sabda Nabi C:
“Aku diperintahkan untuk sujud di atas 7 tulang (anggota badan).” [٢]
Termasuk rukun pula thuma’ninah pada seluruh gerakan sholat dan tertib di antara rukun-rukunnya. [٣]
Dalilnya adalah ḥadīts orang yang salah dalam sholatnya.
Dari Abu Hurairah E berkata:
“Ketika kami sedang duduk bersama Nabi C, masuklah seorang laki-laki lalu sholat [٤]. Setelah itu ia memberi salam kepada Nabi C. Beliau bersabda:
‘Ulangi sholatmu, karena engkau belum sholat.’
Hal itu terjadi sampai 3 kali.
Lalu orang itu berkata:
‘Demi Dzat yang mengutus engkau dengan kebenaran sebagai nabi, aku tidak bisa melakukan yang lebih baik dari ini, maka ajarilah aku.’
Nabi C bersabda:
‘Apabila engkau berdiri untuk sholat maka bertakbirlah. Kemudian bacalah apa yang mudah bagimu dari Al-Qur’an. Kemudian rukuklah sampai engkau tenang (thuma’ninah) dalam keadaan rukuk. Kemudian bangkitlah [٥] sampai engkau tegak berdiri. Kemudian sujudlah sampai engkau tenang (thuma’ninah) dalam keadaan sujud. Kemudian bangkitlah sampai engkau tenang (thuma’ninah) dalam keadaan duduk. Kemudian lakukanlah demikian dalam seluruh sholatmu.'” [٦]
Surah Al-Ḥajj, ayat 77.[٢]
Diriwayatkan oleh Al-Bukhāri dan Muslim.
[٣]
Dalam naskah manuskrip, urutan (at-tartīb) didahulukan sebelum ath-thuma’nīnah.
[٤]
Tambahan dalam naskah manuskrip.
[٥]
Dalam naskah manuskrip: tathma’in (“menjadi tenang” atau “engkau menjadi tenang”.)
[٦]
Ḥadits shaḥīḥ. Diriwayatkan oleh Al-Bukhāri, Muslim, dan selain keduanya.
(شروط الصلاة وأركانها وواجباتها)
Halaman 11 Edisi Syamila
قَالَ
“كُنَّا نَقُولُ قَبۡلَ أَنۡ يُفۡرَضَ عَلَيۡنَا التَّشَهُّدُ: السَّلَامُ عَلَى اللّٰهِ مِنۡ عِبَادِهِ، السَّلَامُ عَلَىٰ جِبۡرِيلَ وَمِيكَائِيلَ” [٧]
وَقَالَ النَّبِيُّ صَلَّى اللّٰهُ عَلَيۡهِ وَسَلَّمَ
“لَا تَقُولُوا: السَّلَامُ عَلَى اللّٰهِ مِنۡ عِبَادِهِ، فَإِنَّ اللّٰهَ هُوَ السَّلَامُ [٨] وَلَٰكِنۡ قُولُوا: التَّحِيَّاتُ لِلّٰهِ وَالصَّلَوَاتُ وَالطَّيِّبَاتُ، السَّلَامُ عَلَيۡكَ أَيُّهَا النَّبِيُّ وَرَحۡمَةُ اللّٰهِ وَبَرَكَاتُهُ، السَّلَامُ عَلَيۡنَا وَعَلَىٰ عِبَادِ اللّٰهِ الصَّالِحِينَ، أَشۡهَدُ أَنۡ لَا إِلٰهَ إِلَّا اللّٰهُ وَأَشۡهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبۡدُهُ وَرَسُولُهُ” [١]
وَمَعۡنَى “التَّحِيَّاتُ” جَمِيعُ التَّعۡظِيمَاتِ لِلّٰهِ مِلۡكًا وَاسۡتِحۡقَاقًا، مِثۡلُ الِانۡحِنَاءِ وَالرُّكُوعِ وَالسُّجُودِ وَالۡبَقَاءِ وَالدَّوَامِ، وَجَمِيعُ مَا يُعَظَّمُ بِهِ رَبُّ الۡعَالَمِينَ فَهُوَ لِلّٰهِ، فَمَنۡ صَرَفَ مِنۡهُ شَيۡـًٔا لِغَيۡرِ اللّٰهِ فَهُوَ مُشۡرِكٌ كَافِرٌ
wa qōlan-nabiyyu C
“lā taqūlū: as-salāmu `alallāhi min `ibādih, fa innallāha huwa as-salām [٨] walākin qūlū: at-taḥiyyātu lillāhi wash-sholawātu wath-thoyyibāt, as-salāmu `alaika ayyuhan-nabiyyu wa roḥmatullāhi wa barokātuh, as-salāmu `alainā wa `alā `ibādillāhish-shōliḥīn, asyhadu an lā ilāha illallāh wa asyhadu anna muḥammadan `abduhū wa rosūluh” [١]
wa ma`nā “at-taḥiyyāt” jamī`ut-ta`zhīmāti lillāhi malkan wastiḥqōqō, mitslal-inḥinā’ war-rukū` was-sujūd wal-baqō’ wad-dawām, wa jamī`u mā yu`azhzhomu bihī robbul-`ālamīn fahuwa lillāh, fa man shorofa minhu syai’an lighoirillāh fahuwa musyrikun kāfir
Tasyahud akhir adalah rukun yang diwajibkan, sebagaimana dalam ḥadīts Ibnu Mas`ud E, beliau berkata:
“Dahulu kami mengucapkan sebelum tasyahud diwajibkan: as-salāmu `alallāhi min `ibādih, as-salāmu `alā jibrīl wa mīkā’īl Salam atas Allah dari hamba-hamba-Nya, salam atas Jibril dan Mika’il.” [٧]
Kemudian Nabi C bersabda:
“Janganlah kalian mengatakan: ‘Salam atas Allah dari hamba-hamba-Nya’, karena Allah adalah As-Salam [٨]. Akan tetapi ucapkanlah:
at-taḥiyyātu lillāhi wash-sholawātu wath-thoyyibāt, as-salāmu `alaika ayyuhan-nabiyyu wa roḥmatullāhi wa barokātuh, as-salāmu `alainā wa `alā `ibādillāhish-shōliḥīn, asyhadu an lā ilāha illallāh wa asyhadu anna muḥammadan `abduhū wa rosūluh [١]
‘Segala penghormatan, sholat dan kebaikan adalah milik Allah. Semoga keselamatan, raḥmat Allah dan keberkahan-Nya tercurah kepadamu wahai Nabi. Semoga keselamatan tercurah kepada kami dan kepada hamba-hamba Allah yang shāliḥ. Aku bersaksi bahwa tidak ada tuhan yang benar kecuali Allah, dan aku bersaksi bahwa Muḥammad adalah hamba dan utusan-Nya.'”
Makna “At-Taḥiyyat” adalah seluruh bentuk pengagungan adalah milik Allah, baik dari sisi kepemilikan maupun hak yang memang layak bagi-Nya.
Contohnya adalah membungkuk, rukuk, sujud, kekekalan, dan seluruh bentuk pengagungan yang digunakan untuk mengagungkan Rabb semesta alam.
Maka seluruhnya adalah milik Allah. Barang siapa memalingkan sedikit saja dari bentuk-bentuk pengagungan tersebut kepada selain Allah, maka ia termasuk musyrik dan kafir.
An-Nasā’ī, Kitāb As-Sahw (1277).[٨]
Dalam naskah manuskrip terdapat tambahan: wa minhu as-salām (dan termasuk darinya adalah salam.)
[١]
Diriwayatkan oleh Al-Bukhāri dalam Shaḥiḥ-nya.
(شروط الصلاة وأركانها وواجباتها)
Halaman 11 Edisi Syamila
وَالطَّيِّبَاتُ لِلّٰهِ، اللّٰهُ طَيِّبٌ وَلَا يَقۡبَلُ مِنَ الۡأَقۡوَالِ وَالۡأَعۡمَالِ إِلَّا طَيِّبَهَا
السَّلَامُ عَلَيۡكَ أَيُّهَا النَّبِيُّ وَرَحۡمَةُ اللّٰهِ وَبَرَكَاتُهُ: تَدۡعُو لِلنَّبِيِّ صَلَّى اللّٰهُ عَلَيۡهِ وَسَلَّمَ بِالسَّلَامَةِ وَالرَّحۡمَةِ وَالۡبَرَكَةِ [٢]
وَالَّذِي يُدۡعَى لَهُ مَا يُدۡعَى مَعَ اللّٰهِ
وَالسَّلَامُ عَلَيۡنَا وَعَلَىٰ عِبَادِ اللّٰهِ الصَّالِحِينَ: تُسَلِّمُ عَلَىٰ نَفۡسِكَ وَعَلَىٰ كُلِّ عَبۡدٍ صَالِحٍ فِي السَّمَاءِ وَالۡأَرۡضِ
وَالسَّلَامُ دُعَاءٌ، وَالصَّالِحُونَ يُدۡعَى لَهُمۡ وَلَا يُدۡعَوۡنَ مَعَ اللّٰهِ
أَشۡهَدُ أَنۡ لَا إِلٰهَ إِلَّا اللّٰهُ وَحۡدَهُ لَا شَرِيكَ لَهُ وَأَشۡهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبۡدُهُ وَرَسُولُهُ
تَشۡهَدُ شَهَادَةَ الۡيَقِينِ أَلَّا يُعۡبَدَ فِي الۡأَرۡضِ وَلَا فِي السَّمَاءِ بِحَقٍّ إِلَّا اللّٰهُ، وَشَهَادَةَ أَنَّ مُحَمَّدًا رَسُولُ اللّٰهِ بِأَنَّهُ عَبۡدٌ لَا يُعۡبَدُ، وَرَسُولٌ لَا يُكَذَّبُ بَلۡ يُطَاعُ وَيُتَّبَعُ، شَرَّفَهُ اللّٰهُ بِالۡعُبُودِيَّةِ
وَالدَّلِيلُ قَوۡلُهُ تَعَالَىٰ
(تَبَارَكَ الَّذِي نَزَّلَ الۡفُرۡقَانَ عَلَىٰ عَبۡدِهِ لِيَكُونَ لِلۡعَالَمِينَ نَذِيرًا) [٣]
اللّٰهُمَّ صَلِّ عَلَىٰ مُحَمَّدٍ وَعَلَىٰ آلِ مُحَمَّدٍ كَمَا صَلَّيۡتَ عَلَىٰ إِبۡرَاهِيمَ وَعَلَىٰ آلِ إِبۡرَاهِيمَ إِنَّكَ حَمِيدٌ
الصَّلَاةُ مِنَ اللّٰهِ ثَنَاؤُهُ عَلَىٰ عَبۡدِهِ فِي الۡمَلَإِ الۡأَعۡلَىٰ، كَمَا حَكَى الۡبُخَارِيُّ فِي صَحِيحِهِ عَنۡ أَبِي الۡعَالِيَةِ قَالَ: صَلَاةُ اللّٰهِ ثَنَاؤُهُ عَلَىٰ عَبۡدِهِ فِي الۡمَلَإِ الۡأَعۡلَىٰ، وَقِيلَ: الرَّحۡمَةُ، وَالصَّوَابُ الۡأَوَّلُ [٤]
وَمِنَ الۡمَلَائِكَةِ الِاسۡتِغۡفَارُ، وَمِنَ الۡآدَمِيِّينَ الدُّعَاءُ
وَ”بَارِكۡ” وَمَا بَعۡدَهَا سُنَنُ أَقۡوَالٍ وَأَفۡعَالٍ
as-salāmu `alaika ayyuhan-nabiyyu wa roḥmatullāhi wa barokātuh: tad`ū lin-nabiyyi C bis-salāmah war-roḥmah wal-barokah [٢]
walladzī yud`ā lahu mā yud`ā ma`allāh
was-salāmu `alainā wa `alā `ibādillāhish-shōliḥīn: tusallimu `alā nafsika wa `alā kulli `abdin shōliḥ fis-samā’i wal-ardh
was-salāmu du`ā’, wash-shōliḥūna yud`ā lahum wa lā yud`auna ma`allāh
asyhadu an lā ilāha illallāhu waḥdahū lā syarīka lahū wa asyhadu anna muḥammadan `abduhū wa rosūluh
tasyahhud syahādatal-yaqīn allā yu`bada fil-ardhi wa fis-samā’i biḥaqqin illallāh, wa syahādatan anna muḥammadan rosūlullāh bi annahū `abdun lā yu`bad, wa rosūlun lā yukadzdzab bal yuthō`u wa yuttaba`, syarrofahullāhu bil-`ubūdiyyah
wad-dalīlu qouluhū ta`ālā
(tabārakalladzī nazzalal-furqōna `alā `abdihī li yakūna lil-`ālamīna nadzīrā) [٣]
allāhumma sholli `alā muḥammadin wa `alā āli muḥammadin kamā shollaita `alā ibrōhīma wa `alā āli ibrōhīm innaka ḥamīd
ash-sholātu minallāhi tsanā’uhū `alā `abdihī fil-malā’il-a`lā, kamā ḥakā al-bukhōrī fī shoḥīḥih `an abī al-`āliyah qōla: sholātullāhi tsanā’uhū `alā `abdihī fil-malā’il-a`lā, wa qīla: ar-roḥmah, wash-showāb al-awwal [٤]
wa minal-malā’ikati al-istighfār, wa minal-ādāmiyyīna ad-du`ā’
wa “bārik” wa mā ba`dahā sunan aqwāl wa af`āl
“Dan sholawat” maknanya adalah seluruh bentuk doa, dan ada pula yang mengatakan: shalat 5 waktu.
“Dan thoyyibat itu milik Allah”: Allah itu Maha Baik, dan tidak menerima dari ucapan maupun amal kecuali yang baik.
“Semoga keselamatan atasmu wahai Nabi, raḥmat Allah dan keberkahan-Nya”: engkau mendoakan Nabi C dengan keselamatan, raḥmat, dan keberkahan. [٢]
Dan orang yang didoakan tidak boleh disamakan dengan Allah dalam doa.
“Semoga keselamatan atas kami dan atas hamba-hamba Allah yang shāliḥ”: engkau mendoakan keselamatan untuk dirimu dan semua hamba Allah yang shāliḥ di langit dan di bumi.
Salam adalah doa, dan orang-orang shāliḥ didoakan, bukan dimintai doa bersama Allah.
“Saya bersaksi bahwa tidak ada yang berhak diibadahi kecuali Allah satu-satunya, tidak ada sekutu bagi-Nya, dan saya bersaksi bahwa Muḥammad adalah hamba dan rasulNya”:
Kesaksian ini adalah keyakinan bahwa tidak ada yang berhak diibadahi di bumi maupun di langit selain Allah.
Dan kesaksian bahwa Muḥammad adalah rasul Allah berarti beliau adalah hamba yang tidak diibadahi, dan rasul tidak didustakan, tetapi ditaati dan diikuti.
Allah memuliakan beliau dengan sifat kehambaan.
Dalilnya firman Allah Ta`ālā:
“Maha Suci (Allah) yang telah menurunkan Al-Furqān kepada hamba-Nya agar dia menjadi pemberi peringatan bagi seluruh alam.” [٣]
allāhumma sholli `alā muḥammadin wa `alā āli muḥammadin kamā shollaita `alā ibrōhīma wa `alā āli ibrōhīm innaka ḥamīd
“Ya Allah, limpahkan shalawat kepada Muḥammad dan keluarga Muḥammad sebagaimana Engkau telah melimpahkan kepada Ibrahim dan keluarga Ibrahim. Sesungguhnya Engkau Maha Terpuji.”
Shalawat dari Allah adalah pujian-Nya kepada hamba di hadapan para malaikat yang tinggi.
Sebagaimana disebutkan dalam Shaḥiḥ Bukhari dari Abu Al-`Aliyah: shalawat Allah adalah pujian-Nya kepada hamba di hadapan malaikat.
Ada yang mengatakan: raḥmat, namun yang benar adalah pendapat pertama. [٤]
Dari malaikat berupa istighfar, dan dari manusia berupa doa.
“Dan bārik” dan setelahnya adalah sunnah dalam ucapan dan perbuatan.
Dalam naskah manuskrip terdapat tambahan: wa rofa` ad-darojah (dan meninggikan derajat.)[٣]
Surah Al-Furqān, ayat 1.
[٤]
Dalam naskah manuskrip terdapat perbedaan lafaz yang ringan, namun tidak mengubah makna.
(شروط الصلاة وأركانها وواجباتها)
Halaman 12 Edisi Syamila
وَقَوۡلُ “سُبۡحَانَ رَبِّيَ الۡعَظِيمِ فِي الرُّكُوعِ”، وَ”سَمِعَ اللّٰهُ لِمَنۡ حَمِدَهُ” لِلۡإِمَامِ وَالۡمُنۡفَرِدِ
وَقَوۡلُ “رَبَّنَا وَلَكَ الۡحَمۡدُ” لِلۡكُلِّ
وَقَوۡلُ “سُبۡحَانَ رَبِّيَ الۡأَعۡلَىٰ” فِي السُّجُودِ
وَقَوۡلُ “رَبِّ اغۡفِرۡ لِي” بَيۡنَ السَّجۡدَتَيۡنِ
وَالتَّشَهُّدُ الۡأَوَّلُ وَالۡجُلُوسُ لَهُ
فَالۡأَرۡكَانُ مَا سَقَطَ مِنۡهَا سَهۡوًا أَوۡ عَمۡدًا بَطَلَتِ الصَّلَاةُ بِتَرۡكِهِ
وَالۡوَاجِبَاتُ مَا سَقَطَ مِنۡهَا عَمۡدًا بَطَلَتِ الصَّلَاةُ بِتَرۡكِهِ، وَسَهۡوًا جَبَرَهُ السُّجُودُ لِلسَّهۡوِ [١]
وَاللّٰهُ أَعۡلَمُ
wa qoul “robbanā wa lakal-ḥamd” lil-kull
wa qoul “subḥāna robbiyal-a`lā fis-sujūd”
wa qoul “robbighfir lī bainas-sajdatain”
wat-tasyahhudul-awwal wal-julūsu lah
fal-arkānu mā saqotho minhā sahwan au `amdan batholat ash-sholātu bi tarkih
wal-wājibātu mā saqotho minhā `amdan batholat ash-sholātu bi tarkih, wa sahwan jabarohū as-sujūdu lis-sahwi [١]
wallāhu a`lam
Wajib dalam sholat ada 8:
Semua takbir selain takbiratul iḥrām, mengucapkan subḥāna robbiyal-`azhīm ketika ruku`, mengucapkan sami`allāhu liman ḥamidah bagi imam dan orang yang sholat sendiri, mengucapkan robbanā wa lakal-ḥamd untuk semua, mengucapkan subḥāna robbiyal-a`lā ketika sujud, mengucapkan robbighfir lī di antara dua sujud, tasyahud awal dan duduk untuknya.
Rukun adalah sesuatu yang jika ditinggalkan baik sengaja maupun lupa maka sholat menjadi batal.
Adapun wajib, jika ditinggalkan dengan sengaja maka sholat batal, sedangkan jika karena lupa maka ditutupi dengan sujud sahwi. [١]
Dan Allah lebih mengetahui.
Ungkapan dalam naskah manuskrip: “wal-wājibātu mā saqotho minhā sahwan jabruhu bi-sujūdi as-sahwi, wa `amdan batholat.”




