4 KAIDAH YANG MENJADI DASAR BERBAGAI HUKUM – MUḤAMMAD BIN `ABDUL-WAHHĀB

Sumber Referensi[a1]:
4 Kaidah yang Menjadi Dasar Berbagai Hukum, Disertai Ringkasan tentang Mengikuti Nash-nash Syariat dengan Tetap Menghormati Para Ulama.

Penulis : Muḥammad bin `Abdul Wahhāb bin Sulaimān At-Tamīmī An-Najdī (wafat 1206 H)
Halaman : 14 halaman
4 Kaidah Dasar Hukum

4 KAIDAH YANG MENJADI DASAR BERBAGAI HUKUM

Jilid #2, bagian fikih.

Karya: Syaikhul Islam Muḥammad bin `Abdil Wahhāb.

4 Kaidah yang Menjadi Landasan Berbagai Hukum, Disertai Ringkasan tentang Mengikuti Nash-nash Syariat dengan Tetap Menghormati Para Ulama.

Dengan nama Allah Ar-Raḥmān Ar-Raḥīm.

Syaikh Muḥammad I berkata:

Ini adalah 4 kaidah agama yang menjadi poros berputarnya berbagai hukum. Kaidah-kaidah ini termasuk nikmat terbesar yang Allah Ta`ālā karuniakan kepada Muḥammad C dan umat beliau.

Allah menjadikan agama mereka sebagai agama yang sempurna, lengkap, dan lebih sempurna serta lebih luas ilmunya daripada seluruh agama lainnya. Meski demikian, Allah menghimpun seluruhnya dalam lafaz-lafaz yang sedikit.

Hal ini patut diperhatikan sebelum mempelajari 4 kaidah tersebut, yaitu dengan memahami sabda Nabi C ketika beliau menyebutkan keistimewaan-keistimewaan yang Allah berikan kepadanya dibanding para rasul, agar kita mengetahui dan mensyukuri nikmat Allah.

Beliau C bersabda,

Aku diberi jawāmi`ul kalim.

– Al-Bukhāri, Kitāb Al-Jihād wa As-Siyar (2977); Muslim, Kitāb Al-Masājid wa Mawādhi` Ash-Sholāh (523)

Imam Ḥijaz, Muḥammad bin Syihāb Az-Zuhrī, berkata:

“Maknanya adalah Allah menghimpunkan banyak makna ke dalam lafaz-lafaz yang ringkas.”

 

KAIDAH #1: ḤARAM BERKATA ATAS NAMA ALLAH TANPA ILMU

[Kaidah Pertama: Ḥaram berkata atas nama Allah tanpa ilmu.]

Berdasarkan firman Allah Ta`ālā:

Katakanlah (Muḥammad), “Sesungguhnya Rabbku hanya mengḥaramkan segala perbuatan keji yang tampak dan yang tersembunyi, perbuatan dosa, dan perbuatan melampaui batas tanpa alasan yang benar. (Dia juga mengḥaramkan) kamu mempersekutukan Allah dengan sesuatu yang Allah tidak menurunkan bukti pembenaran untuk itu dan (mengḥaramkan) kamu mengatakan tentang Allah apa yang tidak kamu ketahui.” – [QS. Al-A`rāf 7:33]

[a2]

-3-

KAIDAH #2: SEGALA SESUATU YANG DIDIAMKAN OLEH SYARIAT MERUPAKAN KERINGANAN

[Kaidah Kedua: Segala sesuatu yang didiamkan oleh syariat merupakan keringanan. Tidak boleh bagi siapa pun mengḥaramkannya, mewajibkannya, menganjurkannya, ataupun memakruhkannya.]

Dalilnya adalah firman Allah Ta`ālā:

“Wahai orang-orang yang beriman, janganlah kalian menanyakan hal-hal yang apabila dijelaskan kepada kalian niscaya akan menyusahkan kalian.” – [QS. Al-Mā’idah 5:101]

Nabi C juga bersabda:

“Allah mendiamkan beberapa perkara sebagai raḥmat bagi kalian, bukan karena lupa. Maka janganlah kalian menanyakannya.”

 

KAIDAH #3: MENINGGALKAN DALIL YANG JELAS LALU BERDALIL DENGAN LAFAZ YANG MUTASYABIH ADALAH JALAN AHLI ZAIGH, SEPERTI RAFIDHAH DAN KHAWARIJ

[Kaidah Ketiga: Meninggalkan dalil yang jelas lalu berdalil dengan lafaz yang mutasyabih adalah jalan Ahli Zaigh, seperti Rafidhah dan Khawarij.]

Allah Ta`ālā berfirman:

“Adapun orang-orang yang di dalam hati mereka terdapat penyimpangan, maka mereka mengikuti ayat-ayat yang mutasyabih.” – [QS. Āli `Imrān 3:7]

Seorang muslim wajib mengikuti ayat-ayat yang muḥkam. Jika ia mengetahui makna ayat mutasyābih, niscaya ia akan mendapati bahwa maknanya tidak bertentangan dengan ayat muḥkam, bahkan selaras dengannya.

Jika belum mengetahuinya, maka ia wajib mengikuti sikap orang-orang yang mendalam ilmunya yang berkata:

“Kami beriman kepadanya (Al-Qur’an); semuanya berasal dari Rabb kami.” – [QS. Āli `Imrān 3:7]

 

KAIDAH #4: YANG ḤALAL JELAS, YANG ḤARAM JELAS, DI ANTARA KEDUANYA ADA PERKARA YANG SAMAR

Kaidah Keempat: Nabi C bersabda:

“Sesungguhnya yang ḥalal itu jelas, yang ḥaram itu jelas, dan di antara keduanya terdapat perkara-perkara yang samar.”

– Al-Bukhāri, Kitāb Al-Buyū` (2051); Muslim, Kitāb Al-Musāqāh (1599); At-Tirmidzi, Kitāb Al-Buyū` (1205); An-Nasā’ī, Kitāb Al-Buyū` (4453) dan Kitāb Al-Asyribah (5710); Abū Dāwud, Kitāb Al-Buyū` (3329); Ibn Mājah, Kitāb Al-Fitan (3984); Aḥmad (4/269, 4/270); dan Ad-Dārimi, Kitāb Al-Buyū` (2531).

Barang siapa tidak memahami kaidah ini lalu berbicara dalam suatu persoalan dengan keputusan yang tegas, maka ia telah sesat dan menyesatkan.

3 kaidah pertama disebutkan oleh Allah dalam Kitab-Nya, sedangkan kaidah ke-4 disebutkan oleh Nabi C.

Ketahuilah —semoga Allah meraḥmatimu— bahwa 4 kaidah ini, meskipun sangat ringkas, menjadi poros agama. Hal itu berlaku baik dalam pembahasan ilmu tafsir, ilmu ushul, maupun ilmu tentang amalan-amalan hati,

-4-

…yang disebut ilmu suluk, atau ilmu ḥadīts, atau ilmu ḥalal, ḥaram, dan hukum-hukum yang disebut ilmu fikih, atau ilmu tentang janji dan ancaman, ataupun cabang-cabang ilmu agama lainnya. [a3]

Saya akan memberikan sebuah contoh agar engkau mengetahui benarnya apa yang saya katakan, lalu menjadikannya pedoman apabila engkau memahaminya.

Saya memberi contoh dari salah satu cabang ilmu agama, yaitu ilmu fikih, dan saya batasi hanya pada satu bab saja, yaitu bab pertama:

“Bab Air.”

Sebagian ulama berkata:

Seluruh air adalah suci dan menyucikan, kecuali apabila berubah karena najis atau sudah tidak lagi disebut air, seperti air mawar, air rebusan kacang, dan semisalnya.

Sebagian yang lain berkata:

Air terbagi menjadi 3:

  1. air suci menyucikan,
  2. air suci tetapi tidak menyucikan,
  3. dan air najis.

Dalil mereka adalah sabda Nabi C:

“Janganlah salah seorang di antara kalian mandi di air yang tergenang.”

– Muslim, Kitāb Ath-Thohāroh (283); An-Nasā’ī, Kitāb Ath-Thohāroh (220) dan Kitāb Al-Ghusl wa At-Tayammum (396); serta Ibn Mājah, Kitāb Ath-Thohāroh wa Sunanihā (605).

Menurut mereka, larangan itu menunjukkan adanya hukum tertentu. Mereka juga berdalil secara logika bahwa jika seseorang diberi kuasa membeli air lalu ia membeli air bekas dipakai atau air yang berubah karena benda suci, maka pemberi kuasa tidak wajib menerimanya. Hal itu menunjukkan bahwa air tersebut bukan termasuk air mutlak.

Pendapat pertama menjawab: Nabi C hanya melarang seseorang mandi di air yang tergenang. Apabila larangan itu dilanggar, maka pembahasan mengenai status air merupakan masalah lain yang tidak dibahas oleh ḥadīts itu, baik secara penafian maupun penetapan.

Adapun alasan bahwa pemberi kuasa tidak mau menerima air tersebut juga bukan dalil. Sebab, jika ia membelikan air laut, belum tentu pemberi kuasa mau menerimanya. Demikian pula jika ia membelikan air yang menjijikkan tetapi tetap suci menyucikan, belum tentu ia mau menerimanya. Maka gugurlah alasan tersebut.

Jika kalian mengakui bahwa dalil-dalil seperti itu hanya menghasilkan dugaan, padahal telah tetap sabda Nabi C:

Dugaan adalah perkataan yang paling dusta,

– Al-Bukhāri, Kitāb An-Nikāḥ (5144) dan Kitāb Al-Adab (6066); Muslim, Kitāb Al-Birr wa Ash-Shilah wa Al-Ādāb (2563); At-Tirmidzi, Kitāb Al-Birr wa Ash-Shilah (1988); Abū Dāwud, Kitāb Al-Adab (4917); Aḥmad (2/245, 2/287, 2/312, 2/342, 2/465, 2/470, 2/482, 2/491, 2/504, 2/517, 2/538); dan Mālik, Kitāb Al-Jāmi` (1684).

maka kalian telah terjatuh ke dalam sesuatu yang diḥaramkan, baik pendapat itu benar maupun salah, karena kalian berfatwa hanya berdasarkan dugaan semata.

Sedangkan firman Allah:

Kalian tidak mendapatkan air, [QS. An-Nisā’ 4:43]

merupakan lafaz umum yang termasuk jawāmi`ul kalim. Jika air yang diperselisihkan itu masuk ke dalam keumuman ayat tersebut, berarti kalian telah menyelisihi nash. Jika tidak masuk ke dalam keumuman ayat itu dan syariat mendiamkannya, maka perkara tersebut termasuk yang dimaafkan. [a4]

-5-

Tidak ḥalal berbicara tentang hal itu. Kalian juga telah menyelisihi firman Allah Ta`ālā:

Wahai orang-orang yang beriman, janganlah kalian bertanya tentang hal-hal (tertentu). – [QS. Al-Mā’idah 5:101]

Demikian pula ketika kalian meninggalkan lafaz umum yang mencakup segala sesuatu ini bersama sabda Nabi C,

Air itu suci lagi menyucikan, tidak ada sesuatu pun yang dapat menajiskannya.

– At-Tirmidzi, Kitāb Ath-Thohāroh (66); An-Nasā’ī, Kitāb Al-Miyāh (326); Abū Dāwud, Kitāb Ath-Thohāroh (66); dan Aḥmad (3/15, 3/31, 3/86).

Kalian meninggalkan lafaz-lafaz yang jelas dan bersifat umum tersebut, lalu mengklaim bahwa air terbagi menjadi 3 macam berdasarkan dalil-dalil yang kalian sebutkan. Dengan demikian, kalian telah menempuh jalan Ahli Az-Zaigh, yaitu meninggalkan dalil yang muḥkam dan mengikuti dalil yang mutasyabih.

Apabila kalian berkata,

Belum jelas bagi kami bahwa air itu suci lagi menyucikan, dan kami khawatir larangan tersebut berpengaruh terhadapnya,

maka kami menjawab:

Allah telah memberikan jalan keluar bagi kalian, yaitu bersikap tawaqquf (menahan diri) dan mengatakan: “Saya tidak tahu.”

Jika tidak, maka hubungkanlah masalah itu dengan perkara-perkara mutasyabih. Adapun memastikan bahwa syariat telah menetapkan air ini sebagai sesuatu yang suci dan menyucikan, maka kalian telah terjatuh ke dalam pembahasan mengenai perkara yang didiamkan oleh syariat, mengikuti yang mutasyabih, serta meninggalkan sabda Nabi C,

Di antara keduanya terdapat perkara-perkara yang samar.

– Al-Bukhāri, Kitāb Al-Īmān (52); Muslim, Kitāb Al-Musāqāh (1599); At-Tirmidzi, Kitāb Al-Buyū` (1205); An-Nasā’ī, Kitāb Al-Buyū` (4453) dan Kitāb Al-Asyribah (5710); Abū Dāwud, Kitāb Al-Buyū` (3329); Ibn Mājah, Kitāb Al-Fitan (3984); Aḥmad (4/269, 4/270, 4/271); dan Ad-Dārimi, Kitāb Al-Buyū` (2531).

Masalah kedua: perkataan mereka bahwa air yang banyak menjadi najis karena air kencing dan kotoran manusia, disebabkan adanya larangan buang air kecil di dalamnya.

Kepada mereka dikatakan: yang disebutkan hanyalah larangan buang air kecil di dalam air itu. Adapun mengenai najis atau sucinya air, sama sekali tidak dibahas. Itu adalah masalah lain yang harus ditetapkan dengan dalil lain, yaitu firman Allah dalam kalimat yang bersifat umum:

Lalu kalian tidak mendapatkan air. – [QS. An-Nisā’ 4:43]

Ini adalah air. Demikian pula sabda Nabi C ketika beliau ditanya tentang Sumur Budhā`ah —yaitu sebuah sumur tempat dibuang kain haid dan kotoran manusia— beliau bersabda,

Air itu suci lagi menyucikan, tidak ada sesuatu pun yang dapat menajiskannya.

– At-Tirmidzi, Kitāb Ath-Thohāroh (66); An-Nasā’ī, Kitāb Al-Miyāh (326); Abū Dāwud, Kitāb Ath-Thohāroh (66); dan Aḥmad (3/15, 3/31, 3/86).

[a5]

-6-

Barang siapa meninggalkan dalil yang muḥkam ini lalu berfatwa bahwa air tersebut najis dengan alasan adanya larangan buang air kecil di dalamnya, maka ia telah meninggalkan dalil yang muḥkam dan mengikuti dalil yang mutasyabih.

Ia juga telah berbicara tanpa ilmu, karena ia tidak dapat memastikan bahwa Nabi C memang menghendaki kenajisan air ketika beliau melarang buang air kecil di dalamnya. Yang dimilikinya hanyalah dugaan semata.

Jika kita andaikan bahwa masalah ini tidak termasuk dalam keumuman yang telah kami sebutkan, dan ia berbicara berdasarkan qiyas, maka ia telah menyelisihi firman Allah:

Janganlah kalian bertanya tentang hal-hal (tertentu). – [QS. Al-Mā’idah 5:101]

Jika ia beralasan,

Belum jelas bagiku bahwa hal ini termasuk dalam keumuman ayat tersebut, dan aku khawatir karena adanya larangan itu menunjukkan kenajisannya,

maka dijawab:

engkau masih memiliki jalan keluar agar tidak berbicara tanpa ilmu, yaitu memasukkannya ke dalam perkara-perkara mutasyabih. Jangan sekali-kali mengklaim bahwa Allah telah mensyariatkan kenajisannya dan mengḥaramkan meminumnya.

Demikian pula mengenai sisa air bersuci wanita. Sebagian ulama beranggapan bahwa air tersebut tidak dapat menghilangkan ḥadats. Dari pendapat itu lahirlah berbagai persoalan yang hanya menyibukkan manusia dan menyulitkan makhluk. Akan tetapi, banyak ulama bahkan mayoritas mereka berpendapat bahwa air tersebut tetap suci lagi menyucikan.

Jika ḥadits tentang masalah ini memang tidak shaḥiḥ, maka tidak ada lagi yang perlu dibahas sebagaimana diterangkan oleh Al-Bukhāri dan ulama lainnya. Namun jika ḥadits tersebut dianggap shaḥiḥ, maka kami katakan:

Di dalam Shaḥīḥ Muslim terdapat ḥadits yang lebih shaḥiḥ, yaitu bahwa Nabi C pernah berwudhu dan mandi menggunakan sisa air Maimūnah. – Muslim, Kitāb Al-Ḥaidh (323); dan Aḥmad (1/366).

Air itu secara pasti termasuk dalam firman Allah,

Lalu kalian tidak mendapatkan air. – [QS. An-Nisā’ 4:43]

Demikian pula termasuk dalam sabda beliau,

Air itu suci lagi menyucikan, tidak ada sesuatu pun yang dapat menajiskannya.

– At-Tirmidzi, Kitāb Ath-Thohāroh (66); An-Nasā’ī, Kitāb Al-Miyāh (326); Abū Dāwud, Kitāb Ath-Thohāroh (66); dan Aḥmad (3/15, 3/31, 3/86).

 

[a6]

-7-

Beliau hanya melarang kaum laki-laki menggunakan air itu sebagai larangan yang bersifat makruh (tanzih) dan adab apabila dalil-dalil yang pasti telah diperhatikan.

Maka jika orang yang melarang penggunaannya berkata,

Saya khawatir jika larangan itu benar, maka wudhu menjadi tidak sah.

Kami menjawab:

Jika engkau khawatir demikian, masukkanlah persoalan itu ke dalam perkara-perkara mutasyabih. Jangan mengatakan sesuatu atas nama Allah tanpa ilmu.

Dari sikap sebaliknya akan lahir banyak persoalan yang tidak pernah dijelaskan oleh syariat, baik mengenai tata cara berkhalwat maupun selainnya.

Di antaranya adalah hukum air yang jumlahnya kurang dari dua qullah apabila terkena najis. Banyak ulama, bahkan mayoritas mereka, berpendapat bahwa air itu tetap suci lagi menyucikan, dan termasuk dalam kaidah umum firman Allah,

Lalu kalian tidak mendapatkan air. – [QS. An-Nisā’ 4:43]

Nabi C juga pernah ditanya tentang air yang terkena najis, lalu beliau bersabda,

Air itu suci lagi menyucikan, tidak ada sesuatu pun yang dapat menajiskannya.”

– At-Tirmidzi, Kitāb Ath-Thohāroh (66); An-Nasā’ī, Kitāb Al-Miyāh (326); Abū Dāwud, Kitāb Ath-Thohāroh (66); dan Aḥmad (3/15, 3/31, 3/86).

Namun sebagian ulama lain memahami ḥadīts tersebut hanya berlaku untuk air yang banyak, berdasarkan sabda beliau,

Apabila air telah mencapai dua qullah, maka ia tidak membawa najis.

– At-Tirmidzi, Kitāb Ath-Thohāroh (67); An-Nasā’ī, Kitāb Ath-Thohāroh (52); Abū Dāwud, Kitāb Ath-Thohāroh (63); Aḥmad (2/12, 2/38); dan Ad-Dārimi, Kitāb Ath-Thohāroh (732).

Kelompok pertama menjawab: Apabila kita mengikuti pendapat para ahli ḥadīts yang melemahkan ḥadīts itu, maka persoalan selesai.

Akan tetapi, andai pun ḥadīts itu shaḥiḥ —dan kami memang menganggapnya shaḥiḥ— tetap saja ḥadīts tersebut tidak menunjukkan apa yang kalian pahami. Siapa yang mengklaim bahwa ḥadīts itu menunjukkan air yang sedikit pasti menjadi najis, maka ia telah mengatakan sesuatu yang tidak diketahuinya secara pasti.

Sebab, lafaz ḥadīts hanya menjelaskan bahwa apabila air itu banyak maka ia tidak membawa najis, sedangkan tentang air yang kurang dari dua qullah tidak dijelaskan. Bisa saja air itu menjadi najis sebagaimana kalian katakan, dan bisa juga maksud Nabi adalah bahwa air di bawah dua qullah terkadang membawa najis dan terkadang tidak. Selama maksud beliau tidak dapat dipastikan secara tegas, Allah mengḥaramkan berbicara atas NamaNya tanpa ilmu.

Jika kalian mengklaim bahwa dalil-dalil kami tidak mencakup masalah ini, maka klaim itu bathil, karena dalil-dalil tersebut bersifat umum. Kalaupun dianggap tidak termasuk, maka masalah itu tetap termasuk perkara yang didiamkan oleh syariat, yang kita dilarang untuk membahas dan menetapkannya tanpa dalil. [a7]

-8-

Seandainya kalian mengatakan sebagaimana dikatakan oleh ulama yang memakruhkannya,

Aku memakruhkannya,

atau,

Aku tidak menyukainya jika masih ada air yang lain,

atau ungkapan semisal itu yang diucapkan oleh orang yang masih ragu tentang kenajisannya dan tidak memastikan bahwa syariat memang menetapkan air itu najis, niscaya kalian telah benar dan telah mengamalkan sabda Nabi C,

Di antara keduanya terdapat perkara-perkara yang samar.

– Al-Bukhāri, Kitāb Al-Buyū` (2051); Muslim, Kitāb Al-Musāqāh (1599); At-Tirmidzi, Kitāb Al-Buyū` (1205); An-Nasā’ī, Kitāb Al-Buyū` (4453) dan Kitāb Al-Asyribah (5710); Abū Dāwud, Kitāb Al-Buyū` (3329); Ibn Mājah, Kitāb Al-Fitan (3984); Aḥmad (4/269, 4/270); dan Ad-Dārimi, Kitāb Al-Buyū` (2531).

Baik pada hakikatnya air itu memang suci maupun tidak. Sebab, siapa yang ragu terhadap sesuatu lalu bersikap waro’ (berhati-hati) dengan meninggalkannya, maka ia telah berbuat benar, sekalipun kemudian ternyata hal itu memang ḥalal.

Bagaimanapun juga, siapa yang mengklaim bahwa Nabi C —yang diutus Allah untuk menjelaskan kepada manusia apa yang telah diturunkan kepada mereka— bermaksud menetapkan syariat bahwa setiap air yang kurang dari dua qullah menurut ukuran qullah Hajar, apabila bersentuhan dengan benda najis maka air itu menjadi najis, ḥaram diminum, tidak sah shalat orang yang berwudhu dengannya, dan siapa pun yang terkena percikannya wajib mencucinya; padahal beliau tidak pernah menjelaskan hal itu kepada umatnya, hingga suatu ketika datang seorang laki-laki yang bertanya tentang air di padang pasir yang didatangi binatang-binatang buas pemakan bangkai, yang airnya terkena air liur mereka. Lalu beliau menjawab,

Apabila air telah mencapai dua qullah, maka ia tidak membawa najis.

– At-Tirmidzi, Kitāb Ath-Thohāroh (67); An-Nasā’ī, Kitāb Ath-Thohāroh (52); Abū Dāwud, Kitāb Ath-Thohāroh (63); Aḥmad (2/12, 2/38); dan Ad-Dārimi, Kitāb Ath-Thohāroh (732).

Kemudian dikatakan bahwa dengan lafaz itu beliau sebenarnya bermaksud menjelaskan kepada umatnya bahwa air yang mencapai 500 rithl Irak (216-270 liter) tidak menjadi najis kecuali jika berubah, sedangkan yang kurang dari itu menjadi najis hanya karena bersentuhan dengan najis.

Siapa yang mengklaim demikian, maka ia telah menempuh pendapat yang sangat jauh dari kebenaran, berbicara tentang sesuatu yang tidak diketahuinya, membahas perkara yang didiamkan oleh syariat, mengikuti dalil yang mutasyabih, bahkan menjadikan perkara mutasyabih sebagai bagian dari perkara ḥaram yang jelas.

Kami memohon kepada Allah agar memberikan taufik kepada kami dan kepada saudara-saudara kami kaum Muslimin menuju apa yang Dia cintai dan ridhai, mengajarkan kepada kami Al-Kitāb dan Al-Ḥikmah, memperlihatkan kepada kami kebenaran sebagai kebenaran serta memberi kami taufik untuk mengikutinya, memperlihatkan kepada kami kebathilan sebagai kebathilan serta memberi kami taufik untuk menjauhinya, dan tidak menjadikannya samar bagi kami sehingga kami tersesat. [a8]

-9-

Kaidah-kaidah ini mencakup seluruh cabang ilmu agama secara umum, dan secara khusus mencakup ilmu fikih mulai dari Kitāb Ath-Thahārah hingga Bab Al-Iqrār. Allah lebih mengetahui.

Risalah ini selesai ditulis oleh pena seorang yang fakir kepada Allah, yaitu `Abdul `Azīz bin `Abdillāh bin `Abdil Wahhāb, yang menyalinnya dari tulisan tangan Ḥusain bin Ḥasan bin Ḥusain bin Al-Mushonnif.

Semoga Allah meraḥmati saya, kedua orang tua saya, beliau beserta kedua orang tua beliau, siapa saja yang mendoakan mereka, seluruh kaum Muslimin dan Muslimat, serta seluruh Mukminin dan Mukminat. Āmīn, āmīn, āmīn.

Semoga shalawat dan salam Allah tercurah kepada Muḥammad, saudara-saudara beliau dari kalangan para nabi dan rasul, keluarga beliau, serta para sahabat beliau.

Beliau juga berkata:

Di antara nikmat terbesar yang Allah karuniakan kepada Nabi C dan kepada umatnya adalah dianugerahkannya jawāmi`ul kalim (ungkapan yang ringkas namun mencakup makna yang sangat luas).

Allah Ta`ālā menyebutkan satu kalimat saja di dalam Kitāb-Nya, tetapi kalimat itu menjadi kaidah yang mencakup begitu banyak persoalan yang tidak terhitung.

Demikian pula Rasūlullāh C, Allah mengkhususkan beliau dengan ḥikmah yang menyeluruh. Siapa yang memahami persoalan ini dengan baik, niscaya ia akan memahami firman Allah Ta`ālā:

Pada hari ini telah Aku sempurnakan untuk kalian agama kalian. – [QS. Al-Mā’idah 5:3]

Kalimat ini juga termasuk jawāmi`ul kalim, karena sesuatu yang telah sempurna tidak memerlukan tambahan lagi. Dari sini diketahui bathilnya setiap perkara baru yang diada-adakan setelah Rasūlullāh C dan para sahabat beliau, sebagaimana beliau telah berpesan:

Berpeganglah kepada sunnahku dan sunnah para khalifah yang mendapat petunjuk sepeninggalku.

Jauhilah perkara-perkara baru, karena setiap perkara baru adalah bid`ah, setiap bid`ah adalah kesesatan, dan setiap kesesatan berada di dalam neraka.

– Abū Dāwud, Kitāb As-Sunnah (4607); dan Ad-Dārimi, Al-Muqoddimah (95).

Dengan memahami hal ini, engkau juga akan memahami makna firman Allah Ta`ālā:

Apabila kalian berselisih dalam suatu perkara, maka kembalikanlah kepada Allah dan Rasūl. – [QS. An-Nisā’ 4:59]

[a9]

-10-

Apabila Allah B telah mewajibkan kepada kita agar mengembalikan setiap perselisihan kepada Allah, yaitu kepada Kitābullāh, dan kepada Rasūl C, yaitu kepada sunnah beliau, maka kita mengetahui dengan pasti bahwa siapa saja yang mengembalikan perkara yang diperselisihkan manusia kepada Al-Kitāb dan As-Sunnah akan menemukan di dalam keduanya keputusan yang menyelesaikan perselisihan tersebut.

Beliau juga berkata: “Apabila terjadi perbedaan antara perkataan Aḥmad dan perkataan para sahabat, maka dalam perkara yang diperselisihkan kita mengembalikannya kepada Allah dan Rasūl-Nya, bukan kepada perkataan Aḥmad, bukan pula kepada perkataan para sahabat, dan bukan pula kepada pendapat yang dianggap lebih kuat.

Sebab, pendapat yang dinilai rājih (lebih baik) maupun cara mentarjih di antara dua riwayat atau dua pendapat itu bisa saja keliru secara pasti, dan bisa pula benar.

Adapun jika masing-masing berdalil dengan suatu dalil, maka dalil-dalil yang shaḥiḥ tidak mungkin saling bertentangan. Yang benar akan saling menguatkan.

Hanya saja, salah seorang bisa saja keliru dalam menggunakan dalil, baik karena berdalil dengan ḥadits yang tidak shaḥiḥ, maupun karena memahami lafaz yang shaḥiḥ dengan pemahaman yang keliru.

Kesimpulannya, kapan pun engkau melihat adanya perselisihan, kembalikanlah kepada Allah dan Rasūl.

Jika kebenaran telah jelas bagimu maka ikutilah. Namun jika belum jelas dan engkau harus beramal, maka ikutilah pendapat orang yang engkau percaya ilmu dan agamanya.”

Adapun perkataan sebagian orang,

Tidak ada pengingkaran dalam masalah ijtihad,

maka jawabannya telah diketahui dari kaidah sebelumnya. Jika yang dimaksud adalah semua masalah khilaf, maka ini adalah pendapat yang bathil dan bertentangan dengan ijma` umat.

Sejak zaman para sahabat hingga generasi setelah mereka, mereka tetap mengingkari orang yang menyelisihi dan berbuat salah, siapa pun orangnya, sekalipun ia adalah manusia yang paling berilmu dan paling bertakwa.

Apabila Allah telah mengutus Muḥammad C dengan petunjuk dan agama yang benar, serta memerintahkan kita untuk mengikuti beliau dan meninggalkan segala yang menyelisihinya, maka konsekuensinya adalah bahwa siapa pun dari kalangan ulama yang menyelisihi beliau adalah orang yang keliru. Kesalahannya harus dijelaskan dan diingkari.

Akan tetapi, jika yang dimaksud dengan “masalah ijtihad” adalah masalah-masalah khilaf yang memang belum jelas mana yang benar, maka perkataan itu benar.

Seseorang tidak boleh mengingkari suatu pendapat hanya karena bertentangan dengan madzhabnya atau kebiasaan masyarakat.

Sebagaimana seseorang tidak boleh memerintahkan sesuatu kecuali dengan ilmu, demikian pula ia tidak boleh mengingkari sesuatu kecuali dengan ilmu.

Semua ini termasuk dalam firman Allah Ta`ālā,

Dan janganlah engkau mengikuti sesuatu yang engkau tidak mempunyai ilmu tentangnya. – [QS. Al-Isrā’ 17:36]

[a10]

-11-

Adapun perkataan orang yang mengatakan,

Kesepakatan para ulama adalah ḥujjah,

maka yang dimaksud bukanlah kesepakatan 4 imam madzhab, melainkan ijma` seluruh umat, yaitu para ulama umat ini.

Adapun ucapan,

Perbedaan pendapat mereka adalah raḥmat,

maka itu adalah perkataan yang bathil.

Raḥmat itu terdapat pada persatuan, sedangkan perpecahan adalah adzab, sebagaimana firman Allah Ta`ālā,

Mereka senantiasa berselisih, kecuali orang yang diberi raḥmat oleh Tuhanmu. [QS. Hūd 11:118-119]

Ketika `Umar mendengar bahwa Ibnu Mas`ūd dan Ubay berbeda pendapat mengenai shalat seseorang dengan satu pakaian, beliau naik ke mimbar lalu berkata,

Dua orang sahabat Rasūlullāh C telah berbeda pendapat. Kalau begitu, berdasarkan fatwa siapa kaum muslimin harus mengambil keputusan?

Jika aku mendapati dua orang berselisih setelah peristiwa ini, sungguh akan aku lakukan tindakan tertentu terhadap mereka.

Namun, diriwayatkan dari sebagian tābi`īn bahwa ia (`Umar) berkata,

Aku tidak menganggap perbedaan pendapat para sahabat Rasūlullāh C kecuali sebagai raḥmat bagi manusia. Sebab, seandainya mereka tidak berbeda pendapat, niscaya tidak akan ada rukhshah (keringanan).

Maksudnya bukanlah seperti pembahasan kita ini. Meskipun demikian, perkataan tersebut tetap perlu dikoreksi, karena para sahabat sendiri memandang perselisihan sebagai hukuman dan fitnah.

Beliau juga berkata, “Telah jelas bagi kalian di berbagai tempat bahwa agama Islam adalah kebenaran yang berada di antara dua kebathilan, dan petunjuk yang berada di antara dua kesesatan.

Masalah-masalah seperti ini dan yang semisalnya memang termasuk perkara yang diperselisihkan oleh ulama salaf maupun khalaf, tanpa ada pengingkaran di antara mereka selama belum tampak dalil yang tegas.

Apabila kalian melihat seseorang mengamalkan salah satu pendapat yang melarang suatu perkara, sementara ia telah bertakwa kepada Allah semampunya, maka tidak ḥalal bagi siapa pun untuk mengingkarinya.

Kecuali apabila kebenaran telah nyata, maka tidak ḥalal bagi siapa pun meninggalkan kebenaran itu hanya karena mengikuti perkataan seseorang.

Dahulu para sahabat Rasūlullāh C juga berbeda pendapat dalam sebagian masalah tanpa saling mengingkari, selama belum ada nash yang menjelaskan persoalan tersebut secara tegas.” [a11]

-12-

Seorang mukmin hendaknya menjadikan perhatian dan tujuannya yang utama adalah mengetahui perintah Allah dan Rasūl-Nya dalam masalah-masalah yang diperselisihkan, lalu mengamalkannya.

Ia juga harus menghormati dan memuliakan para ulama meskipun mereka melakukan kesalahan, namun tidak menjadikan mereka sebagai arbāb (tuhan, pemilik) selain Allah. Inilah jalan orang-orang yang diberi nikmat.

Adapun membuang begitu saja perkataan para ulama dan tidak menghormati mereka, maka itulah jalan orang-orang yang dimurkai.

Sebaliknya, menjadikan mereka sebagai arbāb selain Allah —sehingga apabila dikatakan, “Allah berfirman,” atau, “Rasūl bersabda,” ia menjawab, “Mereka lebih tahu daripada kita tentang hal itu”— maka itulah jalan orang-orang yang sesat.

Di antara perkara yang paling penting dan paling bermanfaat bagi seorang hamba ialah mengetahui kaidah-kaidah agama secara rinci. Sebab, kebanyakan manusia memahami kaidah-kaidah itu dan mengakuinya hanya secara umum, tetapi mereka meninggalkannya ketika berhadapan dengan rincian-rinciannya.

Beliau juga berkata: “Mereka berbeda pendapat tentang Al-Kitāb. Apakah mempelajari dan mengikutinya wajib bagi orang-orang yang datang belakangan karena hal itu memungkinkan, ataukah tidak boleh bagi mereka karena dianggap tidak mungkin?”

Maka Al-Kitāb telah memberikan keputusan di antara mereka melalui firman Allah Ta`ālā,

Dan sungguh Kami telah memberikan kepadamu suatu peringatan dari sisi Kami. Barang siapa berpaling darinya, maka sesungguhnya ia akan memikul dosa pada Hari Kiamat. – [QS. Thāhā 20:99-100]

Demikian pula firman-Nya,

Barang siapa berpaling dari peringatan-Ku, maka sungguh baginya kehidupan yang sempit. – [QS. Thāhā 20:124]

Dan firman-Nya lagi,

Barang siapa berpaling dari mengingat Ar-Raḥmān, Kami jadikan baginya setan sebagai pendampingnya. – [QS. Az-Zukhruf 43:36]

[a12]

-13-

Beliau ditanya tentang perkataan Syaikh Taqiyyuddīn,

Hendaklah cita-cita utamanya adalah memahami maksud-maksud Rasūl dalam setiap perintah dan larangannya.

Bagaimana maksud perkataan tersebut?

Beliau menjawab, “Yang dimaksud adalah memperingatkan dari fenomena yang telah tersebar luas, yaitu anggapan bahwa fikih hanyalah menyibukkan diri dengan kitab si fulan dan si fulan. Itulah yang ingin beliau peringatkan.”

Beliau juga berkata, “Demikian pula kebanyakan di antara kalian, yang sebenarnya diikuti hanyalah sebagian ulama muta’akhkhirin, bukan para imam.

Bahkan para ulama madzhab Ḥanbali termasuk golongan yang paling sedikit melakukan bid`ah. Akan tetapi, banyak pendapat dalam kitab Al-Iqnā` dan Al-Muntahā yang justru menyelisihi madzhab Imām Aḥmad dan nash beliau, apalagi nash Rasūlullāh C. Hal itu diketahui oleh orang yang benar-benar mempelajarinya.”

Beliau juga berkata, “Syaikh Taqiyyuddīn I menyebutkan beberapa kaidah.

Kaidah pertama: Apabila Nabi C menetapkan 2 cara yang sama-sama disyariatkan, lalu seseorang memilih mengamalkan salah satunya dan meninggalkan yang lain, maka ia tidak boleh diingkari.

Contohnya seperti berbagai qirā’at yang shaḥiḥ.

Demikian pula kisah dua orang yang berbeda dalam membaca suatu ayat.

Salah seorang berkata,

Bukankah Allah berfirman demikian?

Yang lain pun berkata,

Bukankah Allah berfirman demikian?

Lalu Nabi C mengingkari perselisihan mereka, namun bersabda,

Masing-masing dari kalian benar.

Dengan demikian beliau mengingkari perselisihannya, tetapi membenarkan kedua bacaan tersebut.

Kaidah kedua: Apabila seseorang menjadi imam bagi suatu kaum yang berpendapat bahwa qunut atau membaca basmalah dengan suara keras itu disyariatkan, sedangkan menurut keyakinan imam hal itu tidak demikian, padahal menurut pendapatnya sendiri meninggalkannya lebih utama, maka mengikuti keadaan makmumnya lebih baik.

Dalam kondisi seperti ini, sesuatu yang pada asalnya kurang utama justru menjadi yang lebih utama.” [a13]

-14-

lā ḥaula wa lā quwwata illā billāh
Tiada daya dan tiada kekuatan kecuali dengan (pertolongan) Allah.

allāhu wa rosūluhu a`lam
Allah dan Rasul-Nya lebih mengetahui.

REFERENSI

AL-QUR’AN

ḤARAM BERKATA ATAS NAMA ALLAH TANPA ILMU


QS. Al-A`rāf (7) : 33

قُلۡ إِنَّمَا حَرَّمَ رَبِّيَ الۡفَوَٰحِشَ مَا ظَهَرَ مِنۡهَا وَمَا بَطَنَ وَالۡإِثۡمَ وَالۡبَغۡيَ بِغَيۡرِ الۡحَقِّ وَأَن تُشۡرِكُواْ بِاللّٰهِ مَا لَمۡ يُنَزِّلۡ بِهِۦ سُلۡطَٰنٗا وَأَن تَقُولُواْ عَلَى اللّٰهِ مَا لَا تَعۡلَمُونَ٣٣

qul innamā ḥarroma robbiyal-fawāḥisya mā zhoharo minhā wa mā bathona wal-itsma wal-baghya bighoiril-ḥaqqi wa an tusyrikū billāhi mā lam yunazzil bihī sulthōnaw wa an taqūlū `alallāhi mā lā ta`lamūn(a)

Katakanlah (Nabi Muḥammad), “Sesungguhnya Tuhanku hanya mengḥaramkan segala perbuatan keji yang tampak dan yang tersembunyi, perbuatan dosa, dan perbuatan melampaui batas tanpa alasan yang benar. (Dia juga mengḥaramkan) kamu mempersekutukan Allah dengan sesuatu yang Allah tidak menurunkan bukti pembenaran untuk itu dan (mengḥaramkan) kamu mengatakan tentang Allah apa yang tidak kamu ketahui.”

SEGALA SESUATU YANG DIDIAMKAN OLEH SYARIAT MERUPAKAN KERINGANAN


QS. Al-Mā’idah (5) : 101

يَـٰٓأَيُّهَا الَّذِينَ ءَامَنُواْ لَا تَسۡـَٔلُواْ عَنۡ أَشۡيَآءَ إِن تُبۡدَ لَكُمۡ تَسُؤۡكُمۡ وَإِن تَسۡـَٔلُواْ عَنۡهَا حِينَ يُنَزَّلُ الۡقُرۡءَانُ تُبۡدَ لَكُمۡ عَفَا اللّٰهُ عَنۡهَاۗ وَاللّٰهُ غَفُورٌ حَلِيمٞ١٠١

yā ayyuhal-ladzīna āmanū lā tas’alū `an asy-yā’a in tubda lakum tasu’kum, wa in tas’alū `anhā ḥīna yunazzalul-qur’ānu tubda lakum, `afallāhu `anhā, wallāhu ghofūrun ḥalīm(un)

Wahai orang-orang yang beriman, janganlah kamu menanyakan hal-hal yang jika diterangkan kepadamu (niscaya) menyusahkan kamu. Jika kamu menanyakannya ketika Al-Qur’an sedang diturunkan, (niscaya) akan diterangkan kepadamu. Allah telah memaafkan (kamu) tentang hal itu. Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyantun.

HATI YANG ADA PENYIMPANGAN MENGIKUTI AYAT MUTASYABIHAT


QS. Āli `Imrān (3) : 7

هُوَ الَّذِيٓ أَنزَلَ عَلَيۡكَ الۡكِتَٰبَ مِنۡهُ ءَايَٰتٞ مُّحۡكَمَٰتٌ هُنَّ أُمُّ الۡكِتَٰبِ وَأُخَرُ مُتَشَٰبِهَٰتٞۖ فَأَمَّا الَّذِينَ فِي قُلُوبِهِمۡ زَيۡغٞ فَيَتَّبِعُونَ مَا تَشَٰبَهَ مِنۡهُ ابۡتِغَآءَ الۡفِتۡنَةِ وَابۡتِغَآءَ تَأۡوِيلِهِۦۖ وَمَا يَعۡلَمُ تَأۡوِيلَهُۥٓ إِلَّا اللّٰهُۗ وَالرَّـٰسِخُونَ فِي الۡعِلۡمِ يَقُولُونَ ءَامَنَّا بِهِۦ كُلّٞ مِّنۡ عِندِ رَبِّنَاۗ وَمَا يَذَّكَّرُ إِلَّآ أُوْلُواْ الۡأَلۡبَٰبِ٧

huwal-ladzī anzala `alaikal-kitāba minhu āyātum muḥkamātun hunna ummul-kitābi wa ukhoru mutasyābihāt(un), fa’ammal-ladzīna fī qulūbihim zaighun fayattabi`ūna mā tasyābaha minhubtighō’al-fitnati wabtighō’a ta’wīlih(ī), wa mā ya`lamu ta’wīlahū illallāh(u), war-rōsikhūna fil-`ilmi yaqūlūna āmannā bih(ī), kullum min `indi robbinā, wa mā yadzdzakkaru illā ulul-albāb(i)

Dialah (Allah) yang menurunkan Kitab (Al-Qur’an) kepadamu (Muḥammad). Di antara ayat-ayatnya ada yang muḥkamat, itulah pokok-pokok isi Kitab (Al-Qur’an) dan yang lain mutasyābihāt. Adapun orang-orang yang dalam hatinya ada kecenderungan pada kesesatan, mereka mengikuti ayat-ayat yang mutasyābihāt untuk menimbulkan fitnah (kekacauan dan keraguan) dan untuk mencari-cari takwilnya. Padahal, tidak ada yang mengetahui takwilnya, kecuali Allah. Orang-orang yang ilmunya mendalam berkata, “Kami beriman kepadanya (Al-Qur’an), semuanya dari Tuhan kami.” Tidak ada yang dapat mengambil pelajaran, kecuali ulul albab.

JIKA KAMU TIDAK MENDAPATI AIR


QS. An-Nisā’ (4) : 43

يَـٰٓأَيُّهَا الَّذِينَ ءَامَنُواْ لَا تَقۡرَبُواْ الصَّلَوٰةَ وَأَنتُمۡ سُكَٰرَىٰ حَتَّىٰ تَعۡلَمُواْ مَا تَقُولُونَ وَلَا جُنُبًا إِلَّا عَابِرِي سَبِيلٍ حَتَّىٰ تَغۡتَسِلُواْۚ وَإِن كُنتُم مَّرۡضَىٰٓ أَوۡ عَلَىٰ سَفَرٍ أَوۡ جَآءَ أَحَدٞ مِّنكُم مِّنَ الۡغَآئِطِ أَوۡ لَٰمَسۡتُمُ النِّسَآءَ فَلَمۡ تَجِدُواْ مَآءٗ فَتَيَمَّمُواْ صَعِيدٗا طَيِّبٗا فَامۡسَحُواْ بِوُجُوهِكُمۡ وَأَيۡدِيكُمۡۗ إِنَّ اللّٰهَ كَانَ عَفُوًّا غَفُورًا٤٣

yā ayyuhal-ladzīna āmanū lā taqrobush-sholāta wa antum sukārō ḥattā ta`lamū mā taqūlūna wa lā junuban illā `ābirī sabīlin ḥattā taghtasilū, wa in kuntum mardhō au `alā safarin au jā’a aḥadum minkum minal-ghō’ithi au lāmastumun-nisā’a falam tajidū mā’an fa tayammamū sho`īdan thoyyiban famsaḥū biwujūhikum wa aidīkum, innnallāha kāna `afuwwan ghofūrō(n)

Wahai orang-orang yang beriman, janganlah mendekati shalat, sedangkan kamu dalam keadaan mabuk sampai kamu sadar akan apa yang kamu ucapkan dan jangan (pula menghampiri masjid ketika kamu) dalam keadaan junub, kecuali sekadar berlalu (saja) sehingga kamu mandi (junub). Jika kamu sakit, sedang dalam perjalanan, salah seorang di antara kamu kembali dari tempat buang air, atau kamu telah menyentuh perempuan, sedangkan kamu tidak mendapati air, maka bertayamumlah kamu dengan debu yang baik (suci). Usaplah wajah dan tanganmu (dengan debu itu). Sesungguhnya Allah Maha Pemaaf lagi Maha Pengampun.

KESEMPURNAAN AGAMA ISLAM


QS. Al-Mā’idah (5) : 3

حُرِّمَتۡ عَلَيۡكُمُ الۡمَيۡتَةُ وَالدَّمُ وَلَحۡمُ الۡخِنزِيرِ وَمَآ أُهِلَّ لِغَيۡرِ اللّٰهِ بِهِۦ وَالۡمُنۡخَنِقَةُ وَالۡمَوۡقُوذَةُ وَالۡمُتَرَدِّيَةُ وَالنَّطِيحَةُ وَمَآ أَكَلَ السَّبُعُ إِلَّا مَا ذَكَّيۡتُمۡ وَمَا ذُبِحَ عَلَى النُّصُبِ وَأَن تَسۡتَقۡسِمُواْ بِالۡأَزۡلَٰمِۚ ذَٰلِكُمۡ فِسۡقٌۗ الۡيَوۡمَ يَئِسَ الَّذِينَ كَفَرُواْ مِن دِينِكُمۡ فَلَا تَخۡشَوۡهُمۡ وَاخۡشَوۡنِۚ الۡيَوۡمَ أَكۡمَلۡتُ لَكُمۡ دِينَكُمۡ وَأَتۡمَمۡتُ عَلَيۡكُمۡ نِعۡمَتِي وَرَضِيتُ لَكُمُ الۡإِسۡلَٰمَ دِينٗاۚ فَمَنِ اضۡطُرَّ فِي مَخۡمَصَةٍ غَيۡرَ مُتَجَانِفٖ لِّإِثۡمٖ فَإِنَّ اللّٰهَ غَفُورٞ رَّحِيمٞ٣

ḥurrimat `alaikumul-maitatu wad-damu wa laḥmul-khinzīri wa mā uhilla lighoirillāhi bihī wal-munkhoniqotu wal-mauqūdzatu wal-mutaroddiyatu wan-nathīḥatu wa mā akalas-sabu`u illā mā dzakkaitum, wa mā dzubiḥa `alan-nushubi wa an tastaqsimū bil-azlām(i), dzālikum fisq(un), al-yauma ya’isal-ladzīna kafarū min dīnikum falā takhsyauhum wakhsyaun(i), al-yauma akmaltu lakum dīnakum wa atmamtu `alaikum ni`matī wa rodhītu lakumul-islāma dīnā(n), fa manidhthurro fī makhmashotin ghoiro mutajānifil li’itsm(in), fa innallāha ghofūrur roḥīm(un)

Diḥaramkan bagimu (memakan) bangkai, darah, daging babi, dan (daging hewan) yang disembelih bukan atas (nama) Allah, yang tercekik, yang dipukul, yang jatuh, yang ditanduk, dan yang diterkam binatang buas, kecuali yang (sempat) kamu sembelih. (Diḥaramkan pula) apa yang disembelih untuk berhala. (Demikian pula) mengundi nasib dengan azlām (anak panah), (karena) itu suatu perbuatan fasik. Pada hari ini orang-orang kafir telah putus asa untuk (mengalahkan) agamamu. Oleh sebab itu, janganlah kamu takut kepada mereka, tetapi takutlah kepadaKu. Pada hari ini telah Aku sempurnakan agamamu untukmu, telah Aku cukupkan nikmatKu bagimu, dan telah Aku ridhai Islam sebagai agamamu. Maka, siapa yang terpaksa karena lapar, bukan karena ingin berbuat dosa, sesungguhnya Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.

KEMBALI KEPADA ALLAH DAN RASUL


QS. An-Nisā’ (4) : 59

يَـٰٓأَيُّهَا الَّذِينَ ءَامَنُوٓاْ أَطِيعُواْ اللّٰهَ وَأَطِيعُواْ الرَّسُولَ وَأُوْلِي الۡأَمۡرِ مِنكُمۡۖ فَإِن تَنَٰزَعۡتُمۡ فِي شَيۡءٖ فَرُدُّوهُ إِلَى اللّٰهِ وَالرَّسُولِ إِن كُنتُمۡ تُؤۡمِنُونَ بِاللّٰهِ وَالۡيَوۡمِ الۡأٓخِرِۚ ذَٰلِكَ خَيۡرٞ وَأَحۡسَنُ تَأۡوِيلًا٥٩

yā ayyuhal-ladzīna āmanū athī`ullāha wa athī`ur-rosūla wa ulil-amri minkum, fa in tanāza`tum fī syai’in fa ruddūhu ilallāhi war-rosūli in kuntum tu’minūna billāhi wal-yaumil-ākhir(i), dzālika khoiruw wa aḥsanu ta’wīlā(n)

Wahai orang-orang yang beriman, taatilah Allah dan taatilah Rasul (Nabi Muḥammad) serta ulil amri (pemegang kekuasaan) di antara kamu. Jika kamu berbeda pendapat tentang sesuatu, kembalikanlah kepada Allah (Al-Qur’an) dan Rasul (sunahnya) jika kamu beriman kepada Allah dan Hari Akhir. Yang demikian itu lebih baik (bagimu) dan lebih bagus akibatnya (di dunia dan di akhirat).

JANGAN MENGIKUTI YANG TIDAK KITA KETAHUI


QS. Al-Isrā’ (17) : 36

وَلَا تَقۡفُ مَا لَيۡسَ لَكَ بِهِۦ عِلۡمٌۚ إِنَّ السَّمۡعَ وَالۡبَصَرَ وَالۡفُؤَادَ كُلُّ أُوْلَـٰٓئِكَ كَانَ عَنۡهُ مَسۡـُٔولٗا٤٦

wa lā taqfu mā laisa laka bihī `ilm(un), innas-sam`a wal-bashoro wal-fu’āda kullu ulā’ika kāna `anhu mas’ūlā(n)

Janganlah engkau mengikuti sesuatu yang tidak engkau ketahui. Sesungguhnya pendengaran, penglihatan, dan hati nurani, semua itu akan diminta pertanggungjawabannya.

PERPECAHAN ADALAH ADZAB, PERSATUAN ADALAH RAḤMAT


QS. Hūd (11) : 118-119

وَلَوۡ شَآءَ رَبُّكَ لَجَعَلَ النَّاسَ أُمَّةٗ وَٰحِدَةٗۖ وَلَا يَزَالُونَ مُخۡتَلِفِينَ ١١٨ إِلَّا مَن رَّحِمَ رَبُّكَۚ وَلِذَٰلِكَ خَلَقَهُمۡۗ وَتَمَّتۡ كَلِمَةُ رَبِّكَ لَأَمۡلَأَنَّ جَهَنَّمَ مِنَ الۡجِنَّةِ وَالنَّاسِ أَجۡمَعِينَ ١١٩

wa lau syā’a robbuka laja`alan-nāsa ummataw wāḥidataw wa lā yazālūna mukhtalifīn(a). [118] illā mar roḥima robbuk(a), wa lidzālika kholaqohum, wa tammat kalimatu robbika la’amla’anna jahannama minal-jinnati wan-nāsi ajma`īn(a). [119]

Jika Tuhanmu menghendaki, tentu Dia akan menjadikan manusia umat yang satu. Namun, mereka senantiasa berselisih (dalam urusan agama), [118] kecuali orang yang diraḥmati oleh Tuhanmu. Menurut (kehendak-Nya) itulah Allah menciptakan mereka. Kalimat (keputusan) Tuhanmu telah tetap, “Aku pasti akan memenuhi (neraka) Jahanam (dengan pendurhaka) dari kalangan jin dan manusia semuanya.” [119]

MEMPELAJARI AL-QUR’AN


QS. Thāhā (20) : 99-100

كَذَٰلِكَ نَقُصُّ عَلَيۡكَ مِنۡ أَنۢبَآءِ مَا قَدۡ سَبَقَۚ وَقَدۡ ءَاتَيۡنَٰكَ مِن لَّدُنَّا ذِكۡرٗا ٩٩ مَّنۡ أَعۡرَضَ عَنۡهُ فَإِنَّهُۥ يَحۡمِلُ يَوۡمَ الۡقِيَٰمَةِ وِزۡرًا ١٠٠

kadzālika naqushshu `alaika min ambā’i mā sabaq(o), wa qod ātaināka mil ladunnā dzikrō(n). man a`rodho `anhu fa innahū yaḥmilu yaumal-qiyāmati wizrō(n).

Demikianlah Kami kisahkan kepadamu (Muḥammad) sebagian kisah umat yang terdahulu, dan sungguh telah Kami anugerahkan kepadamu suatu peringatan (Al-Qur’an) dari sisi Kami. Siapa yang berpaling darinya (Al-Qur’an), sesungguhnya dia akan memikul beban yang berat (dosa) pada Hari Kiamat.


QS. Thāhā (20) : 124

وَمَنۡ أَعۡرَضَ عَن ذِكۡرِي فَإِنَّ لَهُۥ مَعِيشَةٗ ضَنكٗا وَنَحۡشُرُهُۥ يَوۡمَ الۡقِيَٰمَةِ أَعۡمَىٰ١٢٤

wa man a`rodho `an dzikrī fa inna lahū ma`īsyatan dhonkaw wa naḥsyuruhū yaumal-qiyāmati a`mā

Siapa yang berpaling dari peringatan-Ku, maka sesungguhnya baginya kehidupan yang sempit. Kami akan mengumpulkannya pada Hari Kiamat dalam keadaan buta.”


QS. Az-Zukhruf (43) : 36

وَمَن يَعۡشُ عَن ذِكۡرِ الرَّحۡمَٰنِ نُقَيِّضۡ لَهُۥ شَيۡطَٰنٗا فَهُوَ لَهُۥ قَرِينٞ٣٦

wa may ya`syu `an dzikrir-roḥmāni nuqoyyidh lahū syaithōnan fahuwa lahū qorīn(un)

Siapa yang berpaling dari pengajaran (Allah) Yang Maha Pengasih, Kami biarkan setan (menyesatkannya). Maka, ia (setan) selalu menemaninya.

`ULAMA

4 KAIDAH YANG MENJADI LANDASAN BERBAGAI HUKUM

MUḤAMMAD BIN `ABDUL-WAHHĀB I

4 Kaidah yang Menjadi Landasan Hukum (أربع قواعد تدور الأحكام عليها)
Halaman Indeks Edisi Syamila
الۡكِتَابُ: أَرۡبَعُ قَوَاعِدَ تَدُورُ الۡأَحۡكَامُ عَلَيۡهَا وَيَلِيهَا نُبۡذَةٌ فِي اتِّبَاعِ النُّصُوصِ مَعَ احۡتِرَامِ الۡعُلَمَاءِ (مَطۡبُوعٌ ضِمۡنَ مُؤَلَّفَاتِ الشَّيۡخِ مُحَمَّدِ بۡنِ عَبۡدِ الۡوَهَّابِ)
الۡمُؤَلِّفُ: مُحَمَّدُ بۡنُ عَبۡدِ الۡوَهَّابِ بۡنِ سُلَيۡمَانَ التَّمِيمِيُّ النَّجۡدِيُّ (ت ١٢٠٦ هـ)
الۡمُحَقِّقُ: عَبۡدُ الۡعَزِيزِ بۡنُ زَيۡدٍ الرُّومِيُّ، صَالِحُ بۡنُ مُحَمَّدٍ الۡحَسَنُ
النَّاشِرُ: جَامِعَةُ الۡإِمَامِ مُحَمَّدِ بۡنِ سُعُودٍ، الرِّيَاضُ، الۡمَمۡلَكَةُ الۡعَرَبِيَّةُ السُّعُودِيَّةُ
الطَّبۡعَةُ: –
عَدَدُ الصَّفَحَاتِ: ١٤
[تَرۡقِيمُ الۡكِتَابِ مُوَافِقٌ لِلۡمَطۡبُوعِ]
صَفۡحَةُ الۡمُؤَلِّفِ: [مُحَمَّدُ بۡنُ عَبۡدِ الۡوَهَّابِ]
al-kitāb: arba`u qowā`id tadūrul aḥkāmu `alaihā wa yalīhā nubdzatun fī ittibā`in nushūsh ma`a iḥtirōmil `ulamā’ (mathbū`un dhimna mu’allafātisy syaikh muḥammad bin `abdil wahhāb).al-mu’allif: muḥammad bin `abdil wahhāb bin sulaimān at-tamīmiy an-najdiy (t. 1206 h).

al-muḥaqqiq: `abdul `azīz bin zaid ar-rūmiy, shōliḥ bin muḥammad al-ḥasan.

an-nāsyir: jāmi`atul imām muḥammad bin su`ūd, ar-riyādh, al-mamlakah al-`arobiyyah as-su`ūdiyyah.

ath-thob`ah: -.

`adadush shofaḥāt: 14.

[tarqīmul kitāb muwāfiqun lil-mathbū`].

shofḥatul mu’allif: [muḥammad bin `abdil wahhāb].

Kitab: Empat Kaidah yang Menjadi Dasar Berbagai Hukum, Disertai Ringkasan tentang Mengikuti Nash-nash Syariat dengan Tetap Menghormati Para Ulama. Dicetak dalam kumpulan karya Syaikh Muḥammad bin `Abdil Wahhāb.
Penulis: Muḥammad bin `Abdil Wahhāb bin Sulaimān At-Tamīmī An-Najdī (wafat 1206 H).
Penyunting: `Abdul `Azīz bin Zaid Ar-Rūmī dan Shōliḥ bin Muḥammad Al-Ḥasan.
Penerbit: Universitas Imam Muḥammad bin Su`ūd, Riyadh, Kerajaan Arab Saudi.
Edisi: –.
Jumlah halaman: 14.
Penomoran kitab sesuai edisi cetak.
Halaman penulis: [Muḥammad bin `Abdul Wahhāb].


4 Kaidah yang Menjadi Landasan Hukum (أربع قواعد تدور الأحكام عليها)
Halaman 3 Edisi Syamila
الۡمُجَلَّدُ الثَّانِي مِنۡ قِسۡمِ الۡفِقۡهِ
تَأۡلِيفُ: شَيۡخِ الۡإِسۡلَامِ، مُحَمَّدِ بۡنِ عَبۡدِ الۡوَهَّابِ
أَرۡبَعُ قَوَاعِدَ تَدُورُ الۡأَحۡكَامُ عَلَيۡهَا وَيَلِيهَا نُبۡذَةٌ فِي اتِّبَاعِ النُّصُوصِ مَعَ احۡتِرَامِ الۡعُلَمَاءِ
بِسۡمِ اللّٰهِ الرَّحۡمَٰنِ الرَّحِيمِ
قَالَ الشَّيۡخُ مُحَمَّدٌ رَحِمَهُ اللّٰهُ:
هَذِهِ أَرۡبَعُ قَوَاعِدَ مِنۡ قَوَاعِدِ الدِّينِ الَّتِي تَدُورُ الۡأَحۡكَامُ عَلَيۡهَا [١]، وَهِيَ مِنۡ أَعۡظَمِ مَا أَنۡعَمَ اللّٰهُ تَعَالَى بِهِ عَلَى مُحَمَّدٍ صَلَّى اللّٰهُ عَلَيۡهِ وَسَلَّمَ وَأُمَّتِهِ، حَيۡثُ جَعَلَ دِينَهُمۡ دِينٗا كَامِلٗا وَافِيٗا أَكۡمَلَ وَأَكۡثَرَ عِلۡمٗا مِنۡ جَمِيعِ الۡأَدۡيَانِ، وَمَعَ ذَٰلِكَ جَمَعَهُ لَهُمۡ سُبۡحَانَهُ وَتَعَالَى فِي أَلۡفَاظٖ قَلِيلَةٖ [٢]، وَهَٰذَا مِمَّا يَنۢبَغِي التَّفَطُّنُ لَهُ قَبۡلَ مَعۡرِفَةِ الۡقَوَاعِدِ الۡأَرۡبَعِ، وَهُوَ أَنۡ تَعۡلَمَ قَوۡلَ النَّبِيِّ صَلَّى اللّٰهُ عَلَيۡهِ وَسَلَّمَ لَمَّا ذَكَرَ لَنَا مَا خَصَّهُ اللّٰهُ بِهِ عَلَى الرُّسُلِ يُرِيدُ مِنَّا أَنۡ نَعۡرِفَ نِعۡمَةَ اللّٰهِ [٣] وَنَشۡكُرَهَا. قَالَ لَمَّا ذَكَرَ الۡخَصَائِصَ: “وَأُعۡطِيتُ جَوَامِعَ الۡكَلِمِ” [٤].
قَالَ إِمَامُ الۡحِجَازِ مُحَمَّدُ بۡنُ شِهَابٍ الزُّهۡرِيُّ: مَعۡنَاهُ أَنَّ اللّٰهَ يَجۡمَعُ لَهُ الۡمَعَانِيَ [٥] الۡكَثِيرَةَ فِي أَلۡفَاظٖ قَلِيلَةٖ.
[الۡقَاعِدَةُ الۡأُولَى: تَحۡرِيمُ الۡقَوۡلِ عَلَى اللّٰهِ بِغَيۡرِ عِلۡمٍ:]
لِقَوۡلِهِ تَعَالَى: (قُلۡ إِنَّمَا حَرَّمَ رَبِّيَ الۡفَوَاحِشَ) [٦] إِلَى قَوۡلِهِ: (وَأَن تَقُولُواْ عَلَى اللّٰهِ مَا لَا تَعۡلَمُونَ) [٧].
al-mujalladuts tsāniy min qismil fiqh.ta’līf: syaikhil islām, muḥammad bin `abdil wahhāb.

arba`u qowā`id tadūrul aḥkāmu `alaihā wa yalīhā nubdzatun fī ittibā`in nushūsh ma`a iḥtirōmil `ulamā’.

bismillāhir roḥmānir roḥīm.

qōlasy syaikhu muḥammadun I:

hādzihi arba`u qowā`ida min qowā`idid dīn, allatī tadūrul aḥkāmu `alaihā [١]. wa hiya min a`zhomi mā an`amallāhu ta`ālā bihī `alā muḥammadin shollallāhu `alaihi wa sallama wa ummatih, ḥaitsu ja`ala dīnahum dīnan kāmilan wāfiyan, akmala wa aktsaro `ilman min jamī`il adyān. wa ma`a dzālika jama`ahu lahum subḥānahu wa ta`ālā fī alfāzhin qolīlah [٢]. wa hādzā mimmā yambaghit tafoththunu lahū qobla ma`rifatil qowā`idil arba`, wa huwa an ta`lama qoulan nabiyyi shollallāhu `alaihi wa sallama lammā dzakaro lanā mā khoshshohullāhu bihī `alar rusul yurīdu minnā an na`rifa ni`matallāhi [٣] wa nasykurohā. qōla lammā dzakarol khoshō’ish: “wa u`thītu jawāmi`al kalim.” [٤]

qōla imāmul ḥijāzi muḥammad bin syihābin az-zuhriy: ma`nāhu annallāha yajma`u lahul ma`āniyal [٥] katsīrota fī alfāzhin qolīlah.

[al-qō`idatul ūlā: taḥrīmul qouli `alallāhi bighoiri `ilm.]

liqoulihī ta`ālā: (qul innamā ḥarroma robbiyal fawāḥisy) [٦] ilā qoulihī: (wa an taqūlū `alallāhi mā lā ta`lamūn). [٧]

Jilid kedua, bagian fikih.

Karya: Syaikhul Islam Muḥammad bin `Abdil Wahhāb.

Empat Kaidah yang Menjadi Landasan Berbagai Hukum, Disertai Ringkasan tentang Mengikuti Nash-nash Syariat dengan Tetap Menghormati Para Ulama.

Dengan nama Allah Ar-Raḥmān Ar-Raḥīm.

Syaikh Muḥammad I berkata:

“Ini adalah empat kaidah agama yang menjadi poros berputarnya berbagai hukum [١]. Kaidah-kaidah ini termasuk nikmat terbesar yang Allah Ta`ālā karuniakan kepada Muḥammad C dan umat beliau. Allah menjadikan agama mereka sebagai agama yang sempurna, lengkap, dan lebih sempurna serta lebih luas ilmunya daripada seluruh agama lainnya. Meski demikian, Allah menghimpun seluruhnya dalam lafaz-lafaz yang sedikit [٢]. Hal ini patut diperhatikan sebelum mempelajari empat kaidah tersebut, yaitu dengan memahami sabda Nabi C ketika beliau menyebutkan keistimewaan-keistimewaan yang Allah berikan kepadanya dibanding para rasul, agar kita mengetahui [٣] dan mensyukuri nikmat Allah. Beliau bersabda, ‘Aku diberi jawāmi`ul kalim.'” [٤]

Imam Ḥijaz, Muḥammad bin Syihāb Az-Zuhrī, berkata: “Maknanya adalah Allah menghimpunkan [٥] banyak makna ke dalam lafaz-lafaz yang sedikit.”

[Kaidah Pertama: Ḥaram berkata atas nama Allah tanpa ilmu.]

Berdasarkan firman Allah Ta`ālā: “Katakanlah, sesungguhnya Rabbku hanya mengharamkan segala perbuatan keji…” [٦] hingga firman-Nya: “…dan bahwa kalian mengatakan terhadap Allah apa yang tidak kalian ketahui.” [٧]

 

[١]

Saya menemukan teks ini —dengan redaksi seperti ini— di dalam sebuah kumpulan manuskrip di perpustakaan Syaikh `Abdul `Azīz bin Shāliḥ Ibn Mursyid. Saya juga menemukannya dalam sebuah kumpulan manuskrip di Perpustakaan Saudi dengan nomor 86/89, dengan sedikit perbedaan lafaz yang tidak mengubah makna. Redaksi yang terakhir lebih mendekati redaksi “Ad-Durar As-Saniyyah”.[٢]

Redaksi Ad-Durar As-Saniyyah: jama`ahu lahum subḥānahu wa ta`ālā fī lafzhin qolīl (Allah Subḥānahu wa Ta`ālā menghimpunkan semuanya untuk mereka dalam lafaz yang sedikit (ringkas).)

[٣]

Redaksi Ad-Durar As-Saniyyah: an na`rifa minnata llāhi `alainā (Agar kita mengetahui nikmat (karunia) Allah kepada kita.)

[٤]

Al-Bukhāri, Kitāb Al-Jihād wa As-Siyar (2977); Muslim, Kitāb Al-Masājid wa Mawādhi` Ash-Sholāh (523); An-Nasā’ī, Kitāb Al-Jihād (3087, 3089); dan Aḥmad (2/264, 2/268, 2/314, 2/395, 2/411, 2/442, 2/455, 2/501).

[٥]

Dalam Ad-Durar As-Saniyyah, jilid 4, halaman 3, cetakan kedua: an yajma`a llāhu lahu al-masā’il (agar Allah menghimpunkan baginya berbagai permasalahan.)

[٦]

Surah Al-A`rāf, ayat 33.

[٧]

Surah Al-A`rāf, ayat 33.


4 Kaidah yang Menjadi Landasan Hukum (أربع قواعد تدور الأحكام عليها)
Halaman 4 Edisi Syamila
[الۡقَاعِدَةُ الثَّانِيَةُ: أَنَّ كُلَّ شَيۡءٖ سَكَتَ عَنۡهُ الشَّارِعُ فَهُوَ عَفۡوٌ لَا يَحِلُّ لِأَحَدٍ أَنۡ يُحَرِّمَهُ أَوۡ يُوجِبَهُ أَوۡ يَسۡتَحِبَّهُ أَوۡ يَكۡرَهَهُ:]
لِقَوۡلِهِ تَعَالَى: (يَٰٓأَيُّهَا الَّذِينَ ءَامَنُواْ لَا تَسۡـَٔلُواْ عَنۡ أَشۡيَآءَ إِن تُبۡدَ لَكُمۡ تَسُؤۡكُمۡ) [١].
وَقَالَ النَّبِيُّ صَلَّى اللّٰهُ عَلَيۡهِ وَسَلَّمَ: “وَسَكَتَ عَنۡ أَشۡيَآءَ رَحۡمَةً بِكُمۡ غَيۡرَ نِسۡيَانٖ، فَلَا تَسۡـَٔلُواْ عَنۡهَا”.
[الۡقَاعِدَةُ الثَّالِثَةُ: أَنَّ تَرۡكَ الدَّلِيلِ الۡوَاضِحِ وَالِاسۡتِدۡلَالَ بِلَفۡظٖ مُتَشَابِهٖ هُوَ طَرِيقُ أَهۡلِ الزَّيۡغِ كَالرَّافِضَةِ وَالۡخَوَارِجِ:]
قَالَ تَعَالَى: (فَأَمَّا الَّذِينَ فِي قُلُوبِهِمۡ زَيۡغٞ فَيَتَّبِعُونَ مَا تَشَابَهَ مِنۡهُ) [٢].
وَالۡوَاجِبُ عَلَى الۡمُسۡلِمِ اتِّبَاعُ الۡمُحۡكَمِ، وَإِنۡ عَرَفَ مَعۡنَى الۡمُتَشَابِهِ وَجَدَهُ لَا يُخَالِفُ الۡمُحۡكَمَ بَلۡ يُوَافِقُهُ، وَإِلَّا فَالۡوَاجِبُ عَلَيۡهِ اتِّبَاعُ الرَّاسِخِينَ فِي قَوۡلِهِمۡ: (ءَامَنَّا بِهِ كُلّٞ مِّنۡ عِندِ رَبِّنَا) [٣].
الۡقَاعِدَةُ الرَّابِعَةُ: أَنَّ النَّبِيَّ صَلَّى اللّٰهُ عَلَيۡهِ وَسَلَّمَ ذَكَرَ: “أَنَّ الۡحَلَالَ بَيِّنٞ وَالۡحَرَامَ بَيِّنٞ وَبَيۡنَهُمَا أُمُورٞ مُشۡتَبِهَاتٞ” [٤].
فَمَن لَّمۡ يَفۡطِنۡ لِهَٰذِهِ الۡقَاعِدَةِ وَأَرَادَ أَن يَتَكَلَّمَ عَلَى مَسۡأَلَةٖ [٥] بِكَلَامٖ فَاصِلٖ فَقَدۡ ضَلَّ وَأَضَلَّ.
فَهَٰذِهِ ثَلَاثٞ [٦] ذَكَرَهَا اللّٰهُ فِي كِتَابِهِ، وَالرَّابِعَةُ ذَكَرَهَا النَّبِيُّ [٧] صَلَّى اللّٰهُ عَلَيۡهِ وَسَلَّمَ.
وَاعۡلَمۡ رَحِمَكَ اللّٰهُ أَنَّ أَرۡبَعَ هَٰذِهِ الۡكَلِمَاتِ مَعَ اخۡتِصَارِهِنَّ [٨] يَدُورُ عَلَيۡهَا الدِّينُ، سَوَآءٞ كَانَ الۡمُتَكَلِّمُ يَتَكَلَّمُ فِي عِلۡمِ التَّفۡسِيرِ أَوۡ فِي عِلۡمِ الۡأُصُولِ أَوۡ فِي عِلۡمِ أَعۡمَالِ الۡقُلُوبِ.
[al-qō`idatuts tsāniyah: anna kulla syai’in sakata `anhusy syāri`u fahuwa `afwun lā yaḥillu li’aḥadin an yuḥarrimahu au yūjibahu au yastaḥibbahu au yakrohah.]liqoulihī ta`ālā: (yā ayyuhalladzīna āmanū lā tas’alū `an asy-yā’i in tubda lakum tasu’kum) [١]. wa qōlan nabiyyu C: “wa sakata `an asy-yā’i roḥmatan bikum ghoiro nisyān, falā tas’alū `anhā.”

[al-qō`idatuts tsālitsah: anna tarkad dalīlil wādhiḥ wal-istidlāla bilafzhin mutasyābihin huwa thorīqu ahliz zaighi kar-rōfidhoh wal-khowārij.]

qōla ta`ālā: (fa ammalladzīna fī qulūbihim zaighun fayattabi`ūna mā tasyābaha minhu) [٢]. wal-wājibu `alal muslim ittibā`ul muḥkam, wa in `arofa ma`nal mutasyābih wajadahu lā yukhōliful muḥkama bal yuwāfiquh, wa illā fal-wājibu `alaihit tibā`ur rōsikhīna fī qoulihim: (āmannā bihī kullun min `indi robbinā) [٣].

al-qō`idatur rōbi`ah: annan nabiyya C dzakaro: “annal ḥalāla bayyinun wal-ḥarōma bayyinun wa bainahumā umūrun musytabihāt.” [٤]

faman lam yafthin lihādzihil qō`idah wa arōda an yatakallama `alā mas’alah [٥] bikalāmin fāshilin faqod dholla wa adholl.

fahādzihi tsalātsun [٦] dzakarohallōhu fī kitābih, war-rōbi`atu dzakarohan nabiyyu C. [٧]

wa`lam roḥimakallāh anna arba`a hādzihil kalimāti ma`akhtishōrihinna [٨] yadūru `alaihād dīn, sawā’un kānal mutakallimu yatakallamu fī `ilmit tafsīr au fī `ilmil ushūl au fī `ilmi a`mālil qulūb.

[Kaidah Kedua: Segala sesuatu yang didiamkan oleh syariat merupakan keringanan. Tidak boleh bagi siapa pun mengḥaramkannya, mewajibkannya, menganjurkannya, ataupun memakruhkannya.]

Dalilnya adalah firman Allah Ta`ālā: “Wahai orang-orang yang beriman, janganlah kalian menanyakan hal-hal yang apabila dijelaskan kepada kalian niscaya akan menyusahkan kalian.” [١] Nabi C juga bersabda: “Allah mendiamkan beberapa perkara sebagai raḥmat bagi kalian, bukan karena lupa. Maka janganlah kalian menanyakannya.”

[Kaidah Ketiga: Meninggalkan dalil yang jelas lalu berdalil dengan lafaz yang mutasyabih adalah jalan Ahli Zaigh, seperti Rafidhah dan Khawarij.]

Allah Ta`ālā berfirman: “Adapun orang-orang yang di dalam hati mereka terdapat penyimpangan, maka mereka mengikuti ayat-ayat yang mutasyabih.” [٢]

Seorang muslim wajib mengikuti ayat-ayat yang muḥkam. Jika ia mengetahui makna ayat mutasyabih, niscaya ia akan mendapati bahwa maknanya tidak bertentangan dengan ayat muḥkam, bahkan selaras dengannya.

Jika belum mengetahuinya, maka ia wajib mengikuti sikap orang-orang yang mendalam ilmunya yang berkata: “Kami beriman kepadanya; semuanya berasal dari Rabb kami.” [٣]

Kaidah Keempat: Nabi C bersabda: “Sesungguhnya yang ḥalal itu jelas, yang ḥaram itu jelas, dan di antara keduanya terdapat perkara-perkara yang samar.” [٤]

Barang siapa tidak memahami kaidah ini lalu berbicara dalam suatu persoalan [٥] dengan keputusan yang tegas, maka ia telah sesat dan menyesatkan.

Tiga kaidah pertama [٦] disebutkan oleh Allah dalam Kitab-Nya, sedangkan kaidah keempat disebutkan oleh Nabi C. [٧]

Ketahuilah —semoga Allah merahmatimu— bahwa empat kaidah ini, meskipun sangat ringkas [٨], menjadi poros agama. Hal itu berlaku baik dalam pembahasan ilmu tafsir, ilmu ushul, maupun ilmu tentang amalan-amalan hati.

 

[١]

Surah Al-Mā’idah, ayat 101.[٢]

Surah Āli `Imrān, ayat 7.

[٣]

Surah Āli `Imrān, ayat 7.

[٤]

Al-Bukhāri, Kitāb Al-Buyū` (2051); Muslim, Kitāb Al-Musāqāh (1599); At-Tirmidzi, Kitāb Al-Buyū` (1205); An-Nasā’ī, Kitāb Al-Buyū` (4453) dan Kitāb Al-Asyribah (5710); Abū Dāwud, Kitāb Al-Buyū` (3329); Ibn Mājah, Kitāb Al-Fitan (3984); Aḥmad (4/269, 4/270); dan Ad-Dārimi, Kitāb Al-Buyū` (2531).

[٥]

Redaksi Ad-Durar: `alā kulli mas’alah (Pada setiap permasalahan.)

[٦]

Dalam Ad-Durar: fa hādzihi arba`u qowā`id, tsalāts … (Maka ini adalah empat kaidah, tiga …)

[٧]

Dalam Ad-Durar: rasūlullāh shollallāhu `alaihi wa sallam

[٨]

Dalam Ad-Durar: ma`a ikhtishōrihā (Meskipun ringkas.)


4 Kaidah yang Menjadi Landasan Hukum (أربع قواعد تدور الأحكام عليها)
Halaman 5 Edisi Syamila
الَّذِي يُسَمَّى عِلۡمَ السُّلُوكِ أَوۡ فِي عِلۡمِ الۡحَدِيثِ، أَوۡ فِي عِلۡمِ الۡحَلَالِ وَالۡحَرَامِ وَالۡأَحۡكَامِ الَّذِي يُسَمَّى عِلۡمَ الۡفِقۡهِ، أَوۡ فِي عِلۡمِ الۡوَعۡدِ وَالۡوَعِيدِ، أَوۡ فِي غَيۡرِ ذَٰلِكَ مِنۡ أَنۡوَاعِ عُلُومِ الدِّينِ.
وَأَنَا أُمَثِّلُ لَكَ مَثَلٗا تَعۡرِفُ بِهِ صِحَّةَ مَا قُلۡتُهُ، وَتَحۡتَذِي عَلَيۡهِ إِنۡ فَهِمۡتَهُ.
وَأُمَثِّلُ [١] لَكَ فِي فَنّٖ مِنۡ فُنُونِ الدِّينِ وَهُوَ عِلۡمُ الۡفِقۡهِ، وَأَجۡعَلُهُ كُلَّهُ فِي بَابٖ وَاحِدٖ مِنۡهُ، وَهُوَ الۡبَابُ الۡأَوَّلُ: “بَابُ الۡمِيَاهِ”.
فَنَقُولُ: قَالَ بَعۡضُ أَهۡلِ الۡعِلۡمِ: الۡمَاءُ كُلُّهُ طَهُورٌ إِلَّا مَا تَغَيَّرَ بِنَجَاسَةٍ أَوۡ خَرَجَ عَنۡهُ اسۡمُ الۡمَاءِ كَمَاءِ وَرۡدٍ أَوۡ بَاقِلَّا وَنَحۡوِهِ.
وَقَالَ ءَاخَرُونَ: الۡمَاءُ ثَلَاثَةُ أَنۡوَاعٍ: طَهُورٌ، وَطَاهِرٌ، وَنَجِسٌ، وَالدَّلِيلُ قَوۡلُ النَّبِيِّ صَلَّى اللّٰهُ عَلَيۡهِ وَسَلَّمَ: “لَا يَغۡتَسِلۡ أَحَدُكُمۡ فِي الۡمَاءِ الدَّائِمِ” [٢]، فَلَوۡلَا أَنَّهُ يُفِيدُ مَنۡعٗا لَمۡ يَنۡهَ عَنۡهُ، وَدَلِيلُهُ مِنَ النَّظَرِ أَنَّهُ لَوۡ وَكَّلَهُ فِي شِرَاءِ مَاءٖ فَاشۡتَرَى مَاءٗ مُسۡتَعۡمَلًا أَوۡ مُتَغَيِّرَۢا بِظَاهِرٖ لَمۡ يَلۡزَمۡهُ قَبُولُهُ، فَدَلَّ عَلَى أَنَّهُ لَا يَدۡخُلُ فِي الۡمَاءِ الۡمُطۡلَقِ.
قَالَ الۡأَوَّلُونَ: النَّبِيُّ صَلَّى اللّٰهُ عَلَيۡهِ وَسَلَّمَ “نَهَى أَنۡ يَغۡتَسِلَ الرَّجُلُ فِي الۡمَاءِ الدَّائِمِ” [٣]، وَإِنۡ عَصَى وَفَعَلَ فَالۡقَوۡلُ فِي الۡمَاءِ مَسۡأَلَةٌ أُخۡرَى لَا تَعَرَّضَ لَهَا فِي الۡحَدِيثِ لَا بِنَفۡيٖ وَلَا إِثۡبَاتٖ، وَعَدَمُ قَبُولِ الۡمُوَكِّلِ لَا يَدُلُّ، فَلَوِ اشۡتَرَى لَهُ مَاءٗ مِنۡ مَاءِ الۡبَحۡرِ لَمۡ يَلۡزَمۡهُ قَبُولُهُ، وَلَوِ اشۡتَرَى لَهُ مَاءٗ مُتَقَذِّرٗا طَهُورٗا لَمۡ يَلۡزَمۡهُ قَبُولُهُ، فَانۡتَقَضَ مَا قُلۡتُمُوهُ، فَإِن كُنتُم مُّعۡتَرِفِينَ أَنَّ هَٰذِهِ الۡأَدِلَّةَ لَا تُفِيدُكُمۡ إِلَّا الظَّنَّ وَقَدۡ ثَبَتَ أَنَّ “الظَّنَّ أَكۡذَبُ الۡحَدِيثِ” [٤]، فَقَدۡ وَقَعۡتُمۡ فِي الۡمُحَرَّمِ يَقِينًا أَصَبۡتُمۡ أَمۡ أَخۡطَأۡتُمۡ، لِأَنَّكُمۡ أَفۡتَيۡتُم بِظَنّٖ مُجَرَّدٖ، فَإِنَّ قَوۡلَهُ: (لَمۡ تَجِدُواْ مَاءٗ) [٥] كَلَامٌ عَامّٞ مِنۡ جَوَامِعِ الۡكَلِمِ، فَإِن دَخَلَ فِيهِ هَٰذَا خَالَفۡتُمُ النَّصَّ، وَإِن لَّمۡ يَدۡخُلۡ فِيهِ وَسَكَتَ عَنۡهُ الشَّارِعُ فَهُوَ عَفۡوٌ.
alladzī yusammā `ilmas sulūk au fī `ilmil ḥadīts, au fī `ilmil ḥalāli wal-ḥarōmi wal-aḥkām alladzī yusammā `ilmal fiqh, au fī `ilmil wa`di wal-wa`īd, au fī ghoiri dzālika min anwā`i `ulūmid dīn.wa anā umatstsilu laka matsalan ta`rifu bihī shiḥḥata mā qultuh, wa taḥtadzī `alaihi in fahimtah.

wa umatstsilu [١] laka fī fannin min funūnid dīn, wa huwa `ilmul fiqh, wa aj`aluhu kullahu fī bābin wāḥidin minhu, wa huwal bābul awwal: “bābul miyāh.”

fanaqūl: qōla ba`dhu ahlil `ilm: al-mā’u kulluhu thohūrun illā mā taghoyyaro binajāsah au khoroja `anhu ismul mā’i kamā’i wardin au bāqillā wa naḥwih.

wa qōla ākhorūn: al-mā’u tsalātsatu anwā`: thohūr, wa thōhir, wa najis. wad dalīlu qoulun nabiyyi C: “lā yaghtasil aḥadukum fil mā’id dā’im.” [٢] falaulā annahu yufīdu man`an lam yanha `anhu. wa dalīluhu minan nazhor annahu lau wakkalahu fī syirō’i mā’in fasytarō mā’an musta`malan au mutaghoyyiran bizhōhirin lam yalzamhu qobūluh, fadalla `alā annahu lā yadkhulu fil mā’il muthlaq.

qōlal awwalūn: an-nabiyyu C “nahā an yaghtasilar rojulu fil mā’id dā’im.” [٣] wa in `ashō wa fa`ala fal-qoulu fil mā’i mas’alatun ukhrō lā ta`arrodho lahā fil ḥadīts lā binafyin wa lā bi’itsbāt. wa `adamu qobūlil muwakkili lā yadullu. falawisytarō lahu mā’an min mā’il baḥri lam yalzamhu qobūluh. wa lawisytarō lahu mā’an mutaqodzdziron thohūron lam yalzamhu qobūluh. fantaqodho mā qultumūh. fa in kuntum mu`tarifīna anna hādzihil adillah lā tufīdukum illāzh-zhonn, wa qod tsabata anna “azh-zhonna akdzabul ḥadīts” [٤], faqod waqo`tum fil muḥarrom yaqīnan, ashobtum am akhtho’tum, li’annakum aftaitum bizhonnin mujarrod. fa inna qoulahu: (lam tajidū mā’an) [٥] kalāmun `āmmun min jawāmi`il kalim. fa in dakhola fīhi hādzā khōlaftumun nashsh, wa in lam yadkhul fīhi wa sakata `anhusy syāri`u fahuwa `afw.

…yang disebut ilmu suluk, atau ilmu ḥadīts, atau ilmu ḥalal, ḥaram, dan hukum-hukum yang disebut ilmu fikih, atau ilmu tentang janji dan ancaman, ataupun cabang-cabang ilmu agama lainnya.

Saya akan memberikan sebuah contoh agar engkau mengetahui benarnya apa yang saya katakan, lalu menjadikannya pedoman apabila engkau memahaminya.

Saya memberi contoh [١] dari salah satu cabang ilmu agama, yaitu ilmu fikih, dan saya batasi hanya pada satu bab saja, yaitu bab pertama: “Bab Air.”

Sebagian ulama berkata: “Seluruh air adalah suci dan menyucikan, kecuali apabila berubah karena najis atau sudah tidak lagi disebut air, seperti air mawar, air rebusan kacang, dan semisalnya.”

Sebagian yang lain berkata: “Air terbagi menjadi 3: air suci menyucikan, air suci tetapi tidak menyucikan, dan air najis.”

Dalil mereka adalah sabda Nabi C: “Janganlah salah seorang di antara kalian mandi di air yang tergenang.” [٢] Menurut mereka, larangan itu menunjukkan adanya hukum tertentu. Mereka juga berdalil secara logika bahwa jika seseorang diberi kuasa membeli air lalu ia membeli air bekas dipakai atau air yang berubah karena benda suci, maka pemberi kuasa tidak wajib menerimanya. Hal itu menunjukkan bahwa air tersebut bukan termasuk air mutlak.

Pendapat pertama menjawab: Nabi C hanya melarang seseorang mandi di air yang tergenang [٣]. Apabila larangan itu dilanggar, maka pembahasan mengenai status air merupakan masalah lain yang tidak dibahas oleh ḥadīts itu, baik secara penafian maupun penetapan. Adapun alasan bahwa pemberi kuasa tidak mau menerima air tersebut juga bukan dalil. Sebab, jika ia membelikan air laut, belum tentu pemberi kuasa mau menerimanya. Demikian pula jika ia membelikan air yang menjijikkan tetapi tetap suci menyucikan, belum tentu ia mau menerimanya. Maka gugurlah alasan tersebut.

Jika kalian mengakui bahwa dalil-dalil seperti itu hanya menghasilkan dugaan, padahal telah tetap sabda Nabi C: “Dugaan adalah perkataan yang paling dusta” [٤], maka kalian telah terjatuh ke dalam sesuatu yang diḥaramkan, baik pendapat itu benar maupun salah, karena kalian berfatwa hanya berdasarkan dugaan semata.

Sedangkan firman Allah: “kalian tidak mendapatkan air” [٥], merupakan lafaz umum yang termasuk jawāmi`ul kalim. Jika air yang diperselisihkan itu masuk ke dalam keumuman ayat tersebut, berarti kalian telah menyelisihi nash. Jika tidak masuk ke dalam keumuman ayat itu dan syariat mendiamkannya, maka perkara tersebut termasuk yang dimaafkan.

 

[١]

Redaksi Ad-Durar: wa amtsilu laka (Dan aku membuatkan contoh untukmu.)[٢]

Muslim, Kitāb Ath-Thohāroh (283); An-Nasā’ī, Kitāb Ath-Thohāroh (220) dan Kitāb Al-Ghusl wa At-Tayammum (396); serta Ibn Mājah, Kitāb Ath-Thohāroh wa Sunanihā (605).

[٣]

Muslim, Kitāb Ath-Thohāroh (283); An-Nasā’ī, Kitāb Ath-Thohāroh (220) dan Kitāb Al-Ghusl wa At-Tayammum (396); Abū Dāwud, Kitāb Ath-Thohāroh (70); serta Ibn Mājah, Kitāb Ath-Thohāroh wa Sunanihā (605).

[٤]

Al-Bukhāri, Kitāb An-Nikāḥ (5144) dan Kitāb Al-Adab (6066); Muslim, Kitāb Al-Birr wa Ash-Shilah wa Al-Ādāb (2563); At-Tirmidzi, Kitāb Al-Birr wa Ash-Shilah (1988); Abū Dāwud, Kitāb Al-Adab (4917); Aḥmad (2/245, 2/287, 2/312, 2/342, 2/465, 2/470, 2/482, 2/491, 2/504, 2/517, 2/538); dan Mālik, Kitāb Al-Jāmi` (1684).

[٥]

Surah An-Nisā’, ayat 43.


4 Kaidah yang Menjadi Landasan Hukum (أربع قواعد تدور الأحكام عليها)
Halaman 6 Edisi Syamila
لَا يَحِلُّ الۡكَلَامُ فِيهِ؛ وَعَصَيۡتُمۡ قَوۡلَهُ تَعَالَى: (يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا لَا تَسۡـَٔلُوا عَنۡ أَشۡيَآءَ) [١] الۡآيَةُ، وَكَذَٰلِكَ إِذَا تَرَكۡتُمۡ [٢] هَٰذَا اللَّفۡظَ الۡعَامَّ الۡجَامِعَ مَعَ قَوۡلِهِ صَلَّى اللّٰهُ عَلَيۡهِ وَسَلَّمَ: «الۡمَآءُ طَهُورٌ لَا يُنَجِّسُهُ شَيۡءٌ» [٣]، وَتَرَكۡتُمۡ هَٰذِهِ الۡأَلۡفَاظَ الۡوَاضِحَةَ الۡعَامَّةَ، وَزَعَمۡتُمۡ أَنَّ الۡمَآءَ ثَلَاثَةُ أَنۡوَاعٍ بِالۡأَدِلَّةِ الَّتِي ذَكَرۡتُمُوهَا وَقَعۡتُمۡ فِي طَرِيقِ أَهۡلِ الزَّيۡغِ فِي تَرۡكِ الۡمُحۡكَمِ وَاتِّبَاعِ الۡمُتَشَابِهِ.
فَإِنۡ قُلۡتُمۡ لَمۡ يَتَبَيَّنۡ لَنَا أَنَّهُ طَهُورٌ، وَخِفۡنَا أَنَّ النَّهۡيَ يُؤَثِّرُ فِيهِ، قُلۡنَا قَدۡ جَعَلَ اللّٰهُ لَكُمۡ [٤] مَنۡدُوحَةً وَهُوَ الۡوَقۡفُ وَقَوۡلُ: لَا أَدۡرِي، وَإِلَّا أَلۡحِقُوهُ [٥] بِمَسۡأَلَةِ الۡمُتَشَابِهَاتِ، وَإِمَّا الۡجَزۡمُ بِأَنَّ الشَّرۡعَ جَعَلَ هَٰذَا طَاهِرًا مُطَهِّرًا فَقَدۡ وَقَعۡتُمۡ فِي الۡبَحۡثِ [٦] عَنِ الۡمَسۡكُوتِ عَنۡهُ، وَاتِّبَاعِ الۡمُتَشَابِهِ وَتَرَكۡتُمۡ قَوۡلَهُ: صَلَّى اللّٰهُ عَلَيۡهِ وَسَلَّمَ «وَبَيۡنَهُمَا أُمُورٌ مُشۡتَبِهَاتٌ» [٧].
الۡمَسۡأَلَةُ الثَّانِيَةُ: قَوۡلُهُمۡ إِنَّ الۡمَآءَ الۡكَثِيرَ يُنَجِّسُهُ الۡبَوۡلُ وَالۡعَذِرَةُ لِنَهۡيِهِ عَنِ الۡبَوۡلِ فِيهِ، فَيُقَالُ لَهُمۡ: الَّذِي ذَكَرَ النَّهۡيَ عَنِ الۡبَوۡلِ فِيهِ [٨]، وَأَمَّا نَجَاسَةُ الۡمَآءِ وَطَهَارَتُهُ فَلَمۡ يَتَعَرَّضۡ لَهَا، وَتِلۡكَ مَسۡأَلَةٌ أُخۡرَىٰ يُسۡتَدَلُّ عَلَيۡهَا بِدَلِيلٍ آخَرَ وَهُوَ قَوۡلُهُ فِي الۡكَلِمَةِ الۡجَامِعَةِ [٩]: (فَلَمۡ تَجِدُوا مَآءً) وَهَٰذَا مَآءٌ وَقَوۡلُ النَّبِيِّ صَلَّى اللّٰهُ عَلَيۡهِ وَسَلَّمَ لَمَّا سُئِلَ عَنۡ بِئۡرِ بُضَاعَةَ – وَهِيَ بِئۡرٌ يُلۡقَى فِيهَا الۡحِيَضُ وَعَذِرَةُ النَّاسِ -: «الۡمَآءُ طَهُورٌ لَا يُنَجِّسُهُ شَيۡءٌ» [١].
lā yaḥillu al-kalāmu fīhi; wa`ashoitum qoulahu ta`ālā: (yā ayyuhalladzīna āmanū lā tas’alū `an asyiyā’a) [١] al-āyatu, wakadzālika idzā taroktum [٢] hādzā allafzho al-`āmma al-jāmi`a ma`a qoulihi C: “al-mā’u thohūrun lā yunajjisuhu syai’un” [٣], wataroktum hādzihi al-alfāzho al-wādhiḥata al-`āmmata, waza`amtum anna al-mā’a tsalātsatu anwā`in bil-adillati allatī dzakartumūhā waqo`tum fī thorīqi ahli az-zaighi fī tarki al-muḥkami wattibā`i al-mutasyābihi.fa’in qultum lam yatabayyan lanā annahu thohūrun, wakhifnā anna an-nahya yu’atstsiru fīhi, qulnā qod ja`ala allāhu lakum [٤] mandūḥatan wahuwa al-waqfu waqoulu lā adrī, wa’illā alḥiqūhu [٥] bimas’alati al-mutasyābihāti, wa’immā al-jazmu bi’anna asy-syar`a ja`ala hādzā thōhiron muthohhiron faqod waqo`tum fī al-baḥtsi [٦] `anil-maskūti `anhu, wattaba`tumul-mutasyābiha wataroktum qoulahu C: “wabainahumā umūrun musytabihātun”. [٧]

al-mas’alatu ats-tsāniyatu: qouluhum inna al-mā’a al-katsīro yunajjisuhu al-baulu wal-`adzirotu linahyihi `anil-bauli fīhi, fayuqōlu lahum: alladzī dzakaro an-nahya `anil-bauli fīhi [٨], wa’ammā najāsatu al-mā’i wathohārotuhu falam yata`arrodh lahā, watilka mas’alatun ukhrō yustadallu `alaihā bidalīlin ākhoro, wahuwa qouluhu fī al-kalimati al-jāmi`ati [٩]: falam tajidū mā’an, wahādzā mā’un, waqoulu an-nabiyyi C lammā su’ila `an bi’ri budhō`ah – wahiya bi’run yulqō fīhā al-ḥīdhu wa`adzirotu an-nāsi -: “al-mā’u thohūrun lā yunajjisuhu syai’un”. [١]

Tidak ḥalal berbicara tentang hal itu. Kalian juga telah menyelisihi firman Allah Ta`ālā: “Wahai orang-orang yang beriman, janganlah kalian bertanya tentang hal-hal (tertentu).” [١]

Demikian pula ketika kalian meninggalkan [٢] lafaz umum yang mencakup segala sesuatu ini bersama sabda Nabi C, “Air itu suci lagi menyucikan, tidak ada sesuatu pun yang dapat menajiskannya.” [٣]

Kalian meninggalkan lafaz-lafaz yang jelas dan bersifat umum tersebut, lalu mengklaim bahwa air terbagi menjadi tiga macam berdasarkan dalil-dalil yang kalian sebutkan. Dengan demikian, kalian telah menempuh jalan Ahli Az-Zaigh, yaitu meninggalkan dalil yang muḥkam dan mengikuti dalil yang mutasyabih.

Apabila kalian berkata, “Belum jelas bagi kami bahwa air itu suci lagi menyucikan, dan kami khawatir larangan tersebut berpengaruh terhadapnya,” maka kami menjawab: Allah telah memberikan jalan keluar bagi kalian [٤], yaitu bersikap tawaqquf dan mengatakan, “Saya tidak tahu.”

Jika tidak, maka hubungkanlah [٥] masalah itu dengan perkara-perkara mutasyabih. Adapun memastikan bahwa syariat telah menetapkan air ini sebagai sesuatu yang suci dan menyucikan, maka kalian telah terjatuh ke dalam pembahasan [٦] mengenai perkara yang didiamkan oleh syariat, mengikuti yang mutasyabih, serta meninggalkan sabda Nabi C, “Di antara keduanya terdapat perkara-perkara yang samar.” [٧]

Masalah kedua: perkataan mereka bahwa air yang banyak menjadi najis karena air kencing dan kotoran manusia, disebabkan adanya larangan buang air kecil di dalamnya [٨]. Kepada mereka dikatakan: yang disebutkan hanyalah larangan buang air kecil di dalam air itu. Adapun mengenai najis atau sucinya air, sama sekali tidak dibahas. Itu adalah masalah lain yang harus ditetapkan dengan dalil lain, yaitu firman Allah dalam kalimat yang bersifat umum [٩]: “Lalu kalian tidak mendapatkan air.” Ini adalah air. Demikian pula sabda Nabi C ketika beliau ditanya tentang Sumur Budhā`ah —yaitu sebuah sumur tempat dibuang kain haid dan kotoran manusia— beliau bersabda, “Air itu suci lagi menyucikan, tidak ada sesuatu pun yang dapat menajiskannya.” [١]

 

[١]

Surah Al-Mā’idah, ayat 101.[٢]

Dalam Ad-Durar As-Saniyyah, jilid 4, halaman 70: shoroftum (kalian memalingkan.)

[٣]

At-Tirmidzi, Kitāb Ath-Thohāroh (66); An-Nasā’ī, Kitāb Al-Miyāh (326); Abū Dāwud, Kitāb Ath-Thohāroh (66); dan Aḥmad (3/15, 3/31, 3/86).

[٤]

Dalam Ad-Durar: lanā minhu (bagi kami darinya.)

[٥]

Dalam Ad-Durar: lā nadrī wa alḥaq (kami tidak mengetahui, dan …)

[٦]

Dalam Ad-Durar: fī al-qouli bilā `ilmin wa al-baḥtsi (dalam berbicara tanpa ilmu dan pembahasan.)

[٧]

Al-Bukhāri, Kitāb Al-Īmān (52); Muslim, Kitāb Al-Musāqāh (1599); At-Tirmidzi, Kitāb Al-Buyū` (1205); An-Nasā’ī, Kitāb Al-Buyū` (4453) dan Kitāb Al-Asyribah (5710); Abū Dāwud, Kitāb Al-Buyū` (3329); Ibn Mājah, Kitāb Al-Fitan (3984); Aḥmad (4/269, 4/270, 4/271); dan Ad-Dārimi, Kitāb Al-Buyū` (2531).

[٨]

Redaksi Ad-Durar: `an al-bauli fīhi idzā kāna rōkidan (dari buang air kecil di dalamnya apabila air itu tergenang.)

[٩]

Redaksi Ad-Durar: wa huwa qouluhu: fa lam tajidū mā’an (yaitu firman-Nya: lalu kalian tidak mendapatkan air’.)

[١]

At-Tirmidzi, Kitāb Ath-Thohāroh (66); An-Nasā’ī, Kitāb Al-Miyāh (326); Abū Dāwud, Kitāb Ath-Thohāroh (66); dan Aḥmad (3/15, 3/31, 3/86).


4 Kaidah yang Menjadi Landasan Hukum (أربع قواعد تدور الأحكام عليها)
Halaman 7 Edisi Syamila
فَمَنۡ تَرَكَ هَٰذَا الۡمُحۡكَمَ وَأَفۡتَىٰ بِنَجَاسَتِهِ مُعَلِّلًا بِنَهۡيِهِ عَنِ الۡبَوۡلِ فِيهِ، فَقَدۡ تَرَكَ الۡمُحۡكَمَ وَاتَّبَعَ الۡمُتَشَابِهَ، وَوَقَعَ فِي الۡقَوۡلِ بِلَا عِلۡمٍ لِأَنَّهُ لَا يَجۡزِمُ بِأَنَّ النَّبِيَّ صَلَّى اللّٰهُ عَلَيۡهِ وَسَلَّمَ أَرَادَ نَجَاسَةَ الۡمَآءِ لَمَّا نَهَىٰ عَنِ الۡبَوۡلِ فِيهِ، وَإِنَّمَا غَايَةُ مَا عِنۡدَهُ الظَّنُّ. فَإِنۡ قَدَّرۡنَا أَنَّ هَٰذَا لَا يَدۡخُلُ فِي الۡعُمُومِ الَّذِي ذَكَرۡنَا وَتَكَلَّمَ فِيهِ بِالۡقِيَاسِ فَقَدۡ خَالَفَ قَوۡلَهُ: (لَا تَسۡـَٔلُوا عَنۡ أَشۡيَآءَ) [٢] وَإِنۡ يُعَلِّلۡ بِقَوۡلِهِ: لَا يَتَبَيَّنُ لِي دُخُولُهُ فِي الۡعُمُومِ، وَأَخَافُ لِأَجۡلِ النَّهۡيِ عَنۡ نَجَاسَتِهِ، قِيلَ: لَكَ مَنۡدُوحَةٌ عَنِ الۡقَوۡلِ بِلَا عِلۡمٍ؛ وَهُوَ إِلۡحَاقُهُ بِالۡمُتَشَابِهَاتِ، وَلَا تَزۡعُمۡ أَنَّ اللّٰهَ شَرَعَ نَجَاسَتَهُ وَحَرَّمَ شُرۡبَهُ.
وَمِنۡ ذَٰلِكَ فَضۡلُ طَهُورِ الۡمَرۡأَةِ، زَعَمَ بَعۡضُهُمۡ أَنَّهُ لَا يَرۡفَعُ الۡحَدَثَ، وَوُلِّدَ عَلَيۡهَا [٣] مِنَ الۡمَسَآئِلِ مَا يَشۡغَلُ الۡإِنۡسَانَ وَيُعَذِّبُ الۡحَيَوَانَ؛ وَقَالَ كَثِيرٌ مِنۡ أَهۡلِ الۡعِلۡمِ أَوۡ أَكۡثَرُهُمۡ: إِنَّهُ مُطَهِّرٌ رَافِعٌ، فَإِنۡ لَمۡ يَصِحَّ الۡحَدِيثُ فِيهِ فَلَا كَلَامَ كَمَا ذَكَرَ الۡبُخَارِيُّ وَغَيۡرُهُ، وَإِنۡ قُلۡنَا بِصِحَّةِ الۡحَدِيثِ فَنَقُولُ: فِي صَحِيحِ مُسۡلِمٍ حَدِيثٌ أَصَحُّ مِنۡهُ أَنَّ النَّبِيَّ صَلَّى اللّٰهُ عَلَيۡهِ وَسَلَّمَ: «تَوَضَّأَ وَاغۡتَسَلَ بِفَضۡلِ مَيۡمُونَةَ» [٤]، وَهُوَ دَاخِلٌ فِي قَوۡلِهِ: (فَلَمۡ تَجِدُوا مَآءً) [٥] قَطۡعًا، وَدَاخِلٌ فِي قَوۡلِهِ: «الۡمَآءُ طَهُورٌ لَا يُنَجِّسُهُ شَيۡءٌ» [٦].
faman taroka hādzā al-muḥkama wa’aftā binajāsatihi mu`allilan binahyihi `anil-bauli fīhi[١], faqod taroka al-muḥkama wattaba`a al-mutasyābiha, wawaqo`a fī al-qouli bilā `ilmin li’annahu lā yajzimu bi’anna an-nabiyya C arōda najāsata al-mā’i lammā nahā `anil-bauli fīhi, wa’innamā ghōyatu mā `indahu azh-zhonnu. fa’in qoddarnā anna hādzā lā yadkhulu fī al-`umūmi alladzī dzakarnā watakallama fīhi bil-qiyāsi faqod khōlafa qoulahu: lā tas’alū `an asyiyā’a [٢]. wa’in yu`allil biqoulihi: lā yatabayyanu lī dukhūluhu fī al-`umūmi, wa’akhōfu li’ajli an-nahyi `an najāsatihi, qīla: laka mandūḥatun `anil-qouli bilā `ilmin; wahuwa ilḥāquhu bil-mutasyābihāti, walā taz`um annallāha syaro`a najāsatahu waḥarroma syurbahu.wamin dzālika fadhlu thohūri al-mar’ati, za`ama ba`dhuhum annahu lā yarfa`u al-ḥadatsa, wawullida `alaihā [٣] minal-masā’ili mā yasygholu al-insāna wayu`adzdzibu al-ḥayawāna; waqōla katsīrun min ahlil-`ilmi au aktsaruhum: innahu muthohhirun rōfi`un, fa’in lam yashiḥḥi al-ḥadītsu fīhi falā kalāma kamā dzakaro al-bukhōriyyu waghoiruhu, wa’in qulnā bishiḥḥati al-ḥadītsi fanaqūlu: fī shoḥīḥ muslim ḥadītsun ashoḥḥu minhu annan-nabiyya C: “tawadhdho’a waghtasala bifadhli maimūnata” [٤], wahuwa dākhilun fī qoulihi: falam tajidū mā’an [٥] qoth`an, wadākhilun fī qoulihi: “al-mā’u thohūrun lā yunajjisuhu syai’un” [٦].

Barang siapa meninggalkan dalil yang muḥkam ini lalu berfatwa bahwa air tersebut najis dengan alasan adanya larangan buang air kecil di dalamnya, maka ia telah meninggalkan dalil yang muḥkam dan mengikuti dalil yang mutasyabih. Ia juga telah berbicara tanpa ilmu, karena ia tidak dapat memastikan bahwa Nabi C memang menghendaki kenajisan air ketika beliau melarang buang air kecil di dalamnya. Yang dimilikinya hanyalah dugaan semata.

Jika kita andaikan bahwa masalah ini tidak termasuk dalam keumuman yang telah kami sebutkan dan ia berbicara berdasarkan qiyas, maka ia telah menyelisihi firman Allah: “Janganlah kalian bertanya tentang hal-hal (tertentu).” [٢]

Jika ia beralasan, “Belum jelas bagiku bahwa hal ini termasuk dalam keumuman ayat tersebut, dan aku khawatir karena adanya larangan itu menunjukkan kenajisannya,” maka dijawab: engkau masih memiliki jalan keluar agar tidak berbicara tanpa ilmu, yaitu memasukkannya ke dalam perkara-perkara mutasyabih. Jangan sekali-kali mengklaim bahwa Allah telah mensyariatkan kenajisannya dan mengḥaramkan meminumnya.

Demikian pula mengenai sisa air bersuci wanita. Sebagian ulama beranggapan bahwa air tersebut tidak dapat menghilangkan ḥadats. Dari pendapat itu lahirlah [٣] berbagai persoalan yang hanya menyibukkan manusia dan menyulitkan makhluk. Akan tetapi, banyak ulama bahkan mayoritas mereka berpendapat bahwa air tersebut tetap suci lagi menyucikan.

Jika ḥadits tentang masalah ini memang tidak shaḥiḥ, maka tidak ada lagi yang perlu dibahas sebagaimana diterangkan oleh Al-Bukhāri dan ulama lainnya. Namun jika ḥadits tersebut dianggap shaḥiḥ, maka kami katakan: di dalam Shaḥīḥ Muslim terdapat ḥadits yang lebih shaḥiḥ, yaitu bahwa Nabi C pernah berwudhu dan mandi menggunakan sisa air Maimūnah [٤]. Air itu secara pasti termasuk dalam firman Allah, “Lalu kalian tidak mendapatkan air.” [٥] Demikian pula termasuk dalam sabda beliau, “Air itu suci lagi menyucikan, tidak ada sesuatu pun yang dapat menajiskannya.” [٦]

 

[٢]

Surah Al-Mā’idah, ayat 101.[٣]

Dalam Ad-Durar: wa wulidū `alaihi (dan mereka dilahirkan di atasnya.)

[٤]

Muslim, Kitāb Al-Ḥaidh (323); dan Aḥmad (1/366).

[٥]

Surah An-Nisā’, ayat 43.

[٦]

At-Tirmidzi, Kitāb Ath-Thohāroh (66); An-Nasā’ī, Kitāb Al-Miyāh (326); Abū Dāwud, Kitāb Ath-Thohāroh (66); dan Aḥmad (3/15, 3/31, 3/86).


4 Kaidah yang Menjadi Landasan Hukum (أربع قواعد تدور الأحكام عليها)
Halaman 8 Edisi Syamila
وَإِنَّمَا نَهَى الرِّجَالَ عَنِ اسۡتِعۡمَالِهِ نَهۡيَ تَنۡزِيهٍ وَتَأۡدِيبٍ إِذَا قُدِّرَ [١] لِلۡأَدِلَّةِ الۡقَاطِعَةِ الَّتِي ذَكَرۡنَا، فَإِذَا قَالَ مَنۡ مَنَعَ اسۡتِعۡمَالَهُ [٢]: أَخَافُ إِنَّ النَّهۡيَ إِذَا سَلَّمۡتُمۡ صِحَّتَهُ يُفۡسِدُ الۡوُضُوٓءَ، قُلۡنَا: إِذَا خِفۡتَ ذَٰلِكَ فَأَلۡحِقۡهُ بِالۡمُتَشَابِهَاتِ، وَلَا تَقُلۡ عَلَى اللّٰهِ بِلَا عِلۡمٍ وَتَوَلَّدَ [٣] مَسَآئِلُ كَثِيرَةٌ سَكَتَ الشَّارِعُ عَنۡهَا فِي صِفَةِ الۡخَلۡوَةِ وَغَيۡرِهَا.
وَمِنۡ ذَٰلِكَ الۡمَآءُ الَّذِي دُونَ الۡقُلَّتَيۡنِ إِذَا وَقَعَتۡ فِيهِ نَجَاسَةٌ، فَكَثِيرٌ مِنۡ أَهۡلِ الۡعِلۡمِ أَوۡ أَكۡثَرُهُمۡ عَلَى أَنَّهُ طَهُورٌ دَاخِلٌ فِي تِلۡكَ الۡقَاعِدَةِ الۡجَامِعَةِ (فَلَمۡ تَجِدُوا مَآءً) [٤]، وَسُئِلَ النَّبِيُّ صَلَّى اللّٰهُ عَلَيۡهِ وَسَلَّمَ عَنِ الۡمَآءِ إِذَا وَقَعَتۡ فِيهِ نَجَاسَةٌ فَقَالَ: «الۡمَآءُ طَهُورٌ لَا يُنَجِّسُهُ شَيۡءٌ» [٥]، لَكِنۡ حَمَلَهُ آخَرُونَ عَلَى الۡكَثِيرِ لِقَوۡلِهِ: «إِذَا بَلَغَ الۡمَآءُ قُلَّتَيۡنِ لَمۡ يَحۡمِلِ الۡخَبَثَ» [٦]. قَالَ الۡأَوَّلُونَ: إِنۡ سَلَكۡنَا فِي الۡحَدِيثِ مَسۡلَكَ مَنۡ قَدَحَ فِيهِ مِنۡ أَهۡلِ الۡحَدِيثِ فَلَا كَلَامَ، وَلَٰكِنۡ نَتَكَلَّمُ فِيهِ عَلَى تَقۡدِيرِ ثُبُوتِهِ وَنَحۡنُ نَقُولُ بِثُبُوتِهِ لَكِنَّهُ لَا يَدُلُّ عَلَى مَا قُلۡتُمُوهُ، وَمَنۡ زَعَمَ أَنَّهُ يَدُلُّ عَلَى أَنَّ الۡقَلِيلَ [٧] يَنۡجُسُ فَقَدۡ قَالَ مَا لَا يَعۡلَمُ قَطۡعًا لِأَنَّ اللَّفۡظَ صَرَّحَ أَنَّهُ إِنۡ كَثُرَ لَمۡ يَحۡمِلِ [٨] الۡخَبَثَ وَلَمۡ يَتَكَلَّمۡ فِيمَا دُونَ فَيَحۡتَمِلُ أَنَّهُ يَنۡجُسُ كَمَا ذَكَرۡنَا [٩]، وَيَحۡتَمِلُ أَنَّهُ أَرَادَ إِنۡ كَانَ دُونَهُمَا فَقَدۡ يَحۡمِلُ وَقَدۡ لَا يَحۡمِلُ، فَإِذَا لَمۡ تَقۡطَعۡ عَلَى مُرَادِهِ بِالتَّحۡدِيدِ فَقَدۡ حَرَّمَ اللّٰهُ الۡقَوۡلَ عَلَيۡهِ بِلَا عِلۡمٍ، وَإِنۡ زَعَمۡتُمۡ أَنَّ أَدِلَّتَنَا لَا تَشۡمَلُ هَٰذَا فَهُوَ بَاطِلٌ؛ فَإِنَّهَا عَامَّةٌ، وَعَلَى تَقۡدِيرِ ذَٰلِكَ يَكُونُ مِنَ الۡمَسۡكُوتِ عَنۡهُ الَّذِي نُهِينَا عَنِ الۡبَحۡثِ فِيهِ.
wa’innamā nahā ar-rijāla `ani isti`mālihi nahya tanzīhin wata’dībin idzā quddiro [١] lil-adillati al-qōthi`ati allatī dzakarnā, fa’idzā qōla man mana`a isti`mālahu [٢]: akhōfu inna an-nahya idzā sallamtum shiḥḥatahu yufsidu al-wudhū’a, qulnā: idzā khifta dzālika fa’alḥiqhu bil-mutasyābihāti, walā taqul `alallāhi bilā `ilmin watawallada [٣] masā’ilu katsīrotun sakata asy-syāri`u `anhā fī shifati al-kholwati waghoirihā.wamin dzālika al-mā’u alladzī dūna al-qullataini idzā waqo`at fīhi najāsatun, fakatsīrun min ahli al-`ilmi au aktsaruhum `alā annahu thohūrun dākhilun fī tilka al-qō`idati al-jāmi`ati: falam tajidū mā’an [٤], wasu’ila an-nabiyyu C `anil-mā’i idzā waqo`at fīhi najāsatun faqōla: “al-mā’u thohūrun lā yunajjisuhu syai’un” [٥], lākin ḥamalahu ākhorūna `alā al-katsīri liqoulihi: “idzā balagho al-mā’u qullataini lam yaḥmili al-khobatsa” [٦]. qōla al-awwalūna: in salaknī fī al-ḥadītsi maslaka man qodaḥa fīhi min ahli al-ḥadītsi falā kalāma, walākin natakallamu fīhi `alā taqdīri shubūtihi wanaḥnu naqūlu bishubūtihi lākinnahu lā yadullu `alā mā qultumūhu, waman za`ama annahu yadullu `alā anna al-qolīla [٧] yanjusu faqod qōla mā lā ya`lamu qoth`an li’anna al-lafzha shorroḥa annahu in katsuro lam yaḥmili [٨] al-khobatsa walam yatakallam fīmā dūna fayaḥtamilu annahu yanjusu kamā dzakarnā [٩], wayaḥtamilu annahu arōda in kāna dūnahumā faqod yaḥmilu waqod lā yaḥmilu, fa’idzā lam taqtho` `alā murōdihi bit-taḥdīdi faqod ḥarroma allāhu al-qoula `alaihi bilā `ilmin, wa’in za`amtum anna adillatanā lā tasymalu hādzā fahuwa bāthilun; fa’innahā `āmmatun, wa`alā taqdīri dzālika yakūnu minal-maskūti `anhu alladzī nuhīnā `anil-baḥtsi fīhi.

Beliau hanya melarang kaum laki-laki menggunakan air itu sebagai larangan yang bersifat makruh (tanzih) dan adab apabila dalil-dalil yang pasti telah diperhatikan [١]. Maka jika orang yang melarang penggunaannya [٢] berkata, “Saya khawatir jika larangan itu benar, maka wudhu menjadi tidak sah.”

Kami menjawab: Jika engkau khawatir demikian, masukkanlah persoalan itu ke dalam perkara-perkara mutasyabih. Jangan mengatakan sesuatu atas nama Allah tanpa ilmu. Dari sikap sebaliknya akan lahir [٣] banyak persoalan yang tidak pernah dijelaskan oleh syariat, baik mengenai tata cara berkhalwat maupun selainnya.

Di antaranya adalah hukum air yang jumlahnya kurang dari dua qullah apabila terkena najis. Banyak ulama, bahkan mayoritas mereka, berpendapat bahwa air itu tetap suci lagi menyucikan dan termasuk dalam kaidah umum firman Allah, “(Lalu kalian tidak mendapatkan air).” [٤]

Nabi C juga pernah ditanya tentang air yang terkena najis, lalu beliau bersabda, “Air itu suci lagi menyucikan, tidak ada sesuatu pun yang dapat menajiskannya.” [٥]

Namun sebagian ulama lain memahami ḥadīts tersebut hanya berlaku untuk air yang banyak, berdasarkan sabda beliau, “Apabila air telah mencapai dua qullah, maka ia tidak membawa najis.” [٦]

Kelompok pertama menjawab: Apabila kita mengikuti pendapat para ahli ḥadīts yang melemahkan ḥadīts itu, maka persoalan selesai. Akan tetapi, andaipun ḥadīts itu shaḥiḥ —dan kami memang menganggapnya shaḥiḥ— tetap saja ḥadīts tersebut tidak menunjukkan apa yang kalian pahami. Siapa yang mengklaim bahwa ḥadīts itu menunjukkan air yang sedikit [٧] pasti menjadi najis, maka ia telah mengatakan sesuatu yang tidak diketahuinya secara pasti.

Sebab, lafaz ḥadīts hanya menjelaskan bahwa apabila air itu banyak maka ia tidak membawa najis [٨], sedangkan tentang air yang kurang dari dua qullah tidak dijelaskan. Bisa saja air itu menjadi najis sebagaimana kalian katakan [٩], dan bisa juga maksud Nabi adalah bahwa air di bawah dua qullah terkadang membawa najis dan terkadang tidak. Selama maksud beliau tidak dapat dipastikan secara tegas, Allah mengḥaramkan berbicara atas Nama-Nya tanpa ilmu.

Jika kalian mengklaim bahwa dalil-dalil kami tidak mencakup masalah ini, maka klaim itu bathil, karena dalil-dalil tersebut bersifat umum. Kalaupun dianggap tidak termasuk, maka masalah itu tetap termasuk perkara yang didiamkan oleh syariat, yang kita dilarang untuk membahas dan menetapkannya tanpa dalil.

 

[١]

Dalam Ad-Durar As-Saniyyah, hlm. 71, terdapat tambahan: `alā ghoirihi (atas selainnya.)[٢]

Dalam Ad-Durar: man mana`a min… (orang yang menghalangi dari …)

[٣]

Dalam Ad-Durar: wa lā tawallad (dan tidak dilahirkan.)

[٤]

Surah An-Nisā’, ayat 43.

[٥]

At-Tirmidzi, Kitāb Ath-Thohāroh (66); An-Nasā’ī, Kitāb Al-Miyāh (326); Abū Dāwud, Kitāb Ath-Thohāroh (66); dan Aḥmad (3/15, 3/31, 3/86).

[٦]

At-Tirmidzi, Kitāb Ath-Thohāroh (67); An-Nasā’ī, Kitāb Ath-Thohāroh (52); Abū Dāwud, Kitāb Ath-Thohāroh (63); Aḥmad (2/12, 2/38); dan Ad-Dārimi, Kitāb Ath-Thohāroh (732).

[٧]

Redaksi Ad-Durar: za`ama anna al-qolīl (ia menganggap bahwa yang sedikit …)

[٨]

Redaksi Ad-Durar: lā yaḥmilu (tidak membawa.)

[٩]

Redaksi Ad-Durar: yanjusu `alā mā dzakartum (menjadi najis menurut apa yang kalian sebutkan.)


4 Kaidah yang Menjadi Landasan Hukum (أربع قواعد تدور الأحكام عليها)
Halaman 9 Edisi Syamila
فَلَوۡ أَنَّكُمۡ قُلۡتُمۡ كَمَا [١] قَالَ مَنۡ كَرِهَهُ مِنَ الۡعُلَمَآءِ: أَكۡرَهُهُ أَوۡ لَا أَسۡتَحِبُّهُ مَعَ وُجُودِ غَيۡرِهِ وَنَحۡوَ هَٰذِهِ الۡعِبَارَةِ الَّتِي يَقُولُهَا مَنۡ شَكَّ فِي نَجَاسَتِهِ وَلَمۡ يَجۡزِمۡ بِأَنَّ حُكۡمَ الشَّرۡعِ نَجَاسَةُ هَٰذَا، فَقَدۡ أَصَبۡتُمۡ [٢] وَعَمِلۡتُمۡ بِقَوۡلِ نَبِيِّكُمۡ صَلَّى اللّٰهُ عَلَيۡهِ وَسَلَّمَ: «وَبَيۡنَهُمَا أُمُورٌ مُشۡتَبِهَاتٌ» [٣] سَوَآءَ كَانَ فِي نَفۡسِ الۡأَمۡرِ طَاهِرًا أَمۡ لَا. فَإِنَّ مَنۡ شَكَّ فِي شَيۡءٍ وَتَوَرَّعَ عَنۡهُ فَقَدۡ أَصَابَ وَلَوۡ تَبَيَّنَ بَعۡدَ ذَٰلِكَ أَنَّهُ حَلَالٌ.
وَعَلَى كُلِّ حَالٍ، فَمَنۡ زَعَمَ أَنَّ النَّبِيَّ صَلَّى اللّٰهُ عَلَيۡهِ وَسَلَّمَ الَّذِي أَرۡسَلَهُ اللّٰهُ لِيُبَيِّنَ لِلنَّاسِ مَا نُزِّلَ إِلَيۡهِمۡ أَرَادَ أَنۡ يُشَرِّعَ لِأُمَّتِهِ أَنَّ كُلَّ مَآءٍ دُونَ الۡقُلَّتَيۡنِ بِقِلَالِ هَجَرٍ إِذَا لَاقَى شَيۡـًٔا نَجِسًا أَنَّهُ يُنَجِّسُهُ [٤] وَيَصِيرُ شُرۡبُهُ حَرَامًا، وَلَا تُقۡبَلُ صَلَاةُ مَنۡ تَوَضَّأَ بِهِ وَلَا مَنۡ بَاشَرَهُ شَيۡءٌ مِنۡهُ حَتَّىٰ يَغۡسِلَهُ وَلَمۡ يُبَيِّنۡ ذَٰلِكَ لَهُمۡ حَتَّىٰ أَتَاهُ رَجُلٌ [٥] يَسۡـَٔلُهُ عَنِ الۡمَآءِ بِالۡفَلَاةِ تَرِدُهُ السِّبَاعُ الَّتِي تَأۡكُلُ الۡمَيِّتَاتِ وَيَسِيلُ فِيهِ مِنۡ رِيقِهَا وَلُعَابِهَا، فَأَجَابَهُ بِقَوۡلِهِ: «إِذَا بَلَغَ الۡمَآءُ قُلَّتَيۡنِ لَمۡ يَحۡمِلِ الۡخَبَثَ» [٦] وَأَرَادَ بِهَٰذَا اللَّفۡظِ أَنۡ يُبَيِّنَ لِأُمَّتِهِ أَنَّ الۡمَآءَ [٧] إِذَا بَلَغَ خَمۡسَمِائَةَ رِطۡلٍ بِالۡعِرَاقِيِّ لَا يَنۡجُسُ إِلَّا بِالتَّغۡيِيرِ، وَمَا نَقَصَ يَنۡجُسُ بِالۡمُلَاقَاةِ، وَصَارَ كَمَا وَصَفۡنَا؛ فَمَنۡ زَعَمَ ذَٰلِكَ فَقَدۡ أَبۡعَدَ النُّجۡعَةَ، وَقَالَ مَا لَا يَعۡلَمُ وَتَكَلَّمَ فِيمَا سَكَتَ عَنۡهُ، وَاتَّبَعَ الۡمُتَشَابِهَ وَجَعَلَ الۡمُتَشَابِهَ مِنَ الۡحَرَامِ الۡبَيِّنِ، وَنَسۡأَلُ اللّٰهَ أَنۡ يُوَفِّقَنَا وَإِخۡوَانَنَا الۡمُسۡلِمِينَ لِمَا يُحِبُّ وَيَرۡضَى، وَيُعَلِّمَنَا الۡكِتَابَ وَالۡحِكۡمَةَ، وَيُرِيَنَا الۡحَقَّ حَقًّا وَيُوَفِّقَنَا لِاتِّبَاعِهِ؛ وَيُرِيَنَا الۡبَاطِلَ بَاطِلًا وَيُوَفِّقَنَا لِاجۡتِنَابِهِ، وَلَا يَجۡعَلۡهُ مُلۡتَبِسًا عَلَيۡنَا فَنَضِلَّ.
falau annakum qultum kamā [١] qōla man karihahu minal-`ulamā’i: akrohuhu au lā astaḥibbuhu ma`a wujūdi ghoirihi wanaḥwa hādzihi al-`ibāroti allatī yaqūluhā man syakka fī najāsatihi walam yajzim bi’anna ḥukma asy-syar`i najāsatu hādzā, faqod ashobtum [٢] wa`amiltum biqouli nabiyyikum C: “wabainahumā umūrun musytabihātun” [٣] sawā’a kāna fī nafsi al-amri thōhiron am lā. fa’inna man syakka fī syai’in watawarro`a `anhu faqod ashōba walau tabayyana ba`da dzālika annahu ḥalālun.wa`alā kulli ḥālin, faman za`ama anna an-nabiyya C alladzī arsalahu allāhu liyubayyina lin-nāsi mā nuzzila ilaihim arōda an yusyarri`a li’ummatihi anna kulla mā’in dūna al-qullataini biqilāli hajarin idzā lāqō syai’an najisan annahu yunajjisuhu [٤] wayashīru syurbuhu ḥarōman, walā tuqbalu sholātu man tawadhdho’a bihi walā man bāsyarohu syai’un minhu ḥattā yaghsilahu walam yubayyin dzālika lahum ḥattā atāhu rojulun [٥] yas’aluhu `anil-mā’i bil-falāti tariduhu as-sibā`u allatī ta’kulu al-maiyyitāti wayasīlu fīhi min rīqihā walu`ābihā, fa’ajābahu biqoulihi: “idzā balagho al-mā’u qullataini lam yaḥmili al-khobatsa” [٦] wa’arōda bihādzā al-lafzhi an yubayyina li’ummatihi annal-mā’a [٧] idzā balagho khomsamī’ati rithlin bil-`irōqiyyi lā yanjusu illā bit-taghyīri, wamā naqosho yanjusu bil-mulāqōti, washōro kamā washofnā; faman za`ama dzālika faqod ab`adan-nuj`ata, waqōla mā lā ya`lamu watakallama fīmā sakata `anhu, wattaba`a al-mutasyābiha waja`ala al-mutasyābiha minal-ḥarōmi al-bayyini, wanas’alu allāha an yuwaffiqonā wa’ikhwānanā al-muslimīna limā yuḥibbu wayardhō, wayu`allimanā al-kitāba wal-ḥikmah, wayuriyanā al-ḥaqqo ḥaqqon wayuwaffiqonā littibā`ihi; wayuriyanā al-bāthila bāthilan wayuwaffiqonā lijtinābihi, walā yaj`alhu multabisan `alainā fanadhilla.

Seandainya kalian mengatakan sebagaimana [١] dikatakan oleh ulama yang memakruhkannya, “Aku memakruhkannya,” atau, “Aku tidak menyukainya jika masih ada air yang lain,” atau ungkapan semisal itu yang diucapkan oleh orang yang masih ragu tentang kenajisannya dan tidak memastikan bahwa syariat memang menetapkan air itu najis, niscaya kalian telah benar [٢] dan telah mengamalkan sabda Nabi C, “Di antara keduanya terdapat perkara-perkara yang samar.” [٣] Baik pada hakikatnya air itu memang suci maupun tidak. Sebab, siapa yang ragu terhadap sesuatu lalu bersikap waro’ (berhati-hati) dengan meninggalkannya, maka ia telah berbuat benar, sekalipun kemudian ternyata hal itu memang ḥalal.

Bagaimanapun juga, siapa yang mengklaim bahwa Nabi C —yang diutus Allah untuk menjelaskan kepada manusia apa yang telah diturunkan kepada mereka—bermaksud menetapkan syariat bahwa setiap air yang kurang dari dua qullah menurut ukuran qullah Hajar, apabila bersentuhan dengan benda najis maka air itu menjadi najis [٤], ḥaram diminum, tidak sah shalat orang yang berwudhu dengannya, dan siapa pun yang terkena percikannya wajib mencucinya; padahal beliau tidak pernah menjelaskan hal itu kepada umatnya, hingga suatu ketika datang seorang laki-laki [٥] yang bertanya tentang air di padang pasir yang didatangi binatang-binatang buas pemakan bangkai, yang airnya terkena air liur mereka. Lalu beliau menjawab, “Apabila air telah mencapai dua qullah, maka ia tidak membawa najis.” [٦]

Kemudian dikatakan bahwa dengan lafaz itu beliau sebenarnya bermaksud menjelaskan kepada umatnya bahwa air [٧] yang mencapai 500 rithl Irak (216-270 liter) tidak menjadi najis kecuali jika berubah, sedangkan yang kurang dari itu menjadi najis hanya karena bersentuhan dengan najis. Siapa yang mengklaim demikian, maka ia telah menempuh pendapat yang sangat jauh dari kebenaran, berbicara tentang sesuatu yang tidak diketahuinya, membahas perkara yang didiamkan oleh syariat, mengikuti dalil yang mutasyabih, bahkan menjadikan perkara mutasyabih sebagai bagian dari perkara ḥaram yang jelas.

Kami memohon kepada Allah agar memberikan taufik kepada kami dan kepada saudara-saudara kami kaum Muslimin menuju apa yang Dia cintai dan ridhai, mengajarkan kepada kami Al-Kitāb dan Al-Ḥikmah, memperlihatkan kepada kami kebenaran sebagai kebenaran serta memberi kami taufik untuk mengikutinya, memperlihatkan kepada kami kebathilan sebagai kebathilan serta memberi kami taufik untuk menjauhinya, dan tidak menjadikannya samar bagi kami sehingga kami tersesat.

 

[١]

Redaksi Ad-Durar: `an al-baḥtsi `anhu, fa lau annakum qultum: ka man… (dari membahasnya. Seandainya kalian mengatakan: ‘Seperti orang yang …’)[٢]

Dalam Ad-Durar: hādzā al-mā’u kuntum qad ashobtum (air ini telah kalian dapati.)

[٣]

Redaksi Ad-Durar: bi-qouli nabiyyikum C sawā’… (berdasarkan sabda Nabi kalian C, sama saja …)

[٤]

Dalam Ad-Durar: yatanajjasu — menjadi najis. wa lā tuqbalu — dan tidak diterima.

[٥]

Dalam Ad-Durar: a`rōbiyyun yas’alu (seorang Arab Badui sedang bertanya.)

[٦]

At-Tirmidzi, Kitāb Ath-Thohāroh (67); An-Nasā’ī, Kitāb Ath-Thohāroh (52); Abū Dāwud, Kitāb Ath-Thohāroh (63); Aḥmad (2/12, 2/38); dan Ad-Dārimi, Kitāb Ath-Thohāroh (732).

[٧]

Dalam Ad-Durar: annahu (bahwa sesungguhnya ia…)


4 Kaidah yang Menjadi Landasan Hukum (أربع قواعد تدور الأحكام عليها)
Halaman 10 Edisi Syamila
وَهَٰذِهِ الۡقَوَاعِدُ تَدۡخُلُ فِي جَمِيعِ أَنۡوَاعِ الۡعُلُومِ الدِّينِيَّةِ عَامَّةً وَفِي عِلۡمِ الۡفِقۡهِ مِنۡ كِتَابِ الطَّهَارَةِ إِلَىٰ بَابِ الۡإِقۡرَارِ خَاصَّةً. وَاللّٰهُ أَعۡلَمُ. أَنۡهَاهُ بِقَلَمِهِ الۡفَقِيرِ إِلَى اللّٰهِ: عَبۡدِ الۡعَزِيزِ بۡنِ عَبۡدِ اللّٰهِ بۡنِ عَبۡدِ الۡوَهَّابِ نَقۡلًا مِنۡ خَطِّ حُسَيۡنِ بۡنِ حَسَنِ ابۡنِ حُسَيۡنِ بۡنِ الۡمُصَنِّفِ، رَحِمَ اللّٰهُ عَلَيَّ وَوَالِدَيَّ وَعَلَيۡهِ وَوَالِدَيۡهِ وَلِمَنۡ دَعَا لَهُمۡ وَالۡمُسۡلِمِينَ وَالۡمُسۡلِمَاتِ وَالۡمُؤۡمِنِينَ وَالۡمُؤۡمِنَاتِ، آمِينَ ثُمَّ آمِينَ ثُمَّ آمِينَ، وَصَلَّى اللّٰهُ عَلَىٰ مُحَمَّدٍ وَإِخۡوَانِهِ مِنَ الۡأَنۡبِيَآءِ وَالۡمُرۡسَلِينَ وَآلِهِ وَصَحۡبِهِ وَسَلَّمَ.
وَقَالَ أَيۡضًا [١]: وَمِنۡ أَعۡظَمِ مَا مَنَّ اللّٰهُ بِهِ عَلَيۡهِ صَلَّى اللّٰهُ عَلَيۡهِ وَسَلَّمَ وَعَلَىٰ أُمَّتِهِ إِعۡطَاءُ جَوَامِعِ الۡكَلِمِ، فَيَذۡكُرُ اللّٰهُ تَعَالَىٰ فِي كِتَابِهِ كَلِمَةً وَاحِدَةً تَكُونُ قَاعِدَةً جَامِعَةً يَدۡخُلُ تَحۡتَهَا مِنَ الۡمَسَآئِلِ مَا لَا يُحۡصَرُ، وَكَذَٰلِكَ رَسُولُ اللّٰهِ صَلَّى اللّٰهُ عَلَيۡهِ وَسَلَّمَ فَقَدۡ خَصَّهُ اللّٰهُ بِالۡحِكۡمَةِ الۡجَامِعَةِ، وَمَنۡ فَهِمَ هَٰذِهِ الۡمَسۡأَلَةَ فَهۡمًا جَيِّدًا فَهِمَ قَوۡلَ اللّٰهِ تَعَالَىٰ: (الۡيَوۡمَ أَكۡمَلۡتُ لَكُمۡ دِينَكُمۡ) [٢]. وَهَٰذِهِ الۡكَلِمَةُ أَيۡضًا مِنۡ جَوَامِعِ الۡكَلِمِ إِذِ الۡكَامِلُ لَا يَحۡتَاجُ إِلَىٰ زِيَادَةٍ، فَعُلِمَ مِنۡهُ بُطۡلَانُ كُلِّ مُحۡدَثٍ بَعۡدَ رَسُولِ اللّٰهِ صَلَّى اللّٰهُ عَلَيۡهِ وَسَلَّمَ وَأَصۡحَابِهِ، كَمَا أَوۡصَانَا بِهِ فِي قَوۡلِهِ: «عَلَيۡكُمۡ بِسُنَّتِي وَسُنَّةِ الۡخُلَفَآءِ الرَّاشِدِينَ الۡمَهۡدِيِّينَ مِنۡ بَعۡدِي، وَإِيَّاكُمۡ وَمُحۡدَثَاتِ الۡأُمُورِ فَإِنَّ كُلَّ مُحۡدَثَةٍ بِدۡعَةٌ، وَكُلَّ بِدۡعَةٍ ضَلَالَةٌ، وَكُلَّ ضَلَالَةٍ فِي النَّارِ» ١ وَتَفۡهَمُ أَيۡضًا مَعۡنَىٰ قَوۡلِهِ تَعَالَىٰ: (فَإِنۡ تَنَازَعۡتُمۡ فِي شَيۡءٍ فَرُدُّوهُ إِلَى اللّٰهِ وَالرَّسُولِ) ٢.
wahādzihi al-qowā`idu tadkhulu fī jamī`i anwā`i al-`ulūmi ad-dīniyyati `āmmatan wafī `ilmi al-fiqhi min kitābi ath-thohāroti ilā bāb al-iqrōri khōshshotan. wallāhu a`lam. anhāhu biqolamihi al-faqīri ilā allāhi: `abdil-`azīz ibni `abdi allāh ibni `abdil-wahhāb naqolan min khoththi ḥusain ibni ḥasan ibni ḥusain ibni al-mushonnif, roḥimallāhu `alayya wawālidayya wa`alaihi wawālidaihi waliman da`ā lahum wal-muslimīna wal-muslimāti wal-mu’minīna wal-mu’mināti, āmīn tsumma āmīn tsumma āmīn, washollallāhu `alā muḥammadin wa’ikhwānihi minal-anbiyā’i wal-mursalīna wa ālihi washoḥbihi wasallam.waqōla aidhon [١]: wamin a`zhomi mā manna allāhu bihi `alaihi C wa`alā ummatihi i`thō’u jawāmi`i al-kalimi, fayadzkuru allāhu ta`ālā fī kitābihi kalimatan wāḥidatan takūnu qō`idatan jāmi`atan yadkhulu taḥtahā minal-masā’ili mā lā yuḥshoru, wakadzālika rosūlullāhi C faqod khoshshohu allāhu bil-ḥikmati al-jāmi`ati, waman fahima hādzihi al-mas’alata fahman jayyidan fahima qoula allāhi ta`ālā: al-yauma akmaltu lakum dīnakum [٢]. wahādzihi al-kalimatu aidhon min jawāmi`il-kalimi idzi al-kāmilu lā yaḥtāju ilā ziyādatin, fa`ulima minhu buthlānu kulli muḥdatsin ba`da rosūlillāhi C wa’ashḥābihi, kamā aushōnā bihi fī qoulihi: “`alaikum bisunnatī wasunnati al-khulafā’i ar-rōsyidīna al-mahdiyyīna min ba`dī, wa’iyyākum wamuḥdatsāti al-umūri fa’inna kulla muḥdatsatin bid`ah, wakulla bid`atin dholālah, wakulla dholālatin fīn-nār” [١]. watafhamu aidhon ma`nā qoulihi ta`ālā: fa’in tanāza`tum fī syai’in faruddūhu ilallāhi war-rosūli [٢].

Kaidah-kaidah ini mencakup seluruh cabang ilmu agama secara umum, dan secara khusus mencakup ilmu fikih mulai dari Kitāb Ath-Thahārah hingga Bab Al-Iqrār. Allah lebih mengetahui.

Risalah ini selesai ditulis oleh pena seorang yang fakir kepada Allah, yaitu `Abdul `Azīz bin `Abdillāh bin `Abdil Wahhāb, yang menyalinnya dari tulisan tangan Ḥusain bin Ḥasan bin Ḥusain bin Al-Mushonnif. Semoga Allah meraḥmati saya, kedua orang tua saya, beliau beserta kedua orang tuanya, siapa saja yang mendoakan mereka, seluruh kaum Muslimin dan Muslimat, serta seluruh Mukminin dan Mukminat. Āmīn, kemudian āmīn, kemudian āmīn. Semoga shalawat dan salam Allah tercurah kepada Muḥammad, saudara-saudara beliau dari kalangan para nabi dan rasul, keluarga beliau, serta para sahabat beliau.

Beliau juga berkata [١]: Di antara nikmat terbesar yang Allah karuniakan kepada Nabi C dan kepada umatnya adalah dianugerahkannya jawāmi`ul kalim (ungkapan yang ringkas namun mencakup makna yang sangat luas). Allah Ta`ālā menyebutkan satu kalimat saja di dalam Kitāb-Nya, tetapi kalimat itu menjadi kaidah yang mencakup begitu banyak persoalan yang tidak terhitung. Demikian pula Rasūlullāh C, Allah mengkhususkan beliau dengan ḥikmah yang menyeluruh. Siapa yang memahami persoalan ini dengan baik, niscaya ia akan memahami firman Allah Ta`ālā: “Pada hari ini telah Aku sempurnakan untuk kalian agama kalian.” [٢]

Kalimat ini juga termasuk jawāmi`ul kalim, karena sesuatu yang telah sempurna tidak memerlukan tambahan lagi. Dari sini diketahui bathilnya setiap perkara baru yang diada-adakan setelah Rasūlullāh C dan para sahabat beliau, sebagaimana beliau telah berpesan: “Berpeganglah kepada sunnahku dan sunnah para khalifah yang mendapat petunjuk sepeninggalku. Jauhilah perkara-perkara baru, karena setiap perkara baru adalah bid`ah, setiap bid`ah adalah kesesatan, dan setiap kesesatan berada di dalam neraka.” [١]

Dengan memahami hal ini, engkau juga akan memahami makna firman Allah Ta`ālā: “Apabila kalian berselisih dalam suatu perkara, maka kembalikanlah kepada Allah dan Rasūl.” [٢]

 

[١]

Yang dimaksud adalah Syaikh Muḥammad bin `Abdil Wahhāb raḥimahullāh.[٢]

Surah Al-Mā’idah, ayat 3.

[١]

Abū Dāwud, Kitāb As-Sunnah (4607); dan Ad-Dārimi, Al-Muqoddimah (95).

[٢]

Surah An-Nisā’, ayat 59.


4 Kaidah yang Menjadi Landasan Hukum (أربع قواعد تدور الأحكام عليها)
Halaman 11 Edisi Syamila
فَإِذَا كَانَ اللّٰهُ سُبۡحَانَهُ قَدۡ أَوۡجَبَ عَلَيۡنَا أَنۡ نَرُدَّ مَا تَنَازَعۡنَا فِيهِ إِلَى اللّٰهِ أَيۡ إِلَى كِتَابِ اللّٰهِ، وَإِلَى الرَّسُولِ صَلَّى اللّٰهُ عَلَيۡهِ وَسَلَّمَ أَيۡ إِلَى سُنَّتِهِ، عَلِمۡنَا قَطۡعًا أَنَّ مَنۡ رَدَّ إِلَى الۡكِتَابِ وَالسُّنَّةِ مَا نَازَعَ النَّاسُ فِيهِ وَجَدَ فِيهِمَا مَا يَفۡصِلُ النِّزَاعَ.
وَقَالَ أَيۡضًا: إِذَا اخۡتَلَفَ كَلَامُ أَحۡمَدَ وَكَلَامُ الۡأَصۡحَابِ فَنَقُولُ فِي مَحَلِّ النِّزَاعِ: التَّرَادُّ إِلَى اللّٰهِ وَإِلَى رَسُولِهِ لَا إِلَى كَلَامِ أَحۡمَدَ وَلَا إِلَى كَلَامِ الۡأَصۡحَابِ، وَلَا إِلَى الرَّاجِحِ مِنۡ ذَٰلِكَ؛ بَلۡ قَدۡ يَكُونُ الرَّاجِحُ وَالۡمُرَجِّحُ مِنَ الرِّوَايَتَيۡنِ وَالۡقَوۡلَيۡنِ خَطَأً قَطۡعًا، وَقَدۡ يَكُونُ صَوَابًا، وَقَوۡلُكَ إِذَا اسۡتَدَلَّ كُلُّ مِنۡهُمَا بِدَلِيلٍ فَالۡأَدِلَّةُ الصَّحِيحَةُ لَا تَتَنَاقَضُ، بَلِ الصَّوَابُ يُصَدِّقُ بَعۡضُهُ بَعۡضًا، لَكِنۡ قَدۡ يَكُونُ أَحَدُهُمَا أَخۡطَأَ فِي الدَّلِيلِ إِمَّا يَسۡتَدِلُّ بِحَدِيثٍ لَمۡ يَصِحَّ، وَإِمَّا فَهِمَ مِنۡ كَلِمَةٍ صَحِيحَةٍ مَفۡهُومًا مُخۡطِئًا. وَبِالۡجُمۡلَةِ فَمَتَىٰ رَأَيۡتَ الِاخۡتِلَافَ فَرُدَّهُ إِلَى اللّٰهِ وَالرَّسُولِ، فَإِذَا تَبَيَّنَ لَكَ الۡحَقُّ فَاتَّبِعۡهُ؛ فَإِنۡ لَمۡ يَتَبَيَّنۡ لَكَ وَاحۡتَجۡتَ إِلَى الۡعَمَلِ فَخُذۡ بِقَوۡلِ مَنۡ تَثِقُ بِعِلۡمِهِ وَدِينِهِ.
وَأَمَّا قَوۡلُ مَنۡ قَالَ: لَا إِنۡكَارَ فِي مَسَآئِلِ الِاجۡتِهَادِ، فَجَوَابُهَا يُعۡلَمُ مِنَ الۡقَاعِدَةِ الۡمُتَقَدِّمَةِ، فَإِنۡ أَرَادَ الۡقَائِلُ مَسَآئِلَ الۡخِلَافِ فَهَٰذَا بَاطِلٌ يُخَالِفُ إِجۡمَاعَ الۡأُمَّةِ، فَمَا زَالَ الصَّحَابَةُ وَمَنۡ بَعۡدَهُمۡ يُنۡكِرُونَ عَلَىٰ مَنۡ خَالَفَ وَأَخۡطَأَ كَائِنًا مَنۡ كَانَ، وَلَوۡ كَانَ أَعۡلَمَ النَّاسِ وَأَتۡقَاهُمۡ. وَإِذَا كَانَ اللّٰهُ بَعَثَ مُحَمَّدًا صَلَّى اللّٰهُ عَلَيۡهِ وَسَلَّمَ بِالۡهُدَىٰ وَدِينِ الۡحَقِّ وَأَمَرَنَا بِاتِّبَاعِهِ وَتَرۡكِ مَا خَالَفَهُ، فَمِنۡ تَمَامِ ذَٰلِكَ أَنَّ مَنۡ خَالَفَهُ مِنَ الۡعُلَمَآءِ مُخۡطِئٌ يُنَبَّهُ عَلَىٰ خَطَئِهِ، وَيُنۡكَرُ عَلَيۡهِ؛ وَإِنۡ أُرِيدَ بِمَسَآئِلِ الِاجۡتِهَادِ مَسَآئِلُ الۡخِلَافِ الَّتِي لَمۡ يَتَبَيَّنۡ فِيهَا الصَّوَابُ، فَهَٰذَا كَلَامٌ صَحِيحٌ، لَا يَجُوزُ لِلۡإِنۡسَانِ أَنۡ يُنۡكِرَ الشَّيۡءَ لِكَوۡنِهِ مُخَالِفًا لِمَذۡهَبِهِ أَوۡ لِعَادَةِ النَّاسِ، فَكَمَا لَا يَجُوزُ لِلۡإِنۡسَانِ أَنۡ يَأۡمُرَ إِلَّا بِعِلۡمٍ، لَا يَجُوزُ أَنۡ يُنۡكِرَ إِلَّا بِعِلۡمٍ، وَهَٰذَا كُلُّهُ دَاخِلٌ فِي قَوۡلِهِ تَعَالَىٰ: (وَلَا تَقۡفُ مَا لَيۡسَ لَكَ بِهِ عِلۡمٌ) [١].
fa’idzā kāna allāhu subḥānahu qod aujaba `alainā an narudda mā tanāza`nā fīhi ilallāhi ai ilā kitābillāhi, wa’ilar-rosūli C ai ilā sunnatihi, `alimnā qoth`an anna man rodda ilal-kitābi was-sunnati mā nāza`a an-nāsu fīhi wajada fīhimā mā yafshilu an-nizā`a.waqōla aidhon: idzā ikhtalafa kalāmu aḥmada wakalāmu al-ashḥābi fanaqūlu fī maḥalli an-nizā`i: at-tarōddu ilallāhi wa’ilā rosūlihi lā ilā kalāmi aḥmada walā ilā kalāmi al-ashḥābi, walā ilā ar-rōjiḥi min dzālika; bal qod yakūnu ar-rōjiḥu wal-murojjiḥu minar-riwāyataini wal-qoulaini khotho’an qoth`an, waqod yakūnu showāban. waqouluka idzā istadalla kullu minhumā bidalīlin fal-adillatu ash-shoḥīḥatu lā tatanāqodhu, bali ash-showābu yushoddiqu ba`dhuhu ba`dhon, lākin qod yakūnu aḥaduhumā akhtho’a fī ad-dalīli immā yastadillu biḥadītsin lam yashiḥḥa, wa’immā fahima min kalimatin shoḥīḥatin mafhūman mukhthi’an. wabil-jumlati famatā ro’aita al-ikhtilāfa faruddahu ilā allāhi war-rosūli, fa’idzā tabayyana laka al-ḥaqqu fattabi`hu; fa’in lam yatabayyan laka waḥtajta ilā al-`amali fakhudz biqouli man tatsiqu bi`ilmihi wadīnihi.

wa’ammā qoulu man qōla: lā inkāro fī masā’ili al-ijtihādi, fajawābuhā yu`lamu minal-qō`idati al-mutaqoddimati. fa’in arōda al-qō’ilu masā’ila al-khilāfi fahādzā bāthilun yukhōlifu ijmā`a al-ummati. famā zāla ash-shoḥābatu waman ba`dahum yunkirūna `alā man kholafa wa’akhtho’a kā’inan man kāna, walau kāna a`lama an-nāsi wa’atqōhum. wa’idzā kānallāhu ba`atsa muḥammadan C bil-hudā wadīnil-ḥaqqi wa’amaronā bittibā`ihi watarki mā kholafahu, famin tamāmi dzālika anna man kholafahu minal-`ulamā’i mukhthi’un yunabbahu `alā khotho’ihi, wayunkaru `alaihi; wa’in urīda bimasā’ili al-ijtihādi masā’ilu al-khilāfi allatī lam yatabayyan fīhā ash-showābu, fahādzā kalāmun shoḥīḥun, lā yajūzu lil-insāni an yunkira asy-syai’a likaunihi mukhōlifan limadzhabihi au li`ādati an-nāsi, fakamā lā yajūzu lil-insāni an ya’muro illā bi`ilmin, lā yajūzu an yunkiro illā bi`ilmin. wahādzā kulluhu dākhilun fī qoulihi ta`ālā: walā taqfu mā laisa laka bihi `ilmun [١].

Apabila Allah B telah mewajibkan kepada kita agar mengembalikan setiap perselisihan kepada Allah, yaitu kepada Kitābullāh, dan kepada Rasūl C, yaitu kepada sunnah beliau, maka kita mengetahui dengan pasti bahwa siapa saja yang mengembalikan perkara yang diperselisihkan manusia kepada Al-Kitāb dan As-Sunnah akan menemukan di dalam keduanya keputusan yang menyelesaikan perselisihan tersebut.

Beliau juga berkata: “Apabila terjadi perbedaan antara perkataan Aḥmad dan perkataan para sahabat (madzhab), maka dalam perkara yang diperselisihkan kita mengembalikannya kepada Allah dan Rasūl-Nya, bukan kepada perkataan Aḥmad, bukan pula kepada perkataan para sahabat, dan bukan pula kepada pendapat yang dianggap lebih kuat. Sebab, pendapat yang dinilai rajih maupun cara mentarjih di antara dua riwayat atau dua pendapat itu bisa saja keliru secara pasti, dan bisa pula benar. Adapun jika masing-masing berdalil dengan suatu dalil, maka dalil-dalil yang sahih tidak mungkin saling bertentangan. Yang benar akan saling menguatkan. Hanya saja, salah seorang bisa saja keliru dalam menggunakan dalil, baik karena berdalil dengan ḥadits yang tidak shaḥiḥ, maupun karena memahami lafaz yang shaḥiḥ dengan pemahaman yang keliru. Kesimpulannya, kapan pun engkau melihat adanya perselisihan, kembalikanlah kepada Allah dan Rasūl. Jika kebenaran telah jelas bagimu maka ikutilah. Namun jika belum jelas dan engkau harus beramal, maka ikutilah pendapat orang yang engkau percaya ilmu dan agamanya.”

Adapun perkataan sebagian orang, “Tidak ada pengingkaran dalam masalah ijtihad,” maka jawabannya telah diketahui dari kaidah sebelumnya. Jika yang dimaksud adalah semua masalah khilaf, maka ini adalah pendapat yang bathil dan bertentangan dengan ijma` umat. Sejak zaman para sahabat hingga generasi setelah mereka, mereka tetap mengingkari orang yang menyelisihi dan berbuat salah, siapa pun orangnya, sekalipun ia adalah manusia yang paling berilmu dan paling bertakwa.

Apabila Allah telah mengutus Muḥammad C dengan petunjuk dan agama yang benar, serta memerintahkan kita untuk mengikuti beliau dan meninggalkan segala yang menyelisihinya, maka konsekuensinya adalah bahwa siapa pun dari kalangan ulama yang menyelisihi beliau adalah orang yang keliru. Kesalahannya harus dijelaskan dan diingkari.

Akan tetapi, jika yang dimaksud dengan “masalah ijtihad” adalah masalah-masalah khilaf yang memang belum jelas mana yang benar, maka perkataan itu benar. Seseorang tidak boleh mengingkari suatu pendapat hanya karena bertentangan dengan madzhabnya atau kebiasaan masyarakat. Sebagaimana seseorang tidak boleh memerintahkan sesuatu kecuali dengan ilmu, demikian pula ia tidak boleh mengingkari sesuatu kecuali dengan ilmu. Semua ini termasuk dalam firman Allah Ta`ālā, “Dan janganlah engkau mengikuti sesuatu yang engkau tidak mempunyai ilmu tentangnya.” [١]

 

[١]

Surah Al-Isrā’, ayat 36.


4 Kaidah yang Menjadi Landasan Hukum (أربع قواعد تدور الأحكام عليها)
Halaman 12 Edisi Syamila
وَأَمَّا قَوۡلُ مَنۡ قَالَ اتِّفَاقُ الۡعُلَمَآءِ حُجَّةٌ فَلَيۡسَ الۡمُرَادُ الۡأَئِمَّةَ الۡأَرۡبَعَةَ بَلۡ إِجۡمَاعُ الۡأُمَّةِ كُلِّهِمۡ، وَهُمۡ عُلَمَآءُ الۡأُمَّةِ، وَأَمَّا قَوۡلُهُمۡ اخۡتِلَافُهُمۡ رَحۡمَةٌ، فَهَٰذَا بَاطِلٌ، بَلِ الرَّحۡمَةُ فِي الۡجَمَاعَةِ، وَالۡفُرۡقَةُ عَذَابٌ كَمَا قَالَ تَعَالَىٰ: (وَلَا يَزَالُونَ مُخۡتَلِفِينَ ۝ إِلَّا مَنۡ رَحِمَ رَبُّكَ) [٢]. وَلَمَّا سَمِعَ عُمَرُ ابۡنَ مَسۡعُودٍ وَأُبَيًّا اخۡتَلَفَا فِي صَلَاةِ الرَّجُلِ فِي الثَّوۡبِ الۡوَاحِدِ، صَعِدَ الۡمِنۡبَرَ وَقَالَ: اثۡنَانِ مِنۡ أَصۡحَابِ رَسُولِ اللّٰهِ صَلَّى اللّٰهُ عَلَيۡهِ وَسَلَّمَ، فَعَنۡ أَيِّ فُتۡيَاكُمۡ يَصۡدُرُ الۡمُسۡلِمُونَ؟ لَا أَجِدُ اثۡنَيۡنِ اخۡتَلَفَا بَعۡدَ مَقَامِي هَٰذَا إِلَّا فَعَلۡتُ وَفَعَلۡتُ.
لَكِنۡ قَدۡ رُوِيَ عَنۡ بَعۡضِ التَّابِعِينَ أَنَّهُ قَالَ: «مَا أَحۡسَبُ اخۡتِلَافَ أَصۡحَابِ رَسُولِ اللّٰهِ صَلَّى اللّٰهُ عَلَيۡهِ وَسَلَّمَ إِلَّا رَحۡمَةً لِلنَّاسِ لِأَنَّهُمۡ لَوۡ لَمۡ يَخۡتَلِفُوا لَمۡ تَكُنۡ رُخۡصَةٌ»، وَمُرَادُهُ شَيۡءٌ آخَرُ غَيۡرُ مَا نَحۡنُ فِيهِ، وَمَعَ هَٰذَا فَهُوَ قَوۡلٌ مُسۡتَدۡرَكٌ، لِأَنَّ الصَّحَابَةَ ذَكَرُوا اخۡتِلَافَهُمۡ عُقُوبَةً وَفِتۡنَةً.
وَقَالَ أَيۡضًا: قَدۡ تَبَيَّنَ لَكُمۡ فِي غَيۡرِ مَوۡضِعٍ أَنَّ دِينَ الۡإِسۡلَامِ حَقٌّ بَيۡنَ بَاطِلَيۡنِ وَهُدًى بَيۡنَ ضَلَالَتَيۡنِ، وَهَٰذِهِ الۡمَسَآئِلُ [٣] وَأَشۡبَاهُهَا مِمَّا يَقَعُ الۡخِلَافُ فِيهِ بَيۡنَ السَّلَفِ وَالۡخَلَفِ مِنۡ غَيۡرِ نَكِيرٍ مِنۡ بَعۡضِهِمۡ عَلَىٰ بَعۡضٍ، فَإِذَا رَأَيۡتُمۡ مَنۡ يَعۡمَلُ بِبَعۡضِ هَٰذِهِ الۡأَقۡوَالِ الۡمَذۡكُورَةِ بِالۡمَنۡعِ، مَعَ كَوۡنِهِ قَدِ اتَّقَى اللّٰهَ مَا اسۡتَطَاعَ لَمۡ يَحِلَّ لِأَحَدٍ الۡإِنۡكَارُ عَلَيۡهِ، اللّٰهُمَّ إِلَّا أَنۡ يَتَبَيَّنَ الۡحَقُّ فَلَا يَحِلُّ لِأَحَدٍ أَنۡ يَتۡرُكَهُ لِقَوۡلِ أَحَدٍ مِنَ النَّاسِ، وَقَدۡ كَانَ أَصۡحَابُ رَسُولِ اللّٰهِ صَلَّى اللّٰهُ عَلَيۡهِ وَسَلَّمَ يَخۡتَلِفُونَ فِي بَعۡضِ الۡمَسَآئِلِ مِنۡ غَيۡرِ نَكِيرٍ، مَا لَمۡ يَتَبَيَّنِ النَّصُّ.
wa’ammā qoulu man qōla ittifāqu al-`ulamā’i ḥujjatun falaisa al-murōdu al-a’immata al-arba`ata bal ijmā`ul-ummati kullihim, wahum `ulamā’ul-ummah. wa’ammā qouluhum ikhtilāfuhum roḥmatun, fahādzā bāthil, balir-roḥmatu fīl-jamā`ah, wal-furqotu `adzābun kamā qōla ta`ālā: walā yazālūna mukhtalifīna illā man roḥima robbuka [٢].walammā sami`a `Umar ibna Mas`ūd wa Ubayy ikhtalafā fī sholāsh ar-rojuli fī ats-tsaubil-wāḥid, sho`ida al-minbaro waqōla: itsnāni min ashḥābi rosūlillāhi C, fa`an ayyi futyākum yashduru al-muslimūna? lā ajidu itsnaini ikhtalafā ba`da maqōmī hādzā illā fa`altu wafa`altu.

lākin qod ruwiya `an ba`dhi at-tābi`īna annahu qōla: “mā aḥsabu ikhtilāfa ashḥābi rosūlillāhi C illā roḥmatan lin-nāsi li’annahum lau lam yakhtalifū lam takun rukhshoh”, wamurōduhu syai’un ākhoru ghoiru mā naḥnu fīhi, wama`a hādzā fahuwa qoulun mustadrokun, li’anna ash-shoḥābata dzakarū ikhtilāfahum `uqūbatan wafitnatan.

waqōla aidhon: qod tabayyana lakum fī ghoiri maudhi`in anna dīnal-islāmi ḥaqqun baina bāthilaini wahudan baina dholālataini, wahādzihi al-masā’ilu [٣] wa’asybāhuhā mimmā yaqo`u al-khilāfu fīhi baina as-salafi wal-kholafi min ghoiri nakīrin min ba`dhihim `alā ba`dhin, fa’idzā ro’aitum man ya`malu biba`dhi hādzihi al-aqwāli al-madzkūroti bil-man`i, ma`a kaunihi qodi ittaqō allāha mā istathō`a lam yaḥilli li’aḥadin al-inkāru `alaihi, allāhumma illā an yatabayyana al-ḥaqqu falā yaḥillu li’aḥadin an yatrukahu liqouli aḥadin minan-nāsi, waqod kāna ashḥābu rosūlillāhi C yakhtalifūna fī ba`dhi al-masā’ili min ghoiri nakīrin, mā lam yatabayyani an-nashshu.

Adapun perkataan orang yang mengatakan, “Kesepakatan para ulama adalah ḥujjah,” maka yang dimaksud bukanlah kesepakatan empat imam madzhab, melainkan ijma` seluruh umat, yaitu para ulama umat ini. Adapun ucapan, “Perbedaan pendapat mereka adalah raḥmat,” maka itu adalah perkataan yang bathil. Raḥmat itu terdapat pada persatuan, sedangkan perpecahan adalah adzab, sebagaimana firman Allah Ta`ālā, “Mereka senantiasa berselisih, kecuali orang yang diberi raḥmat oleh Tuhanmu.” [٢]

Ketika `Umar mendengar bahwa Ibnu Mas`ūd dan Ubay berbeda pendapat mengenai shalat seseorang dengan satu pakaian, beliau naik ke mimbar lalu berkata, “Dua orang sahabat Rasūlullāh C telah berbeda pendapat. Kalau begitu, berdasarkan fatwa siapa kaum muslimin harus mengambil keputusan? Jika aku mendapati dua orang berselisih setelah peristiwa ini, sungguh akan aku lakukan tindakan tertentu terhadap mereka.”

Namun, diriwayatkan dari sebagian tābi`īn bahwa ia berkata, “Aku tidak menganggap perbedaan pendapat para sahabat Rasūlullāh C kecuali sebagai raḥmat bagi manusia. Sebab, seandainya mereka tidak berbeda pendapat, niscaya tidak akan ada rukhshah (keringanan).” Maksudnya bukanlah seperti pembahasan kita ini. Meskipun demikian, perkataan tersebut tetap perlu dikoreksi, karena para sahabat sendiri memandang perselisihan sebagai hukuman dan fitnah.

Beliau juga berkata, “Telah jelas bagi kalian di berbagai tempat bahwa agama Islam adalah kebenaran yang berada di antara dua kebathilan, dan petunjuk yang berada di antara dua kesesatan. Masalah-masalah [٣] seperti ini dan yang semisalnya memang termasuk perkara yang diperselisihkan oleh ulama salaf maupun kholaf, tanpa ada pengingkaran di antara mereka selama belum tampak dalil yang tegas.

Apabila kalian melihat seseorang mengamalkan salah satu pendapat yang melarang suatu perkara, sementara ia telah bertakwa kepada Allah semampunya, maka tidak ḥalal bagi siapa pun untuk mengingkarinya. Kecuali apabila kebenaran telah nyata, maka tidak ḥalal bagi siapa pun meninggalkan kebenaran itu hanya karena mengikuti perkataan seseorang. Dahulu para sahabat Rasūlullāh C juga berbeda pendapat dalam sebagian masalah tanpa saling mengingkari, selama belum ada nash yang menjelaskan persoalan tersebut secara tegas.”

 

[٢]

Surah Hūd, ayat 118–119.[٣]

Ini mengisyaratkan beberapa pembahasan tentang zakat yang telah disebutkan pada tempat-tempatnya dalam kedua kitab “Ad-Durar As-Saniyyah” dan “Majmū`ah Ar-Rasā’il wa Al-Masā’il An-Najdiyyah”, sebagaimana juga disebutkan dalam jilid khusus yang membahas berbagai masalah dari kumpulan tersebut.


4 Kaidah yang Menjadi Landasan Hukum (أربع قواعد تدور الأحكام عليها)
Halaman 13 Edisi Syamila
فَيَنۢبَغِي لِلۡمُؤۡمِنِ أَنۡ يَجۡعَلَ هَمَّهُ وَقَصۡدَهُ مَعۡرِفَةَ أَمۡرِ اللّٰهِ وَرَسُولِهِ فِي مَسَآئِلِ الۡخِلَافِ وَالۡعَمَلَ بِذَٰلِكَ، وَيَحۡتَرِمَ أَهۡلَ الۡعِلۡمِ وَيُوَقِّرَهُمۡ وَلَوۡ أَخۡطَـُٔوا، لَكِنۡ لَا يَتَّخِذَهُمۡ أَرۡبَابًا مِنۡ دُونِ اللّٰهِ، هَٰذَا طَرِيقُ الۡمُنۡعَمِ عَلَيۡهِمۡ، وَأَمَّا اطِّرَاحُ كَلَامِهِمۡ وَعَدَمُ تَوۡقِيرِهِمۡ فَهُوَ طَرِيقُ الۡمَغۡضُوبِ عَلَيۡهِمۡ. وَاتِّخَاذُهُمۡ أَرۡبَابًا مِنۡ دُونِ اللّٰهِ، وَإِذَا قِيلَ: قَالَ اللّٰهُ، قَالَ الرَّسُولُ، قَالَ: هُمۡ أَعۡلَمُ مِنَّا بِهَٰذَا، هُوَ طَرِيقُ الضَّالِّينَ. وَمِنۡ أَهَمِّ مَا عَلَى الۡعَبۡدِ وَأَنۡفَعِ مَا يَكُونُ لَهُ مَعۡرِفَةُ قَوَاعِدِ الدِّينِ عَلَى التَّفۡصِيلِ، فَإِنَّ أَكۡثَرَ النَّاسِ يَفۡهَمُ الۡقَوَاعِدَ وَيُقِرُّ بِهَا عَلَى الۡإِجۡمَالِ، وَيَدَعُهَا عِنۡدَ التَّفۡصِيلِ.
وَقَالَ أَيۡضًا: اخۡتَلَفُوا فِي الۡكِتَابِ وَهَلۡ يَجِبُ تَعَلُّمُهُ وَاتِّبَاعُهُ عَلَى الۡمُتَأَخِّرِينَ لِإِمۡكَانِهِ، أَمۡ لَا يَجُوزُ لِلۡمُتَأَخِّرِينَ لِعَدَمِ إِمۡكَانِهِ؟
فَحَكَمَ الۡكِتَابُ بَيۡنَهُمۡ بِقَوۡلِهِ تَعَالَىٰ: (وَقَدۡ آتَيۡنَاكَ مِنۡ لَدُنَّا ذِكۡرًا ٩٩ مَنۡ أَعۡرَضَ عَنۡهُ فَإِنَّهُ يَحۡمِلُ يَوۡمَ الۡقِيَامَةِ وِزۡرًا ١٠٠) [١] الۡآيَةَ، وَقَوۡلِهِ: (وَمَنۡ أَعۡرَضَ عَنۡ ذِكۡرِي فَإِنَّ لَهُ مَعِيشَةً ضَنۡكًا) [٢]، وَقَوۡلِهِ: (وَمَنۡ يَعۡشُ عَنۡ ذِكۡرِ الرَّحۡمَٰنِ نُقَيِّضۡ لَهُ شَيۡطَانًا فَهُوَ لَهُ قَرِينٌ) [٣].
fayanbaghī lil-mu’mini an yaj`ala hammahu waqoshdahu ma`rifata amrillāhi warosūlihi fī masā’ili al-khilāfi wal-`amala bidzālika, wayaḥtarima ahlal-`ilmi wayuwaqqirohum walau akhtho’ū, lākin lā yattakhidzahum arbāban min dūni allāh. hādzā thorīqu al-mun`ami `alaihim, wa’ammā iththirōḥu kalāmihim wa`adamu tauqīrihim fahuwa thorīqu al-maghdhūbi `alaihim. wattikhōdzuhum arbāban min dūni allāh, wa’idzā qīla: qōlallāhu, qōlar-rosūlu, qōla: hum a`lamu minnā bihādzā, huwa thorīqu adh-dhōllīna. wamin ahammi mā `alā al-`abdi wa’anfa`i mā yakūnu lahu ma`rifatu qowā`idi ad-dīni `alā at-tafshīli, fa’inna aktsaro an-nāsi yafhamu al-qowā`ida wayuqirru bihā `alā al-ijmāli, wayada`uhā `inda at-tafshīli.waqōla aidhon: ikhtalafū fī al-kitābi wahal yajibu ta`allumuhu wattibā`uhu `alā al-muta’akhkhirīna li’imkānihi, am lā yajūzu lil-muta’akhkhirīna li`adami imkānihi?

faḥakama al-kitābu bainahum biqoulihi ta`ālā: waqod ātaināka min ladunnā dzikron, man a`rodho `anhu fa’innahu yaḥmilu yaumal-qiyāmati wizron [١] al-āyata, waqoulihi: waman a`rodho `an dzikrī fa’inna lahu ma`īsyatan dhonkan [٢], waqoulihi: waman ya`syu `an dzikri ar-roḥmāni nuqoyyidh lahu syaithōnan fahuwa lahu qorīnun [٣].

Seorang mukmin hendaknya menjadikan perhatian dan tujuannya yang utama adalah mengetahui perintah Allah dan Rasūl-Nya dalam masalah-masalah yang diperselisihkan, lalu mengamalkannya. Ia juga harus menghormati dan memuliakan para ulama meskipun mereka melakukan kesalahan, namun tidak menjadikan mereka sebagai arbāb (tuhan, pemilik) selain Allah. Inilah jalan orang-orang yang diberi nikmat.

Adapun membuang begitu saja perkataan para ulama dan tidak menghormati mereka, maka itulah jalan orang-orang yang dimurkai. Sebaliknya, menjadikan mereka sebagai arbāb selain Allah —sehingga apabila dikatakan, “Allah berfirman,” atau, “Rasūl bersabda,” ia menjawab, “Mereka lebih tahu daripada kita tentang hal itu”— maka itulah jalan orang-orang yang sesat.

Di antara perkara yang paling penting dan paling bermanfaat bagi seorang hamba ialah mengetahui kaidah-kaidah agama secara rinci. Sebab, kebanyakan manusia memahami kaidah-kaidah itu dan mengakuinya hanya secara global, tetapi mereka meninggalkannya ketika berhadapan dengan rincian-rinciannya.

Beliau juga berkata: “Mereka berbeda pendapat tentang Al-Kitāb. Apakah mempelajari dan mengikutinya wajib bagi orang-orang yang datang belakangan karena hal itu memungkinkan, ataukah tidak boleh bagi mereka karena dianggap tidak mungkin?”

Maka Al-Kitāb telah memberikan keputusan di antara mereka melalui firman Allah Ta`ālā, “Dan sungguh Kami telah memberikan kepadamu suatu peringatan dari sisi Kami. Barang siapa berpaling darinya, maka sesungguhnya ia akan memikul dosa pada Hari Kiamat.” [١] Demikian pula firman-Nya, “Barang siapa berpaling dari peringatan-Ku, maka sungguh baginya kehidupan yang sempit.” [٢] Dan firman-Nya lagi, “Barang siapa berpaling dari mengingat Ar-Raḥmān, Kami jadikan baginya setan sebagai pendampingnya.” [٣]

 

[١]

Surah Thāhā, ayat 99–100.[٢]

Surah Thāhā, ayat 124.

[٣]

Surah Az-Zukhruf, ayat 36.


4 Kaidah yang Menjadi Landasan Hukum (أربع قواعد تدور الأحكام عليها)
Halaman 14 Edisi Syamila
وَسُئِلَ عَنۡ قَوۡلِ الشَّيۡخِ تَقِيِّ الدِّينِ: وَلۡتَكُنۡ هِمَّتُهُ فَهۡمَ مَقَاصِدِ الرَّسُولِ، فِي أَمۡرِهِ وَنَهۡيِهِ، مَا صُورَتُهُ؟
فَأَجَابَ: مُرَادُهُ مَا شَاعَ وَذَاعَ أَنَّ الۡفِقۡهَ عِنۡدَهُمۡ هُوَ الِاشۡتِغَالُ بِكِتَابِ فُلَانٍ وَفُلَانٍ، فَمُرَادُهُ التَّحۡذِيرُ مِنۡ ذَٰلِكَ.
وَقَالَ أَيۡضًا: كَذَٰلِكَ غَيۡرُكُمۡ إِنَّمَا اتِّبَاعُهُ لِبَعۡضِ الۡمُتَأَخِّرِينَ لَا الۡأَئِمَّةِ، فَهَٰؤُلَآءِ الۡحَنَابِلَةُ مِنۡ أَقَلِّ النَّاسِ بِدۡعَةً، وَأَكۡثَرُ الۡإِقۡنَاعِ وَالۡمُنۡتَهَىٰ مُخَالِفٌ لِمَذۡهَبِ أَحۡمَدَ وَنَصِّهِ، فَضۡلًا عَنۡ نَصِّ رَسُولِ اللّٰهِ صَلَّى اللّٰهُ عَلَيۡهِ وَسَلَّمَ، يَعۡرِفُ ذَٰلِكَ مَنۡ عَرَفَهُ.
وَقَالَ أَيۡضًا: ذَكَرَ الشَّيۡخُ تَقِيُّ الدِّينِ رَحِمَهُ اللّٰهُ قَوَاعِدَ:
الۡأُولَىٰ: أَنَّ النَّبِيَّ صَلَّى اللّٰهُ عَلَيۡهِ وَسَلَّمَ إِذَا سَنَّ أَمۡرَيۡنِ وَأَرَادَ أَحَدٌ يَأۡخُذُ بِأَحَدِهِمَا وَيَتۡرُكُ الۡآخَرَ، أَنَّهُ لَا يُنۡكَرُ عَلَيۡهِ، كَالۡقِرَاءَاتِ الثَّابِتَةِ، وَمِثۡلُ الَّذِينَ اخۡتَلَفُوا فِي آيَةٍ فَقَالَ أَحَدُهُمَا: أَلَمۡ يَقُلِ اللّٰهُ كَذَا؟ وَقَالَ الۡآخَرُ: أَلَمۡ يَقُلِ اللّٰهُ كَذَا؟ وَأَنۡكَرَ النَّبِيُّ صَلَّى اللّٰهُ عَلَيۡهِ وَسَلَّمَ عَلَيۡهِمۡ وَقَالَ: «كُلٌّ مِنۡكُمَا مُحۡسِنٌ»، فَأَنۡكَرَ الِاخۡتِلَافَ وَصَوَّبَ الۡجَمِيعَ فِي الۡآيَةِ.
الثَّانِيَةُ: إِذَا أَمَّ رَجُلٌ قَوۡمًا وَهُمۡ يَرَوۡنَ الۡقُنُوتَ أَوۡ يَرَوۡنَ الۡجَهۡرَ بِالۡبَسۡمَلَةِ وَهُوَ يَرَىٰ غَيۡرَ ذَٰلِكَ وَالۡأَفۡضَلُ مَا رَأَىٰ، فَمُوَافَقَتُهُمۡ أَحۡسَنُ وَيَصِيرُ الۡمَفۡضُولُ هُوَ الۡفَاضِلُ ١.
wasu’ila `an qouli asy-syaikh taqiyyi ad-dīn: waltakun himmatuhu fahma maqōshidi ar-rosūli, fī amrihi wanahyihi, mā shūrotuhu?fa’ajāba: murōduhu mā syā`a wadzā`a anna al-fiqha `indahum huwal-isytighōlu bikitābi fulānin wafulānin, famurōduhu at-taḥdzīru min dzālika.

waqōla aidhon: kadzālika ghoirukum innamā ittibā`uhu liba`dhi al-muta’akhkhirīna lā al-a’immati, fahā’ulā’i al-ḥanābilatu min aqolli an-nāsi bid`ah, wa’aktsaru al-iqnā`i wal-muntahā mukhōlifun limadzhabi aḥmada wanashshihi, fadhlan `an nashshi rosūlillāhi C, ya`rifu dzālika man `arofahu.

waqōla aidhon: dzakaro asy-syaikhu taqiyyud-dīn I qowā`id:

al-ūlā: annan-nabiyya C idzā sanna amroini wa arōda aḥadun ya’khudzu bi’aḥadihimā wayatruku al-ākhoro, annahu lā yunkaru `alaihi, kal-qirō’āti ats-tsābitati, wamitslu alladzīna ikhtalafū fī āyatin faqōla aḥaduhumā: alam yaquli allāhu kadzā? waqōla al-ākhoru: alam yaquli allāhu kadzā? wa’ankaro an-nabiyyu C `alaihim waqōla: “kullun minkumā muḥsinun”, fa’ankaro al-ikhtilāfa washowwaba al-jamī`a fī al-āyati.

ats-tsāniyatu: idzā amma rojulun qouman wahum yarouna al-qunūta au yarouna al-jahro bil-basmalati wahuwa yarō ghoiro dzālika wal-afdholu mā ro’ā, famuwāfaqotuhum aḥsanu wayashīru al-mafdhūlu huwa al-fādhilu [١].

Beliau ditanya tentang perkataan Syaikh Taqiyyuddīn, “Hendaklah cita-cita utamanya adalah memahami maksud-maksud Rasūl dalam setiap perintah dan larangannya.” Bagaimana maksud perkataan tersebut?

Beliau menjawab, “Yang dimaksud adalah memperingatkan dari fenomena yang telah tersebar luas, yaitu anggapan bahwa fikih hanyalah menyibukkan diri dengan kitab si fulan dan si fulan. Itulah yang ingin beliau peringatkan.”

Beliau juga berkata, “Demikian pula kebanyakan di antara kalian, yang sebenarnya diikuti hanyalah sebagian ulama muta’akhkhirin, bukan para imam. Bahkan para ulama madzhab Ḥanbali termasuk golongan yang paling sedikit melakukan bid`ah. Akan tetapi, banyak pendapat dalam kitab Al-Iqnā` dan Al-Muntahā yang justru menyelisihi madzhab Imām Aḥmad dan nash beliau, apalagi nash Rasūlullāh C. Hal itu diketahui oleh orang yang benar-benar mempelajarinya.”

Beliau juga berkata, “Syaikh Taqiyyuddīn I menyebutkan beberapa kaidah.

Kaidah pertama: apabila Nabi C menetapkan 2 cara yang sama-sama disyariatkan, lalu seseorang memilih mengamalkan salah satunya dan meninggalkan yang lain, maka ia tidak boleh diingkari. Contohnya seperti berbagai qirā’at yang shaḥiḥ. Demikian pula kisah dua orang yang berbeda dalam membaca suatu ayat. Salah seorang berkata, ‘Bukankah Allah berfirman demikian?’ Yang lain pun berkata, ‘Bukankah Allah berfirman demikian?’ Lalu Nabi C mengingkari perselisihan mereka, namun bersabda, ‘Masing-masing dari kalian benar.’ Dengan demikian beliau mengingkari perselisihannya, tetapi membenarkan kedua bacaan tersebut.

Kaidah kedua: apabila seseorang menjadi imam bagi suatu kaum yang berpendapat bahwa qunut atau membaca basmalah dengan suara keras itu disyariatkan, sedangkan menurut keyakinan imam hal itu tidak demikian, padahal menurut pendapatnya sendiri meninggalkannya lebih utama, maka mengikuti keadaan makmumnya lebih baik. Dalam kondisi seperti ini, sesuatu yang pada asalnya kurang utama justru menjadi yang lebih utama.” [١]

 

[١]

Syaikh `Abdur-Raḥmān bin Qāsim, Ad-Durar As-Saniyyah fī Al-Ajwibah An-Najdiyyah, jilid 4, cetakan kedua, hlm. 4, 5, dan 6.Mulai dari perkataannya: wa qōla aidhō: ‘qod tabayyana lakum’… hingga perkataannya: … wa yada`uhā `inda at-tafshīl”, juga terdapat dalam Majmū`ah Ar-Rasā’il wa Al-Masā’il An-Najdiyyah, jilid 1, cetakan pertama, hlm. 11–12. Hanya saja, kitab tersebut mengawalinya dengan perkataan:

idzā fahimtum dzālika faqod tabayyana lakum…

(Apabila kalian telah memahami hal itu, maka telah jelas bagi kalian …), dan seterusnya.

Raḥimahullāh sedang mengisyaratkan jawaban beliau atas beberapa persoalan yang berbeda-beda tentang zakat. Beliau menutupnya dengan perkataan:

wallāhu a`lam. katabahu Muḥammad bin `Abdil Wahhāb. Wa shollallāhu `alā Muḥammadin wa ālihi wa shoḥbihi wa sallam.

(Allah Maha Mengetahui. Ditulis oleh Muḥammad bin `Abdil Wahhāb. Semoga Allah melimpahkan shalawat dan salam kepada Muḥammad, keluarga beliau, dan para sahabat beliau.)

Kemudian penulis catatan menambahkan:

wa min khoththi man naqolahu min khoththi Asy-Syaikh Muḥammad naqoltu, wa dzālika ākhiru sanati 1343.

(Aku menyalinnya dari tulisan orang yang menyalinnya dari tulisan tangan Syaikh Muḥammad. Penyalinan ini selesai pada akhir tahun 1343 H.)